Mungkin, pertanyaan yang saya ajukan ini terkesan sarkastis: siapakah sejatinya “pembunuh” industri musik? Akan muncul pertanyaan susulan: apakah industri musik [memang] sudah mati? Tidak mudah menjawabnya, karena industri musik tak pernah mati. Selalu ada musisi, penyanyi, composer baru dan yang merilis single atau album baru pula.  Lalu?industri_mati

SEBAGAI penceloteh di industri musik, saya kerap mendapatkan pertanyaan dan jawaban tentang industri musik. Pertanyaannya “kejam” dan cenderung “mengerikan’ seperti: benarkah industri musik sekarang sedang sekarat? Atau: apakah industri musik sedang mati suri dan tidak punya lepasan yang berkualitas? Atau: mengapa industri musik melahirkan musisi epigon doang? Kalau melihat selalu muncul pendatang baru yang mencoba peruntungan, apakah pantas industri disebut mati?

Oke, lupakan sebentar perdebatan yang sebenarnya sudah kerap dibahas itu. Seorang Taylor Swift memberi contoh, bagaimana musisi seharusnya punya “keberanian” berhadapan dengan raksasa industri  ketimbang “dikadali” dengan halus. Begini ceritanya: Apple, salah satu perusahaan gadget besar di Amerika Serikat, sedang menguji layanan musik dalam produknya. Salah satu yang diminta [secara gratis] adalah lagu Taylor Swift tadi. Mau tahu jawaban cewek yang pernah konser di Jakarta itu?

“Saya tidak pernah minta iPhone gratis dari Anda, jadi tolong jangan meminta untuk menyediakan musik karya saya, kalau tidak mau memberikan kompensasi yang pantas!”

Dalam catatannya, Swift mengatakan, apa yang dia ucapkan itu tidak hanya soal penghargaan kepada karya musisi, tapi juga tetap memberi kehidupan kepada industri musik itu sendiri. “Mereka,” ujar Switf, “adalah pembunuh industri musik itu sendiri.” Pernyataan yang berani dan langsung menjadi “kompor’ untuk musisi lain yang diperlakukan sama. Apple sendiri tidak berkomentar atas kritik dari Swift. Tapi perusahaan rintisan Steve Jobs ini bukan satu-satunya yang punya “kesalahan” itu. Ada banyak perusahan besar lainnya, yang ingin menyelipkan musik sebagai aplikasinya, tapi malas membayar royalty kepada musisi yang mencipta dan menyanyikannya. Kalau kata Quincy Jones: “Sayangnya, kita bukan pemilik industri musik!”

Jadi, siapa “pembunuh” indutri musik itu?

Dalam kacamata Kabir Sehgal, salah satu produser musik untuk pemenang Grammy Award, ada tiga “pembunuh” industri musik itu. Apa yang diucapkan dan dibagikan oleh Kabir, muasalnya adalah pengamatan dan pengalamannya di industri selama puluhan tahun. Kabarnya, beberapa musisi orbitannya sempat meraih Grammy Award. Lalu siapa tiga “pembunuh’ itu?

  1. Pembajak!

Dalam bukunya How Music Got Free, Stephen Witt mengatakan: pembajakan sebenarnya bermula dari keriaan manusia-manusia. Anggap saja mereka musisi. Ketika ada lagu atau CD baru berisi lagu baru yang mungkin sedang ngetop, kelompok manusia yang lebih kecil menggandakan dan kemudian menjualnya secara illegal keluar. Atau kelakuan itu dipicu oleh kebusukan orang dalam dari perusahan musik itu sendiri. Witt pernah melakukan investigasi melacak salah satu pembajak besar di North Carolina Amerika Serikat. Ketika itu tahun 90an, pembajak bernama Bernie Lydell Glover adalah satu pekerja di pabrik manufaktur CD. Sampai saat ini, Glover kerap disebut-sebut sebagai salah satu pembajak kakap sebelum album-album resmi diedarkan. Ketika era CD susut, Glover memilih distribusi digital di internet bersama para pembajak lainnya, termasuk bergandengan dengan Napster dan Bit Torrent ketika itu.pembunuhMusik1

  1. Label atau Perusahaan Rekaman

Loh, bukannya mereka –perusahaan rekaman itu– hidupnya tergantung dari industri musik yang mereka olah? Kok jadi salah satu “pembunuh’ industrinya? Kanibalis dong? Ketika perkembangan digital sudah amat progresif, banyak perusahan rekaman besar yang terlembat mengantisipasi. Kemudian, banyak dari mereka yang ternyata jadi “pembajak’ untuk musisi mereka sendiri. Alasannya? Menaikkan harga jual atau sekadar pemancing antusiasme pendengar. Alasan bodoh kalau kemudian jadi alasan memperbolehkan pembajakkan. Kalau kemudian sekarang banyak label yang bergegas menjadi pemain distribusi digital tentu kerja keras yang lipat-lipat dari sebelumnya. Kalau rontok atau buru-buru ingin meraup untung dan akhirnya mencari jalan pintas, itulah sejatinya yang disebut “pembunuh’.

  1. Musisi

Eforia dan ketidaktahuan musisi pada perkembangan teknologi, kemudian ketidakmampuan memahami kontrak baru, menjadi titik lemah ketika label menyodorkan kontrak yang menjadi pengikat. Sekadar catatan: banyak label yang tidak memasukkan penjualan digital sebagai line-up perjanjian di kontrak. Akibatnya, angka penjualan keseluruhan sering terlihat lebih kecil. Back Street Boys, salah satu boysband yang menjual albumnya hingga jutaan kopi di seluruh dunia, tahun 90an dilaporkan tidak mendapat pembayaran royalty digitalnya. Labelnya mengelabui pada poin pembayaran royalty internasionalnya. Kasihan bukan? Dan itu disadari terlambat, karena ternyata kontraknya tidak menjelaskan soal itu.

Ternyata “pembunuh” industri musik itu, adalah elemen internal industri itu sendiri. Perusahaan rekaman boleh saja jadi pesaing perusahaan rekaman yang lain. Tapi untuk urusan kontrak, royalty atau pemahaman soal digitalisasinya, mereka harus bekerjasama satu sama lain. Secara global, sudah tidak masanya lagi bergerak sendiri, sikut sana-sini.  Oh ya, kalau bingung: “pembunuh” dalam tulisan ini adalah antithesis dari siapa saja yang membuat industri musik menjadi zona tak nyaman berkarier.