Pernah tertampar, atau malah menampar? Sengaja atau tidak, yang namanya nampar itu sakit. Beneran, Kalau tidak percaya, coba saja sendiri, nabok pipi sendiri. Ok, sebelum tulisan tentang tampar menampar ini dilanjut, saya mau jelaskan definisi tampar dulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], tampar1/tam·par/ v pukul (dengan telapak tangan); tepuk:

SAYA pasti akan banyak dihujat atau paling tidak dianggap “brangasan” kalau pengakuan tentang betapa seringnya saya menampar, dijlentrehkan di tulisan ini. Benar, saya kerap melakukan penamparan, dalam konteks bercanda atau serius ketika melakukannya. Sakit? Wah, jangan ditanya. Mungkin pipi memerah, kepala ikut berdenyut, atau malah ujung bibir sedikit lecet dan berdarah. Korbannya siapa? Siapa saja yang pada saat tertentu membuat saya gregetan dan emosi. Dan kemudian tangan saya yang tidak terlalu besar ini, akan meluncur ngelus pipi dengan kekuatan maksimal. Plaaak!!!

Benar, saya melakukan kekerasan sekian detik, tapi efeknya akan berlanjur bertahun-tahun kemudian. Kalau yang saya tampar itu memaafkan kelakuan saya pun, tak akan menghilangkan pengalaman menerima tamparan tangan saya. Salah? Saya sadar, apapun alasannya, menampar kepada orang yang seharusnya kita lindungi dan sayangi, adalah salah. Oke, sekian dulu pengakuan “kejahatan” saya. Kita akan melihat dari perspektif lain.

Dalam banyak wacana, “menampar” juga masuk dalam ranah “keterkejutan” semisal kalimat: “sindirannya menampar banyak umat!” Dalam konteks tersebut, menampar bisa diartikan membuat malu, atau mengejutkan. Dalam perilaku, menampar kemudian tidak hanya membuat sakit yang tertampar, tapi juga memalukan [bahkan tidak jarang yang merasa menjatuhkan harga diri] orang yang tertampar.  Imbasnya bisa beragam. Ada yang membalas, hingga terjadi keributan. Ada yang menangis, kemudian mencaci maki, tapi tidak sedikit yang terdiam dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan penamparnya. Bisa dendam, bisa cari cara untuk balas dendam, atau mungkin malah pada titik merasa pantas” untuk menerima tamparan tadi.

Lalu untuk apa saya membahasa soal tampar menampar ini? Pertama, ini pengakuan dosa saya. Bahwa pernah menampar orang-orang yang saya cintai adalah sebuah sikap ‘edan’ yang harus saya hilangkan. Betul, tidak hanya dikurangi, tapi dihilangkan. Kedua,  anggap saja ini peringatan atau otokritik kepada siapa saja yang pernah melakukannya atas alasan apapun. Melakukan tamparan itu menyakitkan cuy. Bahkan ketika kita tidak tertampar, tapi menampar, sejatinya kita sedang menerika kesakitan. Mungkin tidak secara fisik, tapi diakui atau tidak, alam bawah sadar kita menjerit kelimpungan merasa sakit. Ketiga, ini bisa-bisanya saya saja: menampar atau tertampar, sejatinya kita sedang mejungkalkan kemanusiaan ke tubir jurang. Bisa tetap hidup meski terluka, atau malah mati terguling-guling.

tampar2

Ketika kita melakukan kekerasan, sebenarnya kita sudah menjadi “penjahat” atas kemanusiaan orang lain. Mari kita simak pengertian kekerasan. Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Menurut WHO (dalam Bagong. S, dkk, 2000), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Jelas ya?

pengakuan dosa dan mencoba menampar diri sendiri supaya kita diingatkan: menjadi manusia itu dimulai dari manusia bernama aku.

Lalu bagaimana mengelola hasrat melakukan kekeraan dalam bentuk apapun itu? Saya selalu sok-sokan bicara soal anger management. Bagaimana mengelola kemarahan menjadi lebih stabil, atau paling tidak meredam aksi kekerasan yang kita lakukan. Bisa jadi saya atau Anda, termasuk orang-orang yang defensive sampai akhirnya ditampar dan membalas menampar. Saya juga akan sok-sokan ke psikolog karena dorongan untuk membalas itu reflektif dan reaksioner, tak bisa direm. Karena ternyata, saya –mungkin Anda—hanya butuh teman bicara yang mendengar celoteh kita, sebrengsek apapun cerita itu. Minimal melegakan dan pulang dengan senyum yang lumayan ikhlas.

Menulis soal tampar menampar ini juga bisa jadi saluran sekresi atau pembuangan yang efektif. Pengakuan, pencerahan, kemudian mencoba berandai-andai cari solusi yang baik untuk diri sendiri, lebih menenangkan ketimbang bertemu dengan manusia-manusia yang malah membuat anger management kita berantakan. Tulisan ini bukan sebuah pembenaran atas tampar, tapi pengakuan dosa dan mencoba menampar diri sendiri supaya kita diingatkan: menjadi manusia itu dimulai dari manusia bernama aku. Itu saya, bagaimana Anda?