Di Indonesia, Ramadan dan Natal, adalah hari besar keagamaan yang paling banyak memunculkan “rohaniwan” dadakan. Wujudnya macam-macam. Bisa jadi ustad regular di televisi, atau kalau jadi musisi, cara yang paling ampuh adalah membuat lagu dengan lirik “pemujaan” kepada ilahi. Kalau saya sih, lebih melihat bukan pemujaan tapi “penjilat” kepada Ilahi. Terdengar sarkastis?

BEBERAPA tahun belakangan, kesukaan akan lagu-lagu bernuansa agama, makin meningkat populasinya. Selain karena faktor promosi yang kuat, nyaris semua acara televisi memasang musik latar dengan aroma-aroma keagamaan, apapun agamanya. Sayangnya, ketika melihat banyak musisi yang biasanya menjejali kolom-kolom gossip media [apapun], banyak yang kemudian mencibir bahwa lagu dengan spirit religi atau spiritualitas sering dianggap diciptakan hanya untuk mendapat status terhormat. Karena ketika menyorongkan materi itu, kemudian meledak, jelas “kadar kehormatan” akan meningkat. Meski tetap saja dikenal sebagai [bukan] musisi khusus spiritual.

Bukan kesalahan memang, karena setiap manusia [baca: musisi], juga berhak untuk melarikkan lirik-lirik pemujaan kepada Tuhannya, terlepas hanya pada momen Ramadan atau momen keagamaan lainnya. Terbukti banyak musisi sekuler yang juga menangguk sukses di momen kegamaan. Sebutlah Ungu, D’Masiv, Noah atau almarhum Chrisye. Dosa? Kalau sudut pandang Anda adalah “dakwah” meraup keuntungan adalah riya. Dari sudut pandang bisnis musik, jelas keuntungan besar adalah target. Sudah tidak bicara soal surge neraka. Sukur-sukur, ada banyak orang yang bisa dijabah [asli, ini kata mengganggu buat saya].

Lalu apa bedanya lagu spiritualitas dengan lagu religi? Karena liriknya toh nggak beda-beda amat. Bicara definisi, spiritualitas sebenarnya lahir dari tingkat religiusitas yang sudah melewati tataran fanatisme dan pemahaman sempit ayat per ayat. Spiritualitas muncul dari kegelisahan religiusitas [agama]. Dalam bahasa yang sederhana, saya menyebutnya: satu level di atas religiusitas. Masih bisa diperdebatkan, tapi spiritualitas lebih berani bicara soal keberagaman dan pengakuan atas keimanan yang berbeda. Sementara religiusitas, biasanya lebih dekat dengan fanatisme dan meyakini kebenaran dan keimanan, hanya satu-satunya, milik mereka [apapun keimanannya].

menjadi seolah religius, adalah satu satu kebodohan yang pernah dilakukan manusia.

Nah, banyak musisi yang tanpa tedeng aling-aling mendeklarasikan keimanannya pada “sebatas lirik”. Ketika kemudian membuat lagu dengan kosa kata “Allah, Alloh, Tuhan, Berserah, Bertobat, atau Dosa, Surga dan Neraka” seolah semua masalah “terselesaikan” seketika. Memakai kafiyeh, peci atau sorban, jas klimis, menenteng kitab suci yang tampak masih licin saking jarang disentuh jadi legitimasi bahwa mereka sudah “sah” untuk bertutur soal kesadaran diri. Saya termasuk beruntung melihat dan mengikuti kiprah banyak musisi belakang layar. Dan saya harus katakan, banyak –benar, banyak!—musisi yang berprinsip: dengar apa yang saya katakan, jangan lihat apa yang saya lakukan!.

Jelas tidak salah, karena siapalah kita yang berhak menghakimi kiprah musisi itu. Mereka mau membuat lirik apapun, tentang apapun, sah-sah saja. Atas nama industry musik [komersil], semua bisa dikaryakan. Tapi sebagai penggemar, penikmat, atau sekadar pengamat, rasanya tidak salah juga kalau kita menuntut pertanggungjawaban atas apa yang sudah mereka bagikan lewat karya-karyanya. Kecuali memang musisi-musisi itu [ada juga selebritis], hanya melakukan “penyamaran personal” ketika muncul di momen tertentu, semisal Ramadan ini. Dan sayangnya, kita terpaksa menelan mentah-mentah apa yang disodorkan para pelaku industri hiburan, sembari protes ketika semua sudah muncul dan kemudian ada yang perlu dikritisi.

“Menjilat” Tuhan lewat lagu, penampilan, sejatinya hanya mengharap surga yang kosong. Karena tempat ternyaman, teraman, terasik, dan kekal hanya untuk orang-orang yang ikhlas, kosong dari “harap-harap cemas” dan bukan sekadar menebalkan topengnya.  Saya sedikit memlesetkan quote dari salah satu filsuf Rusia, Michael Bakunin: menjadi seolah religius, adalah satu satu kebodohan yang pernah dilakukan manusia.

Semoga kita, saya dan Anda, bukan dari golongan yang tidak  di-“hai” oleh pencipta.