Benarkah kalau disebut musisi dan penikmat musik sekarang, lebih menyukai kata-kata atau lirik lagu yang to the point, tidak berbelit dan dianggap [sok] nyastra? Bagaimana pula kalau kemudian ada yang mengatakan –termasuk saya—musisi sekarang punya sisi lemah dalam pendalaman lirik, kosa kata yang standar dan pengulangan tema yang membosankan?

Banyak Musisi Yang Malas Membaca, Apalagi Tahu Karya Sastra
Banyak Musisi Yang Malas Membaca, Apalagi Tahu Karya Sastra

MUNGKIN pertanyaan saya agak tendensius, berapa banyak musisi yang hobi membaca? Kemudian kalau saya tanyakan lagi: berapa banyak musisi yang membaca karya sastra atau buku-buku yang topiknya membuat penasaran dan merunutnya sampai tuntas? Saya masih tak ingin percaya dengan kawan jurnalis musik yang terang-terangan mengatakan: musisi kok disuruh baca. Nah..

Dalam suatu kesempatan, saya sempat berdialog dengan salah satu band di luar Jakarta. Dari obrolan singkat tentang musik dan lirik-liriknya, kami ternyata punya ketertarikan yang sama, soal buku. Menariknya, lirik lagu yang dibuatnya ternyata dipengaruhi oleh buku-buku yang dibacanya. Dan buku yang dibacanya bukan buku mainstream. Selain soal sastra yang cukup berat, juga buku-buku yang mengupas soal agama dari sisi yang berbeda-beda dan kerap dianggap tidak lazim. Nalar yang saya tangkap dari lirik-lirik lagunya membuat saya kagum sebenarnya, tidak ada liriknya yang standar.

Saya selalu tertarik dengan kutipan dari penulis dan pemenang Hadiah Pulitzer [tahun 1940an] bernama William Saroyan. Tak banyak orang yang tahu tentang penulis kelahiran Armenia yang warga negara Amerika ini. Bahkan –konon—di Amerika sendiri, tak banyak yang mengenalnya, padahal karya-karyanya bertebaran di banyak Negara. Salah satu yang terkenal adalah The Human Comedy dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Komedi Manusia. Ada satu quote yang menurut saya menunjukkan kematangannya bermanusia, begini:

Every man in the world is better than somebody else, and not as good as somebody as.”

Bukan melulu soal kutipan yang jelas sudah melewati proses panjang sebagai seorang penulis, tapi bagaimana bertransformasi dari seseorang yang berceloteh biasa saja, kemudian menjadi sangat luar biasa. Bagaimana seorang musisi mengubah sudut pandang manusia, menjadi lebih egaliter, lebih humanis, mungkin juga lebih fanatic, dengan kata-kata yang terbaca dan terdengar cukup punya makna. Bagaimana melewatinya? Tentu saja selain kerap bermain kata-kata, membaca karya sastra, juga kudu piawai bermeditasi kata-kata. Proses yang hanya bisa dicapai dengan kontinyuitas terus menerus.

Membaca Mengasah Kemampuan Berlirik Yang Apik
Membaca Mengasah Kemampuan Berlirik Yang Apik

Tentu saja masih ada dan banyak musisi yang mengolah kata dengan apik, dengan sudut pandang yang luas dan menggigit, tak sekadar bicara ‘aku cinta padamu’ atau ‘kau putuskan aku’ dengan rhema yang terdengar membosankan dan menggelikan. Seperti rengekan anak kecil yang minta permen dan mencari perhatian supaya diberi atau dibelikan. Salahkah? Saya tidak mengatakan demikian, karena toh ternyata banyak yang rela menjadi bocah penuh rengekan itu. Tapi tidak inginkah menciptakan satu karya terbaik dengan musikalitas dan kata-kata yang luar biasa menariknya?

Dalam sudut pandang saya, musisi dan karya sastra yang apik, sudah seperti jembatan yang nyaris terputus.