Musisi & Politik: Kejujuran vs Kemunafikan?

Setelah “terbelah” dalam dua kubu, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, musisi [baca: seniman] Indonesia, kini seharusnya mulai kembali ke jati diri sebagai musisi, berkarya tanpa batasan dan berkarya tanpa kebencian.  Kebodohan, idealisme politik, arogansi, dan sifat mekengkeng atau ngeyelan, harusnya sudah larut dan mencair dalam dinamika kesenian yang lebih positif. 

 

"Musisi boleh berbeda kubu, tapi toleransi musikalnya tak boleh berhenti" [foto: oi-kotabekasi.blogspot.com]

“Musisi boleh berbeda kubu, tapi toleransi musikalnya tak boleh berhenti” [foto: oi-kotabekasi.blogspot.com]

KELAK, Pemilu 2014 bakal dicatat dalam sejarah di Indonesia, sebagai Pemilu yang paling hectic dari semua sudut. Kawan bisa menjauh, suami istri bisa sedikit “ribut”, pasangan kekasih bahkan ada yang putus, karena berbeda pilihan politik. Di ranah musik, terjadi juga. Beberapa musisi terang-terangan menjadi pendukung [fanatik] dari capres yang ada.  Kini setelah semuanya terang siapa yang menang, musisi-musisi tersebut harusnya tidak lagi merasa dalam “kubu” yang berbeda, tapi kembali ke jalurnya selama ini.

Sebenarnya relasi musik dan politik tidak terjadi baru-baru ini saja. Apalagi di negara yang demokrasinya sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun, musik dan politik sudah berdampingan meski dalam kapasitas yang berbeda-beda perannya. Kalau Anda ingat, Pussy Riot, sekelompok musisi perempuan di Rusia, malah sempat dipenjara karena berteriak soal politik. Jadi, ini bukan pertama kalinya musisi dan politik bertabrakan. Ekspresi politik melalui musik telah hadir dalam budaya dan periode waktu banyak. Mari kita belajar dan menelisik ke era lawas ketika musik mulai dibenturkan dengan politik.

Pemberontakan Musisi Klasik

Anda ingat dengan musisi klasik terkenal Guiseppe Verdi? Karyanya kerap dimainkan dalam opera-opera klasik, hingga sekarang. Karya operanya yang berjudul Nabucco di tahun 1844, pernah dijadikan mobilisasi Italia untuk melawan dominasi Austria dan Perancis, yang kala itu dikuasai oleh Napoleon Bonaparte. Verdi malah sempat diangkat sebagai anggota parlemen tahun 1861, karena “jasanya” menciptakan opera tersebut. Sebelumnya, Italia sempat membanti Perancis ketika perang dengan Austria.

Kemudian tahun 1954, komposisi balet berjudul Spartacus, garapan Aram Khachaturian, yang bercerita tentang pemberontakan budak yang dijadikan gladiator melawan kekaisaran Romawi, dipakai sebagai metafora melawan pemerintahan Rusia. Kemudian ada komposer Jerman, Kurt Weill yang membuat opera The Three Penny Opera, dengan sudut pandangan Marxis.

Underground Attack

Sebelum nama-nama populer seperti Rage Against The Machine [RATM], tahun 1968 sudah ada band bernama undergrund MC5 yang melakukan protes secara politis lewat lagu-lagunya. Lagu-lagunya seperti ‘The American Ruse’ dikenal cukup keras menentang Perang Vietnam dan pembunuhan Martin Luther Jr yang menghebohkan Amerika.

Akhir 70-an, band-band punk seperti The Clash, Sex Pistols, dan Dead Kennedys, lebih keras dan terang-terangan menulis lirik yang sering mengamuk terhadap pemerintah, tentang kapitalisme, rasisme, dan isu-isu sosial. Mereka adalah band punk yang memiliki pengaruh abadi sampai sekarang. Di era-era terbaru, muncul band-band seperti Green Day, Sleater-Kinney, Anti-Flag, dan Rise Against, punk tanpa kompromi dengan lirik sosial politik di lagu mereka [ingat lagu ‘American Idiot’-nya Green Day]. Kemudian ada U2 dan REM.

Pada tahun 1990, berdiri Rock the Vote, organisasi non-profit, yang didirikan di Los Angeles oleh Jeff Ayeroff, salah satu eksekutif industri rekaman di Amerika Serikat. Misinya adalah “membangun kesadaran politik dan keterlibatan orang muda untuk mencapai perubahan yang progresif.” Tahun 2012, anggota Rock the Vote telah terdaftar lebih dari lima juta anak muda. Sekarang pasti lebih.

Dari apa yang saya tulis secara singkat di atas, sebenarnya hanya ingin mengatakan, seniman juga punya kepekaan sosial dan politik. Ketika mereka melawan dengan lagu, biasanya justru punya kekuatan yang tidak pernah diduga. Sayangnya di Indonesia, banyak musisi yang kemudian jadi partisan. Ini yang kemudian membuat musisi terlihat tidak jujur dengan karyanya. Ibaratnya, yang kepleset politik, dan yang benar-benar bersuara tentang politik. Anda bisa bikin daftarnya sendiri.

Pemilu 2014 membuat saya akhirnya memilih dan memilah, musisi yang benar-benar peka dengan situasional, atau memilih jadi musisi partisan yang hasilnya malah mengecewakan. Agak subjektif mungkin, tapi kentara di permukaan. Ini bukan perkara siapa mendukung siapa, tapi seperti yang sudah saya katakan di atas, musisi itu jadi kelihatan tidak jujur dengan karyanya. Dan itu akan dicatat dalam sejarah, hitam putihnya. Sila Anda pantau…

Appamada: Evolusi Kesadaran Sang Bijak

Dalam ajaran Budha, appamada diartikan sebagai “semangat dalam perbuatan yang tepat, dan kesadaran penuh yang terus menerus.” Dalam konteks Budha, appamada bisa diartikan satu tempat besar yang menampung semua esensi ajaran Budha. Satu kekuatan –boleh juga disebut jantung ajaran—yang selalu memberi kekuatan positif pengikutnya untuk terus berkarya.

"kesadaran positif yang menghilangkan distorsi batin"

kesadaran positiflah yang menghilangkan distorsi dan luka batin”

SATU hal yang menarik dari ajaran tersebut adalah, bagaimana bersikap dan menempatkan diri tetap dengan ajaran yang positif, meski dalam kondisi yang memungkinkan untuk melakukan aksi negatif. Pilihan menjadi “wadah” menjadi mindfull yang menggerakkan kesadaran untuk tetap melakukan hal yang benar dan positif itulah, yang menurut saya luarbiasa dan perlu olah batin yang kuat.

Saya yakin ajaran agama lain juga tidak kalah dahsyat ketika bicara soal kesadaran batin dan bagaimana memunculkan energi yang positif dalam kehidupan. Tapi menemukan olah batin kemudian inheren dengan kata hati yang sejati, amatlah susah. Kalau pun toh kita merasakannya, kalau tidak sesuai dengan otak kita, niscaya kita akan membantah dan menolaknya. Contohnya sudah banyak terjadi di kehidupan kita sehari-hari.

Kita sering meng-atheis-kan orang lain, hanya karena “tampaknya” tak ber-Tuhan. Kita sering meng-kafir-kan orang, karena berbeda keyakinan dengan yang kita anut, kita sering “menjahatkan” orang lain, hanya karena kita pernah dikecewakan untuk hal-hal yang sepele. Kita sering menganggap orang lain yang “berbeda” –ini bisa bermacam-macam, suku, agama, ras—sebagai manusia “pendosa”.  Kita tak pernah punya semangat appamada, menampung satu ajaran dan wawasan yang membuat kita memancarkan energi positif dalam semua ruang dan bentuk.

Kesadaran positif yang terus menerus ditumbuhkan, harus dilakukan dengan rasa bakti. Hal itu  merupakan bentuk transformasi diri yang nantinya menumbuhkan cinta kasih sejati. Kesadara itulah itulah yang akan menghilangkan segala bentuk distorsi batin. Awasi segala bentuk pkiran dan kepentingan pribadi yang kurang baik agar tidak menodai kesadaran batin dan olah pikir itu.

Saya mencoba memahami maksud appamada dari Sang Budha, dan akhirnya menyadari bahwa setiap kita –apapun keyakinannya—sebenarnya bisa menemukan pencerahan spiritual, selama kita konsisten dengan kesadaran akan perbuatan yang tepat dan benar.  Ketika sudah melewati fase itu, kita sudah selangkah menjadi sang bijak. Bukan hal yang mustahil kok. 

Mencipta Lagu Religi: Dengar Lagunya, Jangan Lihat Kelakuannya?

Selalu, setiap mendekati bulan-bulan beraroma religi, entah Ramadan, Natal, atau perayaan-perayaan agama lainnya, tiba-tiba berjejal lagu rohani dimana-mana. Sebagai pengantar ibadah, musik berlirik religi memang cukup membantu. Paling tidak bisa membuat kita mengingat keberadaan pencipta dengan lebih intens. Tapi bagaimana dengan pelaku lagu religi tersebut?

"musik religi banyak yang dibuat hanya karena momentum, bukan keikhlasan."

“musik religi banyak yang dibuat hanya karena momentum, bukan keikhlasan.”

 LEGENDA  Rock n ‘roll, Jimi Hendrix, pernah menyatakan, “Musik adalah agama saya”. Namun, bila direnungkan lagi, bagaimana sejatinya musik benar-benar dapat inheren dengan religiositas? Musik memainkan peran yang sangat penting dalam budaya kita. Semua orang suka mendengarkan beberapa jenis musik, genre apa pun yang mereka nikmati. Musik dapat dianggap “agama” dengan mempelajari pesan yang ditulis oleh penciptanya, dan bagaimana efek yang mereka miliki di khalayak luas.

Beberapa  tahun silam, saya pernah melakukan satu riset dan investigasi kecil, tentang bagaimana korelasi lagu religius dengan kehidupan penyanyinya. Bukan untuk mencari-cari kesalahan dan kemudian menghakiminya, karena itu bukan domain dan haksaya untuk menghakimi. Saya hanya ingin memberi gambaran, dibalik maraknya lagu-lagu rohani, ternyata pelakunya masih banyak yang berjuang untuk menjadi rohani, secara karakter dan sikap.

Mengacu pada konser lagu religi yang banyak beredar. Dalam setiap peluncuran album tersebut, selalu dikatakan ini adalah musik “pengantar” ibadajh yang sesungguhnya. Jarang saya menemukan, ada yang mengatakan: bahwa musik religi yang dicipta adalah puncak religositas dari penciptanya. Puncak kedekatannya dengan khalik. Keberanian itu tak pernah dimunculkan, sehingga yang muncul adalah kesempatan dalam kesempatan.

Tingkat pencapaian puncak pemahaman agama adalah RELIGIOSITAS. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah: Sikap hati nurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Religiositas adalah setingkat lebih tinggi dari agama. “Religiositas dapat diperoleh tanpa melalui agama, ia diperoleh terutama dari pengalaman hidup. Tapi yang perlu dicatatat, religiositas tak pernah menafikan agama.”

Bahkan di industri musik pun, religiusitas punya takaran. Meski nyaris semuanya semu, tapi paradigma religius itulah yang selama ini dipermainkan.  Ada beberapa ciri religiusitas semu yang ditebarkan oleh musisi.

Pertama, lagu religi diciptakan hanya untuk mendapat status terhormat.  Mereka bisa saja berkilah, toh mereka hanya menyampaikan pesan saja dan tidak ingin menggurui. Tapi seberapa banyak yang punya cita-cita mulai seperti itu? Mereka –para musisi itu—tampak masih mengejar pujian, penghargaan dan sebutan-sebutan omong-kosong dalam masyarakat. Belum lagi kalau dikaitkan dengan industri. Perhitungan untung rugi jadi panglima.

Kedua, kebiasaan sok religius itu kemudian benar-benar menjadi hal buruk.  Pernah mendengar pameo, “Dengar apa yang saya katakan, tapi  jangan lihat apa yang saya lakukan.“  Percaya atau tidak, itulah yang terjadi pada sebagian besar musisi yang membuat album religi. Materinya bagus, menyentuh dan punya lirik yang membawa kita kembali mengingat keberadaan sang khalik. Tapi kelakuan pencipta [dan penyanyi], amat membingungkan “umatnya“.

Jangan-jangan, ketika band-band pop yang sedang ngetop itu bikin album religi, fansnya melihat karena sosok personil dari band itu. “Mungkin saja, lebih kepada manusia bukan message  yang ingin disampaikan,“ jelas seorang musisi yang selalu menolak membuat album religi.

Ketiga, ritual rilis album atau singel religi merupakan “kewajiban“ dengan segala pernak-pernik ucapan yang menggambarkan keimanan dan kedekatannya dengan pencipta. Segala ritual omong kosong itu memang perlu untuk menunjukkan cara untuk membenarkan diri menyangkut album atau single religi itu. Ketika masa edar lagu religi itu selesai, semua atribut itu akan buru-buru dilepas dan menjadi seperti semula.

Musisi, dalam relevansinya dengan perannya sebagai manusia adalah makhluk yang serba terbatas [relativismus uber alles]. Keserbaterbatasan manusia ini telah cukup mengantarkan manusia pada situasi dimana ia senantiasa membutuhkan [dan bergantung pada] Zat Yang Tak Terbatas alias Yang Maha Mutlak [Absolutismus uber alles]; Dialah Tuhan sebagai The Ultimate Reality  [Realitas Tertinggi].

Secara fitrah pula, manusia dianugerahi oleh Tuhan naluri untuk beragama atau religiositas, yang merupakan sesuatu yang sudah built-in dalam dirinya, bahkan sejak sebelum kelahirannya ke alam dunia. Naluri ini telah cukup mendorong manusia untuk melakukan pemujaan terhadap apa yang dianggapnya sebagai The Ultimate Reality  [Realitas Tertinggi] itu. Patokan musisi, ketika menciopta lagu religi harusnya berkutat disini. Selain unsur dakwah dari agama yang dibuat lagu. Tapi juga bukan dakwah yang serta merta mengajak orang untuk seturut dengan keyakinannya. Itu namanya pemaksaan.

Saya terrmasuk yang meyakini, manusia bisa tersentuh nuraninya, bahkan dengan hal-hal yang selama ini dianggap sepele dan tak berguna. Tapi kalau lagu religi tidak linier dengan kehidupan yang lebih baik dari penyanyi dan penciptanya, rasanya ada yang mengganjal. Semua bukan dalam konteks: dengar saja lagunya, jangan liat kelakuannya.

Bhinneka [Jangan] Tunggang Langgang

…kalau lakuku tak bisa berdurjana, biarlah aku mendewa
…kalau talinganku tak bisa mendengar, biarlah aku bermeditasi sunyi
Agar keikhlasanku luput dari amarah,
Agar kepayahanku luntur oleh semangat
Agar Bhinneka tak bersitegang, dan [malah] lari tunggang langgang…
Agar Bhinnekaku juga adalah Bhinnnekamu….

"Bhinneka Tunggal Ika jangan roboh!"

“Bhinneka Tunggal Ika jangan roboh!”

BANYAK yang bilang, pemilu 2014 ini punya dua sisi menarik. Pertama, inilah pemilu paling hiruk pikuk dan sibuk, off air dan on air-nya. Kedua, inilah pemilu yang paling penuh dengan implementasi teori-teori zaman kuliah. Maksud pertama adalah: pemilu kali ini menjadi sangat menarik, karena melibatkan semua lini untuk ‘mengibarkan’ bendera jagoannya masing-masing. Social Media [socmed] menjadi salah satu sisi yang kuat, tak terlawan dan paling “jujur”. Mengapa saya beri tanda petik, karena semua komentar yang muncul, memuat saya belajar satu hal: karakter.

Kedua, jelas pemilu ini menjadi pembelajaran yang amat mahal untuk siapapun yang kritis. Tak mau membeli “kucing dalam sarung”, semua orang berusaha mencari tahu siapa sebenarnya sosok capres dan cawapres, dari semua sudut. Pendidikannya apa, keluarganya bagaimana, silsilahnya jelas atau tidak, agamanya taat atau tidak, punya rekam jejak “hitam” atau tidak, dan berapa hutang dan kekayaan masing-masing mereka. Dan hebatnya, semua bisa terdeteksi dengan bloko suto, blak-blakan, terang-terangan, meski masih bisa ditelisik lagi, itu ciptaan atau benar-benar sepeti itu.

sombong, atau meremehkan orang lain, sejatinya kita sedang menumpuk ‘adrenalin negatif'

sombong, atau meremehkan orang lain, sejatinya kita sedang menumpuk ‘adrenalin negatif’

Diluar itu, inilah implementasi semua teori yang pernah kita pelajar di bangku kuliah. Kita jelas melihat taktik militer tentang agitasi, propaganda, dan publisitas. Kita belajar bagaimana teori Imanuel Kant tentang manusia yang terbatas dan moralitas. Kita belajar, bagaimana identifikasi perlawanan kaum marjinal dengan elit borjuis. Kita juga belajar, bagaimana brand activation bekerja, bagaimana marketing politik “menjual” jagoannya. Semua terbentang jelas pada pemilu 2014 ini. Dan kita yang tahu, hanya tersenyum, yang tidak tahu, mendapat pembelajaran baru yang amat mahal.

Tapi yang termahal dari semua “hiruk-pikuk” itu adalah, kita “ditantang” mengingat kembali ke-bhinneka-an kita. Kita seperti “ditampar” dan “tersadar” bahwa masih ada pluralitas yang harus kita jaga. Dan itu melibatkan kita-kita yang berbeda pandangan politik, yang saat ini sedang “panas-panasnya” itu.  Saya juga kemudian mencoba menelisik pandangan tokoh bangsa ketika rame-rame pemilu ini berada di titik nadir kemanusiaan.

Tiba-tiba saya teringat teori negara integralistik oleh Mr. Soepomo. Pelajaran sejarah yang saya dapat waktu SMA dulu. Dalam salah satu pidatonya, Mr. Soepomo mengatakan:

“………,bahwa jika kita hendak mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasar atas aliran pikiran (staatsidee) negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongannya dalam lapangan apa pun.”

Menurut teori integralistik, negara adalah susunan masyarakat yang integral semua anggota masyarakat merupakan bagian dari persatuan organis. Negara tidak memihak kepada golongan yang paling kuat, tidak mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan menjamin keselamatan hidup seluruh bangsa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Teori ini didukung oleh Ir Soekarno ketika itu.

"Masihkah kita mengingat semboyan negara kita?"

Masihkah kita mengingat semboyan negara kita?”

Aplikasi dan ilmu baru yang saya pelajari adalah: menjadi bagian besar dari banyak golongan, tapi bisa menerima golongan lain dengan bijak, apik dan sehat, amatlah susah. Apakah dasar dari kemanusiaan adalah menghisap manusia lain atas nama kekuasaan? Apakah dasar dari kehidupan Bhinneka yang saya pahami adalah penghisapan manusia atas manusia lain? Rasanya tidak. Bhinneka memang tunggang langgang berlari ketika homogenitas mulai menghajarnya. Tapi Bhinneka yang saya pahami, selalu kembali dengan kemenangan. Paling tidak sampai saat ini.

Saya selalu berharap, Bhinneka tak pernah lelah bersejajar dengan ‘Tunggal Ika—nya. Kalau dia lelah dan menyerah, tamatlah keberagaman yang selalu diusungnya. Anda dan sayakah pengawalnya?”

Menutup “Ruang Kekuatiran” & Memperluas “Ruang Keberagaman”

 Satu pertanyaan ‘tendensius’, muncul dalam SMS yang saya terima beberapa waktu lalu. Seorang sahabat bertanya: “Apakah kamu anti agama?”. Jujur, saya agak terkejut dengan pertanyaan ‘meresahkan’ itu. Dan jawaban saya singkat: “Saya anti agama yang membabibuta, apapun agamanya!” 

"saatnya membuka ruang keberagaman seluas-luasnya"

“saatnya membuka ruang keberagaman seluas-luasnya”

ENTAH darimana sahabat saya itu “menuduh” saya anti agama. Apakah dari semua tulisan dan komentar-komentar saya di social media yang terkesan mengritisi agama? Atau dari obrolan-obrolan yang kerap saya lakukan dengannya, meski sekadar ber-SMS atau ber-Whatzap singkat. Dan pertanyaan itu membuat saya membuka semua tulisan yang pernah saya tulis dengan rema “agama”.  Apa kesimpulannya?

Dalam salah satu tulisan, saya pernah mengutip pendapat seorang filsuf Rusia, Mikael Bakunin, yang mengatakan: “Kesalahan terbesar umat manusia adalah lahirnya Agama!”. Patron itulah yang kemudian jadi tagline seseorang, siapapun dia yang menghakimi saya sebagai seorang anti agama. Ini berbeda dengan tudingan lain yang menyebut saya anti Tuhan atau atheis.

Saya harus katakan, saya tidak anti agama dan saya tidak anti Tuhan. Kekritisan saya adalah bagian dari sudut pandang manusia yang melihat agama –apapun agamanya—jadi pembenaran atas perilakunya yang tidak memanusiakan manusia lain. Saya tidak peduli agama apa, tapi ketika penganutnya melakukan “kriminalisasi ayat” untuk membenarkan apa yang dia lakukan kepada orang lain, saya akan kritis.

Saya juga terganggu dengan fanatisme. Buat saya, fanatisme selalu menutup ruang dialog dan ruang diskusi. Kata “pokoknya!” adalah penutup sebuah harapan berdialog dengan baik dan benar. Padahal bukan untuk memengaruhi keyakinan, pilihan dan kepercayaan, tapi bisa jadi malah membuat kita makin mencintai pilihan kita. Tapi ya sudahlah, karena ruang itu ternyata lebih menjadi “ruang kekuatiran” ketimbang “ruang keberagaman”.

"tutup ruang kuatirmu, dan buka ruang persaudaraanmu lebih lebar"

“tutup ruang kuatirmu, dan buka ruang persaudaraanmu lebih lebar”

Beberapa kawan menyebut saya sebagai “orang kiri”. Sebenarnya sedih juga “hanya” dianggap sebagai pemikir kiri, karena jualan kiri biasanya selalu diasosiasikan dengan bicara soal marjinalitas seperti buruh, tani, mahasiswa, dan miskin kota. Saya punya pikiran lebih besar ketimbang mengajak orang untuk sekadar berdebat soal pemanusiaan kaum marjinal itu. Tapi jelas saya “terganggu kanan” karena selalu membenturkan pemikiran saya dengan urusan “keagamaan”.  Tidak salah selama punya ruang terbuka untuk bicara. Kalau sudah ‘pokoknya begitu’, saya pasti akan menutup celah kosong diskusi itu.

Saya adalah orang yang selalu bertanya. Bukankah ‘otak dasar’ manusia adalah makhluk penanya? Kalau pun saya terlihat lebih sering bertanya ketimbang yang tidak pernah bertanya, itu soal pilihan dan kemampuan saja. Bukan berarti yang tidak pernah bertanya itu kemudian melempen dan jadi tidak tahu apa-apa, mungkin mereka bertanya dalam diam dan menelisik dengan diamnya juga. Banyak kawan saya yang begitu, dan punya sikap meski muncul pada saat-saat tertentu saja. Salah? Ya nggaklah, karena –sekali lagi saya sebut—itu pilihan. Kebetulan saya termasuk orang yang secara masiv mau repot bertanya langsung.

Otak saya saya berjejal dengan pluralisme. Saya orang yang tidak menyukai homogenitas. Terkesan tidak ada pembanding dan seragam. Saya manusia yang menghargai pluralitas. Bahkan yang berbeda, dan fanatik dengan apapun pilihannya, buat saya adalah bagian dari pluralitas, selama tidak menjadi “kegaduhan” untuk orang-orang di sekelilingnya. Perbedaan biarlah tetap menjadi perbedaan, tapi perbedaan bukan jadi kunci untuk “merobohkan” kemanusiaan.

Jelas, saya bukan pemilik kebenaran sejati karena itu hanya milik sang Pencipta manusia, siapapun Dia, dan apapun bentuknya Dia. Saya hanya mencoba menjadi manusia yang mencoba berdialog dengan manusia lain. Apapun topiknya. Saya orang yang berkeyakinan, dan meletakkan agama pada toples yang tepat.

Saya hanya manusia yang mencintai kemanusiaan. Bukankah itu esensi manusia dilahirkan?

Ramadan Tahun ini, Mungkin Ramadan Terakhir Kita

SELAMAT DATANG RAMADAN. Ucapan itu tergelar selama sebulan ini. Bulan yang selalu dianggap penuh berkah dan ampunan. Bagi sahabat muslim yang merayakannya, ramadan dianggap pengejawantahan ritual bersih diri, hati, ucapan dan pikiran. Tapi secara general, bagaimana kita, saya dan Anda memaknai ramadan?

"berpuasa jangan seperrti diperiksa, ikut kata hatimu"

“berpuasa jangan seperti dipaksa, ikut kata hatimu”

 JUJUR saja, tidak selalu kehidupan yang kita jalani selalu lurus dan baik-baik saja. Ada banyak rintangan yang kerap menghadang. Kita terkadang menjadi manusia yang mementahkan pencerahan, mematikan kemanusiaan dan menafikan persaudaraan. Padahal kita kerap diingatkan dalam banyak cara, bahwa kita adalah sepercik debu dari milyaran debu lain yang bertebaran di dunia. Dan setiap memasuki ramadan, ada semacam getaran yang mengingatkan: kita [harusnya] adalah manfaat.

Saya mencoba merefleksikan, bahwa ketika kita diingatkan pada hakekat kemanusiaan, siapapun kita, apapun keyakinan kita, dan apapun pilihan hidup kita, kita menjadi kosong. Pernah merasakan sebuah kekosongan? Apa saja. Kekosongan pikiran, kekosongan hati, kekosongan tujuan hidup atau kekosongan untuk mengerti sebuah ruang yang tercerabut.  Semuanya membuat kita menjadi tiba-tiba “mati” dan tidak menemukan apa-apa lagi. Kosong.

Kekosongan itu membuat kita seperti papan tulis bersih tanpa coretan dan penulisnya bingung ingin menulis apa di papan tulis yang masih mulus itu. Ketika kemudian mulai mencoret, karena sedang “kosong” kita tak pernah mengerti apa yang kita tulis. Kesadaran akan kosong ini membuat kita kembali ke khittah dan fitrah sejati, manusia yang sejatinya memerlukan manusia lain.

"berdoa dan berpuasa, akan mendaangkan berka yang dahsyat"

“berdoa dan berpuasa, akan mendatangkan berkat yang dahsyat”

Seorang filsuf bernama Rene Descartes pernah mengatakan Corgito Ergosum, yang dalam ranah filsafat diartikan dengan ‘saya berpikir, maka saya ada’. Lalu apakah ketika kita sedang kosong dan tidak berpikir [atau memikirkan sesuatu], itu artinya kita tidak ada? Tidak ada secara fisik jelas tidak, tapi kesulitan menemukan hati, menemukan soul, menemukan cinta dan menemukan kehidupan itu sendirilah, yang membuat kita tidak ada. Kita menjadi kosong.

Mari menjadi kosong, dan mulai mengisi dengan puja puji pada pencipta, melantunkan rema-rema indah yang melegakan, menyenangkan dan membahagiakan siapa saja. Ramadan memberi makna kekosongan dan kemudian diisi hal baru yang membuat kita, saya dan Anda, selalu memberikan kebaikan tanpa batas. Tanpa embel-embel itu itu, just do it.

Mari menghormati yang tidak berpuasa, dan menebar senyum kepada yang berpuasa. Disitulah makna kebaikan dan ampunan berpendar.

Indonesian Idol, Blunder Terseret Politik Praktis?

DALAM penglihatan saya selama ikut tahapan pemilu beberapa kali, baru pemilu 2014 ini yang benar-benar kisruh. Bukan chaos secara pergerakan massa pendukung, tapi benar-benar yang namanya agitasi propaganda demikian masiv diluncurkan, masing-masing tim suksesnya. Secara kasat mata, permainan psywar, agitasi kepada pendukung lawan, dan propaganda hitam putih, digeber di semua lini. Apalagi kini, divisi social media digarap dengan gila-gilaan. 

"ajang pencarian bakat ini, terseret dalam kumparan politik pragmatis?

ajang pencarian bakat ini, terseret dalam kumparan politik pragmatis?

PERSAINGAN [kalau tidak disebut ‘pertempuran’] juga kental di media massa, baik televisi, cetak, online, hingga media-media lain yang tidak terdeteksi. Bahkan rumornya, kalau salah satu calon tidak terpilih, bakal ada chaos. Meski dari hati yang paling dalam, saya tidak memercaya itu. Karena saya meyakini, siapapun kandidatnya, mereka pasti –betul, pasti!—tidak ingin bangsa yang dicintainya, meleleh hanya karena perbedaan pilihan.

Sudah banyak yang ngebahas soal itu. Saya mencoba mengamati beberapa hal yang mungkin luput dari perhatian. Belakangan, ketika kasus Ahmad Dhani yang mengenakan seragam nazi dan mengambil part lagu ‘We Will Rock You’ dari Queen untuk theme song kampanye muncul di media, saya mencoba mencerna apa yang menarik dari lagu tersebut dan mengapa jadi perhatian. Sebagai musisi yang –konon—kerap mencipta lagu dengan mengambil beberapa part-part lagu yang sudah ngetop dan digabung-gabung jadi lagu yang enak, Dhani memang “sukses” membuat orang memperhatikannya.

Dan ketika jadi topik meluas, persetan dengan protes Brian May dari Queen, persetan hujatan dari pendukung calon yang tidak didukungnya, dan persetan dengan orang-orang yang menyebutnya tidak punya empati dengan kekejaman nazi.  Esensi itu saja. Dan Anda yang rada “sebah” dengan perilaku pentolan Dewa 19 itu, sebenarnya hanya memberikan energi kepada Dhani dengan berkomentar, bahkan mencaci.

Kemudian ada hal lain yang membetot perhatian saya, ketika dalam klipnya ada Nowela, kampiun Indonesian Idol 2014, Virzha sang juara III dan Hussein, si runner up. Mereka jadi bagian dari kliup yang menghebohkan itu. Pertanyaan saya, sejak kapan Indonesian Idol jadi bagian dari sebuah pertarungan politik? Belum ada yang mempertanyakan hal itu. Apakah ada catatan khusus, bahwa juara atau peserta Indonesian Idol “harus” secara politis, terhubung dengan pilihan politis manajemennya? Kalau terlibat dengan Dhani, apakah ada catatan harus terkoneksi dengan pilihan politik  jurinya?

"baru mentas jadi penghibur, sudah diseret ke politik praktis."

baru mentas jadi penghibur, sudah diseret ke politik praktis.”

Saya mahfum, kalau pemilik televisi [RCTI] sudah anggota partai dan berpolitik.  Dan saya juga mahfum ada ‘anjuran’ untuk memilih sama dengan pilihan penggede televisi tersebut. Kalau sebatas anjuran dan tidak ada sanksi apapun, tentu tidak akan jadi masalah. Persoalannya, “anjuran” itu buntutnya, disertai dengan sedikit tekanan. Kasus produser berita di televisi yang sama, rasanya bisa jadi contoh. Tapi untuk ajang hiburan sekelas Indonesian Idol, masuk dalam kumparan politik pragmatis, adalah sebuah blunder.

Sebagai jurnalis, saya menyayangkan hal itu. Kalau kemudian berkilah bahwa itu adalah pilihan pribadi, rasanya kok jadi lucu. Karena ketika menjadi kampiun, otomatis apapun hal yang mereka lakukan, harus sepengetahuan dan persetujuan manajemen. Tapi siapa bisa menolak ‘anjuran’ itu bukan?

Kalau kemudian menjadi lahan basah untuk sedikit digelindingkan ke ranah politik, karena ratingnya tinggi, saran “bodoh” saya adalah, jangan bikin ajang Indonesian Idol sebagai kontes nyanyi, tapi bikin saja ‘Capres Idol’.  Mau blunder, mau kelihatan tolol, mau kelihatan pinter, atau mau ditekan-tekan oleh petinggi, sah-sah saja, karena memang acaranya politis. Tapi Indonesian Idol? So stupid…kasihan Nowela, Hussein dan Virzha….