Sebenarnya ironis, ketika musisi kita masih mengagulkan nama-nama besar musisi asing sebagai idola. Sementara, karena ketidaktahuan kita [baca: musisi], sebenarnya ada banyak musisi lokal yang jauh-jauh hari malah jadi idola musisi asing. Kita masih “buta sejarah” termasuk sejarah musik negeri sendiri.

Maestro Dalam Arti Sesungguhnya!
Maestro Dalam Arti Sesungguhnya! foto: ciputranews

PERCAYA atau tidak, sebenarnya banyak musisi lawas Indonesia yang secara kualitas permainan, sudah dianggap mendunia levelnya. Artinya, skill mereka layak disandingkan dengan nama-nama besar di dunia. Bedanya adalah, musisi Indonesia itu tidak terekspose mendunia. Tapi apakah musisi kelas dunia tahu? Sangat tahu. Musisi sekarang mana tahu penyanyi Sam Saimun? Saking terkenalnya, konon setiap manggung di Amerika Serikat, lagunya selalu diputar di Bandara dan diperlakukan seperti artis besar.

Saya pernah “sok-sokan” mau menulis buku tentang Perjalanan Musik Indonesia 1950-2000 tahun 2005-2006 silam. Beberapa data sekunder sudah saya kumpulkan, meski lagi-lagi terbentur akses dan literasi tentang sejarah musik khususnya era tahun 60 dan 70an. Meski sampai sekarang belum terselesaikan, tapi impian itu masih jadi obsesi saya untuk menyelesaikannya. Mengapa? Sebagai jurnalis musik, benar-benar menulis tentang musik dan industrinya, saya pribadi punya tanggungjawab moral untuk menyodorkan data dan fakta, bahwa musik Indonesia itu luarbiasa perkembangannya. Saya sering membayangkan, kalau kawan-kawan yang disebut “wartawan musik” itu punya kemauan menulis tentang musik dari semua lini, termasuk sejarahnya, literasi musik di Indonesia bakal dahsyat.

"Tielman Brothers: Pelopor Rock N'Roll, Bukan The Beatles"
Tielman Brothers: Pelopor Rock N’Roll, Bukan The Beatles”

Dalam satu obrolan singkat dengan seorang kawan musisi yang juga pengulik sejarah musik Indonesia, saya mendapat informasi bahwa sebutan maestro pada violinist Idris Sardi, bukan semata karena jam terbangnya yang sudah mendunia juga. Sebutan itu muncul karena Idris Sardi memainkan teknik biola yang berbeda dengan pemain biola kelas dunia lainnya. Hebatnya, tekniknya itu tidak akan ditemukan pada sekolah musik terbaik sekalipun di dunia. Idris mengadopsi teknik menggesek rebab di Jawa Barat dalam komposisi biolanya. Dan –konon—teknik itu hanya ada di Indonesia. Dan sebutan maestro itu bukan sebutan yang dimunculkan, tapi dibaptiskan karena kemampuannya.

Sekarang coba tanyakan, siapa sebenarnya pelopor rock n’roll dunia? Kalau jawaban kalian masih berkutat pada The Rolling Stones atau The Beatles, berarti wawasan musical kalian kudu diasah lagi. Kita harus bangga, pelopor rock ‘roll adalah Tielman Brothers, band asal Kupang yang besar di Belanda. Dalam kutipan yang sering diambil oleh jurnalis musik dunia, The Beatles mengaku inspirasi mereka salah satunya adalah Tielman Brothers.  Saya beruntung, tahun 2000an pernah bertemu, nonton dan ngobrol singkat dengan Andy Tielman, penggawa Tielman Brothers yang saat itu tersisa, karena lainnya sudah meninggal dunia. Menariknya, meski berdarah Kupang, tapi bahasa lokal yang dikuasainya malah logat Jawa Timuran.

The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah memopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore. Nah, berarti siapa meniru siapa? Masih banyak nama-nama “tersembunyi” yang bisa kita munculkan karena memang kualitas dan skillnya layak deretan legendaries.  Sebutlah Jopie Item atau Enteng Tanamal, dua musisi yang makin jarang diangkat. Padahal sekelas Donny Suhendra, gitaris jazz ciamik itu, mengaku “kelasnya dibawah” dua gitaris itu.

"Jopie Item: Salah Satu Gitaris Hebat Yang Dimilik Indonesia"
Jopie Item: Salah Satu Gitaris Hebat Yang Dimilik Indonesia”

Mengapa saya menulis nama-nama yang jarang ditulis itu? Karena saya ingat pesan Bung Karno: “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”.  Kalau rujukan musisi sekarang selalu kepada musisi barat, seharusnya kalian malu. Indonesia telah melahirkan kampium-kampiun yang tidak bisa dianggap remeh. Persoalannya: maukah musisi sekarang belajar dan mengenal sejarah musik negeri sendiri? Itu yang saya kuatirkan……