Jangan terjebak dengan judul tulisan ini, Benar, tidak ada yang “menyalahkan” Tuhan kok. Tapi kemudian memertanyakan –atau anggap saja mengritisi—bukan sebuah kesalahan dong? DISTORSI AKUSTIK memakai konsep ‘terperangkap tubuh’ dalam klip lagu ‘ A Man called Eve’ yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL. 1

DISTORSI AKUSTIK & Talent, Syuting KLIP - Foto: Pepen Bluez
                            DISTORSI AKUSTIK & Talent, Syuting KLIP – Foto: Pepen Bluez

PERLU satu waktu hening untuk mencerna maksud dari lirik dalam lagu ‘ A Man Called Eve’ yang berbahasa Inggris itu. Pertama,  di moralitas Jawa, isu transjender bukan isu yang seksi cenderung bakal dihakimi sebagai ‘pelarian atas pemberian’ [Tuhan tentu saja]. Kedua, menerima perangkap tubuh –kalau tidak mau disebut ‘kesalahan’ butuh kesadaran diri yang luarbiasa. Untuk dirinya sendiri, keluarga, apalagi lingkungan luas.

Dan band pengusung indie pop ini memberikan fragmentasi yang unik dalam konsep video klipnya yang [masih] disutradarai oleh Dedi Ginanjar Reksawardana dari Jakarta. Ada sepasang wanita yang tampak sedang menjalin hubungan. Silakan Anda terjemahkan sendiri, karena satu wanita punya tubuh dan jiwa wanita, tapi satunya lagi merasa sangat lak-laki dan maskulin, tapi terjebak dalam tubuh wanita.

Bagi Regeel [drum], Hersan [gitar], Bahar [gitar], Adi [bass] dan Viko [vocal], persoalan itu banyak terjadi dalam masyarakat, tapi jarang yang [berani] menyuarakan. “Apakah Distorsi Akustik menjadi salah satu band yang berani? Kami menyebutnya band yang peduli dengan yang tidak dipedulikan,” kata Viko tentang lagunya yang seding dituding berlirik ‘nyeleneh’ itu.

Kami menyebut Distorsi Akustik, band yang peduli dengan yang tidak dipedulikan

Digarap di beberapa lokasi, syutng awal dimulai sekitar pukul 11.00 WIB di rumah Kidang Blues, pianis dan salah satu dedengkot Semarang Blues Community. Ada kesan sensualitas, seksi dan personifikasi tubuh yang terperangkap tadi. Semua personel Distorsi Akustik “hanya” jadi cameo, karena bintangnya adalah 2 model perempuan, dan 1 anak kecil yang beperan sebagai anak ‘adopsi” dari pasangan itu.  Beberapa lokasi di Semarang menjadi bagian dari klip ini.

Model Klip dan Sutradara, Dedi Ginajar Reksawardana -- Foto: Pepen Bluez
                 Model Klip dan Sutradara, Dedi Ginajar Reksawardana — Foto: Pepen Bluez

Ini pengalaman unik dan menarik, membuat klip dari lirik yang selama ini dianggap menyimpang. Kami suka cara Kang Dedi menerjemahkan konsepnya dalam klip. Penasaran dengan hasilnya nih,” celetuk Rageel di sela rehat syuting.

+++

Tentang Kompilasi MUSIKINI VOL. 1:

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini memang merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.