Puntung Rokok [itu] Tolol

Ini cerita sederhana tapi mengganggu, soal puntung rokok. Dulu, sebelum ada rokok filter, rokok kretek adalah “idola” bagi pemulung puntung. Tembakau tersisa diambil dan kemudianbisa dijual kembali. Sayang, filter mengubah peruntungan, karena “gabus”-nya, tak laku dijual. Alhasil. Pemulung puntung, kini kehilangan lahan pencaharian. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

"larangannya sudah jelas bukan? kalau masih melanggar, berarti ada yang salah dengan otak anda!"

“larangannya sudah jelas bukan? kalau masih melanggar, berarti ada yang salah dengan otak anda!”

SAYA pribadi, memang anti rokok. Jujur, saya tak pernah mencoba untuk merokok dalam segala bentuknya. Bukan berhenti, karena terkena penyakit tertentu. Bukan berhenti karena “bertobat” atau bukan berhenti karena “nazar”. Tapi saya memang tak pernah menyentuh rokok. Saya tidak tahan asap, saya juga tidak tahan baju dan rambut saja tercium aroma rokok, tatkala keluar dari ruangan yang isinya perokok. Saya sangat paham bahayanya perokok pasif, apalagi yang aktif. Tapi jangan salah, saya tidak anti perokok. Tapi silakan merokok, paling dekat 1 kilometer dari tempat saya berpijak.

Ngomong-ngomong soal puntung rokok, pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri, bagaimana memperlakukan puntung rokok, menghormati penikmat asap, dan bagaimana puntung memampatkan lubang WC atau seloka. Lah, kok nylimur?

Ini persoalannya. Ketika “mengunjungi” toilet-toilet wangi di mall atau hotel, saya selalu terganggu dengan puntung rokok yang ada di kloset. Memang, toilet adalah “tempat paling nyaman” dan “aman” setelah semua tempat publik, dikenai larangan merokok. Sembari nongkrong nggak jelas, BBMan, klepas-klepus asap rokok mengebul. Bodo amat dengan ‘penongkrong’ berikutnya yang mungkin tidak merokok. Abu dibiarkan bertebaran, aroma “busuk” rokoknya masih berseliweran dan pluuung……puntung lempar ke kloset.

Saya haqul haqul yakin, si perokok itu bukan buta huruf, pernah “makan” sekolahan dan pernah [sedikit mungkin] diajari tata krama. Di atas kloset biasanya jelas-jelas terpampang tulisan: “Dilarang Membuang Puntung Rokok Ke Dalam Kloset!”. Kalau larangannya tertulis besar-besar dan masih dilakukan juga, buat saya bukan lagi egois, tapi tolol akut.

"merokok itu bukan soal kualitas, tapi soal sugesti diri."

“merokok itu bukan soal kualitas, tapi soal sugesti diri.”

Bukan sekali dua kali saya menemukan puntung rokok mengapung di atas kloset, berkali-kali. Dan “hebatnya” selalu di toilet yang beradab, di hotel, mall atau tempat-tempat yang disebut “bergengsi”. Apa artinya? Bahkan egoisme dan ketololan itu sudah masuk ke lini yang dianggap berbudaya, berpendidikan dan punya adab. Rokok adalah kebutuhan tubuh, karena berkaitan dengan tubuh yang juga menjadi penjara jiwa untuk mencapai kebijaksanaan. Maka bisa kita simpulkan bahwa rokokpun menjadi penjara atau kuburan bagi manusia.

Relevansi yang bisa kita ambil dari semua pembahasan di atas adalah; mari kita bersikap kritis terhadap keputusan kita yang memilih untuk “dijajah” oleh rokok. Rokok yang sebenarnya justru memperbudak kita, sehingga tidak dapat mencapai kebaikan. Bukan sebaliknya, menjadi tolol karena “penjajahan” rokok.

Ini bukan soal anti rokok dan perokoknya, tapi attitude perokok dan etika merokok.

Musik Kritis & Musik Revolusioner : Anjing Penjaga Sikap Politik

Salah satu pendukung presiden terpilih Jokowi yang cukup militan adalah musisi [baca: seniman]. Buktinya adalah, ketika menjelang pemilihan, mereka –para musisi itu—menggelar konser di Gelora Bung Karno dan dihadiri ratusan ribu pendukung.

 

"Musik dan Politik, Menjadi Medan Magnet Tarik Menarik"

Musik dan Politik, Menjadi Medan Magnet Tarik Menarik”

TENTU ada alasan mengapa para musisi itu ngebet dan mati-matian mendukung Jokowi sebagai presiden. Beberapa alasan, selain karena pria asal Solo itu dikenal dekat dengan seniman dan musisi, juga karena kecintaannya pada musik rock. Hobi yang olehh lawan politiknya sempat disentil juga, karena dianggap mencintai kebudayaan asing ketimbang budaya sendiri. Kecintaannya pada rock-lah yang kemudian membuat Solo sempat sukses menggelar Rock in Solo,  dan menjadi Solo sebagai salah satu alternatif atmosfer rock, selain Jakarta dan Bandung.

Sejatinya, seni dan politik memang seperti magnet yang tarik menarik. Seniman, biasanya punya penggemar dan massa yang lumayan besar. Malah ada yang besar sekali. Pun dalam kampanye pemilu di Indonesia, beberapa waktu lalu. Saya selalu terobesi –kalau tidak dibilang punya mimpi—bahwa musik dan musisi bisa mengubah masyarakat secara luas. Dan membuat karya dengan pengaruh kuat untuk mengubah, sebenarnya sudah bagian dari berpolitik. Dalam tulisan-tulisan dan gagasan saya sebelumnya, saya sempat menyebut lahirnya musisi sayap kiri dan musisi sayap kanan, Meski kini terdengar usang, tapi toh tulisan saya yang sederhana itu, pelan-pelan mulai terbukti.

"musik dan musisi bisa mengubah masyarakat secara luas"

musik dan musisi bisa mengubah masyarakat secara luas”

Lalu bagaimana mengombinasikan politik dengan jargon ‘politik adalah kemenangan’ dengan kesenian yang [seharusnya] bicara soal nurani dan kejujuran. Sesuatu yang termat kecil berada di ranah politis. Saya mengutip kalimat seorang pianis dan komposer bernama Frederic Rzewski, ketika berpidati di depan mahasiswa seni University of Wisconsin, tahun 1983 silam:

 Seni dan politik bukan hal yang sama. Ada titik di mana mereka bertemu, dan ada titik di mana mereka berseberangan. Kita tidak bisa serta merta memasukkan orang lain ke dalam pelayanan lain tanpa melemahkannya, merampas beberapa kekuatannya sebagai wahana komunikasi. Politik dunia seni cenderung cukup relevan dengan politik secara umum. Sedangkan jenis seni yang memenuhi dunia politik sering cukup lemah sebagai seni. Sebuah kombinasi yang efektif dari keduanya adalah tetap teoritis mungkin, karena secara praktis diperlukan. Sayangnya, kondisi ini mungkin hanya ada di saat-saat tertentu dalam sejarah.”

Kembali pada pertanyaan, apakah musik berpolitik, atau politik membelokkan musik,agak sulit menenpatkan gagasan utamanya. Atau mungkin kita sepakat dengan pandangan seorang sastrawan Inggris bernama George Orwell. Menurutnya, gagasan bahwa seni tidak ada hubungannya dengan politik, sebenarnya sudah merupakan merupakan posisi politik.

Musik Revolusioner atau Musik Kritis?

Banyak literatur yang kemudian menghubungkan bagaimana musik dan politik saling terbentuk. Ada istilah komposer politik, artinya musisi yang berkarya dengan tema-teman politik dan politis. Hal ini terjadi pada banyak masa kekuasaan, termasuk pemerintahan fasis Hitler di Jerman, Mussollini di Italia dan Stalin di Uni Soviet ketika itu. Selama tahun 1930-an, gelombang revolusi mencapai menara gading, dan komposer mulai melihat diri sebagai bagian dari kelas pekerja. “Entah komposer atau musisi itu tahu atau tidak,  mereka sebagian besar dari mereka sudah menempatkan diri sebagai milik proletariat,” tulis Charles Seeger, musicologist Amerika, dalam salah satu essainya tahun 1934.

Sebutan “Musik Revolusioner” muncul dan lebih diarahkan untuk pendukung [extra-musik] atas posisi ideologis tertentu. Karya-karya revolusioner ini lebih sepenuhnya “politik” dalam cara yang dipahami secara tradisional. Sementara “Musik Kritis” puunya kriteria tidak mencoba untuk menang, dan menjauhkan dari gerakan atau ideologi tertentu. Musik kritis mengamati, menerangi, dan memberikan kritik atas aspek tertentu dari masyarakat. Meskipun biasanya kritikus musik itu akan mengatakan dalam kerangka ideologis. Singkatnya, “Musik Kritis” menyajikan masalah yang mungkin memiliki banyak potensi solusi, sedangkan “Musik Revolusioner” menyediakan solusi tunggal untuk banyak masalah. Jelas sekali bedanya bukan?

Dimana Musisi Indonesia Berdiri?

Agak menggelisahkan kalau ada musisi yang dituding fasis, atau sektarian, atau progressive tapi bukan di karya, hanya di pernyataan untuk media. Saya hanya ingin menempatkan musisi Indonesia, siapapun dia, di pihak manapun dia berdiri, punya pandangan politik dan ideologi apapun, dia harus bisa menjadi kritis. Kritis itu tidak melulu mengikis. Kritis itu tak membuat kekerabatan dan karya makin teriris. Musisi secara politis punya kekuatan untuk mengubah kesadaran masyarakat akan satu isu dan topik. Dan itu sudah jelas terbukti dalam banyak dekade, termasuk di Indonesia. Kalau berkaca kepada telaah kritis di atas, menjadi musisi kritis adalah menjadi musisi yang bisa memberikan banyak potensi solusi.

Menjadi pengawal, pendamping, pengawas, atau apapun istilahnya atas pemerintahan politik kita, wajib hukumnya untuk musisi. Memberi catatan, peduli pada keresahan dan kegelisahan masyarakat, kemudian meluruskan penyimpangan kekuasaan, adalah sikap politis musisi. Kalau musisi yang belum lama ini menjadi pengggerak antusiasme massa yang luarbiasa, sudah mulai tak peduli, celakalah Jokowi.  Celakah negeri ini. Harapan saya, semoga hal itu tidak terjadi.

Sekali Lagi: Musik Laku Vs Musik [Nggak] Laku

Jujur saja, saya sebenarnya muak dengan dikotomi seperti judul di atas. Tapi mengapa itu masih saya angkat dalam tulisan ini? Saya harus katakan pembelajaran tentang dikotomi itu masih gagal memberikan pencerahan kepada [bukan] musisi. Bahkan jurnalis yang biasa berkutat dengan liputan hiburan [sayangnya tak hanya musik], masih banyak yang tergopoh-gopoh mencerna. 

"lupakan dikotomi musik laku dan musik nggak laku. berkarya saja. titik!"

lupakan dikotomi musik laku dan musik nggak laku. berkarya saja. titik!”

 

DALAM banyak kesempatan acara musik, banyak pertanyaan yang berulang da berulang. Entah siapa yang tolol, yang menjelaskan, atau yang menerima penjelasan. Atau sebenarnya dua-duanya tidak tahu juga? Pokok persoalannya selalu berputar pada pertanyaan seperti apakah musik yang laku di industri, dan musik apakah yang [sebaiknya] dihindari, karena rentan tidak laku.

Tidak bisa dipungkiri, ada kepentingan di balik isu dikotomi itu. Menggunakan logika terbalik, seharusnya muncul sebuah pertanyaan: siapa yang diuntungkan ketika isu makin menguat dan menguar ke permukaan? Tapi  lupakan soal siapa yang diuntungkan, mari kita menelisik bagaimana sebenarnya dikotomi itu bisa dijelaskan, dipaparkan dan dielaborasi sehingga menjadi sinergi yang melahirkan karya bagus, bukan karya laku atau tidak laku.

Dalam satu helatan musik di Jakarta, seorang Yovie Widianto dan Once Mekel, punya pendapat yang senada. “Kita akan berkembang, kalau kita bisa mengapresiasi banyak musik yang berbeda.” Saya menggarisbawahi pernyataan tersebut. Saya berikan contoh: seorang Rod Steward punya kualitas dan wawasan musikal yang tajam, ketika dia “berlari-lari” di area jazz, folk, dan country.  Ini bukan soal “melacur” ke genre lain diluar genre awalnya, tapi memberikan pemahaman baru atas karya-karya personalnya. Atau rockstar Bon Jovi yang melintas batas dengan album fully blues, reinterpretasi dari karya-karya populernya.Laku atau tidak, tampaknya bukan target utama.

"jangan tertipu produser yang menjanjikan macam-macam cerita sukses, tapi sebenarnya omong kosong besar. "

“jangan tertipu produser yang menjanjikan macam-macam cerita sukses, tapi sebenarnya omong kosong besar. “

Alasan klasik di Indonesia adalah: musik [sejatinya] belum bisa dijadikan gantungan hidup secara total. Dari survey kecil-kecilan yang pernah saya lakukan setiap wawancara, nyaris semua musisi lama dan baru, mengatakan: siap hidup dari musik. Tapi dalam hitungan bulan, atau tahun, mereka menghilang dan tak lagi ngeband atau bermusik. Artinya, masih banyak yang menjadikan musik dan musisi sebagai “halte” saja. Kalau tumpangan lain lebih menarik, mereka akan naik dan pindah ke terminal lainnya.

Saya hanya akan memberikan pertimbangan yang tegas-tegas saja: siap bermusik? Siap menjadi musisi? Siap berkarya? Siap gagal?  Siap sukses? Pilihannya jelas: kalau tidak siap, mendingan berhenti dari sekarang, nggak usah memaksakan diri. Daripada harta habis untuk bermusik, tapi tanpa hasil yang jelas? Tertipu produser yang menjanjikan macam-macam cerita sukses, tapi sebenarnya omong kosong besar. Tapi kalau Anda siap, silakan belajar keras tentang musik, industri, manajemen, distribusi dan komposisi karya Anda sendiri. Banyak cara untuk jadi musisi yang berkualitas.

Saatnya melewatkan dan membuang dikotomi: musik laku vs musik [nggak] laku. Berani?”

Ba -[??]-ngan Movement : Invasi Alter Ego Manusia Terkini

Betul, judul yang saya tulis itu memang sumir. Terserah Anda memberi isian apa. Tapi sebelum berasumsi tentang isi yang tepat dalam kotak, bagaimana kalau kita sama-sama belajar perilaku terbalik dari yang terbaik? Ketika semua orang berusahan memberikan resolusi yang menarik, [seolah] baik, kita coba jujur dengan sisi superego kita. Berani? 

"invasi alter ego, sekarang sedang bermunculan di semua lini kemanusiaan."

invasi alter ego, sekarang sedang bermunculan di semua lini kemanusiaan.”

SAYA memang tidak sedang mengajak Anda semua untuk “memberontak” terhadap kebaikan, [mungkin] kejujuran. Tapi saya hanya ingin mengajak kita untuk melihat sisi “apa adanya” di kepala kita, sehingga sisi “hitamnya” pun terlihat. Mengapa? Karena selama ini kita dijejali mimpi-mimpi inda tentang gal baik dan kebaikan, tapi sebenarnya kita tidak jujur bahwa diri kita sebenarnya juga ada superego yang meletup ingin keluar.

Ini memang seperti melawan arus. Seperti berpikir terbalik, dan menjadi hal yang tidak lazim dilakukan. Itulah mengapa judul tulisan saya buat seperti itu, karena kita bebas mengisi dan ingin menjadi apa.

Ba-[??]-ngan adalah sebuah anomali, sebuah paradoksal tentang perilaku kita sehari-hari. Saya mungkin senang terlihat baik dimata orang-orang, tapi mungkin juga saya menyimpan ketidakbaikan yang saya sembunyikan. Kalau bahasa sekarang disebut “pencitraan”. Tapi terserah saja, bagaimana Anda mau melihatnya.

Kita sebenarnya adalah antithesis dari kehidupan. Kita adalah keindahan dalam ketidakindahan, tapi sebaliknya, kita juga kerap menjadi ketidakindahan dalam sebuah keindahan. Kita menjadi kebaikan dari alur kejahatan yang merajalela, tapi kita juga menjadi kejahatan [mungkin tanoa kita sadari], dari sebuah parade kebaikan [yang mungkin pura-pura].

Setiap kebaikan yang kita tebar, sebenarnya langsung “berperang” dengan ketidakbaikan yang juga menyertai. Selalu ada konsekuensi logis yang jadi antithesis. Meski sebenarnya siapapun bisa mengabaikan itu, kapan pun dia mau. Ba-[??]-ngan bukan seperti yang Anda bayangkan. Kata yang mungkin saja bisa Anda terjemahkan salah dalam hidup Anda.

Bagaimana kalau kita membuat resolusi yang “menyakitkan” seperti belajar jadi orang munafik, jadi pembohong, jadi penipu, seenaknya, tanpa toleransi dan tanpa belas kasihan? Apakah yang akan Anda isi dengan kolom tanya tanya di ba-[??]-ngan itu?

Anda yang muak dengan kebaikan pura-pura, kerendahhatian pura-pura, atau ibadah pura-pura, silakan menjadi bagian dari ba-[??]-ngan movement. Tidak ada jaminan kemudian ada perubahan revolusioner, tapi berdiam diri, memutuskan menjadi “pertapa kemanusiaan” dan menggerakkan antithesis kebaikan untuk meliat manusia lain, rasanya bisa jadi solusi “hitam-putih” melihat manusia lain lebih utuh, tidak sumir.

Kegelisahan Sistematis, Terstruktur dan Masiv, Bernama: Progressive Rock

Tulisan saya tentang  progressive rock selalu menjadi anti-thesis dan catatan kritis dari kiprah komunitasnya. Band-band yang disebut-sebut sebagai pengusung  progressive rock, selalu terjebak pada “fanatisme” yang membuat progressive rock hanya jadi gincu menor, diperhatikan, dilirik dan digodain, mungkin dipuji, tapi “nyaris” tak pernah “ditiduri” dengan maksimal. 

"indonesia maharddika, fantasi tentang indonesia yang bersatu."

“indonesia maharddika, fantasi tentang indonesia yang bersatu.”

PERSOALAN dan pertanyaan yang sama, selalu terulang setiap ada helatan progressive rock. Mengapa progressive rock tidak sedikit berkompromi dengan genre lain, supaya bisa dinikmati lebih banyak penikmat musik? Ini pertanyaan yang amat standar dari siapapun yang mencoba mencerna tentang musik yang punya durasi panjang ini, dari sudut mainstream, bukan sudut skill. Saya bukan orang yang ‘terpukau’ dengan aksi njlimet musisinya. Seorang kawan pernah mengatakan: semakin njlimet, panjang dan aneh, semakin keren dan hebatlah musisi progressive rock itu.  Entah lelucon atau serius, tapi tendensi ke arah itu memang ada.

Dann kegelisahan itu muncul lagi ketika saya menyaksikan konser ‘Indonesia Maharddika’ di Galeri Indonesia Kaya [GIK], Kamis [22/8/2014].  Bukan kegelisahan tentang “pengisi” yang itu-itu saja, tapi kegelisahan akan napas panjang, bertenaga, dan fresh, bukan atas nama sekadar klangenan, reuni, dan mengisi waktu kosong progressive rock. Dan ternyata saya harus tetap gelisah, karena yang muncul masih nama-nama yang kerap saya dengar, bahkan beberapa tahun ke belakang.

Lagu “Indonesia Maharddhika” yang terangkum dalam album Guruh Gipsy, sebuah kolaborasi antara seniman ternama Guruh Soekarnoputra, Roni Harahap dan band beken era akhir 70-an, Gipsy. Menilik liriknya, sebenarnya lebih kepada kontemplasi dan mimpi, tentang Indonesia yang “konon” kaya, tapi bisa mendistribusikan kekayaannya untuk kemakmuran rakyatnya. Sebuah utopia kata-kata yang ketika itu hanya dianggap fantasi siang bolong.progrock1

Mini konser ini, tentu saja menjadi “berkelas” ketika yang hadir terlihat dari “kasta” ekonomi mapan, orang penting dan “seolah” cerdas secara penampilan, pemikiran dan permainan individual musikalnya. Diakui atau tidak, aura itu terasa. Meski buat saya pribadi, itu tidak jadi persoalan penting, karena toh musisi atau siapapun yang terlibat dalam acara tersebut, terlihat total dan menikmati.

Tapi jujur saja, penampilan Van Java, Imanissimo, TheKadriJimmo, dengan embel-embel nama populer macam Once Mekel dan Andy /rif, memang terlihat apik dan [memang] berkelas. Seolah kita masuk  ruangan kuliah filsafat, dengan penjelasan dosen yang ngelotok, dan berhasil membuat kita bertahan di bangku hingga usai kuliah.

Analogi itu terasa pas. Meski saya harus menyebutnya juga dengan “reuni orang tua” karena memang penggagasnya sebagian besar adalah orang-orang band lama yang sekarang sudah mapan secara finansial pastinya. Progressive rock menjadi pilihan langka, bukan karena susah dan kudu skill tinggi, tapi lebih kepada antiklimaks musikal, disaat pilihan yang lain mulai beranjak mainstream.

Saya tetap mengapresiasi dan tentu saja harus acungkan jempol, karena album ‘Indonesia Maharddika’ yang saya terima gratisan itu, ternyata berisi karya apik, yang kelak pasti bakal jadi catatan sejarah musik Indonesia. Selain itu, album ini saya yakini bakal jadi collector item, karena lagi-lagi rentang rilis, manggung dan album berikutnya, biasanya bikin lumutan alias lama.

Kembali ke catatan kritis yang saya ingin tuliskan. Genre ini meskipun mayoritas instrumental tapi selalu mencari demarkasi antara pernyataan yang bermakna (meaningful) dan pernyataan yang tidak bermakna (meaningless). Tidak mudah memang memahaminya. Karena tidak ada kosa kata apapun dalam aransemennya, selain karya itu sendiri. Band-band progressive-rock di Indonesia, kabarnya memang tidak menjadikan aliran musik ini sebagai “penghasilan” utama, selain karena mereka hanya ingin bermusik dengan apik dan menjadi satu lintasan sejarah musikal yang kelak diingat.

Saya menyimpulkan –bisa jadi kesimpulan saya kelak direvisi– genre ini selalu [dan selalu] terperangkap pada “fanatisme” dan “egoisme” sebagai bagian dari kekayaan musikal band-band atau musisi yang disebut pengusung progressive-rock. Saya mencermatinya, sebagai “awam” yang hanya mengamati [dan menikmati], musisi porck-rock seperti kebingungan antara mau benar-benar kecemplung dalam virus progressive [revolusioner] rock, atau hanya menjadi perpustakaan dengan katalog lagu yang selalu ditambah, tapi jarang dibaca. Dipuja-puja dengan banyak pujian, tapi hanya teronggok sebagai sejarah yang terpinggirkan.

Semoga saya salah….

Filosofi Recehan – Pandangan Busuk di Kesan Pertama

UNTUK pengangguran, anak kos, atau karyawan bergaji minimalis, yang namanya uang receh kerap jadi dewa penolong di akhir bulan. Padahal, kalau lagi awal bulan, si receh ini kerap diabaikan atau diletakkan pada posisi yang kurang terhormat. Tapi memang penghargaan dan sinisme masih terasa ketika Anda membayar apapun dengan recehan.  Kok begitu? 

"jangan remehkan recehan, karena dia berguna disaat tidak kita anggap"

“jangan remehkan recehan, karena dia berguna disaat tidak kita anggap”

DULU ketika saya masih kuliah dan ngekos, apalagi kiriman uang dari orangtua suka telat, uang receh yang dikumpulkan di kaleng bekas, selalu jadi pelarian. Dioprek-oprek, dikumpulin dan akhirnya bisa bernapas lega, karena bisa untuk membeli nasi dan lauknya di warteg. Kalau respon warteg sih, biasanya malah semringah ketika saya bayar pakai recehan. “Lumayan mas, buat kembalian,” celetuk mbak-mbak yang jaga, sambil tersenyum –yang terlihat manis ketika itu.

Tapi sekarang, recehan menjadi identik dengan sinisme, duafa akut dan gengsi rendah. Kejadian demi kejadian yang –iseng—saya lakukan, menjadi jawaban atas hal-hal yang kurang nyaman itu. Beberapa kali, sengaja saya memberikan uang recehan untuk membayar makanan, tiket nonton, parkir atau membayar pengamen. Betul diterima, tapi saya sangat paham mimik wajah mana yang sukacita menerima, atau ekspresi palsu dan singit saat mengenggam recehan.

Betul, memang agak merepotkan ketika memegang recehan. Selain beban jadi tambah berat, gesekkan suaranya yang berisik, menghitungnya pun butuh waktu yang kadang-kadang tidak sebentar. Tapi nilai tukarnya toh sama saja dengan uang kertas bukan? Lambat laun saya mulai bisa mendeteksi karakter orang ketika berhadapan dengan uang recehan itu. Tidak peduli tampan dan cantiknya Anda, tapi ketika datang menggenggam recehan, Anda adalah wong cilik. Jadi “berhak” tidak dianggap.

Nasib recehan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sikap kita ketika menilaiseseorang pada kesan pertama. Kita sering meremehkan dan kemudian memberikan penghakiman yang menyakitkan, kepada orang yang kita sendiri masih ragu siapa dia sebenarnya. Sayapun pernah ‘terpeleset’ melakukannya. Suatu hari sembari menunggu seorang kawan berbelanja, saya ngobrol denganb seorang tukang parkir yang terlihat kumuh. Orangnya kurus, hitam, dengan gigi sedikit ompong. Sok asik dia menyapa saya dan mencoba berdialog. Kemudian saya tahu dia asal Jawa Timur dan kamu ngobrol dengan bahasa Jawa Timuran. Dibalik penampilannya yang belepotan itu, tukang parkir itu “memamerkan” keahliannya yang membuat saya terkejut. Tentu saja saya pura-pura tidak terkejut. Dia fasih berbahasa Inggris dan Jerman. Selidik punya selidik, dia juga mantan musisi kafe di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta awal 90an.

"semakin diremehkan, semakin menanjak. "

semakin diremehkan, semakin menanjak. “

Mungkin tukang parkir itu menjadi recehan dan saya adalah kasir terpandang yang menerima recehan itu. Senyum saya suck dengan jawaban singkat yang saya “paksakan.” Persis penjagat loket bioskop yang sebenarnya cantik, tapi menjadi buruk rupa di mata saya, karena terlihat “merendahkan” seorang pemuda yang menambahkan uang recehan 500 dalan pembayaran tiketnya. Sikap yang membuat saya muak dan geleng-geleng kepala.

Meremehkan hal kecil, nyaris jadi karakter semua manusia. Semua menganggap bahwa semua persoalan itu harus besar baru dianggap benar-benar persoalan. Kita sering meremehkan hal-hal kecil dalam berelasi dengan manusia lain. Akibatnya, selain konflik di belakang hari, kita selalu gagal berempati kepada manusia lain yang memerlukan uluran tangan kita, atau sekadar memerlukan senyum kita.

Sayangnya, kita “nyaris” menganggap manusia lain seperti uang recehan, baru berguna ketika kita sudah kehilangan yang lain. Terlalu sering ‘menbusukkan’ orang lain di kesan pertama. Baru kita anggap ketika kita terdesak pada pengakuan untuk mendekati recehan itu.  Filosofi recehan itu, membuat kemanusiaan kita terlemahkan.

 

Hai Musisi, Ciptakan Kebudayaanmu…

APA yang ada di benak Anda ketika saya sebut budaya atau kebudayaan? Buat awam, yang tidak berkecimpung dalam kiprah budaya, biasanya akan menghubungkannya dengan peradaban kuno, artefak dan setumpuk kisah masa lalu. Itukah budaya?

"Jangan terjebak  para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya."

“Jangan terjebak para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya.”

Secara etimologis, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tentu tidak secara harafiah mentah-mentah kita mengadopsi penjelasan tersebut. Dalam kacamata saya, “budaya adalah karya yang dibentuk manusia di satu masa, dan berkembang luas memengaruhi kehidupan dan manusia lain di masa sesudahnya.”

Lalu, apakah saya, Anda dan kita bisa menciptakan budaya? Tentu saja bisa. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya. Kalau tidak ada yang mendukung dan memberinya kehidupan, budaya dan kebudayaan, lambat laun juga bakal mati.

Saya teringat cerita, bagaimana Korean Wave akhirnya menjadi budaya yang luarbiasa dan menjadikan Korea [Selatan], bangga dan berdiri sejajar dengan negara ras kuning lainnya, seperti Jepang dan Tiongkok. Dalam satu masa, pemerintah Korea mengundang musisi-musisi hebat seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mereka diundang untuk menggelar konser setiap tahun dengan genre yang berbeda-beda. Ada pop, rock, blues, jazz, dan macam-macam. Usut punya usut, bukan untuk mencuri ilmu dari musisi yang mereka undang, tapi memberikan wawasan baru kepada rakyatnya, untuk menciptakan budaya sendiri. Terbukti, kebudayaan Korea sekarang dengan K-Popnya benar-benar merajai dunia.

Bagaimana Indonesia? Jangan terjebak  para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya. Musisi [dan seniman] Indonesia, sering terjebak pada pewarnaan ketika bicara soal budaya. Seolah-olah budaya dan kebudayaan selalu bicara tradisi dan tradisionalisme. Coba kita ketik “kebudayaan” di image Google, yang muncul selalu hal-hal yang berbau tradisi saja. Tentusaja bukan salah dan dosa, tapi sebenarnya tidak melulu itu. Budaya populer, juga adalah kebudayaan kekinian yang bisa dikembangkan dan menjadi kekuatan atau ciri dari satu bangsa. Musisi juga bisa mengadopsi tradisi menjadi populer, tentu saja dengan pengembangan dan  inovasi yang kreatif.

Saya harus katakan, zaman berubah, manusia berkembang dan kebudayaan menemukan persepsi dan definis terkini. Tapi yang tetap, budaya dan kebudayaan selalu dan akan terus menjadi ciri bangsa yang kuat. Kalau sekarang Korea menjadi “contoh” bagaimana budaya popnya begitu menggurita, siapa tahu kelak Indonesia bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih. Jaring kebudayaan kita lebih menggurita, tapi sinerginya yang perlu disentuh.

Nah, mari menciptakan budaya dan kebudayaan…