Jujur saja, saya heran ketika nama Mukidi belakangan menjadi viral dengan amat massif. Identifikasi dari semua lelucon yang beredar itu berkonotasi ndeso, norak dan bodoh. Pertanyaan besarnya adalah: siapakah MUKIDI sebenarnya? Apakah identifikasinya  sesuai dengan kenyataan yang tertemukan.

KETIKA semua lelucon yang kerap dibuat sebagai bahan ngeledek beredar dengan cepat kemana-mana, saya dan teman-teman yang biasa membuat lelucon dengan tokoh utama Mukidi terkejut. Oh ya, sebelum saya bercerita lebih jauh, saya akan terangkan dulu sosok Mukidi yang sesungguhnya. Siapa saja bisa mengklaim Mukidi dalam ceritanya, tapi saya sepakat dengan teman-teman, bahwa banyak lelucon yang jauh sebelum ngetop sekarang  ini, sudah kerap kami putar-putar ke sesama teman.

Mukidi sosok yang ndeso memang. Kami bersekolah di SMP 5 Semarang, salah satu sekolah favorit yang konon banyak terisi kamu borjuis ketika itu. Mukidi adalah proletar dalam arti sesungguhnya. Lahir dari keluarga sederhana, untuk tidak secara ekonomi terlihat dibilang miskin. Ayahnya adalah tukang kebun di SD Don Bosco Kaliwiru, sementara ibunya membantu dengan menerima cucian dari tetangga. Karena itulah, ketika bergaul dengan banyak orang yang terliat lebih mapan, Mukidi seperti orang minder dan cenderung jadi pendiam.

Kami kawan-kawannya, justru usil ketika tahu namanya terdengar ndeso. Termasuk guru-guru ang kerap memberinya tugas maju  ke depan, bukan karena dia pintar, tapi karena namanya unik ketika itu. Dalam beberapa tugas Bahasa Indonesia, entah membuat pantun atau sekadar mengarang, nama Mukidi keap jadi tokoh, tentu saja sebenarnya kami ngeledek.

Saat smartphone semarak, kami membuat grup SMP 5 bernama Kasmo [Keluarga SMP 5], dan disitlah sejak setahun silam, kami bertukar cerita lucu dengan tokoh utama tentu saja Mukidi, yang sekarang sudah jadi bos perusahaan furniture di Jepara. Cerita yang kami unggah, biasanya kami share ke semua grup yang kami punya, selain beberapa kawan menggunggahnya juga di blog. Dan kemudian seperti tsunami, Mukidi jadi jargon lelucon paling ngehits sebulan belakangan ini. Saya terkejut, kawan-kawan terkejut, apalagi Mukidi sendiri yang kemudian kebingungan ketika diuber-uber wartawan.

Mungkin kisah yang saya tulis terasa seperto dongeng, tapi saya mau katakan, apa yang saya tulis ini 100 persen demikian adanya. Mukidi yang jadi tokoh lelucon itu, bisa siapa saja dan dimana saja, tapi kami rasa menyodorkan Mukidi sebagai salah satu  kisah yang benar-benar kami alami, tentu tidak salah bukan? Tidak bermaksud curi-curi kesempatan mumpung lagi ngehits, tapi Mukidi –kawan kami itu—sendiri mengatakan: berbagi kebahagiaan adalah cara mujarab untuk bahagia. Dan lucu adalah bagian dari bersenang-senang.