Sebenarnya, bukan hal baru ketika musisi –entah komposer, aranjer atau penyanyi—menyatakan diri pada ideologi tertentu. Keputusan itu tentu saja didasarkan pada banyak sebab. Bisa karya tertarik dengan pemahaman ideologi tersebut, ikut-ikutan atau pragmatis atau malah oportunis, sekadar anut grubyuk. Yang bahaya sekarang ini, adalah saat musisi yang berbeda pandangan itu, saling berkoar ‘menghantam’ lawan ideologinya. Mengapa tidak “berdebat” lewat karya masing-masing saja? 

smart

NJOTO –salah satu dedengkot Partai Komunis Indonesia [PKI]—sejatinya adalah musisi. Kepiawaiannya bermain saksopon, menjadikan pria kurus berkacamata ini, salah satu tokoh sentral yang cukup populer dan mudah dikenali, diluar wawasan ideologisnya yang memang jempolan.  Diluar itu ada Soedharnoto –pencipta lagu Mars Garuda Pancasila—salah satu tokoh Lekra, lembaga budaya yang kemudian di-PKI-kan oleh Soeharto. Kurang nasionalis apa dia? Beberapa lagu ciptaannya yang lain, semua berseru soal nasionalisme dan cinta tanah air. Sayangnya, ketika orba dan antek-anteknya berkuasa, nasionalisme lewat lagu ciptaannya dianggap “tidak ada”. Mungkin penguasa ketika itu berpikir: “Komunis kok nasionalis!” Analogi yang kerap dimunculkan sebagai pembenaran akan justifikasi kesalahan ideologi bernama “komunis” tadi.

Oke, sementara abaikan soal itu. Dalam wacana kekinian, yang berkembang adalah “musisi sayap kiri” dan”musisi sayap kanan”. Memang tidak secara harafiah dikatakan seperti itu, tapi dalam pergerakannya di lapangan dan ucapan-ucapan dari penganutnya, menyiratkan adanya dikotomi itu. Baiklah kita simak satu persatu. Ahmad Dhani, pentolan Dewa 19 itu, sejatinya adalah musisi jempolan, terlepas omongan musisi lain yang menyebut Dhani lebih banyak “mengompilasi” banyak part musisi lain, dalam satu lagunya.

Sebagai musisi, dia karismatis. Omongannya banyak didengar, meski tidak semua pernyataannya masuk akal dan benar. Dhani saya sebut musisi “sayap kanan” karena dalam beberapa kali pernyataannya mengambil dalil ayat agama untuk “menguatkan” pernyatannya. Identifikasi kanan ini adalah menyusupkan pernyataan yang terkesan agamis, apapun agamanya. Beberapa musisi yang dianggap “bertobat” masuk ranah ini, seperti Harry Mukti, Irvan Sembiring, Ombat Tengkorak, dan masih banyak lagi.,

Lalu siapa yang kerap dituding musisi sayap kiri? Slank dianggap salah satu pentolannya. Keberpihakanya kepada anti korupsi, masyaraakat marjinal dan kaum buruh, pastinya akan dilogikakan dengan “bau-bau” komunisme, sosialis dan liberalis. Iwan Fals pernah berada di ranah kiri ini, lantaran lagu-lagunya terlalu keras mengganyang penguasa. Belum lagi seniman-seniman cerdas di daerah yang kerap berhadapan dengan aparat karena karyanya dianggap memprovokasi masyarakat untuk melawan [penguasa], termasuk aparat.  Ketika kita sudah bicara soal feminisme, marjinalisasi, korupsi, petani, kerakyatan, penindasan an sich itu diucapkan oleh musisi sekelas apapun, bersiaplah menerima stigma: kiri!

Saya tergelitik menulis soal musisi sayap kanan dan kiri ini, ketika seorang tua pensiunan jendral membabi buta berkoar tentang bangkitkan PKI [bukan komunisme sebagai ideologi]. Apa korelasinya dengan musisi? Begini: saya banyak berdiskusi dan bicara dengan musisi yang tidak hanya cerdas secara musikal, tapi punya wawasan luas soal ideologi-ideologi, termasuk komunis. Kalau kita cermati baik-baik, banyak yang asal teriak tanpa tahu apa yang mereka teriakkan, termasuk musisi sekelas Ahmad Dhani. Berteriak soal kesejahteraan rakyat, tapi implementasinya malah menghujat. Bicara soal kesejahteraan petani, tapi coba Anda memberi pelatihan kepada petani, kalau tidak langsung dicap “barisan tani”.

Dalam beberapa diskusi dengan musisi, saya bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan musisi “tidak peduli” dengan hiruk pikuk konunisme, PKI, sosialisme, agama dan lain-lain. Mengapa saya katakan begitu, karena hanya sedikit yang mengerti apa teori dan rujukan, serta sejarah apa yang mereka gaungkan. Selebihnya hanya “sok tahu” atau “manut saja” dengan apa yang mereka dengar, tanpa punya niat untuk mencari tahu kebenaran atau paling tidak memahami teorinya.  Buat saya, musisi sepeprti itu adalah musisi pragmatis, hanya berpikir saat ini saja. Salah? Tidak. Itu pilihan hidup.

Alhasil, saya menjadi tertarik dengan band bernama Marjinal, pengusung punk dengan rambut jigrak, tato bertebaran, badan kurus, celana ngapret, dan tindikan di sekujur tubuh. Uniknya, mereka memelopori pengajian, membuat sablon dan posko banjir. Tapi coba simak lirik lagunya: nyaris semua adalah suara perlawanan [atau pemberontakan] yang lahir dari situasi kritis kemanusiaan kekinian. Yang perlu jadi catatan: kekritisan dengan cara marjinal, dijamin akan terlihat “aneh”. Bisa-bisa sekitar mereka mungkin saja intel melayu bertebaran.

Inti dari tulisan ini sepele kok, jangan berkoar tentang hal apapun yang kita tidak punya data dan fakta, termasuk landasan teorinya. Musisi harus pinter, itu wajib!

Saya, tampan-tampan begini pernah ditangkap polisi, karena punya sweater dengan logo besar palu arit di depannya. Yang pernah saya pakai ketika memimpin doa secara Katolik di depan mantan jubir Gus Dur, Wimar Witoelar. Yang menuai celetukan dari kawan-kawan konyol sekantor: “Doanya nyampe ke Tuhan nggak tuh?”. Eit, saya ingin mengatakan: saya belajar teori ideologi ketika kuliah filsafat. Dan tentu saja ketika pilihan ideologi saya berbeda dengan kawan-kawan saya, ada argumentasinya.Oh iya, soal ditangkap polisi. Bersama ayah saya yang juga dianggap kiri, kami “berdebat” dengan Kasat Intel yang tampak gagah [sayang, tidak cerdas] dalam balutan seragam “pramuka” cokelatnya.

Ketika dalam konperensi pers salah satu album band, saya bertanya dengan menyitir beberapa kalimat tokoh kiri seperti Tan Malaka, semua memandang saya “kagum”. Wah, ada jurnalis hiburan punya otak nih. Saya sudah geer, sampai kemudian band atau musisinya bertanya: tapi nanya apa mas, bisa diulang? Istilah-istilahnya saya tidak tahu. Dan geer saya langsung angslup.  Inti dari tulisan ini sepele kok, jangan berkoar tentang hal apapun yang kita tidak punya data dan fakta, termasuk landasan teorinya. Musisi harus pinter, itu wajib!