Mencari pasangan hidup itu seperti tebak-tebak buah mangggis istilahnya. Bisa cepat seperti kilat, tapi tidak jarang kayak cari jarum pentul di tumpukan jerami, susahnya nggak ketulungan. Nah, urusan panah asmara yang sudah nancep ini, dirasakan oleh band dangdut D’Jawir. Belibet, ke dukun dijabani, nguber ke RT dari calon kekasih hati, dilakukan. Eh, berhasil nggak ceweknya didapat?

D'JAWIR Syuting Video Klip di Purwodadi -- Foto: Pepen Bluez
                           D’JAWIR Syuting Video Klip di Purwodadi — Foto: Pepen Bluez

PERNAH punya kisah asmara sedangdut itu? Kalau pernah, silakan terkekeh mengenangnya, tapi kalau belum konsep video klip D’Jawir yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini bisa jadi semacam panduan singkat mengejar pujaan hati. Terkesan sederhana, tapi siapa tahu justru itu lebih ciamik?

Lagu yang disumbangkan ke kompilasi ini berjudul ‘Janda Dua Kali’. Konsepnya bukan penyanyi dangdut tunggal, tapi band dangdut. Satu konsep yang tidak baru, tapi jarang dipilih di industri. Dan D’Jawir memilih alternatif itu. Menariknya, attitude  dan pilihan fashionnya menjadi segaris dengan pilihan konsep. Baju warna-warni, mungkin kembang-kembang yang meriah, dengan celana cutbray yang melebar di ujung kaki, jadi stigma mereka.

Menariknya, attitude  dan pilihan fashionnya menjadi segaris dengan pilihan konsep.

Ali Azali [vocal], Arga [gitar], dan Attus [bass] memang tampil sederhana. Kesan itu makin mendarahdaging ketika pilihan lokasi syutingnya di daerah Mrisi, Gubug, Pruwodadi. Sekitar 2-3 jam perjalanan darat dari Semarang. Suasana pedesaan sangat terasa, untuk memberi kesan pencarian kekasih hati dan cara mendapatkannya. Dari takut ditolak, dukun pelet bertindak, sampai ketua RT tempat janda itu tinggal pun diajak.

Kami menerjemahkan lirik lagu secara harafiah sih Mas. Apa yang kami tuangkan dalam konsep klip, tidak jauh beda dengan liriknya. Terus terang agak canggung, karena ini pertama kalinya D’Jawir bekerja sama dengan sutradara yang benar-benar professional dan disiplin,” celetuk Azali yang juga menyebut Dedi Ginanjar Reksawardana, terkesan dengan “kehangatan’ ndesonya. Mungkin karena biasa di kota Mas, ha..ha..ha,” imbuhnya terkekeh.

Ada cerita menarik sebelum syuting.  Untuk mendapatkan imej yang cocok dengan lagunya dalam klip, D’Jawir berburu kostum ke awul-awul. Di Semarang, awul-awul artinya baju bekas murah meriah bal-balan yang digelar begitu saja. “Kami harus ngubek-ubek awul-awul biar ketemu yang pas. Alhamdulilah ketemu yang cocok dengan harga amat sangat miring,”  cerita Azali lagi.

Tentang Kompilasi MUSIKINI VOL. 1:

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.