Menjadi jurnalis, apapun bidangnya- sejatinya adalah bisa melihat yang tak dilihat. Mencari tahu, yang banyak orang [atau pembaca], tak tahu. Tak mudah memang, karena butuh kejelian dan kepekaan ditengah tuntutan pemberitaan yang bertubi-tubi dan [harus] cepat. Djoko Moernantyo –seorang jurnalis yang banyak meliput industri musik—termasuk yang rajin mencatat banyak cerita tercecer yang tak tercatat.

Buku yang mengupas sisi lain industri musik.
Buku yang mengupas sisi lain industri musik.

MATA jurnalis memang harus awas. Hal kecil yang terjadi di sekitar kita, mungkin “tampak” tak menarik, tapi ternyata bisa menjadi tulisan yang menggugah meski terkesan ringan. Di buku INDUSTRI MUSIK [NGGAK] ASYIK ini, Djoko –begitu sapaannya—mencoba menyusup ke area yang selama ini tak terjamah, paling tidak dalam pemberitaan besar—menjadikan tulisan ringan, menarik dan menyentil. Pengalamannya sebagai jurnalis musik, yang benar-benar menulis tentang musik dan industrinya, memberinya sudut pandang yang cukup renyah untuk mengulik apapun yang dilihatnya.

Seperti pengamatannya ketika ada pergeseran penonton konser. Penonton konser era sekarang, bukanlah penonton konser yang sesungguhnya. Karena ketika konser berlangsung, mereka akan selfie dan kemudian memamerkannnya di social media-nya. Hal ini jadi catatan, karena kemudian “sangat” mengganggu mereka yang benar-benar ingin menikmati konsernya. Itu salah satu catatan yang ada di buku ini.

Apa yang dicermati Djoko, menjadi catatan seorang Nini Sunny. Dalam kacamata wartawan senior ini, “Penulis buku ini menuliskan banyak sisi lain dari dunia musik  Indonesia, tempat dimana dia banyak melakukan liputan. Djoko dengan jeli menangkap beragam peristiwa yang terkesan biasa, namun memuat pesan mencerahkan. Karena sudut pandang tulisannya bukan hanya bermanfaat dalam memperkaya pengetahuan, namun juga bisa menggugah masyarakat untuk kembali bertindak sesuai etika yang sudah seharusnya berlaku.”

Tak banyak penulis, apalagi wartawan, yang berani memberikan catatan kritis dengan banyak alasan. Takut dianggap sok tahu, sungkan dengan senior, atau pemahaman tentang industrinya memang cetek. Di industri musik Indonesia, catatan kritis itu bertebaran di banyak blog, tapi nyaris tak ada yang “nekat” menjadikannya buku. Dalam keterbatasannya, Djoko berani mengumpulkan beberapa catatan pada industri musik yang memang digelutinya sebagai jurnalis. Dan buku ini adalah kacamata “antagonis” dari sebuah industri yang seharusnya menghibur.

Tulisan-tulisan dalam buku ini tentu bukan untuk menjadi “penghakim” tunggal, seolah tidak ada sisi menarik dan positif yang bisa diunggah. Penulisnya memilih menjadi penyeimbang, ketika banyak yang memberi pujian dan sanjungan. Seperti yang dikatakan oleh Calvin Jeremy, solois muda yang juga memberi kesaksian tentang buku ini: “Belum pernah ada buku yang mengulas tentang bagian [NGGAK] asiknya industri musik Indonesia. Rata-rata buku dan kontes menawarkan mimpi dan angan – angan besar buat jadi orang terkenal nomer 3 setelah Tuhan dan presiden. Bagian paling seru dari buku ini adalah tentang “Kutukan Star Syndrome”. Buat yang terkena kutukan itu, please tell me, where are “they” now?”

Buku ini bukan panduan untuk masuk industri musik, malah sebaliknya: menegaskan kesiapan siapapun yang punya cita-cita masuk industri. Kalau masih coba-coba, tanpa persiapan dan skill yang memadai, lebih baik urungkan. Agak melawan arus ya?

Dalam sudut pandangnya sebagai jurnalis, Djoko Moernantyo memilih mencatat,  menulis dan memberi keabadian semua cerita yang dilakoninya di industri musik, dalam sebuah buku. Keabadian dunia musik yang asyik, yang memberinya banyak pertanyaan, meski tak semua selalu memberikan jawaban.  Sekadar penegasan, buku ini bukan untuk membuktikan ‘kadar intelektual’ tapi menjadi sumbangan kecil untuk industri musik. Semoga ada mata musisi yang membaca, telinga produser mendengar dan pikiran penikmat musik mencerna dengan sederhana dan jujur.