Ini efek layar kaca, yang masif menggempur alam bawah sadar penontonnya. Ada perubahan sudut pandang anak-anak sekarang ketika memandang cita-cita untuk masa depannya. Artis adalah cita-cita tertinggi yang kerap disebut. Salahkah?

TENTU saja tidak salah, cita-cita apapun selama itu diperjuangkan dengan positif, adalah mulia. Sayangnya, tidak sedikit yang berharap menjadi artis dengan cara yang instan, tanpa melalui proses panjang untuk menempa mental. Yang muncul kemudian adalah tipikal artis seperti orang boker, plung lap. Ngeden atau ngotor, bau sebentar, setelah itu amblas.

Sebelum mengulik soal instanisme [maaf, ini setelah yang saya buat sendiri] di jagat hiburan, saya mencoba memberi pemahaman tentang kata “artis” itu sendiri. Wiktionary mendefinisikan seniman [artis]  sebagai kata benda sebagai berikut: Seseorang yang membuat seni, seseorang yang membuat seni sebagai sebuah pekerjaan atau seseorang yang terampil di beberapa kegiatan. Jadi seorang artis pasti akan menghasilkan sebuah bentuk karya seni, yang bisa dinikmati oleh para penggemarnya, baik berupa seperti lukisan, musik, foto, film dan lainnya. Sedangkan penggunaan kata artis di Indonesia sering digunakan kepada setiap orang yang sering tampil di televisi untuk menghibur, kemudian disebut sebagai artis.

Di Indonesia, sebenarnya tidak banyak yang menjadi artis, karena karya mereka sudah seperti kodian. Nyaris tidak ada karya yang benar-benar bisa dibanggakan, selain keterkenalan dan materi yang kerap diagungkan. Alhasil, selain nama yang terkenal, uang adalah target yang dikejar. Jangan kaget kalau dalam audisi apapun yang memungkinkan terkenal, banyak orang tua yang bersikeras anaknya ikut, supaya bisa “merubah nasib”.

Saya punya pengalaman “mengelola” karier penyanyi, yang kemudian memilih “melompat pagar” dengan target cepat terkenal. Strategi promosi yang dianggapnya lamban, karier yang meniti pelan, sementara kawa-kawan seangkatannya –konon- sudah jauh melampaui dirinya, menjadi kegelisahan yang menggerus keyakinannya akan sebuah proses. Kerepotan bertambah, karena selaku manajemen yang harusnya dihormati, orang tuanya terlibat dalam banyak hal. Ada banyak syarat yang diajukan untuk anaknya kalau kelak mendapat kontrak yang berkaitan dengan aktifitas hiburan. Ketika pola sudah terbentuk, imej mulai didapat, penyanyi ini memlih hengkang dan pindah manajemen dengan asumsi akan leih cepat mendongkrak karier dan nama besar. Hasilnya? Silakan cari sendiri ekspose-nya di media kalau ketemu yang berbobot.

Kegelisahan siapa saja yang sedang merangkak dalam satu profesi yang ditekuni, untuk cepat-cepat melejit tanpa proses alami yang dijalani, itu jahat.