Seseorang yang dianggap pengamat musik di Indonesia mengatakan, ketika dunia sudah tanpa batas, go international sudah menjadi sebutan basi. Orang ini bicara soal dengungan go international yang kini banyak diincar untuk dilakukan oleh musisi-musisi Indonesia. Benarkah sudah basi impian itu?

Go Internasional itu slogan 'ngos-ngosan' yang kerap didengungkan Musisi Indonesia.
Go Internasional itu slogan ‘ngos-ngosan’ yang kerap didengungkan Musisi Indonesia.

KALAU bicara soal interaksi internasional, siapapun sekarang akan menyebut dirinya adalah bagian dari kehidupan global. Termasuk musisi tentu saja. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, dunia seolah hanya –meminjam istilah komik Kho Phing Hoo—sepelemparan batu. Dekat dan terkoneksi. Kalau Anda punya karya, apapun itu, dengan internet dan sedikit promosi online, siapapn sudah bisa menikmatinya. Tak peduli karya itu layak atau tidak, tapi Anda sudah bisa menerabas rintangan pertama soal bahwa karya itu harus diedarkan secara mainstream. Dan apakah itu sudah disebut dengan go international? Kok, terlalu menyederhanakan definisi pergi secara internasional itu ya?

Sebelum kita bicara lebih jauh soal go international itu, alangkah baiknya menyimak beberapa definisinya. Dalam konteks musikal, tidak ada definisi baku tentang go international ini. Tapi dari beberapa pendapat, apa yang dikatakan Anggun, salah satu penyanyi asal Indonesia [kini berpaspor Perancis], bisa jadi salah satu acuan. Menurutnya, “Disebut go international itu adalah musisi yang mempunyai album yang diproduksi di luar, dibeli oleh orang luar, diedarkan di luar, mempunyai konser di luar yang ditonton oleh orang orang luar dan mempunyai karier di luar.”

Dari beberapa definisi, baik di internet, literatur atau hasil wawancara dengan beberapa narasumber, saya menyimpulkan, bahwa go international itu adalah: “musisi yang berkiprah di luar negaranya, sukses mempunyai album internasional, kerap diundang untuk benar-benar berkonser atau hadir di festival musik dan berhasil menembus tembok-tembok industri musik dunia [baca: Eropa, Asia dan Amerika Serikat]”

Sementara mengutip tulisan seorang blogger amatir –meski tulisannya tidak amatir—go international kalau diartikan secara harafiah, berarti ‘pergi ke seluruh dunia’ atau ‘pergi untuk [menjadi terkenal] mendunia’. Nah disinilah letak ambiguitas atau ketidakjelasan makna. Apalagi dalam perkembangannya dibumbui berbagai macam intrik dan ‘perang statemen’ berbagai pihak terkait istilah ini.

Tentu saja definisi itu masih bisa diperdebatkan dan dijadikan bahan diskusi yang tidak ada habisnya. Tapi pendapat Anggun tentu juga bukan asal njeplak pastinya. Apa yang dikatakannya itu, belajar dari pengalaman dan proses perubahan, dari artis nasional yang sedang berkibar, melompat –meski tak mudah—menjadi artis internasional dalam artis sesungguhnya. Sesuai dengan apa yang dikatakannya itu. Dalam bahasa pemasaran, Anggun melakukan big think dan dream big.

Kelemahan musisi yang bermimpi untuk benar-benar go international adalah visi yang lemah. Setiap musisi, siapapun dia, harus punya visi dan sasaran yang jelas. Ini ada hubungannya dengan target yang ingin diraih. Kita bicara soal pencapaian karier dengan sistematika yang jelas dan dilakukan dengan bertahap. Hal itu akan membuat musisi [dan manajemennya], mempunyai pondasi yang kokoh dan kuat untuk mencapainya.