Ketika mendengar atau membaca berita, tentang banyaknya toko penjualan CD yang tutup, kita langsung reaksioner. Seolah-olah dunia musik runtuh, kehilangan ruang ekspresi dan jadi sinyal ambruknya industri musik itu sendiri. Tapi ingat: seolah-olah. Padahal menurut saya, itu hanya satu bentuk kegagalan toko musik itu, mengantisipasi perubahan industrinya.

disctarra
Salah satu gerai atau outlet DiscTarra di Jakarta — Foto: Istimewa

BEBERAPA waktu lalu, disctarra salah satu lini usaha yang terkenal sebagai salah satu jaringan besar distribusi keping cakram musik atau film, menyatakan diri akan menutup beberapa gerainya di seluruh Indonesia. Kabar ini sempat saya dengar beberapa bulan sebelumnya, sebelum akhirnya benar-benar terjadi dengan pemberitahuan resmi perusahaan tersebut. Jauh sebelumnya, beberapa gerai yang bisa disebut legendaries, sudah menamatkan kisahnya dengan menutup tokonya, seperti Aquarius Mahakam dan Bandung. Di Semarang Toko Bulettin, sudah ‘tewas’ jauh-jauh hari. Padahal semua yang saya sebut itu, termasuk kelas kakap untuk urusan distribusi dan gerai.

Lalu kita, saya dan Anda yang mungkin bisa disebut pecinta musik, kalang kabut karena merasa lokasi-lokasi berburu CD yang oke, sudah ngeblangsak. Lalu semua bersuara di sosmed, petisi, atau sekadar mencurahkan isi hati lewat blog –seperti saya ini—seolah-olah industri musik benar-benar seperti yang dikuatirkan, berada di ujung maut kehidupannya. Bener nih?

Tidak. Industri musik tidak pernah berada di ujung tanduk kok. Benar, saya pernah mengatakan itu dalam beberapa tulisan saya di blog ini sebelumnya, tapi saya tidak pernah mengatakan industri bakal mati hanya karena beberapa distribusi mati atau tutup. Benar, bahwa secara fisik, CD jelas bukan opsi bagus untuk mencari keuntungan lagi, tapi strategi lain tetaplah harus diberdayakan. Dan itulah yang lupa dilakukan para pemilik gerai besar itu. Dulu, artis mana yang tidak bangga kalau CD-nya masuk di deretan CD terlaris dan dipajang di display khusus. Sayangnya era kebanggaan itu sudah luntur, untuk tidak mengatakan punah.

Kadang-kadang kita terhanyut ikut euphoria komentar, seolah tutup berarti mati. Jujur saja, seberapa banyak sih  dari kita yang benar-benar berburu CD di toko-toko tersebut? Berapa banyak dari kita yang langsung menyanggong disctarra, musik+, atau Aquarius ketika ada album rilisan baru keluar? Bukankah kita akhirnya juga menempatkan mereka –toko CD itu—sebagai bagian masa lalu, artefak tersisa yang kita juga tahu bakal tutup akhirnya. Buat penggemar, apakah menganggu ketika mereka tutup? Maaf, saya harus jawab: Tidak!

Anak muda sekarang, tidak peduli atau toko CD atau tidak. Kalau mau nyari lagu band atau solois yang sedang ngehits, mereka akan file sharing dengan kawan-kawannya, yang mengunduh –entah legal atau illegal—dari beberapa situs. Kalau mau resmi, silakan mengunduh di itunes atau beberapa situs pengunduhan yang mengenakan biaya unduh. Cepat, mudah dan murah. Mau dapat fisik CD-nya? Mudah saja, cari situs jual beli online, klik, beres. Tunggu saja beberapa hari dan semua akan sampai di tangan Anda tanpa harus capek-capek keluar kamar. Jadi, nggak ngaruh mau tutup atau tidak.

Paling-paling yang kehilangan adalah generasi lawas yang sudah terlalu fanatik berburu CD dengan harus mendatangi tokonya. Penggemar konvensional seperti ini –saya sepertinya termasuk salah satunya—biasa bisa berjam-jam nguplek di toko CD, mencoba lagu yang disuka, sebelum benar-benar membeli. Malah, biasanya yang tidak direncanakan ikut terbeli. Menariknya, kadang-kadang ada CD import yang menarik, meski harganya mahal. Untuk kolektor ‘gila’ harga tentu tidak jadi masalah. Tapi sekarang pun, semua koleksi langka itu bisa dicari di internet, dan kita tidak perlu repot keluar kamar. Kecuali bertukar sesama kolektor sembari nyeruput kopi.

Jadi tutupnya toko-toko dan gerai musik, jelas tidak bisa langsung diindikasikan sebagai “suramnya” industri musik itu sendiri. Bahwa adalah perubahan paradigma betul, bahwa ada pergeseran strategi betul, bahwa ada perubahan sudut pandang tentang industri betul, tapi belum sampai pada titik kematian industri musik itu sendiri. Gerai-gerai lain yang basic-nya tidak sebagai distributor musik, kini malah lebh kreatif melihat peluang itu. Meski tidak selalu disebut berhasil, tapi strategi-strategi yang “tidak biasa” bisa jadi alternatif.

Namanya juga industri kreatif. Tapi kalau tak ada gagasan kreatif, itu namanya industri tahu pong, enak dimakan diluarnya, di dalamnya angin doang alias kosong. Tidak begitu bukan?

Dunia yang makin men-digital, terhubung hanya dengan kabel-kabel pendek. Urusan musik pun, kini makin mudah diburu dengan banyak cara, baik yang legal atau [lebih-lebih] yang illegal. Pelaku industri musik, juga harus mau membuka diri dengan banyak cara untuk menemukan strategi baru yang masuk akal dan menguntungkan banyak pihak. Pengalaman masa lalu yang kerap merugikan musisi, harus diubah sudut pandangnya menjadi penghantar kesejahteraan untuk musisi. Tentu sudah ada aturan dan pembagian yang jelas dan saling menguntungkan soal itu.

Kalau kemudian masih sok-sokan berteriak “ketakutan’ melihat distribusi musi bertumbangan [dan masih akan banyak lagi yang mungkin bertumbangan], lebih baik melakukan langkah strategis supaya industri musik tapi jadi industri kreatif yang kreatif. Tapi kalau tak ada gagasan kreatif, itu namanya industri tahu pong, enak dimakan diluarnya, di dalamnya angin doang alias kosong. Tidak begitu bukan?