INDUSTRI MUSIK Indonesia itu lucu. Ketika satu penyanyi –siapapun dia—melesat menjadi ikon [atau di-ikon-kan oleh media], industri seolah kehilangan sumber daya, si penyanyi itu akan dieksploitasi habis-habisan. “Dijual” dari sisi manapun, sehingga terkesan fenomenal, dan benar-benar rising star yang luar biasa.

Beruntunglah Raisa Adriana Menjadi Indonesia Sweetheart -- [foto: esquire.co.id]
            Beruntunglah Raisa Adriana Menjadi Indonesia Sweetheart — [foto: esquire.co.id]

SEBENARNYA  bisa dipandang dari dua sisi, industri yang memang “cerdik” meanfaatkan kelemahan psikologis masyarakat, atau media yang “bodoh” hanya menjadi bebek yang bisa digiring kemana-mana. Beberapa nama besar di industri musik Indonesia, pernah merasakan hal itu. Era 90an, siapa yang tak kenal Nike Ardila? Perempuan cantik itu menjelma jadi ikon pop [rock] yang dipuja. Sebelum meninggal karena kecelakaan ketika namanya sedang di puncak, Nike Ardila adalah lahan eksploitasi media [dan tentu saja labelnya]. Media yang tidak memajang wajahnya di kover, akan dicibir sebagai ketinggalan zaman. Kehidupannya dari lahir sampai menjadi penyanyi terkenal, dibongkar habis. Penyanyi perempuan yang muncul belakangan, selalu akan dikomparasi dengannya.

Dalam konteks kekinian, apa yang dialami Nike Ardila terulang lagi. Kali ini harus dirasakan oleh penyanyi cantik, wangi dan [diposisikan] berkelas, bernama Raisa. Kemunculan Raisa memang dirasa pas di industri musik banyak penikmat musik butuh idola yang bisa mereka kagumi suara, fisik dan attitude-nya. Raisa muncul dengan menggemaskan, ayu dan murah senyum.

Yup, tiba-tiba Raisa menjadi Indonesian Sweetheart  di semua lini. Wajahnya beredar tak hanya di musik, tapi juga iklan. Semua produk seolah “harus” memakai Raisa sebagai brand. Senyumnya yang memikat, tutur katanya yang terlihat sopan, ditopanhg lagu enak dan vocal bagus, jadilah Raisa paket utuh yang layak diidolai.

Pengekornya segambreng. Semua ingin seperti Raisa. Sayangnya, tak banyak yang mencoba mengulik bagaimana perjuangan Raisa untuk sampai di posisi sekarang. Semua melihatnya seolah semua sudah enak, jalannya lempeng dan langsung terkenal. Tak ada yang belajar bagaimana proses seorang Raisa untuk berada di posisi terhormat di industri yang semua orang didalamnya, ingin terkenal. Pokoknya ingIn seperti Raisa sekarang yang terkenal.

Media jelas punya peran vital untuk mengangkat “derajat” Raisa. Bombardir eksposurenya, menjulangkan Raisa ke deretan musisi papan atas, dengan bujet yang sekarang tentu saja menjadi mahal. Meski kadang-kadang media juga gegabah memberitakan hal-hal yang tidak krusial dan penting. Dengan alasan bahwa “yang tidak penting” itu  malah kadang jadi berita ngehitz. Semua media merasa punya “kewajiban” untuk memberitakan Raisa. Tidak peduli kutip sana-sini, kloning sana-sini, yang penting informasi tentang Raisa harus ada.  Sementara untuk Raisa, jangan berharap punya privacy yang benar-benar privacy. Siapa pacarnya, potong rambut dimana, make-upnya apa, jadi incaran media. Bahkan mungkin Raisa kentut pun bakal jadi berita.

Yang kasihan tentu saja penyanyi perempuan yang muncul setelah Raisa. Mereka harus bekerja keras dua kali lebih keras dari biasanya. Kok? Bayangkan saja, tiba-tiba semua media menulis judul besar yang sama: Si A Siap Geser Posisi Raisa! Apanya yang digeser Mas? Mbok ya bikin judul tidak sekadar bombastis, tapi juga punya kaidah fakta yang masuk akal. Semua penyanyi perempuan akan disebut “ikut-ikutan Raisa”. Apalagi kalau lagu-lagunya mirip. Kelar deh.  Kerja kerasnya adalah, selain meniti karier sebagai dirinya sendiri, pendatang baru akan disandingkan dengan Raisa. Bisa nggak ngejar sukses Raisa?

Pendatang baru seperti Yura, Isyana Sarasvati, Radhini atau Yemima Hutapea, akan disandingkan dengan Raisa. Entah kalau ada yang memang ingin “sok-sokan” ingin seperti Raisa. Buat saya, ketika banyak orang ingin menjadi  Raisa dan berusaha semirip mungkin secara fisik dan kisah-kisah suksesnya, sebenarnya mereka-mereka itu tak akan pernah meraih sukses sebagai diri sendiri. Target kok hanya ingin seperti Raisa? Mengapa tidak mimpi melebihi Raisa dan kemudian jadi trendsetter untuk hal positif apapun. Dari musik, film, olahraga. Apa saja.

Lalu apa salah Raisa? Secara paket industri, tidak ada yang salah dengan Raisa. Dia berhak menikmati sukses yang diraihnya. Dia juga berhak menjadi idola karena sikapnya yang santun dan kekinian. Terlepas apakah perilakunya itu karena sudah terkenal kemudian menjadi santun, atau sebelumnya memang sudah begitu, tak usah dipedulikan. Yang jelas Raisa bisa membuktikan, selama ini tidak tanduknya yang terekam media, layak jadi panutan.

Lalu untuk apa setiap pendatang baru selalu ditanyakan pertanyaan “nggak penting” tentang menyalip Raisa, menjadi Raisa, atau pengekor Raisa? Tidak ada yang bisa menjadi Raisa, karena Tuhan hanya menciptakan satu Raisa. Tidak ada yang bisa suaranya dipas-pasin supaya mirip Raisa, karena suara seperti Raisa, hanya dimiliki oleh Raisa. Jadi untuk apa menjadi Raisa? Bahwa ada proses, ada perjuangan, dan ada kerja keras yang dilakoni Raisa, itu benar dan bisa jadi contoh bagaimana sebaiknya meraih mimpimu.

Zaman sekarang, menjadi jurnalis ternyata “amat mudah”. Mengapa saya beri tanda petik, karena ternyata memang tidak sulit. Bikin kartu pers ketengan bisa, media online yang mengusung pewarta warga, biasanya jadi lahan empuk untuk siapa saja yang tertarik jadi wartawan, tapi malas ikut prosedur media besar lainnya. Alhasil, kalau kemudian banyak wartawan dangkal, wartawan tak punya pengetahuan atas apa yang diliputnya, wartawan yang tak punya “otak” memadai untuk menelaah satu wawancara dengan tuntas dan menarik, rasanya tak mengejutkan lagi.

Anda tak akan menemukan wartawan yang kritis, karena kritis itu kemudian menjadi “menyebalkan” untuk narasumber yang maunya lempeng-lempeng saja. Anda tak menemukan wartawan yang kapan saja diminta wawancara selalu siap dengan kualitas pertanyaan yang terjaga. Semua mentah dan normatif saja.

Ketika kehilangan sentuhan indepht tentang narasumber, wartawan akan “mengadu” dengan nama yang sudah popular sebelumnya. Apa urusannya Isyana Sarasvati dengan sukses Raisa? Apa hubungannya Radhini dimintai komentar soal Raisa, padahal sedang bicara soal lagunya sendiri? Ini strategi mencari rating yang memalukan sebenarnya. Tapi apakah wartawan sadar? Saya kok tidak yakin. Ketika rating  yang jadi panglima, kualitas akan tetap jadi prajurit di depan, mungkin yang mati duluan.

Tulisan ini bukan gugatan kepada Raisa, ini pledoi wartawan yang terkungkung pada kubikal yang rapat, hingga tak mau membuka diri untuk belajar dan mengeri banyak hal di luar profesinya semata. Biarlah Raisa jadi Raisa. Biar saja Isyana Sarasati jadi dirinya sendiri. Biar saja Agnez Mo jadi Agnez Mo. Jangan pernah dibenturkan sesama mereka kalau wartawan sekadar cari judul sensasional. Sekali lagi: wartawan itu mengritisi informasi, bukan menjilati sensasi.

Jangan jadikan mediamu bodoh dengan hanya menjadi “bebek” yang bisa digiring kemana-mana.