Ketika musisi pendatang baru, entah band atau solois, muncul di resapan nuansa Ramadan, kita biasanya akan langsung menyebutnya: penyanyi religi. Kita nyaris tak pernah menelisik bagaimana sejatinya lagu dengan lirik pemujaan kepada sang khalik itu terlahir. Nah, band asal kota Kudus bernama MARWAH ini mencoba mengusik tatanan [tak] baku itu. Mereka menyebut: musik yang menularkan spiritualitas. Apa bedanya? 

marwah3

PERHATIKAN saja judul albumnya,  Cinta Berdebu. Dalam bahasa mereka, inilah cara mereka menggapai takzim ilah.  Tao [vokal], Nov [vocal], Kinasih [vocal] , Ryo [gitar], Ermin [kibor], Agus [bass], dan Petrus [drum], Kinasih [vocal] bertutur dalam lagu ini: sebuah pengakuan tentang gembar-gembor cinta kepada ilahi, tapi sejatinya masih ada debu yang menghalangi. Lagu ciptaan Aony ini, jadi keberanian untuk melakukan confession atau pengakuan dosa.

“Air Mata di Atas Sajadah” dipilih sebagai lagu arus utama yang bakal menyambangi radio-radio. Bukan tanpa sebab tentu saja mengapa lagu yang bercerita tentang pertobatan ini dipilih. Secara aransemen, lagu ini paling radio darling. Tapi pesan yang tersimpan dalam lirik lagu inilah yang jadi argumen terkuat. Terdengar biasa awalnya, dengan dominasi biola yang membawa dramatisasi. Saat kata mulai dilantunkan, saat itulah kegelisahan batin bermunculan. Berlebihan? Rasanya tidak. Kecuali Anda hanya menganggap lirik adalah tulisan dan dilisankan tanpa makna.Personelnya yang tak semua mulim, jutru menempatkan lagu ini sebagai katalisator toleransi lewat musik.

MARWAH juga “nekat” melagukan puisi milik salah penyair besar di Kudus yang kerap mendapatkan penghargaan nasional, Thomas Budi Santoso [Kian Yap], bertajuk ‘Kematian Cinta’ Mengapa nekat? Karena melagukan puisi itu bukan perkara mudah, sulit malah. Alih-alih tersampaikan maksud liriknya, yang ada biasanya malah ‘mengacaukan’ esensi. Dengan kadar yang lebih cair, Marwah berhasil melewati kesulitan itu. Meski terkesan panjang, tapi secara sirat kata, lagu ini menjadi paling kuat secara pemaknaan cinta yang mati. Kalau kemudian risalah Islam yang muncul, MARWAH tak mau dianggap berdakwah. Mereka lebih melihat apa yang dihasilkan ini sebagai berbagi pengalaman mencapai titik tertinggi kemanusiaan dan penciptanya.

Secara hakikat bermusik, pilihan melansir album spiritualitas ini berisiko. Mengapa? Karena ada pemahaman bahwa lagu religi hanya pelarian baru sebelum melakukan pelarian berikutnya. Lagu berkonotasi spiritual sering dianggap diciptakan hanya untuk mendapat status terhormat.  Tentu tak bisa di-gebyah uyah. Tudingan lainya adalah: hilangnya makna karena  lepasnya penanda spiritualitas yang menjadikan masyarakat kering dan haus akan makna religius. Kekeringan ini dijawab oleh sistem pasar dengan memunculkan berbagai produk yang menjanjikan hilangnya dahaga tersebut.  Janji yang disampaikan produk-produk tersebut adalah pemenuhan sejati akan kebutuhan religius, namun apa yang ditawarkan sesungguhnya adalah kembali berupa penanda-penanda hampa belaka.

8 lagu yang ada di album ini,  menjadi “pengingat” bahwa secara fitrah pula, manusia dianugerahi oleh Tuhan naluri untuk memiliki religiusitas dan spiritualitas, sesuatu yang sudah menyatu dalam dirinya, bahkan sejak sebelum kelahirannya ke alam dunia. Naluri itu mendorong manusia untuk melakukan pemujaan terhadap apa yang dianggapnya sebagai realitas tertinggi itu.  Bukan album menggurui, yang menghampiri Anda dengan keinginan memaksa “bertobat”.  Simpel saja.

manusia dianugerahi oleh Tuhan naluri untuk memiliki religiusitas dan spiritualitas, sesuatu yang sudah menyatu dalam dirinya,

Kalau bahasa saya: Marwah sedang berdakwah tanpa terkesan wah. Urusan pesannya direspon atau tidak, bukan urusan manusia lagi.