Disela tren yang tidak mengarah kepada musik rock, beberapa daerah luar Jakarta malah menjadikan rock sebagai “duta besar” untuk daerahnya. Benarkah musik rock bisa jadi simbiosis mutualis dengan peradaban lain, sementara tudingan biang kerok kerusuhan dan narkoba masih amat melekat? Saya menemukan jawabannya ketika diundang ke Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.

"hajatan festival rock yang digelar di tanjungpinang"
“hajatan festival rock yang digelar di tanjungpinang”

Saya akan memulai catatan ini dengan satu kutipan: “Saat Anda menciptakan sebuah musik yang indah, Anda tidak akan pernah tahu berapa juta orang yang Anda beri manfaat karenanya.” Berkaca dari kutipan “sangar” itu, beberapa orang “gila rock” menggagas Tanjungpinang RockFest 2015.  Sayang, sinerginya masih tumpang tindih.

Di belahan dunia manapun, musik dikenal sebagai pemersatu yang paling menyenangkan. Ketika mendengar, melihat, atau mengapresiasi satu karya musik, sejatinya kita sedang menyiapkan perdamaian dan kedamaian. Banyak kota besar di negara lain, menjadikan musik sebagai ikon kota untuk mendatangkan ribuan bahkan jutaan penonton atau penikmat musik. Mimpi awal yang digagas Enda, dari Cikal Community –komunitas kreatifitas musisi muda Tanjungpinang- sejak tahun 1992, sebenarnya sudah berada di jalur yang benar. Konsep Tanjungpinang RockFest 2015 ini merupakan kompetisi band-band lokal, serta disokong penampilan band-band rock di seputaran Kepulauan Riau [Kepri].

Enda bolehlah disebut “orang gila” karena nekat menggelar event yang sempat terhenti beberapa tahun. Bagaimana tidak, impian menjadikan Tanjungpinang Rockfest 2015 akan dibawa mendunia, dikatakannya bukan sekadar basa-basi kosong.  Tentu saja akan menjadi basa-basi, kalau Cikal sebagai penggagas “berjalan” sendiri tanpa dukungan musisi kota, sponsor atau partnership dan media. Embrio besar inilah yang ingin dibagikan spiritnya kepada semua musisi di Tanjungpinang.

Tapi saya harus katakan, sinergi itu masih terkesan nanggung. Mengapa? Karena peran lain yang seharusnya dilakukan oleh musisi senior atau pemerintah lokal, terkesan setengah-setengah.  Memang, tidak semua yang duduk di pemerintahan suka musik, tidak semua musisi senior mau transfer of knowledge juga. Alhasil, kalau kemudian saya menyaksikan band-band yang tampil terlihat tanpa arahan, lemah referensi dan kurang pemahaman tentang industri musik global, saya cukup bisa mengerti. Pertanyannya, mau sampai kapan lemah begitu?

Saya yang berkesempatan berbagi pengalaman, sempat mendapat pertanyaan: “Apakah kami di Tanjung Pinang, harus mengikuit trend nasional untuk bisa masuk ke industri musik nasionak?” Jawaban saya memang sedikit abu-abu antara ya dan tidak. Ya, kalau memang targetnya ngetop dan sedikit didengar oleh praktisi musical dan label di Jakarta misalnya. Tidak, kalau impian mereka tak hanya masuk label, tapi juga berkarya sesuai hati. Kalau mikir label, ngetop, laku yang cukup memusingkan, bisa-bisa tak ada orang berkarya lagi. Bikin saja karyamu, urusan laku atau tidak, kesampingkan dulu.

Lalu, apakah kota-kota atau propinsi yang dianggap jauh dari ibukota Negara, tak punya kesempatan mewarnai industri musik nasional? Rasanya bodoh kalau jawaban kita, iya! Kota yang diklaim sebagai tempat lahirnya Bahasa Indonesia ini, punya “perwakilan” musisi yang cukup hebat. Mereka pernah melahirkan nama Opet [basis Gigi dan Tiket], Fahmi [violin Arwana], Irang Arkad [mantan vokalis BIP], dan almarhum Andi Liany. Artinya, ada yang bisa menyelip. Ini berlaku untuk kota manapun di Indonesia yang mungkin merasakan “minder” karena tak ada musisinya yang benar-benar dikenal.

Tanjungpinang Rockfest 2015 adalah festival “nekat” buat saya. Meski harus saya akui, dengan semua keterbatasannya, masih bisa digelar dengan baik. Mereka –penggagasnya– ingin rock tak lagi bergincu doang. Jangan dulu bandingkan dengan festival lain yang sudah established beberapa tahun di kota besar lainnya.  Rock juga ternyata adalah “belahan jiwa” daerah yang terkenal dengan Gurindam Dua Belasnya ini. Jadi, mimpi besar biarkan jadi mimpi besar, jangan dikecilkan atau malah dihilangkan.

Untuk mereka, saya ingin mengatakan: kita telah berhasil menciptakan senjata yang hebat, dan musik akan selalu berada dalam daftar senjata-senjata hebat tersebut. Karena musik adalah senjata paling hebat.