“Musik itu haram!” dan pemujanya kemudian disebut kafir! Begitulah kalimat-kalimat yang saya terima, saya lihat, dan saya dengar dari diskusi, youtube, sampai ceramah di komunitas yang notabene dikekep oleh penganut aliran yang mengalirkan fatwa haram dan kafirun cihuy itu.

Saya mencoba menelisik dari sisi kemanusiaan saja, karena ranah agama adalah ranah yang selalu membuat saya terangsang untuk kritis, skeptis dan mungkin sinis.

rockstar is more sex? fuck off...
rockstar is more sex? fuck off…

ADALAH THE STRANGERS AL GHUROBA yang belakangan jadi topik hangat. Banyak yang menyebutnya wahabi. Apa itu wahabi, silakan nanya ke Google yang baru ganti logo itu saja. Ketimbang saya sok-sokan menjelaskan, tapi mengutip dari Wikipedia juga. Nah, The Strangers ini menjadi salah satu kelompok yang masive “menobatkan” banyak musisi, sehingga meninggalkan kehidupan dunia sebagai musisi, dan menjadi “petobat di jalan Alloh”. Paling tidak, seperti itulah yang terjadi. Sebatas membantu manusia yang konon masih berada di “jalur kegelapan” untuk menemukan “hidayah” silakan saja, tapi kemudian ada embel-embel lain yang menganggu pemikiran kritis. Mereka memberi klaim, musik itu haram!

Tentu dalil agama yang mereka butuhkan, semua dikeluarkan. Bahkan mereka menyebntuh youtube untuk menyebarkan apapun yang mereka jadikan “doktrin’. “Alat-alat musik itu adalah bagaikan pemabuk jiwa,” sebut Ahmad Zainuddin, yang dianggap sebagai guru besar oleh The Strangers Al Ghuroba. Dan doktrin itulah yang akhirnya memikat sejumlah musisi yang selama ini menjadikan musik sebagai sandaran hidup, Musik sebagai sumber utama penopang ekonomi mereka. Siapa yang masuk? Silakan mencari di Google juga, karena sudah tersebar dimana-mana, nama-nama musisi yang dianggap “bertobat” itu.

Ini khilafah jenis baru. Gerakan atau mimpi –meski menurut saya utopis—untuk melahirkan “wilayah tanpa musik” yang diyakini lebih membawa kemaslahatan umat –kira-kira begitu bahasa yang lazim muncul di pertemuan mereka. Anda yang masih bermusik –apapun genre musiknya—siap-siaplah mendapat stigma atau stempel “aneh, atheis, berdosa, penghuni neraka & durhaka” – mengerikan bukan? Tapi apakah tudingan itu membuat musisi yang “belum bertobat” itu mundur dan menjadi kucing manis yang enak dielus, diberi susu dan tertidur? Tentu tidak.

Saya ingin mengatakan, bukan perkara tidak ada seorang pun yang berhak dan bisa memenjarakan musik yang kita sukai. Tubuh ragawi boleh saja terinjak dan terpenjara di tempat yang paling tersembunyi, tapi pikiran dan pendengaran tetap akan bebas, sebebas-bebasnya. Dia – pikiran itu—akan tetap mengembara kemana dia suka. Mungkin akan dicerca, dihina, disiksa, tapi dia tak bisa dimatikan. Musik adalah pengembara, bukan pertama di satu tempat.

Bermusik Itu Haram? Maaf Bro, Itu Zaman Jahiliyah Dulu.....
Bermusik Itu Haram? Maaf Bro, Itu Zaman Jahiliyah Dulu…..

Bermusik itu bukan perbuatan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adalah realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Bahkan seorang Sunan Bonang, memilih melahirkan seperangkat alat musik bernama gamelan, untuk melakukan syiar Islam. Apakah, perilaku Sunan yang nota bene penyebaran agama Islam juga itu dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tertentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Mereka tidak akan menganggap bahwa kata-kata ini bukan sebuah kata bualan yang terpancar dari mulut seorang radikal ateistik, kafir, atau kaum pendosa mungkin.

Andaikan kata-kata ini benar merupakan ujaran dari seorang radikal ateistik, paling tidak mereka dapat mengambil sisi baiknya, sebab segala sesuatu yang ada pasti mengandung nilai yang dapat diambil dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi diri pribadi. Coba, cermati serta telisik kembali ungkapan ini serta kantongi nilai-nilainya.

Saya menelisik beberapa situs dan menemukan satu ungkapan yang “luar biasa”. Seperti ini: “Ingatlah bahwa bernyanyi dan main musik tidak ada manfaatnya begitu pula mendengarkannya. Semua itu adalah perbuatan sia-sia. Sifat orang yang beriman adalah meninggalkan hal yang sia-sia.” Bayangkan, jika semua musisi di Indonesia kemudian bersepakat bahwa nyanyi, main musik, atau mendengar musik tidak ada manfaatnya dan melakukan gerakan massal: tinggalkan musik serempak! Indonesia akan menjadi “kuburan masal”.

Hal itu jadi tantangan bagi kita semua untuk tidak selalu berpandangan picik atau culas terhadap realitas hidup dan kehidupan yang sedang menyapa. Mungkin ada maksiat, mungkin ada minuman keras, mungkin narkoba, tapi itu bukan melulu kesalahan musik dan bukan kemudian menjadikan musik haram. Saya mencoba memelesetkan kalimat terkenal Nietzsche dalam Sabda Zaratustranya, “Tuhan Sudah mati!” Kalimat itu saya ubah menjadi “Musik Sudah Mati!” Bagaimana memahaminya kemudian? Kalau The Strangers benar-benar memaknai musik harus dimatikan, saya melihat berbeda.

Sebagai bagian untuk mencerahkan manusia, atau sebutlah musisi, pernyataan itu sah-sah saja memang. Ungkapan ini selalu dianggap sebagai virus yang mematikan yang harus segera dibumihanguskan. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, ungkapan ini merupakan cambuk pengingat bagi mereka yang telah lalai. Cambuk bagi mereka yang selalu mengutamakan esensi dan eksistensi pribadi hingga mereka menjual, mematahkan dan bahkan membunuh eksistensi talenta yang sudah ada dalam dirinya.

Ungkapan “Musik telah mati”mengandung nilai filosofis yang begitu dahsyat Kematian ini bukan mengarah pada kematian esensi [zat] musisi, melainkan mengarah pada kematian eksistensi talenta dalam diri seorang manusia. Secara kodrati, talenta yang dimiliki manusia yang diberikan Tuhan harusnya seumur hidup dan tak boleh dimatikan oleh manusia itu sendiri. Bentuk pembantaian serta peniadaan eksistensi talenta [baca: musik], sejatinya adalah penindasan manusia atas manusia. Penindasan talenta atas talenta, karena musisi banyak yang beralih pandangan. Mereka menjadi [hanya] pengejar Tuhan, tapi lupa bahwa Tuhan pun lebih suka dipuji dengan gendang dan kecapi.

Ber-Tuhan dengan lebih baik, ber-agama dengan lebih tekun, atau beribadah dengan lebih khusyuk, bukan hal yang dilarang. Bagus malah! Tapi menjadi “Tuhan” atas manusia lain, memberi stempel kafirun kepada musik, lagu dan musisinya, jelas ketololan yang hanya dibungkus “ayat-ayat” yang sudah dipilah, untuk selanjutnya menciptakan “surga tanpa musik”. Saya hanya bilang: itu surgane mbahmu cuk!

Siapa yang merasa dirinya paling bersih dari dosa, dan halal dari kesalahan: silakan hancurkan alat musikmu duluan!