KALAU popularitas dimaknai sebagai satu superioritas atas pihak lain [yang tidak popular], maka ketika banyak musisi [yang popular] dan laki-laki, memanfaatkan popularitasnya untuk menggaet perempuan yang terpukau [atau tertipu] dengan popularitasnya, dia merasa superior. Memanfaatkan popularitas sebaga garba seksual sesaat. Kalau mau dibuat confession atau pengakuan dosa, setiap musisi nyaris semua punya cerita di lini ini.

musisi harus identik dengan seks, drugs dan rock n'roll? sorry bro, itu zaman dulu....
musisi harus identik dengan seks, drugs dan rock n’roll? sorry bro, itu zaman dulu….

JARGON sex, drugs & rock n’roll  seolah jadi penegas, bahwa musisi selain berkarya apik, juga punya target sampingan yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani. Tak melulu seks, hubungan dengan perempuan atau [ada juga] yang laki-laki dengan laki-laki, tapi juga eksistensi semua dengan drugs. Entah apa yang ada di benak mereka itu, ketika keterkenalan menjalari, bukannya menjadi satu ikon yang menjadi inspirasi, tapi malah ikon imitasi.

Entah beruntung entah buntung, saya termasuk orang yang tahu banyak kelakuan musisi–musisi yang sekarang disebut papan atas di jagat musik Indonesia. Benar, kelakuan mereka ketika sedang tur di luar kota. Benar, kelakuan mereka yang kerap menyanyikan lagu reliji di atas panggung, tapi kemudian mencari biji di luar panggung. Apakah saya harus mengatakan mereka tidak bermoral? Wah, kalau urusan moral atau tidak, bukan urusan saya lagi. Ranah itu sudah masuk personal, yang saya pun tak punya hak mengaturnya.

Tapi jika dilekatkan pada nama-nama rockstar—yang seolah-olah identik dengan keliaran—masihkah itu berarti martabat turun? Dalam wacana popularitas dan industri musik yang hingar-bingar, names make news, dan tentu saja bad news is good news. Semakin heboh skandal yang mereka ciptakan, justru semakin tinggi ketenaran terdongkrak. Dan skandal itu tak pernah jauh dari selangkangan, botol alkohol, dan zat-zat terlarang.

keterkenalan melahirkan groupies. haruskah dianggap sebagai kenikmatan sesaat ?
keterkenalan melahirkan groupies. haruskah dianggap sebagai kenikmatan sesaat?

Entah kapan tradisi sex and drugs itu dimulai, apakah mereka meniru musisi-musisi asing yang selaku digambarkan flamboyant, dandy, cool, dan dikelilingi perempuan-perempuan yang siap untuk diapakan saja? Kepuasan ini mempengaruhi cara pandang si pendengar terhadap si pemusik. Si pemusik menjadi tampak hebat, keren, gagah, dahsyat dan indah. Si pendengar menjadi kagum, suka, hormat, cinta dan bahkan memuja si pemusik. Apapun yang dilakukan si pemusik tampak hebat, benar, masuk akal, keren. Bisa bertemu muka, berjabat tangan, berfoto bersama, ngobrol, menjadi pengalaman yang luar biasa. Pokoknya, si pemusik itu hebat! Nyaris persis seperti pada orang jatuh cinta.

Atau secara naluriah, laki-laki memang harus merasa superior dengan menaklukkan wanita, termasuk urusan seksual sesaat dengan groupies? Dalam perspektif feminis, apa yang saya tulis di atas tentu akan dibantah. Mereka hanya melihat bahwa laki-laki selalu [benar, selalu] men-subordinasi perempuan dalam semua lini. Meski perempuan itu punya kekuatan yang besar, tapi anggapan itu tetaplah ada. Apakah itu yang kemudian dianut oleh musisi-musisi penikmat sesaat tubuh perempuan itu? Popularitas menjadi katalisator untuk mencuatkan kelakuan atas nama superioritas laki-laki itu.

Saya pernah menulis, musik bukanlah bahasa konvensional seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Cina, dan lain-lain. Namun sebagai sebuah sistem yang mampu mewakili suasana, perasaan, bahkan gagasan, musik mampu melampaui bahasa konvensional dalam menyampaikan apa yang dikandungnya secara universal. Sayangnya, masih kerap terkungkung dengan budaya patriarkhi yang amat kuat.

rockstar is more sex? fuck off...
rockstar is more sex? fuck off…

Bahwa identifikasi laki-laki, terkenal, tampan, punya materi dan [mungkin] terlihat atau terdengar romantic, selalu dan masih jadi acuan perempuan yang rela menyerahkan raga dan raganya dengan cuma-cuma. Apakah kemudian kita harus menyalahkan perempuan yang kerap kalian tuding “gatel” itu? Tanpa harus menjadi munafik, saya menolak menyalahkan perempuan. Mengapa?

Dalam konteks tulisan saya ini, laki-lakilah biang keroknya. Popularitas membuat musisi yang lagi ngetop itu menjadi durjana pemetik bunga. Bahwa keterkenalan itu menjadi akses, saya setuju. Tapi kalau kemudian akses itu ternyata “jebakan betmen” untuk sekadar bersenang-senang dan kemudian “bangga” berkata-kata: “Gue Rockstar Sejati!” saya harus bilang, ada yang salah dengan konstruksi otaknya alias korsleting.

Kalian termasuk musisi korsleting juga?