SEJARAH selalu diciptakan untuk ‘kenikmatan; penguasa. Kalimat itu sudah seperti champagne yang melenakan seolah jadi kredo abadi dalam setiap kehidupan bernegara. Betapa piciknya saat kalimat itu benar-benar jadi pembenaran atas kekerasan, kematian, kepalsuan, dan kesombongan negara. Kalau ada kalimat yang lebih tepat, mungkin: exploitation de I’homme par I’hommepenghisapan manusia atas manusia – bisa jadi semboyan baru negara.

Perempuan Yang Diperkosa & Distrum Vaginanya -- [ilustrasi milik Yayak Ratnaka]
         Perempuan Yang Diperkosa & Distrum Vaginanya — [ilustrasi milik Yayak Yatmaka]

MENJADI kiri itu haram! Mungkin kalau ditegaskan, kalimat itu bakal jadi penegas yang pasti diucapkan oleh mereka-mereka yang “ketakutan” dengan pemikiran berbeda itu. Padahal, kiri adalah menghendaki suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang di dalamnya tidak ada kapitalisme. Pendek kata, kalau menurut Bung Karno: kiri adalah sebagai sikap politik yang menentang segala bentuk penghisapan dan penindasan. Meskipun saya yakin, ideologi apapun yang dikembangkan manusia beradab, pasti menentang penindasan manusia atas manusia.

Sekarang ini ada identifikasi bahwa menjadi kiri, berpikikir kiri, bicara kekirian, atau sekadar membaca buku-buku kiri, “wajib” hukumnya untuk dimusuhi, karena artinya “bersekutu” dengan komunis, sosialis dan sebangsanya.  Dengkulmu Ambleg!  Bahwa ideologi apapun harus bermuara pada ‘Tuhan’ adalah pakem yang harus ada di negeri ini. Ketika kekritisan itu menyinggung ranah pencipta, urusannya adalah surga neraka –suatu wilayah abstrak yang hanya dijelaskan dengan gamblang di kitab suci. Urusannya adalah “timbangan” pahala, yang kelak akan jadi tiket masuk kenikmatan abadi, atau pada keresahan abadi.

Betapa “sialnya” anak cucu pengikut Partai Komunis Indonesia a.k.a PKI. Tudingan anti Tuhan, atheis, pemberontak, pengkhianat, atau apapun yang penjelasannya adalah busuk. Mengungkit atau sekadar mengajak berdiskusi secara ilmiah dengan fakta, data dan pengalaman personal, akan dianggap makar atau perlawanan terhadap kemapanan yang sudah ada. Alih-alih bisa ngobrol, saya mungkin akan dituduh melawan agama tertentu [biasanya Islam] saat mendeklarasikan pilihan ideologi saya. Atau kalau lagi apes, Kodim, Polsek, atau intel-intel yang saya yakin nggak ngerti soal penjelasan ideologi-ideologi itu, akan merangket saya dan cap: melanggar TAP MPRS No. 25/1966, tentang larangan penyebaran paham komunisme dan Leninisme, langsung disematkan.

Benar bahwa pergulatan politik selalu memerlukan tumbal. Ada istilah: revolusi selalu memakan anak kandungnya sendiri. Dan apesnya PKI adalah: merekalah tumbal revolusi itu. Menjadi tumbal artinya: pengikutnya harus siap dikorbankan, dibunuh, diperkosa, dilecehkan, dibuang, dipenjara, dan dijadikan contoh bagaimana “azab” dari “Tuhan” bernama penguasa itu ditimpakan. Firman penguasa adalah sabda pandito ratu yang tak boleh dilawan dengan alasan apapun. Jangan bicara kemanusiaan, karena penguasa yang melakukannya, tidak sedang menjadi manusia, tapi menjadi dajjal atau bajingan berkedok seragam.

Ketika ratusan manusia diikat, dibawa ke hutan dan ditembak di kepalanya. Ketika ribuan manusia dipenggal dan mayatnya dibuang ke Bengawan Solo, ketika ribuan manusia, dibawa ke tebing, dikubur hidup-hidup. Ketika ribuan perempuan kelaminnya ditusuk dengan senapan. Ketika ribuan perempuan diperkosa oleh aparat berseragam. Ketika ribuan manusia dibawa ke penjara, tanpa tahu apa yang menjadi kesalahannya. Ketika ribuan manusia dibunuh dengan alasan mengganggu keamanan negara.

Saya hanya bertanya: bukankah negara ini diciptakan dan dihuni oleh manusia, bukan oleh kumpulan penyakit kemanusiaan?

Mereka Dibunuh Secara Simultan Oleh Aparat Berseragam -- [ilustrasi oleh Yayak Yatnaka]
 Mereka Dibunuh Secara Simultan Oleh Aparat Berseragam — [ilustrasi oleh Yayak Yatmaka]

50 tahun genosida itu sudah berlalu. Pelakunya masih banyak tertawa riang, meski saya yakin banyak juga yang oleng jiwanya, ditusuk oleh kata hatinya sendiri. Korbannya masih banyak yang hidup, dan mengalami mimpi yang teramat buruk dalam tiap tidurnya. Lalu apakah pembalasan yang diharapkan? Lalu apakah pemberontakan atas nama dendam yang harus dilakukan? TIDAK!

Kami yang menjadi korban hanya perlu kata MAAF! Bahwa negara benar sudah membiarkan kemanusiaan porak poranda. Mengembalikan harkat dan martabat sebagai manusia beradab dan sejajar, equal, bahkan dengan para penindas yang melakukan kebusukan kemanusiaan itu. Untuk begundal, penindas, penjilat, tukang jagal, pembunuh, dan pada koarist [tukang koar-koar] berkedok agama, kalau perasaanmu masih nyaman: kami akan selalu memburumu seperti kutukan!

#Untuk Bapak, Untuk Korban, Untuk Matinya Kemanusiaan