Bicara tataran moralitas, isu yang paling heroik dibahas sekarang adalah: korupsi. Pelakunya benar-benar jadi tikus pengerat yang mengerat, seerat-eratnya.

BRENGSEKNYA ketika penangkapan dan pengungkapan sudah demikian masif, pelaku-pelakunya masih saja mencari celah untuk ngakali. Diberantas habis mungkin perlu waktu panjang, tapi dikikis dengan sadis, rasanya jadi sah saja sekarang.  Gelinjang perlawanan atas perilaku yang amat korosif dalam tatanan hidup itu, didengungkan semua lini, salah satunya musisi. Tidak terhitung lagi musisi yang terang-terangan mengatakan muak, enek, jengah, marah, dan mengeluarkan serapah tak berkesudahan kepada koruptor. Tapi semakin dilawan, semakin dihina dina, semakin disiksa dari semua sudut, para bajingan korup itu tak serta merta berhenti. Mereka juga mencari cara yang makin lihai untuk “melegalkan” tindakan pengeratannya itu.

Kita balik sebentar menolah artis dari korupsi itu sendiri. Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Artinya, kita memercayakan sesuatu hal kepada orang yang kita percaya tapi kepercayaan itu disalahgunakan. Seperti tetangga baik yang kita titipi anak, tapi malah dicabuli.

koruptor itu benar-benar jadi pengerat yang mengerat, seerat-eratnya. Brengsek!

Lalu bagaimana musisi harus melawan korupsi? Membuat lagu yang ‘mencaci maki’ koruptor? Atau duduk manis menyerahkan persoalan itu kepada Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] dan bergerak ketika KPK mulai diusik? Majalah The Economist [Edisi Agustus 2012] pernah menulis judul Sitting Duck atau bebek duduk, menyoroti sikap pemimpin dalam mengatasi masalah korupsi. Di Indonesia, jaranglah “orang bodoh” melakukan korupsi, yang terjadi adalah ‘orang pintar’ yang melakukan tindakan bodoh itu. Atau para musisi hanya menjadi “bebek duduk” tidak punya sikap apapun melawan korupsi. Mengapa? Karena jangan-jangan musisi itu sendiri masuk dalam lingkaran penikmat, atau pelaku  korupsi itu sendiri. Entahlah. Susah dibuktikan dengan kasat mata tentunya. korupsi2

Dan betapa menyenangkannya ketika musisi dengan massa berlimpah ruah, menulis lagu yang “kuat” melawan korupsi. Dan betapa menggetarkannya: ketika gerakan itu bisa menjadi Mexican Wave, gelombang besar yang saling memengaruhi untuk melawan korupsi.  Setiap hari –benar, setiap hari—jutaan penggemar musik melantunkan lagu tentang kebobrokan, tentang manusia yang dipecundangi korupsi, dan menjadi gelombang perubahan yang amat besar. Kalau koruptor itu tidak tersapu dalam badai besar perubahan, dia akan terhempas.

Tapi korupsi memang tidak sekadar himbauan semata. Musisi pun harus bisa menempatkan diri sebagai manusia yang benar-benar anti korupsi, tidak sekadar jadi indah di lirik.  Bergerak, bertindak, dan bersuara, sekecil apapun, akan jauh lebih cerdas ketimbang hanya jadi “bebek duduk” tak pernah berbuat apa-apa, sekadar ngelus dada. Berani?