Ini kerap dipertanyakan oleh banyak orang, “apalagi yang kita punya, ketika rasa malu untuk tidak beradab pun sudah tak punya?”. Dalam situasional musical dan industrinya, saya pun mungkin akan bertanya seperti itu, “apalagi yang musisi punya, ketika rasa malu mengakui karya orang lain sebagai karyanya pun sudah tak punya.” 

Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?
Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

BERPIKIR menjalani hidup seutuhnya sebagai musisi, bukan perkara mudah dan ringan. Ada banyak pertimbangan soal masa depan ketika akhirnya benar-benar nekat menekuni profesi sebagai musisi. Profesi ini sebenarnya sama saja dengan profesi PNS, jurnalis, akuntan, atau waitress misalnya. Profesi musisi juga layak dituliskan di KTP dan seharusnya membuat bangga pemilik KTP-nya. Tapi musisi yang bagaimana yang bisa membuat bangga pelakunya, bukan profesi yang malah membuat malu. Malu?

Benar, rasa malu sudah mulai luntur tatkala kita diperhadapkan pada kenyataan, persaingan itu kadang-kadang mengabaikan rasa malu [dan beradab], hanya supaya kita bisa berada di puncak. Ok, menurut Wikipedia, “Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya. Penyandang rasa malu secara alami ingin menyembunyikan diri dari orang lain karena perasaan tidak nyaman jika perbuatannya diketahui oleh orang lain.”

Malu sekarang sudah mulai jadi artefak yang disimpan di museum-museum dan hanya dipertontonkan.

Sekadar berwacana, pada tahun 1948 Ruth Benedict seorang antroplog dalam bukunya yang berjudul The Chrysanthemum and the Sword, memperkenalkan istilah Shame Culture [budaya malu) dan Guilt Culture [budaya bersalah) yang digunakan sebagai dikotomi pembagian bagaimana pola pikir Barat dan Timur. Pola inilah yang kemudian dikembangkan dan menjadi tradisi budaya. Bangsa Timur, punya “budaya malu” yang amat kental, seperti misalnya di Jepang. Ketika mengalami kegagalan akan tugas yang diberikan, mereka akan sangat malu bahkan tidak sedikit yang sampai bunuh diri. Sementara di barat, selalu diwejangkan, bahkan “budaya bersalah” ketika mereka tidak taat dengabn aturan dan prosedur. Saya agak “resah” kalau mereka-mereka itu tinggal di Indonesia, karena dua budaya itu sudah mulai terkikis. Penganutnya malah terlihat menggelikan.

Seorang musisi yang hebat, mengaku karya-karyanya adalah original dan dibuat dengan olah pikir dan talenta yang dia miliki. Ketika kemudian terungkap bahwa musisi tesebut tidak hanya “terinspirasi” dengan amat detil, tapi juga amat sangat mirip dengan “inspirasinya” seharusnya dia punya malu untuk mengaku bahwa itu karya originalnya. Musisi lain begitu bangga mendeklarasikan dukungan sehingga lupa bahwa dia harus dibatasi rasa malu, ketika kemudian omongan, tindakan dan sikap di publiknya, tak pernah bisa jadi contoh.

Banyak musisi yang merasa dirinya hebat, punya talenta luarbiasa, dan skill memadai, merasa harga dirinya jatuh ketika ada manusia lain yang ternyata lebih jago, padahal mereka sudah koar-koar kemana-mana. Tak heran, setiap musisi yang ingin diakui eksistensi, atau yang sudah mulai merosoto eksistensinya, selalu berjuang, agar kalaupun berbuat salah, tidak ketahuan orang, atau tidak pernah kalah dalam bersaing dan juga selalu dihargai orang. Orang yang tidak peduli terhadap harga dirinya atau tidak pernah merasa malu, biasanya dianggap tidak beres. Meskipun sebenarnya tidak begitu juga.

Dalam agama Budha, ada istilah hiri. Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap batin yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Kemudian dalam konteks lain ada istilah Ottapa, yang artinya enggan berbuat salah atau jahat, sikap bathin yang merasa enggan tau taku takan akibat perbuata salah mapun jahat, baik melalui pikiran, kata-kata maupun perbuatan badan jasmani. Tentu tidak harus menjadi Budha untuk tahu soal itu.

Menjadi musisi, apapun posisinya di industri, harus berani “telanjang bulat” yang maknanya adalah: bisa mempertanggungjawabkan karya-karya yang dibuatnya secara gamblang dan terbuka. Ketiak musisi ini berdiversifikasi profesi, menjajal profesi lain, harusnya dia juga harus sadar diri dengan kemampuannya. Kalau merasa punya potensi, silakan, tapi kalau kemudian hanya mempermalukan diri sendiri, mendingan sadar diri saja sebelumnya. Kalau tak punya wawasan, hanya comot sana, comot sini, masihkah pantaskah disebut musisi bertalenta? Bagaimana kalau kemudian kita sebut: pemulung nada saja?

Jadi, masih adakah pemilik “malu” itu di industri musik Indonesia?