Sebagai jurnalis, apa sih pencapaian terbesarmu? Posisi terhormat di kantor, dengan gaji memadai, dan punya anak buah? Atau punya berita yang pernah jadi headline, dipuji banyak orang dan tiba-tiba jadi orang terkenal? Sebuah alternative pencapaian yang tidak salah kok.

Berhenti Jadi Jurnalis itu Bisa Kapan Saja, tapi Penulis Itu Abadi!
Berhenti Jadi Jurnalis itu Bisa Kapan Saja, tapi Penulis Itu Abadi!

ENTAH mengapa tiba-tiba saya malah ingin berhenti sebagai jurnalis, mundur dari hiruk pikuk soal pemberitaan, gossip, editing, pokoknya semua yang berhubungan dengan aktifitas jurnalisme. Kemudian memilih menepi, di suatu tempat yang hening, dingin, dan mencoba berinteraksi seperti masyarakat biasa. Menikmati kopi pagi, sembari makan singkong rebus atau pisang goreng, ngobrol tentang hidup dan sok-sokan bicara politik tapi dalam konteks rileks dan fun. Malam hari ikut ronda, mungkin main gaplek dan tertidur di pos ronda.

Lalu apa pencapaian saya sampai merasa harus berhenti? Tidak ada. Saya hanya jurnalis biasa, yang sekian belas tahun berkutat di liputan yang sama, musik. Saya hanya jurnalis biasa, yang menulis sesuai dengan apa yang saya rasakan, saya amati dan saya temukan. Saya jurnalis biasa yang hanya ingin kenal dengan banyak orang, bersahabat, dan menjadi teman buat siapa saja.

Saya jurnalis biasa yang ‘terganggu’ kalau disebut cari muka, karena mencoba kritis. Dan terbukti saya tidak peduli dengan tudingan itu. Saya hanya jurnalis biasa yang belajar menjadi jurnalis yang lebih baik. Berhasil? Entahlah, karena ukuran berhasil buat saya ketika saya akhirnya bisa dijadikan kawan atau sahabat, ketimbang dipuji-puji soal tulisan.

Benar, saya hanya ingin mundur sebagai jurnalis yang menorehkan catatan apapun dalam blog, tulisan di media lain, atau mungkin buku-buku yang sudah diterbitkan. Saya juga ingin mundur dengan tidak meninggalkan rasa rindu kepada kekritisan, kepada sinisme dan kepada skeptikal yang sudah kadung jadi patron jurnalisme pribadi buat saya. Saya ingin mundur dan kemudian menikmati angin, awan, hujan, dan panas terik sebagai harta yang tertemukan kembali.

Saya ingin menebus waktu yang hilang dengan orang-orang terdekat saya, yang selama ini mungkin [terpaksa] maklum atas pilihan saya. Saya hanya ingin menjadi saya, bukan dia, bukan mereka, bukan kami. Menikmati kehidupan secara sederhana, tanpa kemrungsung harus berpikir soal deadline, angle berita dan tetek bengek yang membuat tubuh ini meraung. Saya ingin mengembalikan akal sehat pada jalannya yang sehat.

Kata orang, menjadi jurnalis itu seumur hidup. Kata siapa? Menjadi penulis itu bisa seumur hidup. Sementara jadi jurnalis, kita bisa berhenti kapan saja yang kita mau. Repotnya, saya sudah kadung kecebur dari pertama  kuliah dan kerja. Menyesal? Tentu saja tidak, ini salah satu bagian terindah dari perjalanan hidup saya. Mengenal banyak orang hebat, bersahabat dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa dilihat di televisi atau media cetak, bisa menuliskan hal-hal yang tidak semua orang tahu, adalah pengalaman indah yang sampai mati pasti akan jadi sejarah manis.

Tapi saya tidak termasuk manusia yang terkontrak pda romantisme. Ketika kelak memutuskan berhenti sebagai jurnalis, ya sudah berhenti saja.Toh tidak ada yang kehilangan, karena seperti saya bilang di atas, saya jurnalis biasa-biasa saja yang muncul seperti asap, dan menghilang juga seperti asap tertiup angin. Biasa saja, tanpa bekas. Bekasnya Cuma tulisan, yang mungkin juga akan cepat dilupakan. Sama seperti ketika mati nanti, saya minta tidak untuk dikubur, tapi kremasi saja. Lebih irit tempat.

Sungguh, saya hanya ingin berhenti dan menjadi petani di Wonosobo atau ngurus kebun kelengkeng di Bandungan. Eit, itu mimpi saya, karena saya juga tidak punya tanah di Wosonobo atau Bandungan. Atau hanya antar jemput anak sekolah, ngobrol dengan anak atau teman-temannya, sekadar mencari apa yang sedang anak-anak muda itu nikmati. Kalau bengong, daripada kesambet, mungkin menulis adalah perjalanan melawan pikun saja. Merampungkan satu novel yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda selesai.

Bila kematian itu manusia,yang dapat kupeluk erat-erat
Aku kan mengambil darinya jiwa dan tak berwarna..
Dan ia akan mendapat dariku, warna jingga
Hanya itu…

Benar, saya hanya ingin berhenti…berhenti menjadi jurnalis. Itu saja.