Dibalik gemerlapnya industri musik di Indonesia, di belakang naik turunnya perkembangan industri  hiburan di Indonesia, ada “tumbal” yang selalu jadi ‘pelengkap penderita’. Dan itu bernama: anak-anak. Mereka –anak-anak itu—terpaksa tumbuh dengan lagu yang notabene ‘merusak’ imajinasinya, terseret dalam pusaran mimpi dewasa sebelum waktunya. lagu-anak

BERUNTUNGLAH kalian yang tumbuh di era 80 dan 90an. Lagi-lagi era yang disebut-sebut sebagai era keemasan industri  musik itu, memberikan pengalaman yang amat membekas indah, termasuk kepada anak-anak zaman itu. Lagu anak-anak dengan lirik memang untuk anak-anak, bertebaran sehingga orangtua tinggal memiliah saja, akan memberikan pemahaman dengan lagu apa. Memang ketika itu tidak semua lagu anak juga cocok untuk anak-anak, tapi yang jelas pilihannya jauh lebih banyak ketimbang sekarang.

Kamu mungkin ingat dengan ‘Nyamuk Nakal’-nya Enno Lerian, ‘Bolo-Bolo’-nya Tina Toon, atau soundtrack film ‘Petualangan Sherina’-nya Sherina Munaf dan ‘Diobok-Obok’-nya Joshua Suherman. Belum lagi nama-nama lain yang mungkin hanya numpang lewat, karena memang booming lagu anak-anak ketika itu luarbiasa. Nama Papa T. Bob menjadi salah satu pencipta laris yang banyak diburu orangtua untuk mengorbtikan anaknya. Tentu saja diluar nama-nama legendaris seperti Ibu Soed, atau AT Mahmud dan Bu Kasur atau Pak Kasur.

Ketika saya masih kanak-kanak di era 80an, ada satu acara televisi [hanya TVRI ketika itu] yang selalu saya tunggu. Kalau tidak salah nama acaranya adalah: Bernyanyi Bersama Bu Fat. Acaranya sendiri sebenarnya lebih seperti lomba nyanyi, karena ada peserta yang mengambil nomor undian yang dibentuk seperti daun di dahan pohon. Nomor yang diambi berarti adalah judul lagu. Bu Fat sendiri kalau sekarang jelas tidak cocok jadi host acara anak-anak. Perempuan yang lebih cocok jadi eyang putri, ketimbang host. Perawakan agak gemuk, berkebaya dan bersanggul. Tapi mengapa saya selalu menunggu acara itu? Selain karena peserta suaranya bagus-bagus, secara emosional anak-anak, saya merasa “dekat” dengan Bu Fat. Caranya bicara dan memberi masukan kepada peserta: sangat ngemong sekali.  Jangan harap ada tangis-tangisan bawa koper seperti sekarang. Semua natural dan belum di-setting macem-macem.

Jauh sebelum itu –sebutlah era Orde Lama—ada hal menarik yang saya temukan. Ketika bongkar-bongkar koleksi buku lama milik seorang kawan, saya menemukan satu buku berjudul ‘Njanjian Untuk Sekolah Rakjat’ yang disusun oleh ‘Panitia Penjusun Lagu-Lagu Sekolah Djawatan Kebudajaan Dep. P.D.K’ dan tertulis tahunnya 1963. Yang menarik bukan sekadar lawasnya saja, tapi buku itu berisi puluhan bahkan ratusan lagu anak yang disesuaikan dengan kelasnya. Kelas 1, naik kelas 2 dan seterusnya, masing-masing punya lagu anak yang berbeda. Tentu saja tidak dilarang untuk menguasaian atau hapl dengan lagu di kelas atasnya atau bawahnya. Dan percayalah, semua lagu yang ada di buku terbitan P.N. Balai Pustaka itu benar-benar untuk anak-anak, khususnya dari sisi lirik.

Diantara lagu-lagu per kelas itu, ada tujuh lagu wajib yang harus dihapal oleh murid-murid Sekolah Rakjat itu. Lagu itu antara lain: Indonesia Raya, Bagimu Neg’ri, Madju Tak Gentar, Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Barat Sampai ke Timur, Bebaskan Irian dan Merah Putih. Yang menarik adalah: bahwa ketika itu nasionalisme sudah dibangun dari sekolah paling dasar. Bukan sekadar agitasi dan propganda untuk cinta tanah air, tapi benar-benar merasakan bangga sebagai  orang Indonesia.

Secara akademis dan kreatifitas mungkin hebat, tapi psikologi mereka terpasung, terpaksa jadi “dewasa” sebelum waktunya. Dan itu amat sangat menyedihkan!

Untuk lagu anak-anaknya pun, jangan berpikir  dijadikan indoktrinasi dari pemerintah secara politis. Perhatikan baik-baik judul lagu dan penciptanya. Mereka membuat karya yang disesuiakan dengan lama-lama usia siswa Sekolah Rakjat. Misalnya lagu: Sepasang Burung Kenari [SM Muchtar], Tahun Baru [Pak Dal], Anak Ajam [C. Hardjosoebroto], dan Di Taman Bunga [Daeng Sutigna]. Dan masih banyak lagi, dengan banyak pencipta.

Saya mencoba menelusur siapa sih pencipta lagu yang hebat dan terlihat sangat paham psikologi anak itu?

Pak Dal

Gerardus Daldjono Hadisudibyo atau yang lebih dikenal sebagai Pak Dal adalah guru SGA dan dosen teori musik pada Akademi Musik di Yogyakarta.Pernah memimpin Orkes RRI di Solo, Daldjono (alm) juga menciptakan beberapa lagu, antara lain Bintang Kecil, Kelinciku, Malam Tiba, Mawar Tumbuh, Berlabuh, dan Lenggang Padi. Namanya mungkin kurang akrab di telinga kita. Popularitasnya tak seperti anak kandungnya, musisi kondang, A. Riyanto.

Pria yang akrab disapa Pak Dal itu adalah pencipta lagu anak-anak sebelum era AT Mahmud. Daljono lahir pada 21 Januari 1932. Dibesarkan dalam keluarga petani yang sederhana di Solo, Jawa Tengah, tidak menghalangi Pak Dal menjadi pencipta lagu yang handal. Bakat Pak Dal di bidang musik sudah terlihat sejak ia menjadi siswa Sekolah Rakyat (setingkat dengan Sekolah Dasar). Pada saat di Sekolah Rakyat, Pak Dal sering tampil di pertunjukan yang diadakan di sekolahnya.

Begitu juga pada masa SMP dan SMA, Pak Dal dikenal di kalangan teman-teman sebagai anak yang memiliki kelebihan dalam bidang musik. Pak Dal adalah salah satu penyanyi di kelompok paduan suara. Meski talentanya di bidang musik tak diragukan lagi, Pak Dal tak meneruskan pendidikannya di sekolah musik formal. Pria yang pernah memimpin orkes di RRI Solo ini malah berkuliah di Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, Jurusan Arsitektur.

Namun Pak Daljono tidak menamatkan kuliahnya. Ia hanya menempuh kuliah selama dua tahun. Pada akhirnya Pak Dal memilih berprofesi sebagai seorang guru di SGA (Sekolah Guru Agama, setingkat SMA) dan dosen teori musik pada SAM (Sekolah Akademi Musik) Yogyakarta.

Daeng Sutigna

Daeng Soetigna (13 Mei 1908-8 April 1984) adalah seorang guru yang lebih terkenal sebagai pencipta angklung diatonis. Karya dia inilah yang berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisionil Indonesia mampu memainkan musik-musik Internasional. Ia juga aktif dalam pementasan orkes angklung di berbagai wilayah di Indonesia.

RC Harjosoebroto

Cajetanus Hardjasoebrata – CHS – yang lahir pada 1 Maret 1905, di Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta, dikenal sebagai guru, ahli seni tembang dan seni karawitan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelum menuntaskan pendidikan di Sekolah Guru Katolik (Kweekschool) Muntilan, pada 1926, CHS telah menciptakan berbagai lagu dolanan serta lagu rohani, dan merintis masuknya seni karawitan ke dalam gereja.

Setelah menjadi guru di sekolah-sekolah milik Yayasan Kanisius di Surakarta dalam masa penjajahan Belanda dan Jepang, CHS mulai aktif menciptakan sandiwara gereja dan melanjutkan menggarap lagu dolanan baru untuk anak-anak.

Selepas Indonesia merdeka, pada 1947 CHS diangkat menjadi pegawai negeri pada bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Selama sekitar 14 tahun menjalankan tugasnya, dengan berbagai pengalaman dan bahan-bahan serta pengetahuan tentang seni karawitan, CHS banyak mengadakan analisa dan merumuskan beberapa teori tentang notasi Kepatihan, yang kemudian ditingkatkan menjadi kreteg diatonik, di samping menulis dalam brosur ilmu musik dan koreografi yang diterbitkan oleh Lembaga Musikologi dan Koreografi Ditjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru. Dari sana dia menunjukkan menyusun notasi keseragaman karawitan yang mantap, utuh, praktis dan mudah dipelajari.

CHS berpandangan, bahwa pada dasarnya seni adalah sesuatu yang memiliki nilai estetik tinggi, tidak tergantung pada patokan yang sudah ada, dengan demikian harus berkembang sesuai zamannya, apabila dilandasi dengan keterbukaan untuk menerima setiap bentuk perubahan dan inovasi.

Lagu Anak, Tumbal Kekinian

Dengan alasan keterbatasan jam tayang, sepi iklan, atau mungkin segmennya terbatas, lagu anak jadi tumbal kekinian. Anak-anak dipaksa untuk mengenal lagu dan lirik yang tidak pantas untuk seusiannya. Sedihnya, hal itu dipertontokan ketika anak-anak jadi komoditas kapital di televisi. Mereka harus menyanyikan lagu dewasa, meski dengan embel-embel: “disesuaikan”. Radio terlebih lagi, nyaris tak punya ruang khusus untuk lagu anak-anak. Alasannya klasik: tidak ada peminat [iklan maksudnya].

Saat ada kelompok musisi yang gerah dengan situasi seperti ini, mencoba menggagas acara atau kegiatan yang berhubungan dengan lagu anak: nyaris tak ada dukungan kuat. Misalnya: Ajang Cipta Lagu Anak [Acila] yang digagas Tika Bisono, atau dulu Merpati Airlines sempat bekerjasama dengan Papa T Bob mencoba mengagas kompilasi lagu anak, dan lagi-lagi tidak mendapat dukungan memadai dari industrinya sendiri.

Kini pergerakan itu muncul lagi lewat marwah Erwin Guttawa dan anaknya, Gita Guttawa yang menggagas DARR atau Di Atas Rata-Rata.  Mencari dan kemudian mengolah bakat-bakat hebat dari anak-anak di Indonesia. Jujur saja, seperti yang dikatakan Erwin, mereka awalnya juga harus berjuang sendirian, sampai akhirnya ada perusahaan yang tergerak untuk membantu. Secara masiv memang belum jadi tren, tapi apa yang dilakukannya harus mendapat acungan jempol dan dukungan.

Tentu tidak harus kaya tahun 1963, seperti yang kupas di atas. Tapi menjadikan apa yang dilakukan di tahun 1963 itu sebagai acuan untuk mencipta lagu anak yang sesuai dengan usia anak, saya harus sarankan. Mudahnya: bagaimana kalau lagu-lagu anak yang ada di buku tersebut, diolah lagi dengan aransemen kekinian? Tentu dengan seizin pencipta lagu atau keluarganya.  Itu dengan catatan: musisi sekarang MALAS bikin lagu anak, karena duitnya kecil mungkin. Kalau semua berpikir seperti itu, saya harus katakan: anak-anak sekarang seperti ‘cerdas tapi dalam pasungan’. Secara akademis dan kreatifitas mungkin hebat, tapi psikologi mereka terpasung, terpaksa jadi “dewasa” sebelum waktunya. Dan itu amat sangat menyedihkan!

anak-anak sekarang  cerdas tapi seperti dalam pasungan