Kenapa sih, saya dan kawan-kawan selalu rewel tentang peristiwa kelabu 1965? Toh, saya tidak secara langsung doang menjadi korban. Kebetulan saja orang tua saya adalah korban langung. Tersungkur di ujung todongan senapan dan sepatu lars. Tertindas di penjara, tanpa pernah bisa dibuktikan kesalahannya. Mengapa saya dan kawan-kawan harus terus menggugat dan berteriak, sampai detik ini?

Kepada Mereka Yang Terbunuh – 1993 [Foto: Instalasi Karya: Dadang Christanto]

SAYA INGAT, saat masih duduk di kelas 3 SD, ayah saya menyodorkan buku kecil berjudul ‘Pitoyo’ [tulisannya: Pitojo, ejaan lama]. Sudah buluk, karena memang buku lama. Masih disimpan, menandakan buku itu penting. Ceritanya sederhana, tentang seorang laki-laki yang karena perbedaan kelas, terpaksa menerima “jatahnya” sebagai kacung kampret. Sampai akhirnya di satu titik, dia menjadi pemberontak atas ketidakadilan itu. “Kelak kamu harus seperti Pitoyo itu, harus berontak kalau ada ketidakadilan karena disitulah martabat manusia dipertaruhkan!” kata ayah saya, yang jujur saja, saya nggak begitu mudeng ketika itu.

Kata-kata begitu tertancap di benak saya. Kata-kata itu menjadikan saya gelisah ketika kemudian tahu bahwa ayah saya adalah realita dari ketidakadilan. Bahkan di usianya yang sudah menembus 90 tahun, masih harus mengalami “pelecehan harga diri” meski kemudian bisa membalikkan keadaan menjadi yang terhormat. Saya mencari literasi apapun tentang peristiwa yang selalu ditudingkan kepada PKI itu. Semakin saya banyak membaca, berdialog dengan korban dan menganalisa semua bahan, saya memutuskan untuk “memberontak” atas ketidakadilan ini. Kali ini tak hanya karena ayah saya, tapi begitu banyak penyintas yang saya kenal, menjadi korban sia-sia.

“Kelak kamu harus seperti Pitoyo itu, berontak kalau ada ketidakadilan, karena disitulah martabat manusia dipertaruhkan!”

Bukan perkara mudah di negeri yang begitu mudah menyembunyikan data dan fakta untuk kepentingan sang kuasa. Menjadi begitu ngeri di negeri yang amat ketakutan dengan simbol-simbol perjuangan kelas pekerja dan petani,  palu dan arit. Begitu banyak otak yang sudah tercuci bersih dan tak mungkin kembali dengan titik kebenaran. Kalau pun tidak sampai pada kesimpulan soal kebenaran, paling tidak bisa melihat dengan terang, ada jutaan nyawa yang dikirim di akherat dan kemudian menjadi sah tanpa klaim kekerasan dilakukan oleh negara.

“Hidup ini adalah proyek yang tak pernah habis,” kata Seno Gumira, wartawan dan budayawan itu. Karena itulah, selayaknya kita memperjuangkan sesuatu yang bisa membuat diri kita menjadi lebih tenteram dan bahagia. Kegelisahan itu mungkin berjalan seumur hidup, perlawanan itu mungkin masih akan berlanjut bahkan ketika kita sudah mati sekalipun, ketidakadilan masih akan bergulir selama dunia ini masih berkibar. Tampaknya utopis kalau kita kemudian menjadi “pemberontak” untuk memperjuangkan keadilan itu. Inilah pikiran-pikiran, dogma dan doktrin yang harus kita lawan.

Lars Yang Berlumuran Darah Korban 1965 - Ilustrasi Karya Dadang Christanto
Lars Yang Berlumuran Darah Korban 1965 – Ilustrasi                               Karya Dadang Christanto 

Pembantaian 1965 adalah tragedi kemanusiaan paling buruk dalam perjalanan sejarah negeri ini. Satu nyawa sudah terlalu mahal untuk dibantai, tapi jutaan melayang, tentu ada yang salah dengan nurani dan kemanusiaan para pembantai itu. Atas nama agama, atas nama negara, atas nama kebenaran, dan atas nama penguasa, manusia-manusia yang berdiri sejajar dan equal itu diterjang kematian yang sejatinya masih bisa mereka hindari. Bajingan-bajingan bernama [ke]aparat itu, masih tak rela ketika sekadar kata “maaf” diluncurkan. Menjadi pembunuh rupanya “prestasi” yang kelak bakal diceritakan pada anak cucunya. Semoga saja anak cucunya cukup cerdas untuk mengerti kebusukan leluhurnya.

Saya menyebutnya genosida65, karena memang itu pembersihan besar-besaran bukan sekadar kesalahan data, atau ketololan salah eksekusi misalnya. Ini terorganisir, sistematis, teratur dan terencana. Dan perlawanan kami, saya dan kawan-kawan, tidak akan pernah berhenti meski terror apapun kami sadari bakal mampir. Bahkan mungkin, ada pembelokkan ‘lawan’.  Kami akan menjadi amoeba, membelah diri dan berkembang lebih besar. Apakah target kami kekuasaan? Tidak! Kami tidak peduli dengan kekuasaan, kami peduli dengan harga diri dan fakta atas tumpang tindihnya ketidakadilan.

Sudah begitu bodohkah  saat “ketakutan” akan ideologi tak bisa dihadapi dengan nalar. Apakah [ke]aparat itu tak pernah punya nyali belajar tentang apa yang mereka takut itu. Sehingga bisa mengerti, ada otak yang tercecer dan menggumpal dalam slogan ketololan yang selalu didengungkan. Percayalah, dalam senyap kami melawan.

#MenolakLupa – Genosida65