Saya tergelitik dengan salah satu komentar Mas Bens Leo, salah satu wartawan musik senior yang kerap didapuk sebaga pengamat dan “peramal” untuk arah industri setiap tahun baru. Dalam salah satu komentar di media di Jakarta, Mas Ben mengatakan: “Musik indie akan makin Berjaya!”

IMG-20151028-WA0004
RENTDO – Kompilasi Musikini Vol. 1 — [Foto: Pepen Buez]

DALAM beberapa tulisan saya di blog atau komentar saya ketika ngobrol dengan banyak musisi, saya konsisten mengatakan bahwa dikotomi Indie dan non-indie sudah seharusnya tidak ada lagi. Mengapa? Karena dalam perjalanan waktu dan perubahan yang dialami industri musik Indonesia, komparasi seperti itu hanya buang-buang energy. Seolah selalu ada “perlawanan” dari bawah tanah kepada aksi atas tanah. Saya harus mengatakan, Mas Bens gegabah dan masih dengan patron lama ketika berkomentar seperti itu.

Ada beberapa contoh yang disebut, semisal Sheila on 7 yang lepas dari Sony Music Entertainment Indonersia dan Raisa yang tidak lagi bersama Unversal Music Indonesia. Dua nama popular dengan fans yang cukup besar ini, memilih “indie”untuk debut lagu atau album sesudahnya. Sudut pandang yang mengarahkan adanya perlawanan itulah yang saya tidak terlalu sepakat.

Sheila on 7 mengakhiri kontrak dengan label yang membesarkannya, bukan untuk “menghukum” lantaran banyak hak-hak mereka yang konon diabaikan. Rumor itu berkembang sedemikian rupa hingga membuat seolah inilah arah baru musik yang paling baik, berdiri sendiri. Yang terjadi sebenarnya adalah: Sheila on 7 benar-benar ingin membuat musik yang mereka sukai, distribusi yang mereka atur sendiri, dan promosi yang mereka juga akan atur sendiri. Semangat indipenden dan tidak melulu tergantung kepada label itulah yang mereka kembangkan. Mengapa baru sekarang?

Jangan bodoh dengan pertanyaan itu. Kalau kita ibaratkan, industri musik itu seperti mozaik yang amat besat. Untuk bisa menemukan potongan-potongannya, perlu belajar dan kerja keras, disertai semangat anti menyerah dalam jangka pendek. Mereka yang berhasil di jalur indipenden, tetap saja harus membuat perencanaan dan mapping  untuk mengetahui peta industri dan musikalitas yang mereka tawarkan.  Jangan sok tahu dan merasa amat paham industrinya dan serta merta memilh jalur sendiri. Dijamin bakal belepotan.

JAKAPLUS3
The Jaka Plus — Foto: Pepen Bluez

Bahkan label yang diklaim sebagai label independen pun melakukan distribusi dan promosi dengan jalur mainstream. Perbedaan hanya pada musikalitas yang mereka edarkan, tidak melulu pada musik yang sedang tren, tapi musik yang mereka suka meski mungkin tidak sedang jadi tren. Sukur-sukur bisa menciptakan tren sendiri. Yang paling penting dari semuanya, siapapun harus punya link atau akses ke industri musik manapun di dunia. Kalau hanya mengandalkan promosi mainstream, untuk pergerakan awal mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau mau menggurita, tidak ada ampun lagi.

Memberi perbandingan soal indie dan non-indie di era sekarang, buat saya sudah amat menggelikan. Mereka punya alur dan kebebasannya masing-masing kok. Mas Bens Leo, bagaimana kalau Anda perbaiki komentar Anda?