SEDERHANA saja, persoalan semantik bahasa. Tapi kalau dibiarkan berlarut-larut, ada salah kaprah yang benar-benar salah.  Hal itu sering diucapkan oleh jurnalis, musisi, label, atau pengamat musik. Tentang istilah recycle musik. 

Kata Marcell: "Tidak ada istilah musik recycle, karena tidak da musik sampah dari lagu yang indah." -- foto: temenmarcell.wordpress.com
Kata Marcell: “Tidak ada istilah musik recycle, karena tidak ada musik sampah dari lagu yang indah.” — foto: temenmarcell.wordpress.com

DALAM banyak kesempatan, saya [dan mungkin juga Anda] sering mendengar istilah musisi yang me-recycle lagu lama untuk dibawakan kembali. Awalnya, saya termasuk jurnalis yang menggunakan istilah itu sampai pada suatu kesempatan, seorang kawan mewawancarai Marcell Siahaan dan mendapat pencerahan soal salah kaprah penggunaan istilah itu.

Recycle adalah salah satu bagian dari 3R [reuse, reduce, dan recycle] maupun 4R [3R + replace] dan 5R [4R + replant]. Secara singkat, recycle dapat diartikan sebagai daur ulang. Pengertian ini berarti merupakan sebuah proses mengolah kembali sampah atau benda-benda bekas menjadi barang atau produk baru yang memiliki nilai manfaat. Dengan kata lain juga, istilah recycle ini kemudian identik dengan sampah, bukan hal lain.

Dalam pernyataannya, Marcell  mengatakan:

“Istilah recycle menurut saya adalah hasil cuci otak yang salah, karena istilah ini hanya ada di dunia persampahan. Yang saya nyanyikan ini adalah lagu-lagu indah dan bagus, bukan lagu-lagu sampah. Ini adalah album cover song saya. Semua yang ada di album ini, adalah idola-idola saya. Mindset saya justru tribute, untuk menciptakan starting point yang all out.  Dan buat saya, ini tidak mematikan kreatifitas. Ada banyak re-interpretasi di dalamnya. Dan itu lebih menegangkan. Ini untuk menepis anggapan dangkal, cover song bukan dilakukan karena sudah kehabisan ide.”

Jadi saya hanya ingin menegaskan saja, bahwa tidak ada lagu yang sampah, tidak ada lagu yang tercipta dengan buruk, atau lagu yang tercipta karena kedangkalan penciptanya. Karya yang sudah lahir, apapun bentuknya, adalah satu kemenangan indah. Mereka –musisi itu—berhasil melewati satu babak sulit dalam berkarya.  Tidak ada lagu recycle, karena karya itu bukan karya sampah. Ketika dinyanyikan ulang, selalu ada re-interpretasi yang tidak mudah. Dan itu namanya cover song, bukan recycle. Tidak ada istilah lagu daur ulang, karena daur ulang itu hanya sampah. Yang ada adalah lagu kover, yang artinya dinyanyikan ulang dengan pemahaman baru.

++

Pemahaman lain yang perlu diperjelas adalah penggunakan istilah vintage dalam lagu. Ini juga salah kaprah yang kerap terjadi. Banyak jurnalis yang memakai istilah vintage ketika ada musisi yang cover song lagu dari musisi lawas. Semisal Memes yang bersama suaminya, Addie MS membuat re-interpretasi atas lagu-lagu Ismail Marzuki. Banyak media yang menulis, Memes membawakan lagu vintage. Hmm, kesalahan yang berulang.

Menurut Kamus Oxford, kata “vintage” itu bisa berarti “old and of very high quality”. Bila ditarik garis pengertian secara global, vintage dimaknai sebagai barang-barang yang diproduksi di masa kini, tapi memiliki model klasik dan antik, yang mengingatkan kita pada barang-barang yang berasal dari dekade ’20 hingga ’30-an. Lebih kepada barang sebenarnya.

Lalu istilah apa yang cocok untuk satu lagu yang abadi meski kuno? Mengapa kita tidak menggunakan istilah “abadi” saja? Atau kalau mau sok-sokan Bahasa Inggris, silakan gunakan kata everlasting atau eternal. Tampaknya istilah yang sederhana, tapi terlalu banyak jurnalis yang meremehkan dan salah pula.

Mulailah menulis yang benar bung!