Pernah mendengar ungkapan: “berkarya untuk melayani, bukan dilayani?”  Kalau belum, baiklah saya jelaskan.  Manusia, apapun profesi kita, sejatinya adalah pelayan. Menjadi pelayan atas orang lain. Pejabat [seharusnya] adalah pelayan rakyat, rohaniwan adalah pelayan umat atau jemaatnya. Artinya, kita harus pandai menempatkan diri untuk bisa dicintai bukan karena posisi, tapi karena apa yang kita lakukan memang bisa membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan musisi?

malu1
Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

APA BEDANYA? Musisi, apapun genrenya, sejatinya menciptakan lagu untuk melayani pendengarnya, pecintanya, penikmatnya. Pendengar yang sedang galau, pecinta yang sedang marah, penikmat yang sedang jatuh cinta. Lewat lirik laru yang dinyanyikannya, mereka –para musisi itu—seolah menjadi wakil untuk menyuarakan semua yang dirasa. Lirik yang –konon—diciptakan karena pengalaman penciptanya, selalu mengacu kepada pengalaman emosional yang kira-kira juga dialami oleh pendengarnya. Siapapun itu dan berapapun usianya.

Musisi itu pelayan. Jangan meringis dengan apa yang saya katakan, karena banyak musisi yang mulai ngetop, langung ndangak, merasa menjadi “majikan” dan minta dilayani. Untuk urusan persiapan dan uborampe manggung, memang perlu dibantu, tapi jangan “nyolot” kalau semua harus dilakukan sendiri. Musisi memang harus mempersiapkan diri untuk tidak dilayani selalu, tapi juga bisa melayani, minimal buat dirinya sendiri.

Ungkapan ‘berkarya untuk melayani, bukan dilayani’ buat saya punya pesan yang amat kuat. Bukan sekadar berkarya, menciptakan materi lagu atau komposisi, tapi juga meletakkan pesan untuk disampaikan dengan jelas. Coba bayangkan ketika Seringai, band high octane rock asal Jakarta menulis lagu “Dilarang di Bandung”.  Lagu itu bukan untuk menjadikan Seringai dilayani sebagai rockstar di Bandung, tapi menggugat sebuah larangan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Untuk Seringai doang? Jelas tidak. Pesan itu untuk aparat mewakili semua musisi yang terkena imbas larangan-larangan mereka. Seringai melayani musisi [lain] supaya mendapat penjelasan dan perlindungan yang tepat.

Atau band indi asal Jogjakarta, The Produk Gagal yang menulis lirik lagu ‘Polisi, Aku dan Motorku’, Meski terkesan bodor, tapi lirik lagunya jelas berkata: kalau mau naik motor ya ikuti aturannya [pakai helm, surat-surat lengkap, dan SIM aktif]. Mungkin memang pengalaman penulis lagunya, tapi pesan itu menyasar khalayak pendengnarnya untuk tertib dan patuh aturan. Mereka melayani kepentingan yang lebih besar, ketimbang menonjolkan cerita tentang dirinya sendiri.

goin1
Tugas Musisi Itu Melayani, Bukan Dilayani

Dalam teori komunikasi, lagu adalah isi pernyataan yang disampaikan oleh komunikatornya, dan pendengar atau fans adalah komunikannya. Kalau isi pernyataannya gagal diterima pendengarnya, komunikator itu perlu merefleksi diri, apakah isi pernyataannya terlalu mengada-ada, terlalu sederhana atau terlalu mewah untuk komunikannya?  Musisi itu harus bisa mapping penggemarnya ternyata berada di area apa. Bukan untuk mengotakkan, tapi belajar mengerti pesan yang bagaimana yang bisa disampaikan supaya diterima dan dimengerti dengan baik dan benar.

Yang paling mudah direfleksikan dalam lagu-lagu yang jutaan itu adalah pesan cinta. Banyak musisi yang mengklaim dirinya adalah ‘messenger of love’ dengan banyak model lirik. Tapi nyaris semuanya bermuara pada satu titik: kampret! Artinya, menggeber lirik cinta sampai pendengarnya merasa itu adalah apa yang dialaminya. Membosankan sebenarnya, tapi bagaiamana pun saya harus mengakui: lirik cinta dalam semua modifikasinya, selalu ampuh –benar, selalu ampuh—untuk membuat orang tertarik menggelitik dan kemudian melirik.

Tapi itulah hakikat manusia, melayani manusia lain yang mungkin sungkan, tak sanggup berkata-kata, atau memang kebingungan harus berkata apa. Banyak lirik lagu cinta yang dipakai untuk nembak cewek, untuk melamar pasangannya, pengakuan ataas perselingkuhan, atau bahkan menjadi simbol putusnya hubungan. Beruntunglah mereka [baca: musisi] yang punya talenta berkata-kata untuk mengungkapkan pesan. Mereka juga membantu orang lain yang ingin menyampaikan sesuuatu kepada manusia, komunitas, atau lingkungan apapun.

Pertanyannya: seberapa banyak musisi yang punya kesadaran diri melayani itu?  Maaf, saya harus bilang tidak banyak. Kesadaran bahwa mereka – para musisi itu– diberi talenta untuk melayani lewat kemampuannya bermusik dan mencipta lagu, masih rendah.  Mayoritas masih berpikir bahwa bermusik adalah kemampuan yang industrialis, berorientasi [selalu] pada capital bukan kepada kemauang untuk mengubah mindset banyak orang. Betul bahwa mencari keuntungan financial lewat karya yang disukai, adalah penting, tapi jauh lebih penting pemahaman bahwa mereka sudah menjadi “messenger” lewat karya yang bisa memengaruhi orang banyak itu jauh lebih penting.

Berkarya itu seharusnya sudah seperti bernapas, selalu harus ada.  Kalau selalu berpikir karya identik dengan uang dan keterkenalan: Anda sudah jadi kapitalis.”

Ketika level kesadaran itu sudah muncul, berkarya tidak lagu karena urusan industri dan laku atau tidak, indie atau major, Berkarya itu sudah seperti “wahyu” yang diturunkan kepada musisi, untuk dibagikan dengan niat baik dan positif. Bukan menjadi musisi yang anggak, baru terkenal dikit langsung jadi ratu dan raja yang serba diladeni. Berkarya itu seharusnya sudah seperti bernapas, selalu harus ada.  Kalau selalu berpikir karya identik dengan uang dan keterkenalan: Anda sudah jadi kapitalis. Salah? Tidak, tapi maaf, karya Anda sudah kodian tanpa hati.

Musisi itu berkarya untuk melayani, bukan dilayani.