Saya termasuk orang yang meyakini, industri musik [Indonesia], tak akan pernah mati gaya. Meski tak sedikit yang menyebut, sedang kusut masai, tapi toh yang namanya kreatifitas tetap saja bertaburan. Tapi saya juga orang yang meyakini, di industri musik ini, tak semua pelakunya adalah “malaikat” dengan niat baik, tapi ada juga “dedemit” dengan niat sok baik.

"industri musik seperti predator"
industri musik seperti predator”

MENGAPA saya sebut sok baik? Diantara ribuan mungkin jutaan manusia yang bercita-cita jadi musisi, penyanyi atau sekadar disebut artis, selalu ada manusia lain yang paham betul “memanfaatkan” peluang itu dengan manis. Betul, memanfaatkan. Karena sejatinya mereka itu tak berniat membantu manusia lain yang punya cita-cita serius, tapi niatnya adalah menjadi predator atas kebodohan atau ketidaktahuan mereka yang punya cita-cita, punya dana, tapi tak punya akses atas cita-citanya itu.

Kecerobohan, ketidaktahuan, kebingungan, dan kebodohan band-band yang hanya modal semangat dan karya, dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang mengaku tahu, berniat membantu, dan memberi solusi, tapi sebenarnya mereka menghisap dan memeras air mata dan darah sampai kering.

Dalam bahasa Daylle Deanna Schwartz, –penulis buku laris tentang industri musik di Amerika Serikat– dalam bukunya Start & Run Your Own Record Label memaparkan dalam risetnya, bagaimana belakangan ini label rekaman independen tumbuh pesat di seantero dunia. Deanna memulai paparannya dengan mengatakan, memulai dan melahirkan sebuah label rekaman bukanlah perkara gampang.  Dalam bahasa Deanna, bisnis musik adalah binatang dalam dirinya sendiri. Mengunyah dan meludahkan seniman [baca: musisi] dari hari ke hari seenaknya.

"Hati-hati, di Industri Musik pun Banyak Penipu"
Hati-hati, di Industri Musik pun Banyak Penipu”

Apakah di industri musik Indonesia hal itu terjadi? Jawabnya adalah: BANGET! Banyak musisi yang merasa punya link, kemampuan, dan karya yang mereka anggap cukup layak, kemudian berusaha “menjerat” orang-orang bermodal tapi minim wawasan dan akses ke industri.  Targetnya? Maaf saja, saya bilang tetap uang. Saya tidak menafikan musisi, setengah musisi, atau calo-calo musical itu untuk mendapatkan uang atau materi lainnya, tapi caranya menggagahi ketidaktahuan untuk mengeruk materi, buat saya sudah seperti begal saja. Sebut saja begal musikal.

Dalam buku saya “Industri Musik [Nggak] Asyik” yang sudah terbit, saya pernah sedikit mengupas, bahwa ketika masuk ke industri musik, Anda yang berniat menjadi penyanyi harus bersiap secara mental, karena akan berhadapan dengan “tuhan” atau “malaikat” dan juga “iblis”. Jatuh ke sisi mana, tergantung kita. Tapi didunia inilah, kita diharap cerdas pada pilihan-pilihan itu. Mau cepat tanpa proses? Atau mau lewat proses yang sebenarnya, meski mungkin rada lambat?

Dalam catatan off the record saya, ada beberapa nama yang dimodali dana cukup besar,  sempat merilis single atau album, tapi kemudian tak terdengar gaungnya sama sekali. Dalam pengakuannya kepada saya, baik pemodal atau si penyanyi itu mengaku sudah menggelontorkan uang hingga milyaran rupiah. Sekadar catatan saja: kasus-kasus seperti ini tidak satu dua, tapi banyak sekali. Perhatikan saja berita infotainment, ketika banyak musisi besar digugat oleh penyanyi atau orang tua penyanyi yang ingin diorbitkan. Ujung-ujungnya memang ada perdamaian. Namun kita akhirnya tahu, ada banyak orang yang mengaku mampu, memanfaatkan mereka yang terang-terangan mengaku tidak mampu.

Mungkin suatu saat saya akan menulis tentang kisah-kisah “penipuan” atau “pengelabuan” kepada para pendatang baru itu. Eh, tak hanya pendatang baru ding, karena musisi lama yang mau eksis lagi, juga beberapa diantaranya sempat mengalami pembegalan itu. Siapa mereka? Ah, nanti saja deh ya. Tapi mau nebak-nebak sih tidak dilarang kok……;