Ali Farka Toure: Jejak ‘DNA Blues’ di Mali Afrika

Beberapa tahun lalu, saya lupa tepatnya, saya bertemu dengan musisi asal Bima, Nusa Tenggara Barat bernama Tommee Balukea. Musisi berambut gimbal ini ternyata sudah punya nama lumayan berkibar di Australia. Sayangnya, di negeri sendiri namanya malah tak banyak disebut. Tapi bukan soal Tommee yang ingin saya ulas. Dalam pertemuan yang singkat, Tommee yang fasih berbahasa Jawa Timuran itu, memberi saya satu CD Ali Farka Toure, sembari mengatakan: “Kalau mau belajar sejarah blues, salah satunya harus tahu nama ini.” Memang, kami sebelumnya berdialog soal musik blues. 

"Ali Ibrahim Farka Toure"

“Ali Ibrahim Farka Toure”

JUJUR saja, ketika diberi CD itu, saya kebingungan, karena termasuk jarang menemukan nama Ali Farka Toure dalam literasi blues yang kerap diperbincangkan. Kebingungan saya bertambah, karena mindset saya tentang blues sebenarnya masih di ranah pakem seperti Garry Moore dan sejenisnya. Alhasil, ketika menyimak lagu-lagu Ali Farka yang asal Mali Afrika, saya terhenyak dan bertanya: Blues?

Oke, mari belajar tentang Ali Farka Toure. Nama aslinya Ali Ibrahim Toure. Farka artinya ‘keledai’ semacam panggilan atau julukan yang diterima pria Mali kelahiran 31 Oktober 1939 ini. Masa kecilnya tidak ada hubungannya dengan musik sama sekali, justru kedekatannya dengan kemiskinan amatlah kental. Lahir di pinggir sungai Niger di desa Kanau, Ali adalah anak ke-10 dan satu-satunya yang hidup. Farka termasuk etnis Songrai, bagian dari suku Fula di sekitaran Timbuktu.

Tidak banyak kisah atau referensi tentang perkenalannya dengan blues, tapi namanya mulai disebut ketika tahun 80an mengejutkan komunitas barat dengan permainan musiknya yang kental dengan warna Afrika tapi juga diyakini membawa ‘DNA blues’ secara ideologis. Dalam beberapa catatan, Farka dibandingkan [dan disebut-sebut] sebagai John Lee Hooker-nya Afrika. Meski ketika saya mencari perbandingannya dengan bantuan youtube, ada banyak perbedaan yang nampak. Farka lebih sederhana dan manis secara lirik [paling tidak saya amati dari lirik bahasa Inggris], karena sebagian besar lagunya berbahasa Afrika.

Yang menarik dari Farka, ketika popularitas sedang ‘lucu-lucunya’ mendekatinya, dia malah memutuskan mundur dari musik dan menjadi petani di kampung halamannya. Satu keputusan dahsyat yang justru membuat banyak musisi lain menghormatinya. Meski kemudian sekitar tahun 1994, Farka ‘tergoda’ lagi dengan tawaran produser untuk merekam album Talking Timbuktu. Satu album yang kental dengan warna Afrika.

Sayangnya lagi, pasca album ini, Farka memilih hiatus dan baru menelurkan album Niafunke tahun 1999. Album yang terdengar lebih Afrika. Musiknya mempunyai ciri khas dan kerap disebut sebagai persimpangan musik Afrika dengan ‘kerabatnya’ Blues.

Penerima dua kali penghargaan Grammy Award ini, juga sempat menjadi walikota di Nafunke. Ketika menjadi walikota itulah, Farka yang sadar aka kemiskinan wilayahnya, dengan uang sendiri memperbaiki jalan, memasang generator listrik dan membuat saluran air dan selokan.

Rupanya selain bermusik, Farka punya sisi kemanusiaan yang mungkin dipelajarinya dari penderitaan masa kecilnya. Tak heran, sutrada film sekaliber Martin Scorsese pun membuat film dokumenter berjudul Feel Like Going Home [2003], bercerita tentang telusur musik blues ke akarnya di Afrika. Dan Farka tampil bersama Correy Harris, musisi reggae kulit hitam dari Amerika.

Akhirnya, 7 Maret  2006, Ali Ibrahim ‘Farka’ Toure harus mengakhiri perjuangannya menegakkan blues di Afrika, meninggal karena kanker tulang yang telah mengerogotinya sejak lama. Tapi jejak yang ditinggalkannya, paling tidak membuka mata [saya termasuknya], bahwa blues punya akar yang luas dan tidak berdiri di satu tanah saja.

 #Makasih Tommee buat CD-nya

 

Bermusiklah Tanpa Kelamin

Seorang John Lennon, vokalis The Beatles itu, pernah membuat lagu yang menghebohkan, ‘Imagine’ [liriknya silakan tanya mbah gugel ya]. Impiannya tentang perdamaian amatlah sangat besar. Meski beberapa liriknya kerap disatroni rohaniwan karena dianggap menafikan keberadaan pencipta. Tapi perhatikan, ketiadaan, ternyata [dianggap] bisa menguatkan kemanusiaan tanpa sikut-sikutan. Di industri musik, seharusnya juga tidak ada kelamin. 

"musik itu tak berkelamin"

“musik itu tak berkelamin”

MUNGKIN secara tidak sadar, Anda pernah mendengar [atau malah mengatakan sendiri], musik ini atau musik itu, adalah musik perempuan. Sementara musik yang lain adalah musiknya laki-laki. Saya tidak tahu, sudut pandang itu dilihat dari sisi mana, mungkin lirik, aransemen atau gaya panggung, tapi pernyataan itu buat saya sudah amat menggelikan. Seolah-olah musik itu berkelamin.

Persoalan kelamin ini memang tak pernah usai untuk dibahas. Dari sisi manapun, topik kelamin ini selalu menarik. Dulu pernah ada band dari Bandung bernama The Panas Dalam pernah menulis lagu yang judulnya : “Ujung-Ujungnya Kelamin”.  Jangan senonoh dulu dengan pikiran Anda, karena lagu ini isinya tentang kritik sebuah hubungan antara umat manusia, dari tua atau muda, juga persoalan kriteria pasangan baik yang tulus atau main-main, semua berujung pada kelamin. Bahkan yang lebih medeni [menakutkan –red], lagu ini menyebutkan “cantik tanpa kelamin percuma”. Sehingga harus diakui bila kelamin memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang memiliki sisi normal memiliki lingga dan yoni.

"agak menggelikan kalau musisi mendikotomikan kelamin dalam musiknya"

“agak menggelikan kalau musisi mendikotomikan kelamin dalam musiknya”

Kalau di jagat fashion, beberapa tahun belakangan memang sudah tidak terlalu mempermasalahkan apakah fashion itu ditujukan untuk laki-laki atau perempuan. Mereka menyebutnya unisex. Dalam kamus, unisex diartikan dengan: “not distinguished on the basis of sex” atau dalam terjemahan bebasnya adalah: tidak dibedakan berdasar jenis kelamin. Sebenarnya, soal unisex itu di musik sudah berlaku sejak lama. Meskipun diskriminasi kelamin itu pun masih kental berlaku, bahkan hingga saat ini.

Persoalan kelamin secara kultural memang belum menjadi persolan terbuka. Masih banyak yang menganggap bahwa itu adalahh ranah domestik yang hanya bisa dibahas di lingkup keluarga saja. Heddy Shri Ahimsha Putra [2000] menegaskan bahwa istilah jender dapat dibedakan ke dalam beberapa pengertian berikut ini: jender sebagai suatu istilah asing dengan makna tertentu, jender sebagai suatu fenomena sosial budaya, jender sebagai suatu kesadaran sosial, jender sebagai suatu persoalan sosial budaya, jender sebagai sebuah konsep untuk analisis, jender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan.

Epistimologi penelitian jender secara garis besar bertitik tolak pada paradigma feminisme yang mengikuti dua teori yaitu; fungsionalisme struktural dan konflik. Aliran fungsionalisme struktural tersebut berangkat dari asumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi.

"bermusik dan berkaryalah tanpa menghitung berapa kelamin yang menyukai karyamu."

“bermusik dan berkaryalah tanpa menghitung berapa kelamin yang menyukai karyamu.”

Teori tersebut mencari unsur-unsur mendasar yang berpengaruh di dalam masyarakat. Teori fungsionalis dan sosiologi secara inhern bersifat konservatif dapat dihubungkan dengan karya-karya August Comte [1798-1857], Herbart Spincer [1820-1930], dan masih banyak para ilmuwan yang lain.

Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan jender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya, perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain

Teori-teori di atas, sebenarnya menegasikan masih ada pembedaan dalam bidang apapun berdasar kelamin stigma. Bahwa pekerjaan A cocok untuk perempuan, pekerjaan B laki-laki. Komparasi kelamin seperti itu biasanya berimbas pada karya akhir. Terkesan maskulin atau feminim.

Kembali ke industri musiknya, pertanyaan-pertanyaan basi seperrti dalam buku Sex and Gender itu, masihkah mempengaruhi daya ledak dan daya pikat kreativitas bermusik yang bermutu? Apakah lirik lagu selalu berkonotasi dengan kelamin tertentu? Buat saya adalah kebodohan, ketika musisi –bahkan yang transgender sekalipun—kemudian mendikotomikan musiknya hanya untuk kelamin tertentu saja. Buat saya, musik itu tak berkelamin.

 

Gerakan Melawan Penyakit Puas Diri – Mengritisi Musisi Yang Masuk Parlemen

Saya mungkin hanya setetes air yang tidak ada artinya di lautan yang amat sangat luas. Suara, tulisan, atau apapun yang saya lakukan, mungkin juga hanya numpang lewat saja. Tapi paling tidak, saya punya “bukti sejarah” pernah menawarkan sesuatu yang saya yakini bisa memberikan kebaikan. Ini ada hubungannya dengan musik, industrinya dan pemilu.

"musisi di parlemen? selama benar-benar tidak  terkooptasi banyak kepentingan, silakan saja!"

“musisi di parlemen? selama benar-benar tidak terkooptasi banyak kepentingan, silakan saja!”

KALAU Anda cermati baik-baik, setiap pelaksanaan kampanye pemilihan umum atawa pemilu, semua lini yang berhubungan dengan rakyat dan masyarakat, tiba-tiba bergerak bandulnya. Semua menjadi punya kata seragam: peduli. Satu kata yang tampaknya hanya bermakna temporer saja. Selebihnya, hanya jadi penggembira yang selesai keriaan, selesai juga kepeduliannya.

Setiap kampanye, rasanya tidak afdol kalau tidak melibatkan penghibur. Entah itu musisi, solois, band atau MC yang biasanya diambil dari artis-artis yang sudah dikenal, minimal di level propinsilah. Setiap menjelang pemilihan umum, mereka –para seniman dan pekerja seni itu—selalu diajak-ajak sebagai goal getter kalau-kalau tokoh parpolnya tidak disukai oleh masyarakat. Tak hanya itu, menjelang pemilu pula biasanya nama-nama musisi yang selama ini tak pernah berurusan dengan politik –paling tidak mereka biasanya mengaku tidak terlalu pusing dengan politik—tiba-tiba didapuk sebagai calon legislatif, yang artinya harus berpolitik. Kejutan yang menggelikan.

Pelaku kesenian –sebut saja industri musik—termasuk salah satu yang banyak dilibatkan dalam kampanye dan partai. Dwiki Dharmawan, salah satu musisi papan atas Indonesia, tiba-tiba saja dicalonkan sebagai caleg Partai Amanat Nasional. Sungguh, saya tidak pernah mendengar kiprahnya dalam politik level apapun.  Kenal atau mengisi acara kepartaian mungkin sering, tapi terlibat dalam pendidikan politik? Atau Ifan, vokalis Seventeen, band yang diidolai ABG itu. Entah apa alasan kongkritnya ketika namanya terpampang sebagai salah satu caleg Partai Gerindra.

Saya amat meyakini, Ifan termasuk “buta huruf” dalam politik, apalagi langsung berjuang untuk masuk DPR Pusat. Atau Anang Hermansyah yang didapuk sebagi caleg PAN. Bukan meremehkan, tapi kapasitas seniman dan pekerja seni, yang biasanya jauh dari hingar bingar politik, tiba-tiba bicara politik, buat saya agak menggelikan dan menggelisahkan.

"musisi di parlemen: musisi yang berubah atau parlemen yang mengubah?"

“musisi di parlemen: musisi yang berubah atau parlemen yang mengubah?”

Saya hanyalah pewarta musik, tidak punya massa besar. Tapi kegelisahan yang saya rasakan ingin saya bagikan. Siapa tahu, kawan-kawan musisi kalau berhasil nangkring di DPR bisa bersuara nyaring laiknya di atas panggung konser.  Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah:

adanya perbaikan  atau gerakan pembetulan pikiran melawan penyakit puas diri. Ini jadi penting, karena mayoritas merasa perjuangan seniman yang berpolitik adalah ketika kampanye. Salah masbro! Perjuangan kalian sesungguhnya ketika sudah menjadi ”wakil”. Kalau kemudian pekerja seni lainnya tidak merasa terwakili, siap-siap Anda disumpahserapahi dan mendingan lengser.

Gerakan melawan penyakit puas diri sangat penting bagi pekerja seni, karena kita tidak mau mandeg, kita mau maju terus dan maju dengan langkah-langkah yang lebih positif dan tegas. Arti penting gerakan ini lebih besar lagi bagi para pekerja seni [tentu saja termasuk musisi] karena pembentukan jiwa, semangat, kesadaran, moral dan watak seniman banyak tergantung pada bantuan mereka di DPR kelak. Bukan mutlak, tapi kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan seniman, harus jadi acuan. Pekerja seni itu bisa jadi lurus, tapi bisa jadi oportunis. Semoga yang terpilih, adalah yang lurus.

Dulu, Presiden Soekarno pernah mengatakan kepada para pekerja seni,tentang pentingnya pelaksanaan prinsip ”berkepribadian dalam kebudayaan”. Dalam konteks kekinian, saya mengartikan bahwa seniman dalam berkarya harus meletakkan jati dirinya di atas kepentingan kekuasaan.

Kalau bicara industri  musik, jati diri musisi adalah karya-karya yang jujur, sebelum yang dijejali kepentingan label yang ini itu. Oleh karena itu menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan dengan penggemarnya adalah masalah penting bagi para musisi Indonesia.

Dulu, Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra , menolak lahirnya pelaku atau dalam katagori revisionis. Sayangnya, lembaga ini kemudian diberangus karena dianggap punya ikatan dengan Partai Komunis Indonesia. Tapi bukan soal itu yang ingin saya katakan. Musisi Indonesia harus bisa mempunyai soko guru yang jelas. Dalam pandangan Lekra, kaum revisionis adalah mereka yang bangga kalau berhasil menjiplak atau membikin barang tiruan [surrogaat] dari budaya lain. Tidak punya jati diri.

Kegelisahan saya juga adalah, musisi Indonesia tidak hanya menjadi kacung kampret dari industri musik borjuasi saja, tapi juga bisa menjadi tuan atas karyanya sendiri.

Kebanggaan atas kemampuan dan karyanya, harus dimunculkan, bukan dilebur atas nama budaya global. Dan itulah yang ingin saya titipkan kepada musisi-musisi yang kemudian memilih menjadi “corong” musisi lainnya di parlemen. Sanggup nggak?

Selfito in Concert: Saya Foto-Foto & Saya Menganggu!

Sebenarnya sah-sah saja, wong mereka yang punya duit juga. Tapi menyaksikan banyak konser musisi luar di Indonesia selalu dijejali penonton, tiket termahal yang selalu habis duluan, dan lebih heboh penontonnya ketimbang menyimak konsernya, membuat saya berpikir ada yang “keliru” tampaknya.

"mau menikmati musik atau sekadar numpang foto?"

mau menikmati musik atau sekadar numpang foto?”

BUKAN keliru promotor mendatangkan artisnya, atau bukan keliru si empunya uang menghamburkan uangnya untuk membeli tiket termahal, supaya bisa duduk paling depan. Tapi saya melihat ada perubahan kultur yang terjadi pada masyarakat urban di Indonesia. Konser [apalagi yang bertiket amat mahal –pen], adalah salah satu cara untuk kaum urban untuk menunjukkan siapa diri, siapa nama, dan posisi dalam sudut pandang kemasyarakatan. Bukan hal baru sebenarnya, tapi belakangan makin santer dan marak.

Hal lain yang belakangan ‘menganggu’ saya saat menikmati konser atau pertunjukkan musik skala apapun, adalah: selfie. Saya tidak habis pikir, saat musisi atau penyanyi sedang tampil maksimal di atas panggung, penonton di deretan depan –yang notabene tiketnya termahal—malah cekakak-cekikik menggeret temannya, untuk sekadar berfoto dengan background artis atau panggung. Perhatikan: itu dalam kondisi artis masih tampil ya. Apakah tiket mahal hanya untuk pamer dan atas nama gengsi, kemudian memamerkan foto terdepannya di social media?

Oke, saya mungkin naif dengan tren tersebut. Tapi benarkah mereka bisa menikmati konser atau lagu, sementara mereka sibuk ber-selfie dan tampak tak peduli dengan lagu atau penampilan artisnya. Pokoknya punya foto nonton konser, duduk deretan depan dan sukur-sukur bisa foto bareng artisnya, meski hanya jadi latar. Dalam psikologi ada istilah childish behaviour, perilaku pamer seperti anak-anak dapat mainan. Tampaknya manusia urban banyak yang mengidapnya.

Dalam beberapa acara musik, saya menegur penonton di depan saya. Bukannya melihat konser atau mungkin ikut komat-kamit menghapal lirik lagu, tapi malah foto-foto, tertawa-tawa, atau kalau tidak memotret dengan membawa tablet  yang ukurannya “segede gaban”. Dan penonton di belakangnya –kebetulan saya mengalaminya—jelas amat terganggu. Kalau ditegur, hanya bergeser dikit dan tetap melalukan aktivitas yang sama, hingga usai.

Salah? Tentu saja tidak, kalau berkaca pada pernyataan: uang-uang aing, kumaha aing [duit-duit gue, ya terserah gue].  Agak naif kalau zaman sekarangg bicara hal yang normatif. Meskipun benar, bisa menjadi salah karena kebanyakan orang melakukan hal yang salah itu. Akhirnya malah dianggap jadi kebenaran. Sebagai penikmat musik yang datang untuk benar-benar menikmati musik, tanpa embel mau foto-foto, nguber tandatangan, atau sekadar eksis doang, perilaku-perilaku yang katanya tren itu, amat sangat mengganggu.

Perubahan perilaku dari waktu ke waktu memang tak bisa dibendung. Tidak ikut tren, takut disebut norak atau kampungan. Padahal kalau mau jujur, perilaku tak menikmati konser dan musik, dan hanya cengar-cengir, cipika-cipiki ketika bertemu teman arisan, selfie-selfie tanpa memperhatikan kenikmatan orang lain, jauh lebih norak dan kampungan. Persetan dengan harga tiket seharga  27 juta atau 25 juta yang sudah dihamburkan. Mbok ya, sedikit empati sebelum hati mati.

 


 

Wartawan itu Pemburu Berita, Bukan Penadah Berita ‘doang

DULU, pertengahan  90an ketika saya pertama kali menjadi wartawan, ada rasa bangga yang teramat sangat. Ya karena memang itu pekerjaan dan profesi yang saya idamkan sejak SMA dulu. Sayangnya, saya harus gelisah dengan profesi yang saya agulkan itu. Banyak wartawan baru sekarang ini yang pemalas dan Cuma jadi clicking monkeys.

"wartawan jangan menjadi clicking monkey doang ya."

“wartawan jangan menjadi clicking monkey doang ya.”

TAK pernah menduga, kalau saya harus meriset pola laporan dan penulisan jurnalistik wartawan diluar Jakarta. Gara-garanya adalah berita tentang “penggrebekkan” oleh FPI dan Polisi [saya geli dengan kolaborasi dua lembaga ini sebenarnya] satu pertemuan di Semarang. Apesnya adalah, berita itu melibatkan keluarga [orangtua –pen.] saya, karena tempat kejadian itu adalah rumah keluarga saya.

Selain mencari tahu tentang apa dan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, saya mengumpulkan semua berita cetak dan online yang menulis kejadian tersebut. Kesimpulan pertamanya adalah: wartawannya pemalas!

"objektif dan berimbang, sulit memang, tapi harus!"

“objektif dan berimbang, sulit memang, tapi harus!”

Saya ingatkan kembali tentang definisi wartawan:  Menurut wikipedia, pada saat Aliansi Jurnalis Independen berdiri, terjadi kesadaran tentang istilah jurnalis ini. Menurut aliansi ini:

jurnalis adalah profesi atau penamaan seseorang yang pekerjaannya berhubungan dengan isi media massa. Jurnalis meliputi juga kolumnis, penulis lepas, fotografer, dan desain grafis editorial. Akan tetapi pada kenyataan referensi penggunaannya, istilah jurnalis lebih mengacu pada definisi wartawan.

Sementara dalam pendefinisian Persatuan Wartawan Indonesia,

hubungannya dengan kegiatan tulis menulis yang di antaranya mencari data (riset, liputan, verifikasi) untuk melengkapi laporannya. Wartawan dituntut untuk objektif, hal ini berbeda dengan penulis kolom yang bisa mengemukakan subjektivitasnya. Jadi jelas sekali ya, objektif dan mencari data.

Pelajaran pertama sebagai wartawan adalah “skeptis” bukan “penadah”.  Kecenderungan wartawan sekarang adalah “penadah-berita” saja. Mengapa saya sebut begitu, karena mereka hanya menerima tanpa pernah mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kejadian itu. Entah karena mereka malas, atau karena sebelumnya “sudah dikondisikan” oleh aparat, lembaga atau institusi. Model seperti itu sebenarnya sudah banyak terjadi dalam pemberitaan, tapi ketika harus melihat langsung kinerja media dan wartawan dengan pola itu, jujur saya: saya emosi dan gregetan.

"Jadilah pemburu berita, bukan sekadar penadah berita."

“Jadilah pemburu berita, bukan sekadar penadah berita.”

Nyaris atau malah tidak ada yang namanya cover both side. Dari sekitar 20an media yang menulis, hanya sekitar 2-3 media saja yang pemberitaannya berimbang. Sisanya hanya mengutip sumber yang sama, mulut aparat! Mau tidak mau saya harus curiga dan membuat praduga jadinya: apakah mereka adalah wartawan yang ngepos di kepolisian setempat [polsek, polres atau polda], sehingga tidak ada pernyataan, data dan tulisan kritis yang lebih tajam? Sebuah praduga yang “bodoh” karena tentu saja saya [dan Anda] mungkin sudah tahu jawabannya.

Penggunaan kosakata yang “aneh” dan tidak sesuai fakta, juga banyak digunakan. Semisal “meresahkan masyarakat”. Kalau menurut pelajaran jurnalistik yang saya terima di bangku kuliah, saya harus bertanya “meresahkan yang bagaimana?” kemudian juga “masyarakat yang mana?”. Kalau perlu saya lengkapi dengan wawancara masyarakat sekitar yang dianggap oleh aparat itu, “diresahkan”.  Tentu saja tidak ada cross check seperti itu, karena wartawan yang bersangkutan hanya “penadah”.

Kalau ada “sebab” pasti ada “akibat” itu jargon umum. Dari banyak media yang menulis, mereka hanya menulis “akibat”-nya saja. Itupun satu mulut yang dikutip sana-sini. Sayangnya juga si pemilik mulut ini, ternyata “minim data” dan hanya “berasumsi” atau “konon” saja informasinya.

Apakah wartawan mengejar dengan kekritisannya untuk mendapat informasi yang detil dan berimbang? Maaf, lagi-lagi ini pertanyaan “bodoh” karena tentu saja jawabannya adalah tidak. Wartawan tidak pernah mengutik-utik tentang “sebab” dengan cerdas. Mengapa? Tentu saja karena sebagian sudah kenal dan ngepos di institusi resminya. Apakah ada wawancara atau kutipan dari pihak “korban” ketika itu? Ah, lagi-lagi pertanyaan tolol, karena tentu saja tidak ada.

Pertanyaan saya: apakah wartawan sekarang masih bisa disebut pemburu berita? Kalau pemburu, tentu saja dia harus sigap, cepat dan cerdas menenpatkan diri, untuk mendapat buruannya dengan baik dan lengkap.

Rasanya saya harus otokritik, karena lebih suka menyebut mayoritas wartawan sekarang adalah: penadah berita doang. Semoga saya salah! 

Ide “Music Great Sale” – Kebutuhan atau Keruntuhan Industri Musik?

Saya ingin membuat pepatah baru: “Kafilah berteriak, anjing tetap menggonggong”.  Terdengar kasar? Mungkin saja, tapi apakah ada kata atau kalimat yang lebih halus untuk menggambarkan kelakuan pembajak di industri musik Indonesia? Pemerintah, pelaku industri, polisi, atau penikmat yang peduli, sudah lelah berteriak, seperti kafilah yang mulai kehabisan air, sementara pembajak sudah seperti anjing, menggonggong tak berkesudahan. Cuek saja.

"revolusi digital memang tak bisa dibendung."

“revolusi digital memang tak bisa dibendung.”

 KALAU seorang petinggi label besar yang memayungi sekitar 500an musisi mengatakan, “industri musik Indonesia sudah bangkrut!” apakah artinya juga, secara luas, industri musik sudah tidak menguntungkan lagi?Kebangkrutan bisa identik dengan tak ada keuntungan masuk sama sekali, atau ada kesalahan manajerial pada sebuah perusahaan.

Nah, apakah industri memang tak ada keuntungan sama sekali? Atau hanya ‘besar pasak daripada tiang’ saja? Sebuah topik yang sebenarnya sudah banyak dibahas, tapi saya mencoba menelisik sisi-sisi lain yang selama ini belum terungkapkan. Kalau kemudian kami memberikan ide-ide “kurang waras” sebenarnya hanya untuk mengimbangi kondisi industri yang menurut kami juga “kurang waras” ini.

Banyak perusahaan-perusahaan besar di Amerika yang tergiur dan mencoba menelisik, apa sejatinya kekuatan dan keunikan dari industri musik dan hiburan, selain pornografi. Perhatikan baik-baik, bagaimana pertumbuhan kapital melesat dari berbagai layanan yang makin mudah dan disukai masyarakat dunia. Sebutlah Pandora, Clear Channel iHeartRadio, Spotify, Radio dan MOG, serta perusahaan video online seperti YouTube dan Vevo. Bahkan Google Inc juga meluncurkan streaming, bekerjasama dengan Apple Inc. Lalu bagaimana caranya menghitung keuntungan?

Prediksi manisnya adalah selama tiga tahun ke depan, pendapatan untuk industri digital, termasuk uang dari download dan streaming lagu, diperkirakan akan tumbuh 12% setiap tahun. Sementara industri musik global secara keseluruhan akan terus menyusut, meski tak benar-benar mati. Pendapatan online streaming tumbuh 40% menjadi $ 1,1 miliar pada tahun 2012.

Sekadar catatan, jumlah pengguna musik digital secara global di seluruh dunia [termasuk Indonesia] tumbuh 9% tahun lalu menjadi 1,2 miliar dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1,8 miliar dalam tiga tahun ke depan. Itu peningkatan lebih dari 10% setiap tahun. Ini sebuah potensi yang luarbiasa, baik dari kacamata bisnis maupun kacamata pecinta musik itu sendiri.

"kalau mau berkarya untuk jangka panjang, musisi harus konsisten."  -- foto: undertheradarmagz.com

“kalau mau berkarya untuk jangka panjang, musisi harus konsisten.” — foto: undertheradarmagz.com

Di Indonesia masalah klasiknya adalah melawan pembajakan dan unduhan ilegal. Tapi kalau hanya mengeluhkan soal itu, rasanya kok tidak bijak juga. Justru kemudian sisi kreativitas lain yang selama ini tidak pernah dibayangkan, harusnya muncul.

David Kusek dan Gerd Leonhard, keduanya orang Amerika Serikat, pernah menulis buku yang menarik tahun 2005. Buku berjudul The Future of Music: Manifesto for The Digital Music Revolution ini memaparkan, bagaimana masa depan industri musik dunia, paska digital. Menurut mereka ketika itu, musik bukan lagi sebuah produk, tapi utility. Dan pelan-pelan apa yang mereka tuliskan itu mulai terlihat jelas.

Dalam bahasa mereka, industri yang masing-masing mengedepankan CD fisik, akan mengalami “pendarahan finansial’ dan harus mulai berpikir untuk menghentikan bleeding tersebut.

Ketika era digital muncul pertama kali, sempat muncul “serangan” bahwa merekalah yang sejatinya menjadi “pembunuh industri musik” secara pelan-pelan. Tapi kini –menurut Edgar Berger, chief executive Sony Music International – justru menjadi “gudang penting industri musik.” Padahal lawan sebenarnya adalah teknologi. Dalam bahasa buku di atas, teknologi  membuat musisi atau artis dan fans, tidak tergantung lagi pada industri rekaman untuk membuat dan mendistribusikan musik.

Perhatikan, sekarang, makin banyak musisi profesional, karbitan, dan coba-coba jadi musisi, yang dapat merekam album berkualitas tinggi dari studio buatan sendiri menggunakan peralatan canggih yang tidak terlalu mahal didapatkan.

Revolusi Digital: Harapan Baru Industri?

Dalam bisnis musik, tidak hanya bicara soal Indonesia, ada perkembangan yang menarik yang disebut revolusi digital. Terpuruknya industri musik secara global, konon salah satu akibat dari kegagalan mereka mengantisipasi munculnya revolusi digital tersebut. Hal ini terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

"dengan 20 juta, album sudah beredar di lapak bajakan seluruh indonesia. mau?"

“dengan 20 juta, album sudah beredar di lapak bajakan seluruh indonesia. mau?”

Ketika format CD fisik mulai seret dan akhirnya mengalami kejatuhan, banyak musisi dan label bergantung pada ring back tones. Sayang, banyak aturan main yang dilanggar sehingga akhirnya RBT pun mengalami masa kegelapannya. Dan kegelapan itu menyebar ke seantero jagat musik. Mereka kebingungan, apalagi yang harus dimunculkan untuk membangunkan “detik-detik kematian” industri musik itu.

Menurut data dari Federation of the Phonographic Industry tahun 2013 –seperti dikutip dari nytimes.com –  ada peningkatan penghasilan global meski masih berkubang dengan keterpurukan industri musik yang meluas. NYT melaporkan, setelah bertahun-tahun industri musik kebingungan dengan fokusnya, akhirnya ada kabar gembira soal peningkatan penghasilan itu. Perusahaan-perusahaan rekaman yang kemudian berbenah diri menghadapi revolusi digital, pelan-pelan bisa bangkit.

Fakta dan data di atas jelas menunjukkan, ada pergerakan yang signifikan dari sebuah masa lalu yang konvensional menuju era digitalized. Dalam buku The Death and Life of The Music Industry in The Digital Age [2013] tulisan Jim Rogers, pakar komunikasi  dari Irlandia, dipaparkan: akhirnya perusahaan-perusahaan musik yang sebelumnya ketakutan dengan efek digital, sepakat “berdamai” dan merumuskan strategi inovatif mencermatinya.

Mencintai Bukan Melukai

Saya, Anda  dan kita sering mengaku sebagai pecinta musik Indonesia. Terserah mau lagu dan artis siapa, tapi yang jelas karya musisi Indonesia. Mau suka lagunya Wali, Dewa 19, Afgan, Fatin, atau Waljinah sekalipun, tidak ada masalah. Selera tak bisa dilawan. Kita tak bisa menghakimi seseorang atas selera musiknya. Cara mudah menghargai dan menyayangi musik Indonesia, adalah dengan memberi apresiasi kepada sesama kita yang mengidolakan musik Indonesia.

musik harusnya selalu memberikan kegembiraan dan kebaikan.

musik harusnya selalu memberikan kegembiraan dan kebaikan.

Saya mungkin bakal geleng-geleng kepala ketika orang dihina hanya karena suka musik Indonesia yang dianggap “kampungan”. Saya mungkin akan emosi, ketika penyuka musik tradisi Indonesia dianggap tak bermartabat.  Atau saya akan protes, kalau musik atau musisi bule, selalu diagulkan dengan superior.

Bagaimana kalau saya mengusulkan, beberapa aksi untuk musik Indonesia? Mungkin rada nyeleneh tapi inilah cara radikal dan revolusioner supaya musik Indonesia benar-benar diletakkan pada posisi yang sejajar dengan musik non-Indonesia dan secara masiv dinikmati jutaan penikmatnya.

  • Music Great Sale

Usulan ini belajar dari festival belanja fashion di beberapa negara, termasuk Indonesia. Coba, siapa yang tidak tahu Jakarta Great Sale? Atau mungkin menyeberang sedikit ada Singapore Great Sale? Pada saat itu, semua mall dan pusat-pusat perbelanjaan terkenal, memberikan potongan harga “rada gila-gilaan” untuk pelanggannya.

Mengapa tidak membuat Jakarta Music Great Sale, Semarang Music Great Sale, atau Jogjakarta Music Great Sale? Gerakan ini khusus untuk musik Indonesia yang original. Selama sebulan penuh misalnya, semua toko musik, mall, atau toko-toko CD menjual item-item tertentu dengan harga ‘super miring’. Tentu sudah ada kesepakatan di antara para label untuk menjual CD dengan harga murah dan masuk akal.

Kemudian dalam lingkup yang lebih kecil lagi dibuat juga di kota-kota kotamadya atau kabupaten di berbagai daerah. Kalau dilakukan secara reguler dan masiv, masak sih tidak bergaung? Kecuali pelakunya punya kepentingan-kepentingan terselubung yang tidak diketahui. Kalau itu terjadi, mereka sudah “menggunting dalam lipatan” dan memang ingin industri musik nyusruk senyusruk-nyuruknya.

  • Kampanye Nonton dan Ngadain Konser Lokal

Benar-benar kampanye, seperti kampanye caleg yang tidak jelas juntrungan nama, kiprah dan partainya. Tapi biar sedikit elegan, tidak ada tempelan di dahan, atu umbul-umbul memalukan. Coba kampanye di televisi seperti para capres memamerkan programnya.

Mungkin bakal lebih mengena memasang tampang-tampang artis lokal yang bakal berkonser, ketimbang politisi yang lebih sering di-bully di social media ketimbang dipuji. Pesannya jelas: perbanyak konser musisi lokal, dan perbanyak nonton konser musisi lokal.

Promotor harus punya regulasi, berapa kali menggelar konser asing, dan berapa kali harus menggelar konser lokal, Perbandingannya harus lebih banyak konser lokal. Musisi lokal tentu juga harus bersiap dengan banjir tawaran konser. Mereka harus siap dengan konsep, dengan fashion yang enak ditonton, dan aksi panggung yang bagus, jangan norak.

  • Angkringan Musik Digital

Ini kelanjutan dari dua usulan di atas. Penikmat musik Indonesia, tidak hanya berasal dari kalangan borjuis, tapi justru lebih banyak yang proletar. Nah, diasumsikan pengunduh ilegal berada di dua kalangan ini, industri musik [baca: label] harus berani bikin terobosan yang terkesan ndeso, tapi efektif.

Kalau ada angkringan nasi kucing yang legendaris, mengapa tidak bikin “angkringan lagu”. Bikin lapak CD murah, pengunduhan lagu legal, tapi dengan konsep angkringan. Harganya murah, tapi tetap bisa menguntungkan. 

Bisa disinergikan dengan nasi kucing beneran, atau apapun yang menarik minat pecinta musik untuk mencintai musik Indonesia dengan nyata.  Mosok, selalu kalah langkah dengan pembajak yang kurang ajar itu?

jangan asal teriak & ngomong di depan media. pastikan pengaruhnya positif.

jangan asal teriak & ngomong di depan media. pastikan pengaruhnya positif.

Semua ide itu mungkin sudah pernah disampaikan atau malah sudah pernah coba dilakukan. Tapi keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan, harus dimunculkan.

Mencintai dan menyayangi musik Indonesia, harus dilakukan dengan banyak cara yang sejati. Kalau melakukan hal yang melukai, artinya kita melakukan “kebohongan besar” kepada musik Indonesia itu.

Sadar atau tidak, kita pelan-pelan sudah membunuh industri musik itu sendiri. Mau begitu?

Musik [Bagus] Sudah Mati & ‘Mayat’ Musikalnya Terbujur Kaku?

Musik adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu untuk pendengarnya” [Nietzche]  

musik-jelek

“bermusiklah dengan hati, bukan dengan kesombongan skill”

BEBERAPA hari terakhir, ungkapan itu terus menghantui pikiran. Tentu saja, hal ini tidak otomatis berarti saya setuju dengan ungkapan yang diucapkan salah satu filsuf terkenal Jerman. Tapi seandainya kita bicara dalam konteks kekinian, dimana musik benar-benar menjadi “ajang-pamer kreatifitas”  yang tidak selalu pada tempatnya, bisa-bisa filsuf itu tertawa melihat banyak orang yang menghujat pemikirannya itu.

Banyak orang dengan secara gampang menyatakan bahwa semua genre musik itu sama bagusnya. Kenyataannya tidak demikian, karena kalau benar adanya, maka manusia dengan mudah bisa gonta-ganti pilihan musikal sesuka hatinya, seperti juga ganti pakaian. Tapi yang terjadi, ketika satu musisi memainkan genre yang biasanya dia mainkan dan dikenal oleh publik, akan langsung dihujat sebagai satu ‘pelacuran musisi’. Kalau tidak, akan disebut fanatisme musikal.

Landasan untuk kritik fanatisme musikal adalah: manusialah yang menciptakan musiknya, bukan musik yang menciptakan selera manusia. Dalam filsafat, musik adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri.

Musik itu Candu?

Kalau Karl Marx pernah mengatakan ‘agama itu candu’ bagaimana kalau sekarang saya katakan, bahwa musik itu [juga] candu? Dan musik pun akhirnya menjadi satu “virus” yang membuat manusia kadang terpecah. Mengapa? Musik menjadi candu yang mengharuskan orang melakukan celotehan yang menghujat genre lain.

Dan musik itu candu. Anda terpukau dengan aransemen para komposer. Yang tidak suka dan mencoba mengkritisi akhirnya harus rela menjadi “musuh’  dari fans-fans fanatiknya. Candu musik kadang-kadang sudah “menghisap” logika dan kemanusiaan, mesk musik juga bisa jadi sarana penguat tekanan politik atau sosial. Musik itu Candu. Kita terpesona dengan keindahan aransemen dan ketakutan dengan fanatisme penggemar.

Darimana lahirnya genre musik? Apakah Tuhan menurunkan bakat bermusik? Apakah Tuhan “pelit” dan ‘diskriminatif’ sehingga hanya memberi talenta itu kepada manusia-manusia tertentu dihadapan-Nya? Musik itu candu, karena membuat kita ‘addict’ dan ‘high’ dengan lirik gombal, lirik optimis, kadang-kadang lirik  kasar dan menghujat.

Menurut Nietsche:

Jika semua musik memang memang merasa benar sendiri, penting diyakini bahwa rentang panjang industri musik itu itu terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan jalan keluar penggemar musik-musik jadul, sebelum memasuki kamar surganya.”

 Saya termasuk yang meyakini, bahwa musik tradisi bisa berakrab-akrab dengan genre lain yang dianggap lebih modern, tapi tak hanya sebagai tempelan, tapi juga bisa juga jadi pemeran utama. Persoalannya, apakah masih banyak musisi yang di sela senggangnya, mengelaborasi kreatifitas? Kalau peminatnya sedikit, itu artinya musik sebagai candu memang benar adanya. Dan siap dimatikan!

Anda begitukah?