Sebagai penikmat musik, termasuk mendengar di radio, saya sering heran dengan radio-radio sekarang. Nyaris semuanya mengatakan: “Hanya Memutar Lagu Enak!” – “100 % Lagu Enak!” – “Hits Terkini” dan seabrek tagline yang intinya adalah: cuma muterin lagu yang disukai. Lalu indikator yang disukai itu seperti apa ya?

Radio Itu Harusnya Menciptakan Tren, Bukan Malah Mengekor Tren Radio Lain!

SEBAGAI awam yang ditemani radio saat macet atau bengong di kamar, pilihan-pilihan lagu enak itu memang cukup membantu untuk santai. Apalagi kalau lagu yang diputar kita tahu liriknya, sedang ramai dibicarakan dan kerap diputar di radio-radio. Mungkin kita juga bakal komat-kamit ikut bersenandung lamat-lamat. Tapi coba pindah frekuensi ganti ke radio lain yang sejenis, mungkin kita akan menemukan lagu yang sama. Pindah lain lagi, lagu yang tidak beda masih diputar. Ada apa ini, kok semua radio sudah kaya anak SD, seragam semua.

Sekian tahun yang lalu, saya masih membedakan: kalau untuk lagu rock, saya harus cari radio A, musik jazz, putar radio B. Dangdut, giliran saya putar gelombang beda lagi. Masing-masing raqdio itu menciptakan hits-nya masing-masing. Kalau kemudian hits yang mereka geber diikuti radio lain, itu menjadi “perayaan” yang amat menyenangkan. Dulu dalam bahasa saya: mereka –radio-radio itu—menciptakan hits, bukan menjadi kacung hits.

Atas nama rating seperti layaknya infotainment, radio juga mengalami pergeseran. Mereka menyasar ruang yang segmented dan meraup pendengar baru, dengan program yang disesuaikan tingkat usia pendengarnya. Kemudian untuk urusan lagu, radio-radio itu kini memutar lagu yang disukai saja. Tentu saja mereka memasang kuping lebar-lebar untuk menyimak, hits apa yang sedang ngetop dan kerap diputar  di radio sebelah.

Nah sebagai pendengar, inilah kemudian persoalannya. Parameter lagu enak menjadi rancu buat saya. Banyak kasus, lagu yang diputar meski disebut sebagai lagu enak, tapi adalah selera music director-nya. Bukan berita baru kalau label atau artis yang punya album atau single gres, akan mendekati MD dengan berbagai cara. Harapannya apalagi? Biar lagunya diputar, syukur kalau banyak request dan masuk chart. Semudah itu? Tentu saja tidak. Mana ada “makan siang gratis” sekarang. Kalau dulu MD masih bisa bermain-main dengan “idealisme-nya, sekarang sebagai kelas pekerja, mereka tunduk kepada pemilik kapital.

Apakah demikian adanya di radio? Musik sudah tergadai sebagai dagangan? Ataukah trend dan pekembangan radio harus terjadi seperti itu? Radio kini bukan menciptakan hits tapi menjadi kacung hits? Meski mungkin ada hubungannya dengan iklan, dan nge-grab kuantitas pendengar [biasanya menurut AC Nielsen –­red], tapi kalau harus menyisihkan “lagu gak enak” demi “lagu enak” saja, kok seperti ada penindasan yang harus dilawan.

Sekali lagi, ini suara pendengar awam yang terlalu sering mendengar “lagu enak” tadi…..