Saya pernah menulis, dan kerap saya tanyakan kalau sedang wawancara dengan artis, musisi, bahkan petinggi label atau petinggi televisi. Pertanyaannya adalah: benarkah dunia hiburan itu wealth-fake-glamours? Terlalu banyak “kebaikan semu” terlalu banyak “seolah-olah” dan terlalu banyak “basa-basi busuk” yang tampil ke permukaan. Benar, ada banyak uang yang tersebar di banyak lini hiburan. Tapi yang “terbunuh” oleh industri hiburan itu sendiri, bejibun cuy! 

Kita, saya dan Anda, sedang diinvasi oleh industri kepalsuan -- [foto:
Kita, saya dan Anda, sedang diinvasi oleh industri kepalsuan — [foto: Getty Images]

SEMAKIN saya terlibat dalam banyak aktifitas entertaint, semakin saya tahu, ada banyak kepalsuan yang dijajakan. Meski saya tak bisa menghakimi semua yang terlibat seperti itu, tapi kalau tidak menjadi sosok yang berbeda, biasanya akan lebih mudah “lenyap” dari jagat hiburan tanah air.

Apakah industri ini tampak seperti keindahan sinetron-sinetron omong kosong yang bertebaran berkejaran rating? Atau aslinya seperti sumpah serapah yang liar mengalir di lelucon-lelucon tidak penting, dengan melatakkan manusia lain sebagai sosok hinda dina yang pantas dirundung dengan kata-kata apapun?

Beberapa hari lalu, saya menyambangi salah satu studio televisi beken. Disana ada banyak artis yang akan siaran, entah langsung entah tapping. Kemudian ada banyak fans dan pekerja yang terlibat dalam tetek bengek urusan produksi. Semua sibuk. Tapi semua “palsu”. Senyum yang dibuat-buat, sapaan yang ramah yang harus dilakukan, dan penampilan yang terlihat cemerlang di layar kaca, harus sempurna. Saya hanya bisa tersenyum melihat semua kepalsuan yang sedang ditebar itu.

Saat industri telah menjadi komoditas yang sifatnya paradoksal maka kita baik sebagaiindividu maupun kelompok secara tidak langsung dan tidak sadar telah menjadi bagian dalam sebuah struktur budaya yang telah dikomersialkan. Kini konsumen telah menjadi objek bagi ideologi industri hiburan. Seni, film, radio, televisi, menjadi komoditas ekonomi dan menjadi alat dalam mempresentasikan kekuasaan. Budaya global juga mempengaruhi segala sesuatu menjadi sama saat ini. Sinetron, Mall, Film, Glamoritas, adalah sebagian contoh kecil hal-hal yang telah membentuk masyarakat, gaya hidup dan budaya masyarakat modern selama ini.

Media massa pula yang kemudian menjadi sesuatu yang mempunyai peran yang sangat besar. Media massa dan makin berkembangnya kebutuhan akan informasi kemudian menggeser bentuk sosial kemasyarakatan dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi.

Disinilah teori industri budaya memulai titik awal sudut pandangnya yaitu pada sistem kapitalis. Teori ini meminta kita untuk lebih sadar secara kritis akan produk-produk budaya yang ada karena ideologi dari pembuat produk budaya adalah bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Terlebih dalam pandangan teori industri budaya, masyarakat saat ini telah berada dalam pertarungan-pertarungan ideologi yang hadir melalui pengkomodifikasian budaya.

Musik pop tidak pernah berdiri sendiri. Pengalaman akan musik pop dan gaya hidup telah berpengaruh pada berbagai aspek sentral lainnya. Contohnya, pengalaman akan komunitas dan perayaan festival dimana belasan orang akan saling berbagi pandangan dan ideologi mereka. Saat ini para pemuda bersosialisasi dengan banyak acara televisi. Mereka mengkonsumsi dan menggunakan musik sebagai penghubung mereka dengan gaya hidup yang plural. Kini tidak ada makna yang ambigu lagi. Makna telah dikonstruksi secara individual. Budaya teknologi telah menggeser pengalaman komunitas menjadi pengalaman yang letaknya lebih ke fisik dan mental masing-masing individu.

Media terutama media massa adalah agen kebudayaan yang penting, mekanisme kerja media telah mengelola fakta menjadi berita yang memang telah diharapkan, media bukan hanya mempresentasikan realitas, ia juga memproduksinya. Bila berita adalah fakta plus makna, maka media telah mengubah fakta menjadi fakta yang lebih kuat daya persuasinya kepada masyarakat. Mereka merekayasa citra dari bahan data fakta ini secara kreatif menjadi citra yang kaya pesan, kenikmatan dan makna.

Selebritis dan kepalsuan gaya hidupnya, adalah ciptaan media. Sayangnya, kita semua menikmatinya dan seolah masuk dalam mimpi-mimpi semunya.

Tidaklah mengherankan bila massa ini kerap disebut ‘the era of imagology‘. Ketika citra menjadi lebih penting dari realitas empiriknya. Seperti kita maklumi, realitas citra tidak menginduk pada realitas empirik tetapi pada realitas simboliknya. Itulah kenapa pesohor yang sukses ditayangkan dalam media massa bergaya dengan mobil BMW, heli atau bahkan jet pribadi mereka. Mereka inilah yang sering disebut selebritis.

Dan, selebritis adalah ciptaan media.