Falsafah ‘URIP-URUP’ Untuk Musisi Indonesia

DALAM banyak filosofi, apapun kepercayaan dan keyakinannya, hidup itu harus [kudu dan wajib] menjadi terang. Kalau hidup berkutat dengan kepusingan akan dunia di luar sana, yang ada bukan menjadi terang, tapi justru “pemadam ke-terang-an” itu. Dalam dialektika kebijaksanaan Jawa, ada istilah Urip Urup. Apa itu? Urip itu artinya hidup, dan Urup itu  artinya menyala atau kita maknai terang. 

Dalam konteks industri musik Indonesia, musisi harus menjadi Urup bagi banyak pemuja dan sekelilingnya. Tapi kondisi itu tampaknya tak terlalu banyak mengubah apapun, lantaran terlalu berat memikirkan Urip.  Demi Urip yang harus tampak secara material, immaterial-nya malah terabaikan. 

Demi seonggok popularitas, musisi yang baru ngetop, sedang ngetop dan berharap ngetop, membeli “tangga naik” yang dapat dijadikan pijakan ke atas berupa kehidupan bermerek dengan harga yang mahal.  Glamor membuat mereka –musisi keblinger itu— kehilangan Urip. Seolah dengan asesoris berkelas itu, lalu merasa sudah menjadi bagian dari strata atas.

Musisi yang terjebak ke wilayah ini tidak sadar bahwa dengan menggunakan barang-barang mahal seakan dirinya menjadi ikut naik kualitas pribadi dan hidupnya. Padahal yang berharga itu asesorisnya, bukan diri pribadinya. Musisi semacam ini mesti diingatkan dan dikasihani. Mereka terkena krisis kepercayaan diri dan kepribadian.

Tak hanya gaya hidup yang kasat mata, yang tak tampak pun mereka ubah, supaya lebih bisa diterima. Kalau menambah kemampuan muskalitas dan kepintaran diri sih, wajar-wajar saja, tapi kalau hanya memuaskan ‘ego’ itu namanya pembodohan diri sendiri. Kalau tidak berada di area yang dipandang orang dengan semua atribut ‘kehebatan’ dan ‘kesuksesannya’ itu, seolah menjadi penderita kusta yang harus diisolasi dari dunia luar.

Lalu sengkarut musisi yang hedonis itu, sepertinya justru menunjukkan ‘ketakutan’ untuk menjadi pribadi yang apa adanya. Perbaikan kualitas diri itu, bukan pada yang kasat mata semata, tapi pada Urup­-nya diri.  Mungkin akan menjadi aneh, diabaikan, disingkirkan atau dikucilkan. Takut? Bukankah, Urup itu tidak harus nyaman?  Persoalan-persoalan dalam kehidupan, bukan penghambat, tapi justru menjadi keutamaan untuk menjadi Urup tadi.

Saya ingin menyitir ungkapan politisi Korea Utara, Kim Yong Nam, “Kami bakal ubah kesedihan menjadi seribu kali lipat kekuatan dan keberanian, sehingga bisa mengatasi kesulitan.” Dan itulah kunci Urip [yang] Urup.

 

Filosofi Teklek — Tertarik Menjadi Manusia?

Tertarik jadi manusia? Sebuah pertanyaan paradoksal ketika itu ditanyakan kepada manusia lain. Bukankah kita sudah jadi manusia sejak lahir? Betul, saya, Anda dan kita –yang bisa membaca tulisan ini—adalah manusia. Tapi seperti apa?

SEBELUM benar-benar merasa jadi manusia, coba kita pelajari dengan cara sederhana tentang ajaran Tao. Lao Tze –nabi Tao itu—mengajarkan tentang: merangkul balok kayu yang tak dipahat. Balok kayu yang tak dipahat adalah lambang keluguan, sifat asli apa adanya, tanpa dibuat-buat atau direkayasa, sesuatu yang sederhana dan alami. Seseorang harus kembali pada sifatnya yang asli, begitu kira-kira yang ingin disampaikan Lao Tze. Kesederhanaan tanpa banyak aksesoris! Simplicity.

Bukankah simplicity itu yang sudah sering dilupakan orang dalam budaya pop sekarang ini? Sekarang ini orang lebih banyak mengejar akseoris daripada hal-hal yang basic atau mendasar. “Carilah yang basic, dan tinggalkan aksesoris. Orang bijak mencari makan, dan bukan kepuasan rasa,” begitu yang dikatakan Lao Tse.

Sebaliknya makin kasar rasa seseorang, makin rendah tingkat spiritual-nya, makin kaku sikapnya, dan makin sulit menerima pandangan yang berbeda, tidak bisa hidup tenteram dengan kelompok lain, mau menang sendiri. dan ugal-ugalan.

Analogi Tao ini konkruen dengan filosofi yang pernah saya tawarkan, “filosofi teklek”.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] artinya adalah lapik [alas] kaki yang dibuat dari kayu bertelinga,  tempat memasukkan seluruh jari kaki biasanya terbuat dari karet. Disebut juga dengan terompah kayu, kelom atau bakiak

Teklek itu tempatnya dibawah. Mari kita mengartikannya dengan para bawahan dan orang yang dibawahkan, biasanya justru menjadi pondasi dari satu bangunan yang disebut kemanusiaan. Jika tidak disiapkan dengan kokoh, bangunan itu bisa roboh. Filosofinya sederhana saja, jangan pernah meremehkan siapapun yang seolah dan kita anggap berada di bawah kita.

Bagaimana menjadi manusia? Jujur saja, masih banyak yang belum menjadi “manusia” karena semua mengejar aksesoris daripada hal-hal yang basic.  Berebut menjulang ke atas dengan menginjak yang dibawah. Melihat manusia lain selalu lebih buruk dibanding diri kita sendiri. Bukankah, pemilik jagat ini menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar? Simplicity.  Selamat menjadi manusia.  

 

Promotor Undercover: Mari “Merusak” Harga

Saya dan ribuan [mungkin jutaan malah] termasuk orang yang senang menonton konser musik.  Apalagi musisi yang tampil adalah idola dan hapal banyak lagunya. Bisa sepanjang konser ikut koar-koar berteriak menyanyikan lagu yang kita bisa. Dan saya termasuk beruntung, ketika Indonesia menjadi destinasi banyak musisi hebat kelas dunia, sebagai tempat menggelar konser atau sekadar promo album. Bayangkan, musisi yang selama ini berseliweran di televisi dengan semua pernak-pernik sukses dan gosipnya, tiba-tiba hadir di depan mata kita.

Beruntungnya saya, karena saya punya akses sebagai media [musik].  Memudahkan saya untuk nonton konser, tanpa harus pusing memikirkan bujet tiket. Bagaimana tidak pusing, kalau harga tiket konser di Indonesia sudah menembus angka jutaan rupiah. Mengandalkan gaji wartawan, tentu harus pandai-pandai memilih konser mana yang wajib tonton.

Tapi hal itu tidak saya rasakan sebelum saya masuk ke ranah industri media musik.  Dan saya bisa merasakan juga, bagaimana rasanya berjuang mendapatkan tiket, sampai harus antri berpanjang-panjang. Diluar itu semua, saya dan mungkin Anda, pasti terbelalak melihat angka-angka harga tiket yang terpampang. Tiket termahal yang pernah saya lihat adalah 27.5 juta rupiah. Percaya atau tidak, justru harga termahal itulah yang paling cepat ludes. Paling tidak, demikian pengakuan promotornya.  Salahkah kalau saya bilang, penonton konser di Indonesia benar-benar kaya raya?

Industri hiburan di Indonesia memang paling menggairahkan. Tidak peduli ada krisis ekonomi, politik atau sosial, antusiasme menonton konser music tetap saja tinggi.  Yang paling menggiurkan tentu saja perputaran bisnisnya. Tak heran, kalau selama ini hanya mengenal beberapa nama besar di bisnis promotor, kini seabrek nama-nama baru bermunculan, dengan kekuatan modal yang tidak bisa diremehkan.  Memang bukan pekerjaan mudah mengurus konser, banyak hal yang kudu dipelajari dan dimengerti. Tapi bukan berarti “bocah-bocah kaya” tak punya nyali menjadi promotor.

Satu sisi bagus, karena akan banyak pilihan artis-artis yang didatangkan. Bahkan artis yang sedang ngetop-ngetopnya pun bisa dengan cepat menggelar konser di Jakarta atau Indonesia. Semisal Katty Perry atau Justin Bieber atau mungkin Lady Gaga.  Tinggal tunggu waktu saja, kapan musisi-musisi kelas dunia berdatangan. Apalagi kalau artis A sukses kemudian berpromosi kepada kawannya di undang untuk konser di Jakarta. Mereka akan saling memberi informasi. Dan itu adalah promosi gratis yang paling mahal. Kepercayaan.

Tapi persoalan tak cuma itu. Kasak-kusuk di dunia promotor mengatakan, sudah banyak pemain baru yang merusak harga.  Apa artinya?

Seorang lingkaran dalam promotor kondang mengatakan, memilih wait n see untuk menggelar konser lagi. Pasalnya ada beberapa pemain baru dengan kekuatan modal yang [tampaknya] tak terbatas itu, merusak aturan main yang tidak fair. Lazim kita dengar, promotor A melakukan pendekatan kepada artis. Ditengah-tengah, tiba “diserobot” promotor lain yang berani menawar dengan harga lebih tinggi. “Bayangkan, ada promotor yang berani mendatangkan Lady Gaga dengan kisaran harga 20 milyar,” celetuk Sentilun –sebut saja begitu, melempar isu.

Mengapa merusak? Kisaran harga artis-artis itu di negaranya sana, tidak ada yang menembus angka gila-gilaan, kecuali untuk nama-nama tertentu yang benar-benar sudah besar. Alhasil, ketika tahu ada promotor di Indonesia “royal membayar” mereka akan pasang tarif tinggi. Akibatnya? Biaya produksi membengkak dan yang jadi korban adalah penonton, terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Masih mending kalau penonton sesuai harapan, kalau tidak? Promotor juga yang rugi. Memang kalau untung, dapatnya juga tidak sedikit.

Menurut beberapa nama yang sempat ngobrol “omong-kosong” sebenarnya ada kesepakatan tidak resmi mengenai kisaran harga untuk mendatangkan artis. Kemudian beberapa promotor juga menolak kalau disebut bersaing. “Mereka sebenarnya sudah tahu pangsa masing-masing,  jadi tidak akan merusak ceruk dengan saling bermain-main tidak fair,” tambah Sentilun.

Sayangnya, belum ada asosiasi resmi promotor di Indonesia  yang punya aturan jelas tentang hal itu. Jadi kalau sekarang masih “saling silang” dalam mendatangkan artis, tergantung “keberadaban” dan “nurani” untuk saling berkompromi saja.  Sayangnya, hal terkhir ini pun sudah semakin hilang.  Keuntungan adalah “Tuhan”.   Siapa senang, siapa telentang? Ah, saya terbangun dari mimpi………

“Nyambung” — Sepakat itu Jangan Dipaksain!

INI DIALOG dua manusia, perempuan dan laki-laki. Si perempuan, menyebut laki-laki di hadapannya adalah sosok yang cerdas, karena dianggapnya punya wawasan keilmuan, tentang banyak hal, diluar hal-hal yang ditekuninya. Sementara, si laki-laki menganggap perempuan di depannya, adalah orang yang pintar, karena punya sudut pandang investigatif ketika menyorot satu persoalan. Dan itu menarik. Alhasil, ketika mereka bicara –tentang banyak hal—terjadi interaksi yang menyenangkan dan nyambung.

NYAMBUNG. Kata ini sederhana sekali. Dalam konteks relasi antara manusia, tiba-tiba menjadi satu rangkaian penting. Ibarat baut dalam sebuah konstruksi besar, jika hilang, maka bangunan di atasnya bisa rubuh.

Bisa menjadi nyambung itu sebenarnya lebih kepada budaya “mau” dari manusia yang dianggap tidak nyambung. Mau belajar, mau menempa diri, mau bertanya dan mau merendahkan ego-nya. Tidak harus menjadi “superior” dan kemudian mengetahui segalanya, karena rentan memunculkan kesombongan.

Menjadi manusia yang nyambung pun tidak mudah. Perlu chemistry dari sosok diluar diri kita. Takarannya memang harus naik, atau malah turun. Kalau naik terlalu tinggi, kita juga repot karena akhirnya tidak menjadi diri sendiri. Terlalu rendah, kita yang jungkir balik menurunkan chemistry. Dialog di awal bisa membuat kita tahu, nyambung atau tidak.

Balik lagi pada kenyamanan berinteraksi. Menjadi manusia baik, memang tak perlu sambung menyambung, tapi untuk memperbaiki kualitas kebaikan diri, nyambung jadi penting untuk menghargai ide, pendapat atau gagasan dari luar diri kita. Kalau kemudian kita bisa mengimplementasikan kesepahaman ide tadi, akan ada interaksi lebih baik yang terjadi. Dan itu bisa terjadi karena urusan nyambung tadi.

Dinamika yang terjadi dalam realitanya memang tidak selalu sesuai dengan harapan. Pengaruhnya bisa bermacam-macam. Untuk mencapai koneksi yang diinginkan, kita –saya dan Anda—perlu merefleksikan kemampuan personal dengan lebih tepat. Alangkah menggelikannya, ketika kita dianggap punya talenta dan kapabilitas tentang satu hal, tapi ternyata malah “nggak nyambung” ketika diajak ngobrol dengan hal yang sejatinya amat kita kuasai.  Paradoksal akut.

Perceraian, pertengkaran, putus hubungan, atau perpecahan, adalah warna-warni yang lahir dari “ketidaknyambungan” itu. Jangan sampai jadi manusia nggak nyambung tapi tidak usah memaksa jadi “nyambung-nyambungin” karena bakal terlihat tolol malahan. 

 

Habis [Konser] Manis, Media Dibuang: Lika-Liku ‘Promotor Penyepah’

PERUMPAMAAN ini rasanya tepat menggambarkan nasib wartawan yang kerap diombang-ambingkan oleh perilaku promotor [musik]. Diperlakukan manis tatkala sedang membutuhkan eksposure untuk artis yang didatangkan. Catatan saya ini merujuk pada wartawan yang sesungguhnya memang meliput acara hiburan, bukan bodreks [buat saya, mereka bukan wartawan] yang kerap ‘merengek’ minta tiket dan kemudian menjualnya kepada calo.

Di Jakarta, ada beberapa promotor yang amat piawai ‘mengombang-ambingkan’ perasaan wartawan saat ingin meliput konser. Tidak usahlah saya sebut namanya, karena promotor itu sudah menjadi “legenda penyepah” bagi banyak wartawan. Sayangnya, meski diperlakukan diskriminatif, wartawan masih “menjura” untuk mendapat akreditasi media, meski harus menurunkan tensi dan harga diri. Ini otokritik untuk yang gembar-gembor melawan, tapi tetap menempel. Ada media yang begitu? Ya tidak sedikit!

Dalam teori komunikasi, sebenarnya bisa berjalan baik kalau ada sinergi komunikator dan komunikan, kemudian ada pesan yang disampaikan [tanpa mengalami erosi fakta]. Sayangnya, teori ini sering dimentahkan oleh perilaku-perilaku promotor yang memilih menjadi diskriminatif. Unsur proximity [kedekatan] yang seharusnya bisa dijalin dengan baik, menjadi berantakan hanya karena pilihan-pilihan yang menyebalkan.

Dalam kacamata saya, hal tersebut saya dengan “kamar gelap”. Sebuah relasi yang Gelap dan tak berlampu. Tak ada jendela tempat cahaya kecil mengintip. Saya membayangkan, seandainya kehidupan ini selalu berada di ruang gelap seperti yang itu, akankah kita merasakan yang namanya ketenaran, kemeriahan puja-puji, sengkrang-sengkring popularitas. Kita berasa dalam kapasitas disolasi [kegelapan] yang tak berujung.

Profesionalitas itu dibangun lewat banalitas yang positif. Promotor itu bukan “tuhan” meski dengan alasan menjaga “stabilitas” acara, dia bisa melakukan apapun. Sementara wartawan juga bukan malaikat terang yang selalu berbuat baik dan menyenangkan. Kolaborasi “tuhan” dan “malaikat” itu harusnya bisa saling melengkapi. Bukan saling menyepah. Percayalah, kalau salah satu sudah “menyakiti”, niscaya relasinya bakal terganggu. Dan itu sudah sering terbukti.