“Rockstar kok ngunyah es krim kayak ABG,” – “Metalhead kok minum susu.” – dan kemudian kami semua tertawa terbahak, sementara si ‘rockstar’ itu hanya mengumpat ringan: anjing! Sambil terkekeh dan tetap melanjutkan ritual “manjanya” itu. Rockstar itu bernama Krishna Jotham Sadrach, atau banyak yang mengenalnya dengan Krishna ‘SuckerHead’, identifikasi dengan nama band-nya.

OBROLAN –atau tepatnya celaan itu—muncul ketika kami, saya dan beberapa kawan jurnalis musik lain, menjadi juri salah satu ajang pencarian bakat yang digagas salah perusahaan rokok besar. Sosoknya yang tinggi besar, tattoo di sekujur tubuh dan suara yang berat, seringkali membuat banyak orang yang baru mengenalnya salah sangka. Apalagi ketika mengurus suatu event, biasanya memang agak mahal senyum. Tapi percayalah, kalian salah menilainya.

Sekitar 2-3 tahun saya intens bertemu dan ngobrol dengan metalhead kawakan asal Surabaya ini. Di helatan metal besar di Indonesia –semisal Hammersonic–  namanya selalu nangkring sebagai orang yang super sibuk mempersiapkan acara sesempurna mungkin. Ketika riweuh mendekati hari “H” itulah, media akan sering berhadapan dengan sosok yang sejatinya ramah dan humoris ini. Saya pribadi terkesan dengan sikapnya yang tidak pernah meremehkan orang lain. Secara wawasan musikal metal khususnya, apalah saya dibandingkan dengan beliau yang khatam itu. Tapi Krishna akan memberikan informasi, meski dengan caranya yang singkat-singkat itu.

Disela istirahat ngejuri, selalu ada tawaran menu apa untuk makan siang atau sekadar cemilan. Dan basis sangar ini selalu memilih es krim dan susu, dengan komentar yang nyeleneh dan sesekali berusaha meyakinkan kami, bahwa “rokstar ngeskrim itu, ok!”   Dan mulailah kami [biasanya Bello, alumnus Trax Magz, Ncek alumnus Tabloid Gaul, Carry Nadeak Majalah Gatra, dan Yanto –ketika itu masih di label Trinity Optima Production] berceloteh, meledek, sembari curi-curi foto “ancur” ketika Krishna sedang ngemut es krim. Dan kemudian kami akan terbahak bersama, sebelum mulai ngejuri lagi.

Djok, album band gue nitip gratis di majalah loe aja, bisa?” tanyanya suatu ketika. Agak terkejut ketika itu, karena siapa metalhead yang tidak kenal dengan SuckerHead, band yang kalau kami sedang ‘cela-celaan’ sering kami sebut” metal rindu order. Obrolan yang sayangnya, sampai saat Krisna meninggal dunia karena kanker yang dideritanya, tidak pernah terwujud.

Kekonyolan lain ketika kami sedang menyimak lagu dari salah satu peserta. Ketika melihat namanya, Krishna langsung tergelak, “Buset! Ini band gila kali ya,” celetuknya spontan membaca nama Tuhan Band di sampul CD. Meski begitu, tiga lagu yang ada dalam CD itu, kami simak detil, meski akhirnya kami harus geleng-geleng kepala mendengar lagu, lirik, dan vokalisnya yang nyeleneh. “Sini, CD-nya gue simpen. Jarang-jarang ada band aneh begini,” katanya santai, sambil tetap terkekeh.

“rokstar ngeskrim itu, ok!”

Kami bertemu lagi dalam kondisi yang sudah berbeda. Rambutnya yang gondrong rewo-rewo itu, sudah dipotong cepak. Badannya yang tinggi besar, sudah ‘mengempes’ karena sakitnya. Tapi jangan coba tanyakan soal penyakitnya, karena dia akan mengelak dan menolak disebut sakit. Tapi sakit itu pula yang kemudian merenggut kehidupannya Selasa [2/8/2016]. Dan saya sebagai jurnalis musik, jelas kehilangan besar ketika tubuhnya disatukan dengan tanah, meski saya tak sempat menghadiri pemakamannya secara langsung.

Ah, Kris…nggak bisa ngeskrim imut lagi kita….tetap metal yak “disana”..