Bagaimana meluruhkan kesombongan, meruntuhkan keminderan, dan menghancurkan iri hati, saya nyaris tidak punya resep jitu. Teori banyak, tapi ternyata guru yang paling efektif adalah pengalaman dan melihat kehidupan manusia lain. Ketika bersama beberapa kawan melahirkan Album Kompilasi bernama MUSIKINI VOL. 1, saya menjadi ‘murid” dari banyak guru.

Kalau sudah dilahirkan, bukankah seharusnya kita sama-sama membesarkan Kompilasi MUSIKINI Vol.1
Kalau sudah dilahirkan, bukankah seharusnya kita sama-sama membesarkan Kompilasi MUSIKINI Vol.1

20 TAHUN menjadi jurnalis musik itu bukan waktu yang sebentar. Rasa jenuh, bosan, kadang-kadang muak, sering muncul di waktu yang tidak pernah saya duga. Saya hanya ingin memunculkan kreatifitas dan ide-ide apapun, yang bisa berguna dan bermanfaat buat banyak orang. Tulisan mungkin sudah tersebar, ngoceh ­sana-sini sudah pasti, karena saya pewarta yang menginformasikan banyak hal [khususnya tentang musik] kepada pembaca.

Saat gagasan menggamit band-band lokal Semarang [karena kebetulan saya dibesarkan di  Semarang] muncul, saya nyaris tak terpikir sebelumnya. Kalau hanya ngebantu penulisan band-band daerah, itu sudah jadi kredo wajib saya, tapi benar-benar terlibat dari nol, untuk kota saya sendiri, nyaris tak pernah saya lakukan. Ini bukan persoalan primordial, tapi sebuah tanggungjawab moral atas sebuah pertanyaan: apa yang sudah kamu lakukan untuk kotamu?

Bermimpi bersama beberapa orang, memang menyenangkan. Dan inilah jawaban atas impian ‘warung kopi’ yang kerap kita lontarkan. Membuat satu produk musik, yang kita kerjakan dari awal, memilih band, mengabaikan idealisme musik yang kita yakini masing-masing, mengemas attitude, paket utuh, dan branding, sesuatu yang mungkin buat sebagian kami adalah hal baru.

Lalu apa yang kemudian kita yakini tentang hal ini? Pembelajaran. Saya menempatkan diri sebagai murid, dengan solois atau band yang terblibat sebagai guru. Saya belajar mengerti mereka, meski beberapa kali saya juga mencoba memberi masukkan dengan apa yang saya ngerti dan bisa. Tapi jujur saja, saya juga mendapat banyak hal yang berkaitan dengan konsep rendah hati, menjaga hati dan merawat kehidupan dengan manusia lain. Bayangkan saja, berhadapan dengan belasan manusia yang berkutat dengan musik, berbeda kualitas, berbeda impian dan karakter yang masing-masing unik. Bukankah itu satu pelajaran hidup yang luarbiasa?

Saya menempatkan diri sebagai murid, dengan solois atau band yang terlibat sebagai guru.

Saya belajar dari Adam Suraja, dari Bello, dari D’jawir, dari 2ND CLAN, dari Rentdo, dari New Face New Wave, dari Sunday Sad Story, dari Giga of Spirit, dari Distorsi Akustik, dari The Jaka Plus. Mereka adalah “guru-guru” baru saya, yang memberi saya pemahaman baru soal berkemanusiaan dan merespon kegelisahan. Sempurna? Tidak, mereka juga adalah manusia-manusia yang punya kelemahan, punya kesombongan, punya egoisme, punya rasa minder, punya kemarahan. Tapi mereka juga punya keinginan untuk belajar, keinginan untuk menjadi musisi yang lebih baik. Sinergi yin dan yang yang mereka punya itu, jadi catatan penting dalam kehidupan saya pribadi.

Soal kompilasi MUSIKINI VOL.1, saya melihat inilah linier kerjasama yang menyenangkan. Banyak tingkap-tingkap yang terbuka, banyak kejutan-kejutan yang akhirnya memberikan kita [saya dan kawan-kawan yang terlibat], keyakinan: untuk menggerakan hal besar, kita perlu belajar dari hal kecil. Untuk membuat sejarah hebat, kita harus melibatkan diri dalam proses perjalanan sejarah itu. Apakah kemudian yang masuk dalam kompilasi itu akan menjadi musisi besar? Menjadi artis yang ngetop? Menjadi penyanyi yang dipuja-puja? Entahlah, saya bukan Tuhan, tapi saya merasakan kegairahan yang natural ketika mengerjakannya.

Kalau sudah dilahirkan, bukankah seharusnya kita sama-sama membesarkan “anak” bernama Kompilasi MUSIKINI VOL.1?