Pernah dengar gombalan: mencintai itu tak harus memiliki? Kalau kamu termasuk pendukung pepatah itu, persiapkan hati, kegalisahan, kegalauan dan [mungkin] air mata. Melihat orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain, percaya deh sakitnya ampun-ampunan. Entah kalau BELLO ya. Konsep klipnya juga menyasar kegundahan cinta yang [akhirnya] jadi milik orang lain.

BELLO - MUSIKINI VOL.1 2015 -- Foto: Istimewa
                         BELLO – MUSIKINI VOL.1 2015 — Foto: Istimewa

SEBENARNYA tahu apa BELLO tentang cinta, galau dan keinginan memilik orang yang kita sayangi? Personelnya masih belia, mungkin baru pacaran sekali dua kali. Ketika kemudian menafikan cinta sebagai bagian dari memiliki, mungkin mereka hanya menebak-nebak saja? Ah, sudahlah. Bukankah cinta milik semua insan dari semua usia?

Semua pertanyaan dan kerisauan itu muncul dalam video klip lagu ‘Takkan Kumiliki’ yang menjadi klip ke-5 yang dibuat dari Kompilasi MUSIKINI VOL.1. BELLO adalah salah satu band potensial yang terpilih masuk dalam kompilasi yang digarap dengan tingkat perjuangan tinggi. Mengambil lokasi di perbukitan wilayah Tembalang, syuting menggambarkan suasan pre-wedding. 

Kami tidak pernah menyangka bisa terpilih masuk kompilasi ini. Karena band-band yang lain juga keren-keren.Apalagi juga kemudian ternyata bukan kompilasi biasa, setelah ada rekaman ulang dengan music director yang profesional. Jujur, kami belum pernah rekaman dengan arahan industrial seperti ini,” repet vokalis BELLO.

Terlepas dari keterkejutan BELLO atas ritme kerja klip maker, band ini punya konsep yang cukup berani meski tidak bisa disebut baru. “Simpel, mungkin pernah dialami oleh banyak orang juga. Jatuh cinta dengan seseorang yang sudah jadi milik orang lain. Pasangan ini sadar, ternyata saling mencintai, sayangnya satunya sudah harus masuk ke hubungan serius alias menikah. Nah, ternyata orang yang jatuh cinta itu adalah fotografer prewed-nya. Kebayang sakitnya bukan?” terang BELLO lagi, seolah pernah merasakan area kesakitan itu.

Kalau kemudian setelah melihat klip BELLO kamu punya pandangan yang berubah tentang konsep mencintai harus memilik, rasanya tidak ada yang berdosa. Kecuali kamu sudah siap dengan rasa “anyep” yang bakal mendera, ya silakan saja.

Tidak terlalu sulit menerjemahkan konsep yang dibuat oleh BELLO. Apalagi liriknya jelas dan personelnya juga sudah punya gambaran seperti apa,” jelas Dedi Ginanjar Reksawardana, sutradara klip yang “dihajar marathon” untuk syuting band yang terlibat di Kompilasi MUSIKINI VOL.1.

Kalau orang luar Semarang sudah cinta seperti itu, masak orang Semarang sendiri memilih tak memiliki?

TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.