Di Indonesia, ada salah kaprah yang amat fatal kalau bicara musik reggae. Identifikasi rambut gimbal [dreadlock], bendera kuning hijau emas, tam [topi khas Rasta, dan ital food [makanan diet khas kaum Rasta], seolah sudah menjadi ‘ktp’ bahwa pelakunya adalah kaum Rastafarian.  Bahwa dengan asesoris tersebut, seseorang sudah ‘sah’ jadi Rastafarian.  Buku berjudul RASTA DAN PERLAWANAN karya Horace Campbell mengupas, betapa Rastafarian itu bukan sekadar uye uye saja. rasta2

PEMAHAMAN bahwa reggae-man selalu sama dengan Rastafarian, tampaknya perlu dimodifkasi ulang. Ternyata, berdasar riset sederhana yang saya lakukan, tak semua penggemar reggae atau musisi yang mengaku memainkan reggae, selaras dengan Rastafarian. Bahkan tak sedikit yang jelas-jelas tak mengerti apa itu Rastafarian. Yang fatal, ada yang mengataan bahwa Rasta itu sama dengan ganja. Hmm, ada yang salah tampaknya dengan wawasan mereka.

Sekadar ilustrasi yang dibedah oleh  Horace, gerakan Rastafari bermula dari perdagangan budak Atlantik pada abad 18, ketika ribuan [atau jutaan] budak dari Afrika bermigrasi ke perkebunan tebu di Amerika Serikat. Ketika itu, Amerika adalah benua yang baru “ditemukan”.  Dari sisi historis ini saja, ada banyak kesalahan yang keap ditemukan pada literasi pop postmo yang banyak beredar. Saya coba menyitir kalimat dari vokalis Big Mountain, Joaquin “Quino” McWhinney. Menurutnya, Rastafari itu seperti agama atau kepercayaan yang spesifik. Merupakan hal yang amat penting tapi tidak mudah dilakukan. Ketika belajar dan menjadi penganut Rastafari, banyak hal yang harus kita redam karena secara prinsip itu mempengaruhi sikap, tindakan, pikiran dan membuka sudut pandang.  Kita harus bisa mengeliminir perbedaan. Rastafari membuka mata dalam memandang banyak hal.

Mengutip narratur.wordpress.com: Horace Campbell, bukan anglo-saxon, tidak pula seorang akademisi jebolan Centre for Contemporary Cultural Studies Birmingham yang banyak melakukan penelitian bagi advokasi kebudayaan populer, termasuk kebudayaan rastas. Lahir pada 1945 di Jamaika (seperti Stuart Hall, pendiri CCCS), dia aktif dalam dalam gerakan-gerakan politik di Karibia, membaca realitas lebih dekat. Penelitian yang menghasilkan buku ini sepenuhnya dibiayai kantongnya sendiri. But, well, alasan macam itu terlalu sentimental buat masuk lapangan akademis.

Namun, ada untungnya dekat dengan realitas keseharian rastas, khususnya realitas politik. Setidaknya Campbell tahu apa yang penting dan selama ini absen dianalisis oleh para akademisi. Dia mengajukan analisis ekonomi politik. Pembacaan seorang Marxis khas benua hitam dengan mengambil hikmah para pendahulunya seperti Amilcar Cabral dan Frantz Fanon. Bagi Campbell akar dari gerakan Reggae adalah persoalan ekonomi. Kolonisasi Eropa atas lahan-lahan di Jamaika serta perbudakan atas manusia-manusia merupakan benih-benih yang berkembang jadi pohon perlawanan kaum Rasta.

Di Indonesia, banyak yang keblinger mengidentifikasi reggae [hanya] dengan marijuana atau ganja. Seolah bermusik reggae [wajib] berganja. Dalam salah satu festival music reggae yang pernah dihelat di Jakarta,  saya menemukan banyak belia di tengah konser, asik ngumpet-ngumpet mengisap ganja. Bangga? Buat saya memalukan. Mengapa? Karena artinya mereka tidak bisa mengontrol pilihan mereka dan tidak memahami apa yang mereka pilih. Reggae adalah pesan yang mengajak untuk bertanggungjawab, tidak ada hubungannya dengan marijuana.  Banyak anak muda yang tidak bisa mengontrol dirinya ketika terlibat dalam satu pilihan. Buat saya, yang terpenting adalah mereka belajar mengontrol apa yang sudah dipilih,  bukan pilihan itu yang mengontrol mereka. Karena kalau tidak mengerti soal kontrol, itu akan bisa menjadi hal yang menyakitkan. Mengisap ganja, sejatinya betuk perlawanan kaum Rastafarian, tapi dengan beberapa catatan, bukan sekadar show of tidak jelas.

Untuk hidup, kaum Rasta sepenuhnya bergantung pada alam, mereka menyebutnya ital foods, yang berakar dari kata ‘vital’.  Mereka pun—dengan musik reggae-nya yang populer—identik dengan warna merah, hijau, emas, dan hitam; merah berarti martir, hijau bermakna kedekatan dengan alam, emas menunjukkan kekayaan Afrika, dan hitam untuk menyampaikan bahwa gerakan tersebut diprakarsai oleh orang kulit hitam. Umumnya, kaum Rasta dekat dengan simbol heksagram yang melambangkan Raja David danLion of Judah yang menjadi perlambang Ketuhanan dalam kitab mereka.

Saya akan mengutip utuh, sinopsis di belakang buku terbitan tahun 2009 ini: RASTA DAN PERLAWANAN adalah studi tentang Gerakan Rastafari di dalam semua manifestasinya, dari mulai evolusinya di pegunungan-pegunungan Jamaika hingga manifestasi masa kininya di jalanan-jalanan kota Birmingham dan Pemukiman Shashamane di Etiopia. Buku ini menampilkan sumber-sumber budaya, politik, dan spiritual dari gerakan perlawanan tersebut, serta menekankan pada tuntutan perubahan yang diteriakkan oleh kaum-kaum yang tertindas. Buku ini membongkar tradisi intelektual yang selalu menempatkan cap milenarian pada gerakan Rasta.

Kalau kalian mengaku Rastafarian, atau sekadar ingin tahu gerakan relijius ini, buku tulisan Horace Campbell ini sudah seperti “kitab suci” yang lengkap.

Sekadar info tentang penulisnya: Horace Campbell dilahirkan di Montego Bay, Jamaika pada tahun 1945. Dia adalah seorang penulis, guru, dan juga aktivis politik yang telah banyak belajar di Afrika, Karibia, Inggris, dan Amerika Utara. Tulisannya telah terbit dalam dua buku: Four Essays on Neo-colonialism in Uganda dan Pan-Africanism: The Struggle Against Neo-colonialism and Imperialism, juga sejumlah artikel, makalah, dan esai yang diterbitkan di dalam berbagai jurnal di Inggris, Amerika Utara, Karibia, dan Afrika. Sejak tahun 1981, dia mengajar di Universitas Dar-es-Salaam di Tanzania, Afrika Timur.