Aku melayang seperti merpati, menukik sana-sini,
Menyerupai angin yang berhembus tiada henti…
Aku merasakan hempasan bayu yang mengolengkanku,
Seolah ingin menghempaskanku ke bumi…

Tapi disana berdiri Ibuku,
Hanya menyorongkan tangan lemahnya, meregangkan lengannya yang keriput
Ajaib, Itu membuatku kuat, itu membuatku tegak dalam hempasan…

+++

"Pernahkah Kita Sampai Pada Ujung Cinta Tulus Ibu? Tidak"
                            “Pernahkah Kita Sampai Pada Ujung Cinta Tulus Ibu? Tidak”

INI seperti pengakuan diri, tentang kegelisahan personal, tentang rasa berdosa, tentang rasa bersalah dan tentang keinginan memberi sukacita. Semua tentang Ibu, Mama, Bunda, Emak, atau apapun kita memanggilnya. Sudah di titik mana, kita sebagai anak menjadikan kehidupan ini seperti dawai-dawai yang kita mainkan bersama Ibu. Sudah di titik mana, kita sebagai anak bersenandung cinta untuk memberikan senyuamn terhangat seorang Ibu?

Ibuku ringkih, badannya kurus, tapi Ibu punya kekuatan “rahasia” yang kita anaknya tak pernah tahu. Ibu bisa mengatakan  berlebih, ketika sejatinya mungkin kekurangan. Ibu bisa mengatakan ada, ketika sejatinya tidak ada. Ibu bisa mengatakan pergilah, meskipun sejatinya hatinya tercabik-cabik melihat kita jauh dari pandangan matanya.  Dan dengan mudahnya kita –anak-anaknya–  menganggapnya biasa saja.

Pernahkah kita merasakan pergolakan batinnya tatkala mendengar anaknya sakit? Pernahkah kita sadar, hatinya bergejolak mendengar anaknya belum makan, padahal mungkin hanya lupa atau telat saja? Pernahkah kita menyadari, dibalik senyumnya yang ikhlas kepada kita, ada tangis dan doa untuk kebahagiaan anak-anaknya?

Ibuku tidak kaya harta, biasa saja. Tapi ibu punya harta lain yang amat kaya. Hatinya. Ibu akan bersedih ketika kita melakukan kesalahan, dan kemudian menegurnya. Mengapa? Karena ibu tak ingin kita menjadi keledai, yang jatuh pada lubang kesalahan yang sama dua kali. Mungkin marahnya sudah habis, hanya tangisan yang membuat kita lunglai dan menyadari, kita sudah jauh melangkah dengan kesalahan-kesalahan.

Ibuku sederhana, sampai detik ini tak pernah kudengar permintaan untuk barang-barang yang membuat dirinya tampak glamour dan lebih dihormati. “Ketulusan dan kebaikan, itulah yang membuat kita dihormati orang lain!” begitu katanya tatkala anak-anaknya bertanya tentang apa yang diinginkannya supaya bisa lebih mendapat perhatian orang lain. Ibuku tak pernah silau dengan apa yang dipunyai orang lain. “Sumeleh membuat kita ikhlas,” begitu kata Ibu.

Kata Ibuku: “Sumeleh membuat kita ikhlas”

Tulisan ini dan beribu-ribu tulisan lainnya, tak akan bisa mengganti apapun yang sudah ibu berikan kepada kita, anak-anaknya. Tulisan ini hanya ruang terbuka, untuk mengungkapkan: aku anakmu, aku dan kesalahanku, aku dan dosaku, aku dan maafku, aku dan doaku, tak pernah sanggup sampai di ujung cintamu.

+++

dengan tapak tangannya,
Cintanya mengambil hatiku yang merana…
Lalu mencium aromanya…
Kalau hati Ibu tidak indah,
mana mungkin dapat memberikan buket kembang yang indah di dalam hatinya….