Menjadi musisi, produser, atau bahkan jadi pemilik label di industri musik di Indonesia, harus punya “penutup telinga” ketika tudingan-tudingan tak bermutu menyerbu. Tidak semua hal yang dilakukan atas nama musik [thok!], tak serta dilihat sebatas itu. Tudingan yang bikin telinga berdengung pun, bermunculan. Ide tidak selalu jadi materi. Banyak ide yang akhirnya hanya sebatas ide kosong, tapi “nyaring” bunyinya.

MUSISI Dimana Saja, Harus Membuka Kaca Mata Kudanya!
                              MUSISI Dimana Saja, Harus Membuka Kaca Mata Kudanya!

PERNAH merasakan berada pada situasi dilematis: antara marah meluap dengan kesadaran akan kebodohan orang lain? Kalau pernah, dan Anda berhasl melewati, Anda bolehlah dianggap lulus ujian kehidupan yang pertama.  Saya mungkin pragmatis, sesekali skeptis. Tapi ketika menyatakan “iya”, saya melakukannya dengan total tanpa melihat materi [baca: uang] yang akan saya kelarkan atau peroleh. Banyak orang yang merasa terlibat, padahal sebenarnya hanya berjasa jual abab, akan lebih piawai berkoar-koar, merasa paham dan mengerti dengan baik dan benar, padahal sejatinya hanya garengpong.

Seorang sahabat pernah mengeluh: apapun yang dia lakukan meski disebut revolusioner, dianggap hanya bergulat dengan urusan “cari nama” atau “cari panggung” untuk dirinya. Padahal saya tahu benar, sahabat saya ini tidak pamrih soal materi atau uang. Persetan dengan “cari nama” dan “Cari panggung” begitu kilahnya. Awalnya saya hanya mengatakan: sudah cuek saja, anjing menyalak, kita mah jalan terus.  Tapi kemudian saya mencari tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengan kawan saya dan musisi atau orang yang mencibirnya itu.

Cari nama” – ini istilah yang kemudian jadi popular buat saya. Karena ketika bertemu dengan sinis-man [karena kebetulan yang sinis biasanya laki-laki], istilah itu akan muncul. Agak menggelikan istilah itu, karena kalau dijabarkan, tidak ada “nama” yang didapat. Popularitas? Tambah kenalan mungkin, dan harusnya  itu jadi sesuatu yang positif bukan? Atas nama independensi yang berkoar-koar tanpa melakukan apapun, sama seperti bunyi kentut dengan bau menyengat, tapi hanya sesaat. Kecuali kemudian disusul mencret, mungkin cepiritnya bisa agak lama.

Mengapa banyak dari kita yang berpikir, ketika aktifitas yang dilakukan orang lain sejatinya benar-benar untuk yang hal positif, tapi diembeli: bahwa dia tidak tahu apa-apa, karena kami lebih tahu. Sayangnya, yang lebih tahu itu hanya jadi speaker doang. Tak mau jadi operator yang bisa mengatur bunyi speaker dengan lebih enak. Artinya pula: mengapa merasa lebih tahu, tapi tidak melakukan gerakan yang lebih memadai?

Di Industri musik, masih banyak musisi yang begitu bodohnya menganggap bahwa independen [baca; indie] adalah segala-galanya. Di luar Jakarta, tidak sedikit yang merasa bahwa saat setting Jakarta diwacanakan, sama artinya dengan ‘menjakartakan’ musik itu sendiri. Heloooow……jangan jadi musisi, atau penikmat musik sempit yang memakai kacamata kuda, kemudian mengatakan itu adalah: aliansi industri yang mencoba membawa musik ke arah yang [selalu] mainstream [baca: Jakarta].

berkarya itu membawa pesan, bukan pepesan.

Bahwa kecerdasan kultural itu muncul dari kebiasan kita berwacana, berliterasi dan menggauli industri yang mungkin sebelumnya kita benci. Kita tak akan tahu bagaimana repotnya mengirim demo ke label, kalau kita tak mencoba atau paling tidak berbicara berbagi pengalaman dengan pelaku yang pernah merasakannya. Kita tak akan pernah tahu, bagaimana tren musik dunia yang bakal masuk ke Indonesia, kalau kita hanya jadi “musisi pasungan” merasa seolah apa yang kita lakukan sudah tepat, benar dan [tidak peduli] tren. Buat saya, perilaku seperti itu sama dengan “onani” saja.

Bagaimana kita tahu, menyampaikan maksud dari karya kita kepada media, kepada dunia luar sana, kalau kita selalu merasa tak setara, merasa berbeda, merasa cerdik dengan strategi omong kosong yang seolah kitab suci wajib mereka yang menyebut dirinya indie, tanpa pemahaman lahir dan besarnya skena indie seperti apa. Bagaimana kita tahu strategi berhadapan dengan media, kalau kita asal njeplak dengan berkedok:  ini karya kami yang tidak peduli tren. Bahkan menyampaikan maksud dan pesan kepada orang lain lewat musik pun, perlu strategi.

Kalau musisi [dan kawan-kawannya] bersikukuh sanggup melakukan revolusi musikalnya sendiri, dengan mindset yang mereka ciptakan sendiri, rasanya hanya akan menjadi katak dalam tempurung tanpa sinergi dengan musisi atau pihak lain yang kompeten soal musik itu sendiri.  Kadang-kadang justru orang lain yang melihat potensi musikal musisi itu, lantaran musisi itu sibuk bermasturbasi sehingga melupakan idiom: berkarya itu membawa pesan, bukan pepesan.

Masih pakai kacamata kudamu?