Sebenarnya, saya malas menulis tentang satu negeri yang isinya manusia-manusia tukang konak.  Manusia-manusia yang begitu mudah “ngaceng” ketika menyaksikan tubuh perempuan dengan semua perspektif imajinya. Saya menjadi amat terganggu, ketika tayangan televisi yang jelas-jelas menayangkan olahraga di air, harus diburamkan karena dianggap porno.  Olahraga renang, kini jadi ajang ‘berdebat aurat’ dari para ‘malaikat keparat’.

SAAT kita menyaksikan televisi, kemudian  muncul gambar perempuan [anggaplah seksi], tiba-tiba sekujur tubuhnya berlumur warna blur, menutupi yang danggap bisa menimbulkan kemunculan birahi [pada laki-laki]. Dari awal aturan itu muncul, jelas sekali bahwa atura-demi aturan ini dikuasai oleh para laki-laki hipokrit yang merasa berhak menjadi “hakim” atas perempuan. Sensualitas dan tubuh yang [dianggap] memunculkan fantasi seksual, harus di-blur.

Dalam kacamata feminis, sensualitas bukan bagian dari eksploitasi seksual, justru sebagai satu sisi kekuatan perempuan. Dalam konteks sosio cultural, masyarakat lebih mudah menghujat penyanyi atau musisi perempuan yang terlihat beda dari biasanya. Masyarakat juga hipokrit, satu sisi [seolah] menghujat dan menghakimi, tapi di sisi lain mereka menikmati, sehingga sulit membuat garis benar atau salah lagi. Pemberdayaan dan pembelajaran jadi penting, supaya sensualitas [bukan seksualitas] tidak mengalami pelecehan.

Kalau tubuh [perempuan biasanya] dituding sebagai pemicu munculnya ‘konakisme’ akut dari laki-laki dengan otak geser, seharusnya laki-laki juga berkaca bahwa ada yang tidak beres dengan perspektif otak mereka. Kalau kajiannya adalah kitab suci, bukankah seharusnya bisa lebih menghormati dan menghargai lawan jenis dengan semua asesoris yang dipakainya?

Menyalahkan tubuh, menyalahkan ornamen, dan menyalahkan orang lain yang tidak seturut dengan pemikiran “kemprohnya” sama saja dengan menyalahkan kemanusiaan, menyalahkan keberadaban.

Dan para kaum hipokrit yang bicara soal moralisme, tapi ternyata lebih tidak bermoral. Kaum hiprokrit yang bicara soal menjaga keberadaban, tapi ternyata bertopeng ketidakberadaban, makin berjejalan di negeri ini. Menggelikan, tapi makin memuakkan. Mungkin seperti kata Iwan Fals: urus saja moralmu sendiri!

Hidup di Republik Konak, memang menggelikan. Yang disebut penjaga moral, sering jauh tidak bermoral. Yang disebut penjaga kemaslahatan, sering jauh tak bermaslahat. Yang kerap disebut agamawan, sering tak punya daya dengan ‘konaknya’ sendiri. Hanya bisa berkoar, mengutip ayat sana-sini, tapi menyimpan ‘birahi’ yang tak tertandingi.

Semoga tulisan saya ini, tidak diblur juga.