Istirahatlah kata-kata,

Hingga lelahmu tak bersuara

Istirahatlah kata-kata,

Ketika jiwa tak lagi merasa bersama.

Terlelaplah hai keheningan,

Dan tepekur dalam kekosongan

Tertidurlah wahai kesepian,

Aku sudah berjumpa dengan kematian.

Berhentilah hai kegelisahan,

Dan buatku berhenti menoleh

Istirahatlah kata-kata,

Saat lisan tak lagi berkuasa..

###

MENCIPTA kata-kata itu tak selalu dipenuhi kosa kata yang terlhat berbunga-bunga. Ada frasa yang terasa lebih lugas, langsung pada sasaran. Tapi tak sedikit yang meleburkan rima berbunga dalam kiasan bahasa. Kemampuan menorehkan kata-kata dalam satu keadaan yang digambarkan dengan indah, sedih, atau mungkin mengharukan, bisa dilakukan saat kita punya kemauan mengolah kosa kata dengan lebih deras.

Menulis lirik atau kata-kata cinta, dalam banyak lirik lagu juga bisa diungkapkan dengan banyak personifikasi. Banyak yang menganalogikan cinta dengan bunga, warna, kupu-kupu, atau sekadar menuangkan perasaan dalam bahasa yang lebih verbal. Tidak ada yang keliru dengan itu, karena penyampaian pesan itu bisa beraneka ragam, tentu dengan maksud isi pernyataan bisa terkirim dengan tepat, seperti yang dimaui.

Dalam tulisan saya di atas yang berjudul “Istirahatlah Kata-Kata” – saya menggunakan kosa kata yang mungkin tidak biasa, bagi kalian yang terbiasa verbal. Berbelit-belit? Tentu tergantung sudut pandang pembacanya. Tapi secara harafiah, apa yang saya tulisan itu tentu lebih sulit dimaknai ketimbang tulisan saya yang verbal.  Inti dari tulisan saya itu adalah: merenung. Untuk menemukan satu jawaban atas situasi yang sulit, kadang-kadang kita perlu pada suasana yang kosong, hening, tanpa kegelisahan, tanpa ketakutan. “Aku sudah berjumpa dengan kematian…” ini adalah analogi dari kepasrahan ketika akhirnya kita tahu berada pada titik kematian yang tak mungkin kita hindari.

Kita lelah berbicara, karena bicara ternyata tak dirasakan berguna. Berhenti dan istirahatlah lisan kita.