Jejak langkah Kompilasi MUSIKINI VOl.1 makin mentereng. Dalam arti, pergerakannya sudah mulai mendapat respon bagus dari banyak komunitas musik berbagai genre.

Sunday Sad Story -- Foto: Pepen
Sunday Sad Story — Foto: Pepen

KAMPANYE dan serbuan social media dari pelaku-pelakunya, langsung mengantar pemikiran, bahwa project ini menjadi standar baru penggarapan kompilasi, khususnya di Semarang. Sebagai salah satu yang manusia di belakang layar lahirnya kompilasi tersebut, saya malah “ketakutan” sebenarnya. Buat saya, pelan-pelan saya malah melahirkan “monster”. Serius?

Tampaknya seperti paradoks ketika saya mencermati atau mengritisi sesuatu yang saya ikut lahirkan. Padahal justru, ketika terlibat dalam seluk beluk pembuatannya, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang menjadi kegelisahan untuk tidak dilakukan. Bukan semata untuk mencari “catatan” tapi apa yang saya tulis ini menjadi satu refleksi tentang menjadi manusia yang sesungguhnya. Saya berproses ke arah itu, dan saya mencoba mengarahkannya pada musisi yang masuk dalam kompilasi ini.

Pertama,  lahirnya atau semacam titik awal dari munculnya ketakutan akan mainstream dan non-mainstream. Paradigma bahwa non-mainstream adalah keren, sudah mulai tampil dalam beberapa obrolan. Pemikiran ini menjadi picik, ketika musisi dalam kompilasi ini akhirnya menjadikan hal itu semacam dikotomi atau komparasi. Sebenarnya, setiap jaman memiliki “mainstream”-nya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Zeitgeist, atau semangat jaman dalam ranah filsafat. Di awal abad 21 ini, kita hidup di masa “uang”. Segala hal diukur dengan uang. Jika sesuatu, semurni dan setulus apapun itu, tidak memiliki nilai ekonomis, maka ia dianggap tidak berharga. Banyak orang ikut serta secara sukarela dan tanpa sadar di dalam “mainstream” ini. Mereka mengikuti pola hidup yang sama. Mereka memiliki selera yang sama. Mereka memiliki pola pikir yang sama.nfnw

Betul, saya menganalogikan mainstream dengan “uang” dan non-mainstream dengan kekayaan batin. Bicara soal dikotomi ini tidak akan pernah ada habisnya. Musisi selalu mengatatakan: mereka berkarya memang tujuannya untuk mencapai keterkenalan dan sangkutpautnya dengan ekonomi. Saat sudah lahir wacana dan dogma soal material ini secara dominan, “monster mamon” sudah saya lahirkan. Mamon dalam Aram –bahasa asli Yahudi—artinya uang, kekayaan atau “yang dipercayai” [dalam konteks materi]. Benih-benih lahirnya mamon ini kalau tidak diantisipasi dari sekarang, akan merusak tujuan berkarya. Kepercayaan dan “menuhankan” materi, disadari atau tidak, akan melungsurkan keindahan karya.

Kedua, gembar-gembor bahwa Kompilasi MUSIKINI VOL.1 menjadi standar baru [untuk tidak mengatakan revolusi musikal], dalam penggarapan kompilasi di Semarang, melahirkan kebanggaan yang berkepanjangan.  Benar, secara kualitas musikal materi dan penggarapannya memang tidak dikerjakan dengan sembarangan, serius dan punya komitmen tinggi. Tapi hati-hati, karena saya sudah melihat “sudut pandang” meremehkan ketika kemudian bicara soal kompilasi lain. Mengapa ini harus saya ingatkan? Saya tidak ingin melahirkan kesombongan di atas kesombongan lagi. Rasa puas, bangga dan merasa “lebih”, cukuplah sehari saja. Setelah itu, kembali menjadi musisi yang seolah baru belajar berkarya, belajar bermusik, belajar untuk memahami musisi lain, belajar rendah hati. Ini “monster” kedua yang saya takuti.

Ketiga, kemanjaan “akut”. Ternyata menginisiasi satu gerakan musikal yang serius, perjuangan dan hambatannya juga serius. Memberi masukan dan ide, tak linier dengan kretifitas yang diharapkan muncul. Asih banyak ketergantungan pada penggagas.  Saya pribadi “resah” dengan kreatifitas dan lahirnya ide-ide segar yang tergolong minim. Yang jelas, sebenarnya saya ingin ada pengembangan kemampuan berpikir kritis. Silakan saja bertanya kepada diri sendiri: apakah ini jalan hidup yang kita pilih? Kita mengira, reputasi kita adalah segalanya. Kita mengira, karier kita adalah segalanya. Padahal, jika dicari lebih dalam, kita tidak akan menemukan sesuatu yang utuh dan abadi di dalam diri, reputasi ataupun karier kita.Mengapa ini saya munculkan? Karena ketika kita “takut” dan “gelisah” tapi tak berpikir kritis, artinya kita bodoh dan tumpul. Kalau orang Jawa bilang hanya nyadong. Bisa nyadong materi, ide, gagasan, atau malah kehidupan.

Adam Suraja - Kompilasi Musikini Vol. 1 -- foto: Pepen Bluez
Adam Suraja – Kompilasi Musikini Vol. 1 — foto: Pepen Bluez

Keempat, eksklusifitas. Penyakit selanjutnya adalah merasa diri paling hebat. Melihat visi dan misinya, kompilasi ini dibuat untuk memberi “ledakan” di level nasional, tidak hanya berkutat di level lokalan saja. Pertanyaannya adalah: di kompetisi lokal saja, apakah sudah ada yang mengenal dan tahu keberadaan nama-nama yang  masuk list? Kalau belum ada yang tahu juga, artinya keberadaan kalian masih terlalu “ekslusif”. Salahkah? Dalam konteks menjalin relasi dan membuka wawasan selebar-lebarnya dengan bayak komunitas, perilaku ini jelas salah! “Monster” jenis ini, lebih baik tinggal di hutan, bergaul dengan beruang atau gajah. Mengenal dan dikenal, menjadi pekerjaan penting untuk semua musisi yang terlibat di kompilasi ini.”

“Saling mengingatkan, memberi arahan ketika kita sudah menjadi anggak, kementhus, atau yak-yako, bukan karena kita merasa lebih hebat, tapi justru karena kita sama-sama merasa tak berilmu”

Setiap manusia memang punya alter ego, termasuk musisi [dan saya]. Saling mengingatkan, memberi arahan ketika kita sudah menjadi anggak, kementhus, atau yak-yako, bukan karena kita merasa lebih hebat, tapi justru karena kita sama-sama merasa tak berilmu, jadi harus belajar kepada banyak orang dan dunia yang terbentang lebar. Karena: siapapun adalah guru, dan dimana pun adalah sekolah.