Suatu malam, usai pulang dari kantor, aku mampir ke salah satu warung roti panggang arah rumahku. Tempatnya bersih dan terlihat rapi ketimbang warung-warung ropang –begitu biasanya tulisan besar-besar di depan warung—lainnya. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku, tapi satu poster besar dengan kata-kata: “bahkan yang instan pun perlu proses untuk membuatnya”.

hei...! tidak ada suksees yang instant. semua itu butuh proses untuk mencapainya.
hei…! tidak ada suksees yang instant. semua itu butuh proses untuk mencapainya.

Malam ini, aku seperti mendapat pencerahan dari kata-kata di poster warung itu. Berkeliling dan berjumpa dengan banyak musisi, artis dan selebritis, aku banyak belajar tentang arti kata: proses. Mengapa? Karena belakangan kata itu makin sulit diterima oleh mereka-mereka yang ingin mencari popularitas dengan cara instan dan kilat. Contohnya: banyak artis rela dengan bodohnya membuat setingan isu tidak penting, untuk menarik perhatian khalayak. Berhasilkah? Kalau sekadar diperhatikan berhasil, tapi jangan lelah kalau kemudian “disiksa” dengan kata-kata yang makin menyakitkan.

Menuju puncak itu harus melewati jalan terjal yang tidak mudah dilewati. Ada banyak kerikil dan hambatan yang harus bisa dilalui supaya selamat sampai di tujuan. Banyak penggemar bertanya, bagaimana akhirnya bisa meraih sukses seperti idolanya. Atau artis bertanya kepada manajernya, bagaimana menghasilkan uang dengan cepat, setelah dirinya dinobatkan sebagai artis. Seolah semua materi dan sukses itu seperti Midas, disentuh langsung jadi emas. Helllloooowwww…………

Ketika menjadi manajer artis, aku banyak memberikan catatan kritis. Salah satunya adalah: bersabar dengan proses. Semua strategi promosi tentu akan dilakukan, dengan berbargai kreatifitas yang out of the box. Tapi ketika semua [seolah] berjalan lambat, protes dan pertanyaan seolah tidak melakukan apa-apa akan bermunculan. Maunya, keluar karya [bisa single atau album], langsung ngetop.

Saya selalu ingat dengan Iwan Fals. Ketika masih belum dikenal tahun 70an, Iwan benar-benar menjadi pengamen keliling. Malu? Tidak, karena dia sadar dengan risiko pilihannya. Tapi ternyata di jalananlah kepekaan social, dan mampu mendengar suara marjinal terasah dengan baik. Alhasil, ketika sudah dianggap “manusia ½ dewa” oleh penggemarnya, Iwan toh masih bisa berceloteh soal ketidakadilan dan keserakahan dengan bahasa yang masih galak. Tapi ingat, prosesnya amat panjang dan Iwan punya napas panjang untuk bertahan dengan konsistensi.

Jangan heran, profesi yang diidamkan oleh anak muda Indonesia sekarang ini adalah menjadi artis! Tentu saja televisi yang menyorongkan glamour dan [seolah] semua artis hidup mewah, juga jadi pemicunya. Seolah dengan heboh di televisi numpang lewat, disebut artis, semuanya akan serba mudah. Mereka seolah lupa, proses disebut sukses itu, ada banyak tangga.

Saya hanya membayangkan kata-kata di warung ropang itu: “bahkan yang instan pun, perlu proses untuk membuatnya.” Kalian yang tidak sekolah pun, harusnya bisa memahami hal itu bukan? Selamat menemukan pencerahan…..