gitar1

Kilas Balik Lahirnya Alat Musik

Terkadang saya penasaran, bagaimana sebenarnya sejarah musik dan alat musik itu lahir. Gampang saja sih,  di Google menyediakan banyak informasi dan referensi yang saya butuhkan. Entah penting atau tidak, beberapa literature itu saya kemas dalam gaya saya. Berguna? Entahlah, saya hanya sekadar berbagi wawasan. Semoga sih jadi bermanfaat.

"perkusi adalah alat musik pertama yang dikenal manusia kuno"

“perkusi adalah alat musik pertama yang dikenal manusia kuno”

DALAM salah satu catatan prasejarah, khususnya tentang musik, ditemukan bahwa [mungkin] bentuk paling awal dari musik itu basic-nya adalah drum. Mengapa? Karena sebagai ritual, alat music perkusi yang paling mudah dicari dan dilakukan adalah batu atau tongkat. Ketika era animisme dan dinamisme masih menjadi bagian kuat manusia. Tentu saja kita belum menemukan notasi atau komposisi yang hanya bisa diekstrapolasi dari musik-musik kuno yang menjalankan praktik agama kuno juga.

Perkembangan yang cukup evolusioner, ditemukan pada orang Mesir. Diperkirakan tahun 4000 SM, mereka telah menciptakan kecapi dan seruling. Bahkan juga ditemukan alat musik semacam clarinet. Di Denmark, 2500 SM, bentuk awal dari sangkakala [leluhur terompet –penulis], juga sudah dibuat. Dikenal dengan sebutan ‘Terompet Alam’, yang memainkannya bermuara pada manipulasi bibir untuk mengubah pitch.

Nah, revolusi penemuan alat musik, mungkin yang paling popular tahun 1500 SM oleh orang Het. Mereka menemukan alat musik yang kelak disebut gitar. Sudah menggunakan frets untuk mengubah pitch dari string.  Sementara Pada 800 SM komposisi rekaman music pertama ditemukan. Itu ditulis dalam cuneiform dan himne keagamaan. Perlu dicatat bahwa itu bukan tipe notasi musik. Sementara 700 SM ada catatan dari lagu yang mencakup vokal dengan instrumental. Ini menambahkan dimensi baru musik: iringan.

kamties

Ngoprek Otak Semprul ENDANK SOEKAMTI

Era sekarang,  saya harus “menertawakan” musisi [band atau vokalis], yang hanya mengandalkan promosi konservatif dan konvensional dari labelnya saja. Di dinasti yang disebut sebagai dinasti kreatif ini, pemikiran cerdas soal promosi yang efektif, jadi amat penting. Ide-ide unik, liar dan non mainstream, harus muncul cepat. Dan untuk konsep-konsep unik dan nyeleneh, tapi cerdas, saya harus sebut [lagi] nama: Endank Soekamti.

"Kamties Sak Modare!" -- foto: soekamties.com

Kamties Sak Modare! – Ary, Dory & Erix” — foto: soekamties.com

SEBENARNYA, saya di blog ini sudah termasuk sering mengupas trio band pop-punk asal Jogjakarta ini. Tidak melulu bicara soal album-albumnya yang sebenarnya secara penjualan “tidak laku-laku amat” tapi punya jadwal off-air yang nggegirisi. Diluar sisi musikalnya, Dory Soekamti, Ary Soekamti, dan Erix Soekamti, adalah juga entrepreneur yang cukup berhasil. Kalau sekadar jadi pembicara motivasi untuk sukses anak-anak muda, mereka masih bisa saya jagokanlah.

Lalu bagaimana kiprahnya sebagai musisi? Band yang kini benar-benar do it yourself atawa murni independen dari major label ini, tentu harus rajin memutar otak, untuk tetap bisa bersaing dengan kiprah promosi label-label yang punya bujet besar.  Dalam beberapa kali obrolan dengan Erix Soekamti, basis sekaligus vokalis sangarnya, kini band ini tak hanya jadi kesenangan bermusik doang, tapi juga [harus bisa] memberi penghidupan secara ekonomi kepada penggawa-penggawa di sekitarnya. Siapa mereka? Keluarga, kru, dan fans-fansnya juga.

Setelah sukses dengan boxset album 4 #Angka8, kini mereka melakukan langkah serupa dengan melepas boxset untuk album bertajuk Kolaborasoe. Satu judul yang bisa memunculkan dugaan-dugaan miring, tapi sekaligus membuat orang penasaran. Sekadar menelisik, isinya memang kolaborasi Endank Soekamti dengan 13 kolaborator diantaranya : Slank, GIGI, Naif, CJR, Pongki Barata, Pure Saturday, Cherrybelle, Dewa 19, Didi Kempot, Kemal Palevi, Jarwo [tokoh serial animasi  Adit Sopo Jarwo], Es Nanas, Tom Kill Jery. Dan tentu saja jumlahnya terbatas, dengan berbagai bonus yang hanya bisa didapat kalau kita membeli boxset yang asli.

Buat saya, trio nyeleneh ini, benar-benar melepas semua isi otaknya setiap menggarap album baru. Bukan sekadar isi materi lagunya, tapi seperti apa kemasasan album sampai strategi promosi yang efektif.

Oh ya, band ini termasuk band dengan militansi penggemarnya yang aduhai. Tak hanya rajin menyambangi konser-konsernya, tapi Kamties –nama fansnya—juga pembeli aktif nyaris semua merchandise, terutama kaos yang memang unik dan desainnya keren.  Ini tentu tak lepas dari ‘amburadulnya otak’ mereka, sehingga ide-ide tak terkira berhamburan.

Dari beberapa literatur marketing, saya sok-sokan menganalisa, apa sebenarnya kelebihan band tanpa personel tampan ini. Dan dengan keminter, saya menemukan ada beberapa hal yang membuat mereka selalu memunculkan cerita unik di setiap albumnya.

 

  1. Endank Soekamti Sangat Paham Kamties-nya.

Perjalanan kariernya yang cukup panjang, tentu membuat personelnya paham bagaimana karakter fansnya, dan bagaimana mencari atau menarik penggemar-penggemar baru yang cukup militan dan fanatik.  Ini sangat perlu untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil setiap merilis album.

 

  1. Mengemas Produknya Dengan Spesial

Perhatikan setiap album Endank Soekamti. Selain kovernya yang “bercerita” dan dibuat menarik, kemasannya juga membuat kita gregetan untuk membelinya. Setelah dua kali boxset, tampaknya di album berikutnya, langkah itu tak akan dipakai lagi, untuk tetap memberikan efek kejut kepada penggemarnya. Penasaran dan tentu saja geregetan yang mereka ciptakan, sudah dijamin menjadi euphoria bagi Kamties-nya. Saya berani bilang, produk album dari band gemblung ini selalu baru, unik, istimewa dan memiliki nilai lebih di mata penggemarnya.

 

  1. Menjaga Kualitas Mutu Album & Soliditas Personel

Hal ini penting sekali, namun, sayangnya, juga sering diabaikan para musisi independen. Alangkah mubazirnya apabila kepuasan yang sudah fans dapatkan, kita khianati dengan kelalaian kita sendiri dalam menjaga kualitas music, lirik, aransemen dan recoroding-nya sendiri, karena buruknya produksi. Mereka wajib mencamkan pepatah klasik: “mempertahankan sesuatu hal yang berharga lebih berat dan lebih penting ketimbang merebut atau meraihnya untuk pertama kali”. Beberapa terobosan, inovasi, selalu muncul di setiap album Endank Soekamti.

Dalam skala lebih kecil, beberapa band sebenarnya sudah atau sedang melakukannya. Pendulum misalnya. Band progressive rock karatan asal  Jakarta ini, melepas CD album Progpaganda-nya, dengan kemasan handmade yang ekslusif. Meski pembuatannya ribet dan perlu waktu yang cukup lama. Tapi untuk kolektor, model-model beginian, tidak akan dilepaskan begitu saja. Atau Tony Q Rastafara, dengan merilis album konsep gelang USB. Dan beberapa musisi lain juga melalukan hal-hal unik dan kreatif yang patut diapresiasi. Tapi Endank Soekamti memang punya pecahan otak yang lebih memburai, jadi tampaknya ide-ide aneh, nyeleneh, unik dan mengejutkannya belum akan berhenti.

Hidup itu tidak selalu lurus, kadang ada beloknya. Endank Soekamti berani melakukannya.

 

 

 

u-19

Timnas U-19 Gagal? Yuuk..Siapkan ‘Caci Maki’ & Komentar ‘Sok Tahu’

Siapkan serapah! Siapkan hujatan yang paling pedas! Siapkan caci-maki yang paling menyakitkan. Siapkan catatan-catatan yang menggurui dan terlihat cerdas dan paham! Siapkan alasan-alasan yang seolah-olah masuk akal dan benar! Dan yang paling penting dari semuanya, siapkan binatang yang paling disukai dan popular: kambing hitam.

"kegagalan biasanya langsung disambar dengan sumpah serapah." -- foto: JPNN.COM

“kegagalan biasanya langsung disambar dengan sumpah serapah.” — foto: JPNN.COM

NAGA-NAGANYA, Timnas sepakbola U-19 yang sebelumnya digadang sebagai tim masa depan bola Indonesia, bakal menerima kenyataan pahit di negerinya sendiri. Kebiasaan pejabat, pengamat, dan penasehat yang biasanya duduk manis di birokrasi dan organisasi, selalu berkelit dengan lincah, berkoar di media dan –saya ulang—mencari kambing hitam. Seolah semua yang sudah dilakukan oleh Timnas U-19 kemudian menjadi sebuah aib dan kesalahan besar yang [wajib] dicaci maki. Padahal ketika sukses, semua berebut panggung seolah merasa berandil dalam kiprahnya.

Saya hanya penyuka sepakbola, lazimnya laki-laki penggemar lainnya. Bukan pemilik fanatisme gila-gilaan, yang kemudian mengubah saya menjadi pengamat dadakan dan “pelatih” sekejab. Berceloteh soal taktik, “harusnya begini” atau “harusnya begitu” yang tidak jelas. Tapi itulah yang sering dan banyak terjadi di negeri ini. Dalam realitas sosial yang saya amati beberapa tahun [dan sudah menjadi buku –penulis], pemuja, dalam sedetik menjadi penghujat.

Saya tertarik menyoroti U-19, karena prosesi mereka ke level dunia, sebenarnya juga naik turun, termasuk diperlakukan tak enak oleh induk organisasinya. Tapi mereka juga banyak mendapat limpahan sorotan ketika  sempat menuai prestasi menarik dan memberi harapan sebelumnya di Piala AFF U-19. Impiannya memangg masuk Piala Dunia U-20, yang syaratnya adalah harus lolos 4 besar di Piala Asia yang saat ini berlangsung di Myanmar. Sayang, harapan itu belum terpenuhi sekarang. Lalu, mereka gitu yang salah?

Saya tak ingin bicara soal Timnas U-19, tapi lebih kepada sikap yang dipertontonkan banyak orang menyikapi kegagalan mereka. Ada yang menyebut ‘manajemen warteg’ sebagai biang kerok, arogansi Indra Safri, pelatnas kepanjangan, dimanja oleh media, eksploitasi televisi, dan bermacam-macam.  Intinya, setelah kegagalan, seolah semua borok keluar dan itu menjadi “benar”.

Betapa kita tak pernah menyadari arti dari kata “harapan”. Betapa kita selalu meremehkan arti kata “perjuangan”. Kita juga menganggap enteng arti  “doa”.  Harapan itu selalu ada, bahkan dalam kondisi yang sedang gelap sekalipun. Timnas U-19 [dan adik-adinya nanti] buat saya adalah manifesto dari “harapan.” Mungkin sedang kuncup dan perlu disiram lagi, tapi jangan langsung dipatahkan rantingnya. Selalu ada harapan bahkan ketika dianggap sedang berada pada level kegagalan terburuk sekalipun.

“Perjuangan” juga diremehkan. Seolah apa yang sudah dipertontonkan dengan melakukan yang terbaik, meski belum barhasil, adalah kekurangsiapan. Bahkan, seorang Superman atau Iron Man yang punya kekuatan ‘khayali’ super pun punya persiapan untuk memakai tenaga supernya. Sudahlah, jangan remehkan rasa kebangsaan dan nasionalisme –kalau itu kemudian juga disebut-sebut sebagai biang kerok.  Sudahlah, segera evaluasi dan cari jalan terbaik, tanpa harus merasa perlu “mengorbankan” satu harapan yang sudah kita punya.

“Doa” adalah itikad selanjutnya. Pemahaman saya, “doa” adalah sebuah permohonan yang kita ucapkan kepada siapapun “DIA” yang kita anggap punya “kuasa” memberikan energi lebih. Jelas berbeda-beda kepada ‘siapanya’ tapi itu tidak penting, karena ketika sudah diucapkan, tujuannya Cuma satu: kekuatan yang melingkar. Tak terputus dan sambung menyambung. Harapannya, bisa menjadi “daya linuwih” ketika sudah dipanjatkan. Soal kemudian tidak [atau belum] berhasil, rasanya kita tak serta merta langsung menjadi penghujat “Dia” juga bukan.

Kalau Anda [dan kita] masih tidak bisa memahami “harapan” – “perjuangan” –  dan “doa” tadi, seperti yang saya tulis di awal tulisan ini, siapkan saja segala hal yang berhubungan dengan kambing hitam. Sekadar mengingatkan: sekali Anda menghujat, kekuatan melingkar itu, akan membelah dan melemah. Memang tak ada gading yang tak retak, tapi gading retak masih bisa diperbaiki biar tidak terbelah kok.

lucu

Selamat Datang Generasi Idiot Baru: Generasi Ndingkluk

“Aku takut pada hari dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi yang idiot” [Albert Einstein]

Berbahagialah Anda yang lahir sebelum era smartphone ada. Bergembiralah Anda yang tumbuh besar tanpa repot dengan urusan tablet, phablet, atau gadget-gadget yang membombardir mata, dan mengulik hasrat untuk memilikinya. Phone semakin smart, tapi people penggunanya makin stupid. Kok bisa? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Albert Einstein dalam kutipan di atas.

"selamat datang generasi ndingkluk, generasi idiot baru"

“selamat datang generasi ndingkluk, generasi idiot baru”

SETIAP berkumpul dengan kekasih, kawan, sahabat atau kenalan, saya nyaris seperti alien. Makhluk asing yang tidak dikenal. Bedanya, mereka tidak ada yang takut dengan “makhluk asing” itu, karena ternyata mereka –kawan-kawan saya itu—menjadi lebih asing ketimbang saya. Bagaimana tidak, semuanya ndingkluk [bahasa Jawa, artinya ‘menunduk’], menjadi budak gadget. Betul istilah saya menjadi budak, karena era sekarang adalah era dimana manusia dikendalikan, bukan mengendalikan.

Peran gadget begitu menggurita, bahkan banyak yang menganggapnya  istri atau suami kedua, setelah manusia beneran. Percaya atau tidak, penggunaannya sering ‘mengalahkan’ hidup penggunanya. Mereka, benar-benar menjadi “Generasi Ndingkluk’ yang menjadi kacung dari gadgetnya. Bayangkan, setiap bangun tidur, yang dicari pertama adalah gadget. Seperti kehilangan raga ketika gadget terrtinggal atau hilang. Seolah dunia sudah menjauh dan hidup tak berguna, tanpa gadget.

Jika dulu ketika di halte menunggu bis, naik kendaraan umum, menunggu di puskesmas, di stasiun, di bandara, mengantri dokter, menunggu antrian, orang tua kita dulu  biasa bertegur sapa dengan yang lainnya bahkan mengobrol akrab. Sedangkan pada generasi smartphone ini banyak berubah, masing-masing kita lebih sering menundukan kepala sibuk dengan ponselnya, bertegur sapa mungkin hanya sesekali setelah itu menunduk lagi.

Jangankan di tempat umum, dalam rapat, diskusi, silaturahim teman lama (reunian) bahkan ketika silaturahim keluarga pun sekarang lebih sering menunduk lebih asik ber BBM-an, WA-an dengan teman dibalik layar. Mungkin hanya generasi tua saja yang asik berbincang.

Ya, kehebatan smartphone sudah berhasil menundukkan penggunanya. Kultur Indonesia yang ramah nan santun ‘sebanyak-banyak’ sudah mulai terkikis. Saya harus katakan, gadget sudah menjadi ilah lain yang menguasai hajat hidup orang banyak.  Perhatikan, dalam perhelatan sebesar apapun, kita tidak akan menemukan kehangatan perbicangan yang dekat, mungkin mereka bicara tapi dalam konteks gadget tentu akan sangat berbeda.

Tidak ada interaksi fisik dan komunikasi visual yang jelas. Semua seperti gagu fisik, tapi aktif virtualisasi-nya. Sekarang juga bermunculan yang namanya toko virtual, gereja virtual, masjid virtual, Tuhan virtual dan seabrek perbendaharaan virtual lainnya. Saya malah curiga, pengguna gadget itu sejatinya manusia nyata atau manusia virtual ya?

Saya tidak anti gadget tentu saja, tapi benar-benar terganggu dengan penggunanya benar-benar jadi generasi ndingkluk tidak kenal dan tak akrab dengan sekelilingnya. Karena argumentasi mempercepat pekerjaan dan komunikasi, selalu jadi bemper untuk mempertahankan mentalitas virtual itu.

Ajakan saya selalu kembali kepada kemanusiaan yang hakiki. Manusia yang berinteraksi dengan manusia lain. Kalau kemudian peran gadget sudah demikian kuatnya menjadi ‘tuhan’, saya tetap memilih berada di area kemanusiaan. Meski mungkin pilihan itu untuk zaman sekarang jadi “aneh”. Persetan ah…

*ndingkluk: menunduk

Kutipan

Ketidakmungkinan Yang Disemogakan

Secara sintaksis, kalimat yang jadi judul di atas agak “aneh” memang. Sedikit tidak lazim. Ketidakmungkinan yang disemogakan. Tapi kalau kita sedikit berpikir “meliar” kalimat itu punya pengejawantahan yang bisa amat dalam, tapi bisa juga tak berarti apa-apa atau tanpa makna.

"terjebak di antara ketidakmungkinan ang disemogakan"

terjebak di antara ketidakmungkinan yang disemogakan”

PERMAINAN  kata yang muncul memang memberi banyak teka-teki. Ini bisa jadi seperrti maze, atau labirin yang perlu berputar-putar dulu sebelum menemukan jawabannya.Bagaimana mungkin sesuatu yang jelas-jelas tidak mungkin, malah disemogakan.

Ibarat doa, kalimat itu semacam permintaan yang [mungkin] saja Tuhan tidak kabulkan. Mengapa? Karena terjerat aturan yang disebut norma, pranata, atau tata krama. Entah siapa pembuatnya, tapi itu kesepakatannya.

Lalu apakah itu menjadi kalimat atau kata-kata yang hanya sekadar jadi kata-kata tanpa makna? Tidak ada upaya perlawanan atau ‘menuntut” untuk “semoga” itu menjadi “terjadi”. Entahlah, karena kalimat itu sebenarnya menunjukkan keinginan, sekaligus keraguan. Ragu untuk mencapai, tapi ingin ada di tujuan itu. Ada niat, tapi ada sedikit ketakutan. Kalimat dan kata-kata yang terbaca paradoksal.

Dalam konteks politis, kalimat itu tentu amat bersayap. Yah, sedikit harapan untuk mendapatkan apa yang menyenangkan. Paling tidak ada kans untuk punya harapan. Soal hasil akhir, memang hasilnya tidak melulu sama dengan apa yang diharapkan. Kalau dalam bahasa filsafat das sein tidak selalu das sollen. Delusi dan konklusi juga tidak linier.

Ada kalanya, keinginan untuk mendapatkan sesuatu tampak tak mungkin, tapi berharap itu menjadi mungkin, tidak pernah dilarang kok.

ELEMENT: “Dulu Kami Selalu Menurut Maunya Industri, Sekarang Tidak!”

Disebut-sebut sudah ‘bubar’, Element malah merilis album baru. Tak baru-baru amat, karena hanya ada dua lagu baru, selebihnya hanya aransemen dan bintang tamunya yang baru. Kepada penulis, Didi Riyadi [drum], Ferdy Tahier [vokal], Ibank [bass],  Fajar [kibor], Arya [gitar] membantah ‘beronani musikal’ paska hiatus lima tahun. “Ini masterpiece,” kilah mereka.

"element band ketika merilis album terakhirnya."

“element band ketika merilis album terakhirnya.”

Sebenarnya kalian sudah punya sejarah apik sebagai band, tapi kini malah bikin sejarah baru yang belum tentu hasilnya menyenangkan. Apalagi yang kalian cari?

Sejarah Element itu tidak pernah berhenti. Benar, kami dikenal dengan kisah dan lagu-lagu yang disukai. Tapi ketika kami hiatus selama lima tahun, ternyata masih banyak fans yang mengikuti dan menanyakan perkembangan kami. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk musik kekinian, Element coba hadir dengan album terakhir yang fresh, elegan, dan diharapkan jadi cerita dan sejarah baru yang tidak kalah apik.

Album terakhir?

Betul. Album yang kami beri judul ‘Save The Best For Last’ ini merupakan album terakhir Element. Benbar-benar terakhir, tidak ada album lagi nanti, karena kami akan mempersiapkan diri di tempat lain. Karena terakhir, kami membuatnya dengan maksimal. Dari aransemen, nyaris semua aranjer hebat kami libatkan seperti Andi Rianto, Indra Q, Andy Ayunir, dan Fajar Budiman. Secara cost, album ini juga makan biaya yang lumayan besar. Tapi secara hasil, kami semua puas, karena seharusnya dari dulu kami sudah melakukan hal ini.

Ini seperti dendam lama atau hanya ‘onani musikal’ ketika industri tak bisa Element tebak lagi?

Ini permintaan fans sebenarnya. Selama kami vakum, banyak banget yang menanyakan kelangsungan Element dan album barunya. Selain itu dibilang dendam lama juga bisa, karena dulu kami kan terbentur dengan industri yang mengharuskan kita begini begitu. Sekarang, ketika kami benar-benar independen, semuanya kami tumpahkan seperti yang kami mau, tapi tetap tidak menghilangkan warna Element-nya.

Oke, akhirnya Element yang senior-senior ini akan undur diri. Lalu apa yang sedang kalian rencanakan kemudian. Kalau kelak kalian muncul-muncul lagi, berarti menjilat ludah sendiri dong?

Memang, kami sudah merencanakan setelah album terakhir ini, mundur dan menjadi orang-orang di belakang layar. Impian Element selanjutnya adalah melahirkan Element-Element Junior di industri musik. Artinya, kami ingin mengorbitkan musisi atau artis baru sesuai dengan kriteria yang kita inginkan. Bagaimanapun, musik sudah jadi hidup kami, jadi apapun yang dilakukan, pasti masih berhubungan dengan musik juga.

KRAKATAU BAND: “Ada Ketidakseimbangan Antara Estetika dan Industri Musik”

Era 80an, disebut-sebut sebagai ‘puncak’ kreatifitas musik dunia, termasuk Indonesia. Krakatau adalah nama band yang layak disebut sebagai salah satu penghuni keindahan musikalitas era itu. Sayangnya, seperti laiknya band-band lain, Krakatau juga dijejali personel yang berganti-ganti. Beruntungnya, mereka masih mau mengelar konser reunian. Beruntung juga, penulis bisa mengulik dibalik ngumpulnya Indra Lesmana [kibor], Dwiki Dharmawan [kibor], Gilang Ramadhan [drum], Pra Budi Darma [bass] Donny Suhendra [gitar] dan Trie Utami [vokal].

"personel utuh krakatau band" -- foto: newsmusik.co

“personel utuh krakatau band” — foto: newsmusik.co

Puluhan tahun berpisah dan berkarya sendiri-sendiri, bagaimana rasanya bisa ngumpul lagi di band yang membesarkan kalian dulu?

Tentu saja jadi momen yang luarbiasa buat kami. Kami merasa puas banget, apalagi  ternyata banyak penonton yang benar-benar siap dan tahu dengan materi-materi lagu yang kami bawakan. Itu seperti energi yang menyenangkan ketika kami terima.

Saya melihat Krakatau lebih rileks dan tetap bisa bersinergi dengan santai, meski mungkin sudah lama tidak main bareng. Betul begitu?

Secara materi, sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan awal kita berkarier dulu. Betul, kami sekarang lebih tenang dan rileks, tidak tegang. Dulu mungkin kami masih muda ya, jadi kadang-kadang muncul deg-degan di atas panggung. Jujur saja, kami semua merasa have fun dan ternyata fun itu memberi energi yang bisa kita share kepada penonton.

Perjalanan panjang Krakatau, membuat Anda paham betul bagaimana indutri musik Indonesia berevolusi. Tapi ada nggak yang membuat Anda eneg, tapi Anda harus tetap bertahan di tengah rasa itu?

Dari sisi industri, musik Indonesia itu tidak menampilkan genre dan eksplorasi yang luas, itu-itu saja. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Kalau kami bilang, ada ketidakseimbangan antara estetika di industrinya. Diluar itu, Krakatau harus juga memperhatikan penggemar lama dan baru, supaya kami tetap punya semangat untuk berkarya dengan bagus.

Kalau dihubungkan dengan musik kekinian, bagaimana Krakatau menerjemahkan karya-karya yang sudah dibikin?

Mungkin lagu-lagu Krakatau itu bisa disebut lagu yang peka zaman. Artinya, lagu-lagu kami tidak akan lekang oleh waktu dan bisa dibawakan pada era apapun dengan sama enak dan menariknya ketika pertama kali ditampilkan dulu. Kami ingin, setiap lagu kami bisa jadi materi yang enak dinikmati kapan saja.