Sejatinya manusia dilahirkan dalam dua kondisi: ego dan alter ego. Alter ego menjadi sisi kelam dari perilaku manusia. Ada kejahatan, kegelapan, dan matinya kemanusiaan akut. Sisi hitam itulah yang kemudian jadi hook dari klip terbaru ‘Human Error’ milik penggawa metalcore Sunday Sad Story.

GARDA depan gerakan indiependen di Semarang ini, menjadi contoh betapa konsistenti dan ‘kegilaan’ akan profesi, akhirnya melahirkan apresiasi. Almando Charles [gitar], Bondan [bass], Adit Kempul [gitar], Anto Constantinte [drummer] dan Reza Nuary [vokal], keukeh di skena garing materi tapi ‘ngeri’ dan melesat menjadi salah satu ujung tombak pergerakan indie di Semarang. Kini, Sunday Sad Story sudah bisa disebut band nasional, paska jadi nominasi AMI Award 2016, September 2016 silam.

‘Human Error’  menjadi salah satu amunisi terkini dari band yang berdiri sejak 2005 ini. Lagu yang diambil dari E.P bertajuk sama itu, menggelnding tajam usai Hellrazer –fans fanatiknya—digelontor klip dahsyat ‘Confession’ garapan Deddy Raksawardana, kliper asal Jakarta.

Klip ‘Human Error’ sendiri bekerjasama dengan Indiesteria Project, salah satu unik UKM Serenade STIE BPD Semarang. Sebuah kerjasama yang unik dengan eforia kampus, yang selama ini juga konsisten menggulirkan isu-isu music indipenden, khususnya di Semarang. Klip yang dipandegani oleh Bangkit Soekarno dan Pradityaka ini, sebagai satu gentleman agreement, paska masuk dalam kompilasi Indiesteria Vol.#3.

Sekadar informasi saja, Indiesteria ini merupakan event tahunan yang digagas mahasiswa STIE BPD Semarang, khususnya UKM Serenade. Dalam woro-woro-nya, mereka mengatakan akan selalu konsisten mendukung pergerakan band-band indie di Semarang, dengan merilis album kompilasi dan video klip. Sebuah pernyataan gagah yang patut diapresiasi dan didukung secara massif.

Kami dari Sunday Sad Story tentu saja senang bisa bekerjasama sama dengan anak-anak muda yang punya idealis dan komitmen. Semoga mereka punya napas panjang, sehingga banyak talenta baru yang selama ini tidak terdeteksi bisa terangkat ke permukaan juga,” komentar Almando, usai syuting klip di aula STIE BPD.

Konsep klipnya juga lebih verbal, karena liriknya sendiri sudah bercerita tentang sisi gelap manusia yang kerap menghantui manusia itu sendiri. “Ada talent yang berperan sebagai sisi gelap. Dia mengikuti kemana saja, setiap manusia itu bergerak. Jadi sebenarnya SSS ingin mengatakan, antara hitam dan putih itu bedanya tipis. Bergerak kemana, adalah pilihan kita sendiri, jangan sampai malah menjadi human error,” terang Almando lagi.

Sinergi idealisme dan talenta berbakat seperti inilah yang sebenarnya membuat music movement di suatu daerah bergerak cepat.

Tularkan virus komitmen ke banyak pihak, dan ledakan demi ledakan dari pergerakan indiependen pasti akan bermunculan. Hail Yeaaah!!!!