Bermusik, entah hanya sebagai aktivitas iseng, atau profesi, harusnya punya pilihan yang jelas. Pilihan jelas itu artinya, tahu musik yang dimainkannya, tahu arah kariernya dan tahu mau serius atau hanya senang-senang berhadiah saja. Ibarat percintaan, harus ada kejelasan, mau dibawa kemana hubungan yang sudah dijalin itu. Begitulah musik.

lou reed memberi wejangan kepada personel band
lou reed memberi wejangan kepada personel band

KETIKA masih banyak yang memasalahkan indie dan non-indie, kita harusnya tak lagi berkutat di area perdebatan itu. Biarlah dimana saja posisi musical kita, karya agunglah yang lahir dari kreatifitas kita. Bukan perdebatan kosong yang buang-buang energi tanpa hasil. Bagi saya, sudah tidak penting perbedaan indie dan non indie itu. Kejelasan sikap, sebenarnya lebih kepada strategi promo dan target pasar yang kita incar. Tapi saran saya: berkarya saja, tidak usah pusingkan hal lain.

Ketika masih banyak musisi yang menghujat genre lain yang dianggap tidak selevel dan hanya genre milik kaum ‘marjinal’ atau pinggiran saja, kita harusnya bisa lebih menghargai apapun genre di luar yang kita mainkan. Biarkah saya melayu mendayu, rock bergaung, jazz bergema atau bahkan dangdut berdendang. Tidak ada yang salah bukan? Kalau Anda tidak suka dengan salah satunya, silakan tutup kuping atau dengar saja yag Anda suka. Habis perkara. Jadi mengapa kita pusing dan repot berkomentar bahwa genre yang kita mainkan adalah yang terbaik?

"mau dibawa kemana hubungan asmara kita?"
mau dibawa kemana hubungan asmara kita?”

Sikap yang jelas dalam bermusik juga akan membantu kita mengatur promosi yang tepat. Misalnya kita jelas-jelas memilih jazz sebagai dasar bermusik, tentu tidak akan melakukan promosi di ajang festival dangdut bukan? Meskipun sekarang banyak yang melakukan crossover dalam musik, tapi kejelasan sikap itu menjadi satu patokan penting.

Lalu bagaimana dengan musisi yang gonta-ganti genre? Hari ini main di pop, besok di dangdut, lusa ikut rock atau minggu depan sok-sokan ngejazz.  Saya lebih suka menyebutnya musisi opurtunis, pandai memanfaatkan peluang saja. Apakah salah? Tentu saja tidak bilamana dia memang mendapat penghidupan yang baik, tanpa punya konistensi atas satu genre tertentu saja. Biasanya penyanyi kafe punya kecenderungan seperti itu, meski secara personal mungkin punya pilihan sendiri. Musisi opurtunis [atau bisa disebut juga musisi bunglon -red], mungkin adalah musisi yang mencoba survive di semua jatuh bangunnya industri musik itu sendiri.

Hubungan yang jelas antara musik dan musisinya, biasanya juga akan melahirkan sinergi yang apik dan unik. Kalau Anda punya hubungan tanpa status atau teman tapi mesra dengan industri musik, rasanya perlu banyak berbenah. Kalau tidak, Anda mungkin hanya dianggap ‘menclok-menclok’ doang, dan itu tidak melahirkan karakter yang jelas menggambarkan musisinya.

Sudah siap punya hubungan yang jelas dengan musik Anda? Atau masih bertanya: “mau dibawa kemana hubungan ini?”