Kalau pertanyaan itu diajukan tahun 80-an, mungkin kita akan menjawab: masa depannya ciamik dan cerah. Karena era 80-an, diyakini menjadi satu era terbaik, ketika musik dan musisi berkembang secara idealis dan musikalitas. Tapi kemudian perkembangannya tidak pernah terduga. Teknologi digital merambah industri musik, sehingga industrinya sendiri kudu berbenah total. Tapi apakah musik sendiri masih punya “rumah” untuk dirinya sendiri?

UNTUK industri musik, tentu akan mengalami pergeseran yang cukup tajam. Sudut pandang industri melihat perkembangan musik itu sendiri, sudah bergeser. CD fisik yang sempat diagulkan beberapa tahun silam, kini seperti hanya jadi “pelengkap” saja di antara rak-rak yang masih penuh. Mereka –CD fisik itu—harus berhadapan dengan duniai digital yang bisa digerakkan dari satu genggaman saja.

Menjadi seorang musisi saat ini tantangannya semakin berat. Jika tidak diimbangi dengan inovasi dan adaptasi dengan perkembangan zaman, bisa-bisa kita tidak bisa lagi menghibur masyarakat luas. Diperlukan cara-cara baru untuk menyiasatinya.

Masa depan musik di era digital sebenarnya cerah. Tinggal bagaimana kita bisa melakukan inovasi dan menyatu dengan dunia digital itu sendiri. Jadikan dunia digital sebagai partner, bukan musuh. Sementara itu secara internal, selalu berkarya lebih baik setiap waktu, dan tahu apa yang masyarakat inginkan.

Bukti lain betapa masa depan musik di era digital ini cerah adalah, nama sebuah band bisa mencapai lingkup masyarakat lebih luas. Jauh ke pelosok, ke pedalaman, bahkan ke seluruh dunia. Jika sudah demikian keadaanya, tantangan yang harus di jawab: bagaimana caranya supaya audiens yang luas tersebut menerima karya musik para musisi?

Optimisme itu harus dipupuk dan dipelihara baik-baik. Tapi tentu saja kudu diimbangi dengan kreatifitas tanpa batas. Musisi-musisi –lama dan baru muncul—sudah tahu persoalannya, sudah paham teknologinya, sudah ngeh dengan jebakan-jebakannya, tapi apakah semua siap menghadapinya? Maaf, saya sendiri sedikit sangsi dengan pertanyaan itu. Selain kemampuan berkarya membuat lagu dan kata-kata, musisi ternyata harus punya bekal juga untuk analisa dan antisipasi pada perkembangan dunia musik itu.

Hal lain yang ikut membuat musisi harus “lari cepat” adalah munculkan genre-genre musik yang ‘simbiosis mutualis’ antara satu genre dengan genre yang lain. Kalau ada pertanyaan genre apa yang akan mendominasi musik masa depan, jelas itu sebuah pertanyaan besar sulit untuk dijawab. Tapi yang jelas dan indikasinya jelas, banyak genre yang ada mengembangkan diri dengan ‘bermitra’ bareng genre lain. Bagaimana punk mengajak gamelan, jazz melibatkan ornament rock, electronic music menggaet rock, dan masih banyak lagi olahan yang menarik dan melahirkan turunan baru.

musisi harus punya bekal kemampuan analisa dan antisipasi pada perkembangan dunia musik itu sendiri

Meski secara massif, saya tidak akan bilang dominasi salah satu genre, tapi lahirnya genre ‘new comer’ itu tidak bisa ditahan. Ada semacam evolusi yang sedang berjalan, bukan revolusi. Dari beberapa catatan musisi dan jurnalis musik di beberapa negara yang pernah saya baca, banyak musik yang meningkatkan kompleksitas musikalnya. Musisi-musisi “sekolahan” –artinya, belajar musik secara akademis, bukan otodidak, akan tampil dan menjadi bagian penting dari evolusi itu. Pernah mendengar matematika rock? Mereka bermusik dengan dinamika algoritma, dengan ketepatan bermain. Hal ini tentu lebih dikuasai musisi akademisi ketimbang musisi otodidak.

Kalau bisa saya sederhanakan:

  • Kompleksitas dari musik di banyak genre, akan meningkat. Artinya, musik masa depan butuh pemahaman lebih dari musisi dan penikmatnya.
  • Tuntutan penikmat musik akan lebih Musik tidak hanya enak didengar dengan lirik yang mudah diikuti, tapi komposisi dan komparasi juga akan dilakukan. Mungkin, tidak akan ada lagi fans loyal.
  • Kemampuan penikmat musik [atau pendengar musik] untuk memahami musik yang rumit, akan meningkat pesat. Ini indikasi bagus untuk genre-genre yang selama ini dianggap njlimet seperti jazz atau progressive rock.
  • Akan banyak orang yang bisa menjadi “musisi” dari dalam kamarnya saja. Mereka punya kemampuan musikalitas yang mungkin biasa saja, tapi memahami kompleksitas musikal dengan baik. Mereka punya kemampuan dan piawai “menjual” lagunya, juga dari kamar saja lewat social media atau daring-daring musik yang ada.
  • Banyak musisi multi tasking, menguasai banyak genre sama baiknya. Mereka mampu membuat komposisi lintas genre, sama ciamiknya.

Tentu prediksi saya bisa salah, bisa benar. Tapi meningkatkan kemampuan diri, membuka wawasan, belajar hal baru yang selama ini “haram” kita sentuh, atau bermanuver melahirkan inovasi baru, akan menjadi “wajib” hukumnya. Siap nggak?