Industri Musik Memang Lagi Sakit!

BANYAK yang bilang, industri musik Indonesia sekarang ini sedang mengalami fase yang paling menyedihkan dalam satu dekade terakhir. Indikasinya tak hanya soal omzet penjualan CD fisik yang menukik tajam, tapi juga menggilanya bajakan [lagi] yang kini nyaris menggerus 100 % karya anak negeri. Saya bilang nyaris, karena data terakhir yang dilansir ASIRI mencapai 98 %.

DALAM sebuah diskusi beberapa waktu lalu, terungkap juga bahwa pembajakan di Indonesia sudah merugikan negara sebesar 4,5 trilyun. Bukan main-main, karena angka itu diungkap oleh Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan yang juga seorang musisi [pemain piano dan pemilik label musik]. “Potensi kerugian negara mencapai 4,5 trilyun per tahun,” ungkap Gita.

"jangan sampai industri musik akhirnya berakhir dengan nisan kematian"

“jangan sampai industri musik akhirnya berakhir dengan nisan kematian”

Tapi bukan soal potensi kerugian itu yang akan saya bahas. Saya ingin menyoroti bagaimana di tengah terpuruknya industri ini, masih saja ada orang yang tertarik menjadi artis dan kemudian membuat label sendiri. Dalam sebuah obrolan bersama beberapa kawan yang pernah membuat label dan bekerja di label, terungkap satu benang merah yang kalau saya simpulkan kira-kira begini: “mencari artis [baca: musisi –red] kita harus punya kemampuan psikologi, bukan hanya kemampuan seorang ahli ekonomi atau marketing!”

Pernyataan ini sejurus dengan apa yang dikatakan seorang pakar ekonomi, Giovanni Gavetti dari Harvard Business School, Amerika Serikat.  Jika saya hubungkan dengan kondisi industri musik sekarang ini, menurut Gavetti, seorang pemimpin [manajemen artis, label, atau industri yang berkorelasi], harus dapat melihat peluang yang seringkali tersembunyi atau jarak psikologisnya jauh dengan konteks industrinya saat ini.

Menjadi sangat mengherankan, ketika masih banyak bermunculan musisi, penyanyi, band atau label baru, yang hanya memanfaatkan momentum, kemudian menghilang. Saya sering menyebutnya dengan “pelaku industri kentut” – berbunyi sebentar, bau, dan sedetik kemudian hilang. Saya sering kebingungan, ketika lahir lagu-lagu yang notabene tidak punya arah yang jelas, minim kualitas dan mengandalkan eforia sesaat. Mengapa karakter tidak bermutu seperti itu dipelihara? 

"malaikat" atau "iblis" bedanya makin tipis. hati-hati saja.

“malaikat” atau “iblis” bedanya makin tipis. hati-hati saja.

Pernyataan Tompi, salah satu penyanyi yang punya “keberanian” bersuara menyimpang mungkin bisa jadi perbandingan, ”Saya imbau musisi untuk jadi personal yang cerdas, bukan jamannya lagi hanya tandatangan kontrak yang disodorkan, lalu tenggelam dalam euforia dapat kontrak dan jadi artis. Yang salah musisinya takut nggak punya label dan kelaparan. Jangan takutlah, kita yang punya musik, tanpa kita mereka nggak bisa jualan,” ujar penyanyi yang juga dokter ahli bedah plastik ini.

Ketika merasa bisa melahirkan label  dengan modal pas-pasan, sebenarnya sah-sah saja. Tapi kalau materi yang dipegang busuk, strategi promonya konvensional, dan dana yang disiapkan hanya cukup untuk bayar gaji karyawan, mendingan buka usaha yang lain saja. Daripada uang habis tidak karuan, artis juga nggak ngetop-ngetop amat. Saya pernah “nguping” obrolan musisi dan seorang pekerja label tampaknya, di sebuah kafe. Begini: “Siapkan saja uangnya, nanti kita atur biar promonya jalan dan bisa dikenal media!”

Mbahmu! Dipikirnya mudah menciptakan karya dan melahirkan nama besar dalam sekejab? Dipikirnya industri ini lampu Aladin yang tinggal gosok, request dan semua terkabul? Bahkan jin lampu Aladin masih ada  sekarang pun pasti menyerah tidak sanggup ketika “ditantang” masuk ke industri musik Indonesia. Lah kok ada yang berani-beraninya menjanjikan proses instan. Saya jamin, kalau ada yang menjanjikan proses kilat untuk ngetop, lagunya diputar cepat, diundang manggung sana-sini, itu adalah penipu!

"kita butuh perubahan!"

“kita butuh perubahan! kalau tidak, kita akan makin sekarat”

Kemudian kalian-kalian yang masih belum punya karya sendiri, diimingi-imingi masuk label, ngetop, rekaman, dan serba-serbi indah tentang industri musik yangg tampaknya gemerlap ini,  jangan jadi tolol dengan mengiyakan apapun janji-janji busuk itu.  Yang terpenting, kalau memang merasa punya bakat, tanya lagi deh diri kamu, benarkah punya bakat? Kalau hanya seolah-olah punya bakat, seolah-olah bisa jadi penyanyi, mending jangan maksain diri. Media juga menciptakan imej, bahwa menjadi terkenal itu mudah sekali, tapi jarang menjelaskan bahwa ketika terkenal sebenarnya membutuhkan tanggungjawab lain yang besar.

Sempat beredar kabar, ada label yang menerima artis tapi justru artisnya yang harus bayar, untuk promo. Nah, hal-hal seperti itu, harusnya disikapi dengan cerdas. Seperti yang pernah dikatakan oleh Marcell Siahaan dalam sebuah wawancara dengan satu majalah musik terkenal, “Entertainment Law di Indonesia masih lemah. Dan itu yang akan saya bagikan kepada siapa saja yang terjun ke industri musik.”

Jadi, “bangunlah”, jangan “tertidur” terlalu lama di industri musik ini. Industri musik kita memang sedang sakit!

Nembang is My First “Religion”

Ini cerita masa kecil. Sekarang, saya termasuk penggila musik. Bukan sebagai player, tapi sebagai penikmat dan pendengar. Kecintaan saya pada musik, membuat saya merefresh memori saya lagi, sejak kapan dan apa pengaruh terbesar yang membuat saya jatuh cinta dengan musik. Jawabannya adalah: karena orangtua saya.

ORANGTUA saya bukan musisi, juga tidak bisa main alat musik apapun. Malah menurut pengakuan ayah saya, beliau termasuk yang yang anti musik ngak-ngik-ngok. Kalau zaman Soekarno, personifikasi itu ada dalam musik yang dimainkan KoesPlus. Ketika kecil, setiap saya nyender dipunggung sembari tiduran, ayah saya hanya melantunkan maskumambang, dandanggula, pangkur, atau kinanthi. Langgam Jawa yang memang dikuasainya. Meski saya tak tahu arti liriknya, tapi mendengar suara bokap yang simpel dan tidak fals, biasanya cukup ampuh untuk membuat saya terlelap. Dan itu berlangsung bertahun-tahun hingga saya masuk usia sekolah dasar.

waldjinah, julukannya 'walang kekek' karena lagu itulah yang membuat terkenal

waldjinah, julukannya ‘walang kekek’ karena lagu itulah yang membuat terkenal – foto: isimewa

Pengalaman musikal saya berlanjut dengan kaset –benar, masih kaset—lagu-lagu perjuangan Izmail Marzuki,Waldjinah, pelawak Basiyo [almarhum], dan duo pelawak Banyumasan, Peyang Penjol, serta sederet koleksi lengkap Nyi Condrolukito, seorang sinden legendaris. Kalaupun menyelip musisi asing, itu bukan koleksi ayah saya, tapi nyokap atau ibu saya. Ada Pat Bone dan Matt Monroe, dan Bee Gees. Yah, apa boleh buat, saya belum punya banyak pilihan untuk menyimak band-band hebat yang koleksinya dipunyai kawan-kawan saya di Jakarta sekarang ini.

Dari pengalaman musikal yang dianggap ndeso ¬–yah kalau kemudian disandingkan dengan kawan-kawan saya yang kisahnya berputar dari Led Zeppelin, The Rolling Stones, The Beatles, atau YES misalnya—itulah, pertemuan saya dengan musik diawali. Sedikit banyak saya bisa nembang, kemudian wawasan saya melebar dengan musik-musik lain yang mendunia. 

legenda di ranah kesenian jawa

basiyo, legenda di ranah kesenian jawa – oto: isimewa

Tentu saja saya amat sangat tidak meremehkan pengaruh musik tradisi yang diperkenalkan orangtua saya. Amat bersyukur malah, karena ternyata banyak kawan-kawan saya yang hebat sejarahnya tentang musik rock, progressive, jazz, atau blues misalnya, tapi minim [atau malah kosong], pemahaman pada musisi tradisi, yang notabene legendaris di negeri sendiri. Ternyata, perjalanan musikal negeri ini, punya cerita panjang yang tidak kalah dengan musisi dunia lainnya.

Bukan untuk membandingkan, kalau saya sharing pengaruh musikal lokal dengan interlokal. Saya hanya ingin mengatakan, masih banyak loh yang malu, gengsi, atau merasa dirinya kurang hebat, kalau tidak menyebut pengaruh band-band bule. Ini bukan eufemisme semata, tapi memang kenyataannya begitu. Masih banyak musisi yang seolah-olah “kupingnya menolak” kalau disinergikan dengan musik tradisi. Lucu bukan?

nyi condroluikito - sinden legendaris -- foto: istimewa

nyi condrolukito – sinden legendaris — foto: istimewa

Buat saya, pengaruh apapun dari musik jenis apapun –bahkan saya sempat terpukau dengan seorang pengamen bus kota yang punya vokal tidak kalah dengan ajang pencarian bakat di televisi itu—akan memperkaya penerimaan kita terhadap musik yang memang sebenar-benarnya kita sukai. Meski saya agak bingung dengan konotasi musik ndeso, tapi sejujur-jujurnya, itulah yang awalnya menikam saya untuk lebih mencintai dan menikmati musik dengan apa adanya.

Bagaimana kisah Anda?

p.s. Terima Kasih untuk Bapak, yang sudah memperkenalkan saya dengan Basiyo, Waldjinah, Ismail Marzuki, Nyi Condrolukito, dan nembang. Siapa mereka? Silakan gugling…

Perhatikan, Banyak ‘Stupid Addictholic’ di Sekitar Kita!

Pernah nggak Anda berpikir,  untuk sedikit menjadi lebih kikir kepada diri Anda sendiri. Membuat diri Anda sendiri tidak lapar mata, termanjakan oleh kemampuan finansial Anda untuk memenuhi apapun yang tiba-tiba bermunculan di otak Anda. Bukan atas nama status sosial, kemudian Anda menjadi “pesolek” materi, apapun bentuknya. Saya menyebutnya ‘stupid addictholic’.

KETIKA seseorang sudah kecanduan dengan sesuatu, entah itu perilaku sophaholic, barang yang bisa berupa gadget, games, atau barang-barang hedonis yang sekarang sedang ngetren, sebenarnya dia sedang berkubang dengan pertentangan dalam batinnya. Mengapa? Karena posisi menjadi addictholic sebenarnya identik dengan kebimbangan, pertimbangan dan perimbangan. 

bersiap menjadi 'stupid addictholic' atau 'pesolek cerdas'

bersiap menjadi ‘stupid addictholic’ atau ‘pesolek cerdas’

Penjelasannya adalah: kebimbangan, karena sebenarnya manusia itu sedang bertanya apakah kegilaannya itu benar-benar bisa membahagiakan hatinya, hati keluarganya, atau hati orang-orang yang dekat dengan dirinya? Kalau tidak, dia akan merasa tidak ada gunanya dia menjadi “pecandu” itu. Pertimbangan, adalah satu waktu –mungkin hanya sekian menit atau detik saja—saat alam bahwa sadar kita memberikan masukan dan kita memilih untuk berhenti atau terus. Sementara perimbangan, masuk pada kesadaran antara pasak dan tiang, pengeluaran dan pemasukkan.

Dalam beberapa literatur akademis, addictholic sebenarnya adalah gangguan otak kronis. The American Society of Medicine baru saja merilis definisi baru tentang arti kecanduan setelah melakukan riset selama empat tahun, yang melibatkan lebih dari 80 ahli.

“Pada intinya, kecanduan yang berlebihan tidak hanya masalah sosial atau masalah moral atau masalah kriminal. Ini masalah otak yang terwujud dalam perilaku semua bidang,” kata Dr Michael Miller, dari The American Socieety of Medicine yang mengawasi pengembangan dari definisi baru. Definisi baru ini juga menggambarkan addictholic sebagai penyakit primer, yang berarti bahwa itu bukan hasil dari penyebab lain, seperti emosional atau masalah kejiwaan.

Addictholic adalah bagian dari kondisi manusia. Mulailah dengan berhenti untuk melihat kebiasaan sebagai baik atau buruk, tetapi hanya energi yang sedang diarahkan dari dua cara: secara konstruktif atau destruktif

Addictholic yang kita lakukan, akan melahirkan addictholic baru!  Tidak percaya? Coba Anda yang tergila-gila dengan gadget, pasti akan melahirkan kecanduan pada gadget lain yang muncul dan kita anggap lebih canggih. Yang ada kemudian kita makin menggila dengan gadget tersebut. Atau katakanlah, kita fanatik dengan mereka baju tertentu, akhirnya akan melakukan apapun untuk mendapat produk terbaru dari fashion tersebut.

Meski kita amat sadar [dan mengangguk-angguk setuju], tapi setelah itu lewat begitu saja. Setelah muncul addictholic baru, barulah kita kembali menyadarinya tapi sudah kadung tak bisa berhenti.

addictholic bisa jadi energi positif, tapi bisa amat berbahaya buat Anda

addictholic bisa jadi energi positif, tapi bisa amat berbahaya buat Anda

 

Kalau kita klasifikasi, pasti akan muncul sederet addictholic atas nama apapun. Dari yang destruktif sampai yang konstruktif. Ada yang mengatasnamakan hobi, gengsi, atau status sosial. Tapi addictholic adalah addictholic. Dan buat saya, addictholic itu harus kita lawan, bukan dengan addictholic lain. Kita harus melawan dengan kerja keras mengubah pola pikir addictholic, menjadi smart addictholic.

Saya terdengar seperti utopis memang. Seperti menggantang asap atau menggarami air laut. Toh sudah banyak ahli, psikolog dan orang pintar dengan berbagai keilmuan yang menawarkan satu idea atau solusi untuk mengatasinya. Hasilnya memang belum menggembirakan. Yang ada adalah meningkatnya addictholic -nya.

Menggilai satu perilaku atau kebendaan tertentu, sebenarnya tidak salah. Selama secara ekonomi dan kesejahteraan sudah mapan dan terakomodir. Mungkin saya lebay kalau kemudian sok-sokan mengatakan, tidak ada agama manapun, yang kalau kita telaah dengan seksama, menganjurkan umatnya untuk menjadi addictholic kebendaan duniawi.

Pada dasarnya manusia diciptakan untuk bisa berpikir. Berpikir kemudian bertanya untuk mendapat jawaban atas keraguan. Manusia dalah makluk yang menerima keterbukaan dan skeptisisme. Tetap terbuka terhadap ide baru tapi tetap skeptis, artinya jangan asal terima saja dan pertanyakan logikanya. Begitu caranya membedakan kebenaran mendalam [deep truths] dengan omong kosong mendalam [deep nonsense]. Keterbukaan itu penting, skeptisisme juga penting, meskipun kontradiktif.

Lahir dari pertanyaan itu, saya ingin mencari tahu jawaban, sebenarnya addictholic itu mewakili siapa? Kehormatan, atau egoisme dan kebodohan semata? Tahukah Anda, bahwa mempertontokan hedonisme berlebihan kepada manusia lain termasuk menyakitkan? Menjadi omong kosong kalau harus “menyingkirkan” addictholic dari hidup kita, karena secara tidak langsung, kita pun kerap melakukan pilihan kegilaan atas benda dan perilaku itu. Tapi apakah kemudian kita menjadi pemuja addictholic itu?

Apakah Anda memiliki addictholic atau kebiasaan atas apapun? Tentu saja itu adalah pertanyaan retoris karena kita semua memiliki kebiasaan. Jika saya meminta Anda untuk menuliskan kebiasaan yang paling cepat datang ke pikiran, lebih dari mungkin Anda akan menampilkan daftar kebiasaan yang sedang Anda gilai saat ini terlebih dahulu. Probabilitas adalah bahwa Anda juga memiliki beberapa addictholic baik, hanya saja bahwa yang buruk tampaknya lebih jelas “mengamuk,” menarik kita dalam setiap cara yang, yang mengapa mereka cenderung datang ke pikiran pertama.

Tapi yang perlu diingat, ketika kita mendapat jawaban [versi kita] dan berbeda dengan orang lain, jangan pernah anggap mereka adalah musuh. Dalam wacana dialog, perbedaan pendapat dan argumentasi menjadi kekayaan yang membuat ruang berpikir kita lebih luas dan merdeka.

Lalu, apakah menjadi addictholic adalah kesalahan? Dari paparan saya di atas, addictholic yang menggila adalah sebuah penyakit. Tapi bisa jadi konstruktif, kalau Anda sanggup meredamnya, menjadi energi yang positif. Saya anti addictholic-kah? Tidak. Saya hanya ingin mengingatkan: “Manusia dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah pikirannya”

Jogjakarta, Requiem Song Bukan Rebellion Song Lagi

Dalam ejaan Bahasa Indonesia yang benar, seharusnya ditulis Yogyakarta. Tapi entah mengapa, banyak penulis, penutur, atau pembicara yang lebih senang [dan mantap] dengan mengatakan: JOGJAKARTA. Konon lebih terasa “rohnya”. Dan saya salah satunya yang memilih dialek seperti itu. Sampai saking terkesimanya dengan sambutan penonton ABG yang piawai melantunkan “Jogjakarta” di konser outdoor-nya, Katon Bagaskara bela-belain nyungsep dari panggung loh.

SINERGI Jogjakarta [mohon maaf kepada ahli bahasa -red] memang terasa sebagai satu kekuatan bagi pendatang. Kabarnya, Jogjakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar ke-2 setelah Bali. Masuk akal, karena Jogjakarta, meski tak punya alam seindah Bali, tapi kaya dengan kekuatan budaya yang santun dan membumi.

Buat penulis, Jogja punya daya tarik yang tak pernah mati. Pulau ini kaya dengan pola sinkretisme Jawa dan Arab. Hebatnya, paling tidak sampai saat ini, Jogja tak pernah merasa harus terlarut dalam sinkretisme basa-basi. 

jogjakarta, kota yang sedang melantunkan requiem

jogjakarta, kota yang sedang melantunkan requiem

Tapi kini, Jogja adalah kota yang pesolek. Sayangnya, pupur dan maskaranya masih belepotan. Kota yang pernah begitu piawai mempertontonkan keramahan mbok-mbok bakul, kini –meski masih menyisakan keramahan itu– menjadi daerah yang makin compang-camping.

Keterbukaan budaya, ternyata tak diimbangi dengan keseimbangan untuk mengadopsi budaya baru. Alhasil jadinya Jogjakarta seperti terengah-engah mempertahankan jati dirinya.

Mencintai Jogjakarta, tak hanya mencintai budaya saja. Mencintai Jogja adalah juga mencintai sinkretisme diam-diamnya. Mencintai Jogja adalah juga mencintai masyarakatnya [khususnya anak muda] yang begitu permisif dengan hal-hal baru. Mencintai Jogja adalah juga menerima segala kebusukannya juga.

Dan saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Jogja adalah cinta pertama saya. Konon, cinta pertama itu sulit dilupakan. Bagi saya, Jogjakarta adalah sintesa yang tak pernah habis, meski mungkin kelak Jogjakarta menjadi nyonya tua yang keriput sekalipun. Meski mungkin Jogjakarta tenggelam oleh abu Merapi yang saat kerap terbatuk-batuk parah.

Namun saya terkejut ketika mendengar berita seorang ketua panitia festival musik Lockfest 2 memilih bunuh diri, lantaran tertekan oleh bully di social media dan hiruk pikuk celoteh diluaran. Meski informasi sesungguhnya masih simpang siur, tapi tetap saja hal itu mengejutkan saya.

Apa yang salah dengan “jiwa” Jogjakarta kini? Sudah bergantikah musiknya dengan requiem kesedihan, senandung kematian, atau sonata kehilangan? Tentu saja belum, karena masih banyak musik optimis, lirik ber-spirit, vokalisasi yang antusias dan musisi yang punya jiwa. Tapi dimanakah kini “jiwa” yang membuatnya bergairah?

Amor Vincit Omnia – Utopis atau Anomali?

Saya pernah menulis dalam sebuah status Facebook, “Sabar itu tidak ada batasnya!”. Dan ketika itu, saya mendapat repson yang bermacam-macam. Rata-rata mengatakan, bahwa kita ini manusia yang punya batas, termasuk sabar. Tapi tidak sedikit yang memberi tanda “like this” meski tampaknya mikir untuk komentar, ketimbang di-bully.

 

SECARA manusia, omongan saya tadi jelas menjadi perdebatan. Mana mungkin manusia punya sabar yang tak terbatas? Tanpa batas itu hanya milik Tuhan –begitu kata kawan-kawan saya yang tiba-tiba semuanya menjadi lebih relijius saat menjelaskan kata “sabar” yang saya upload itu. Mungkin kalau saya rekam, bisa jadi edisi kotbah Jumat untuk beberapa bulan [agak lebay sih  kalau ini].

cinta mengalahkan segalanya. utopis atau anomali?

cinta mengalahkan segalanya. utopis atau anomali?

Melihat reaksi spontan yang tertuang, saya menyadari kita memang manusia terbatas. Bagaimana tidak, kata-kata yang mencuat dalam komentar, semuanya menunjukkan kertidaksabaran untuk mencerna, merenungkan dan kemudian bisa berpendapat dengan jernih.

Ada yang mengatakan, “sabar = tolol” dengan asumsi, ketika kita disakiti, kita dirugikan, kita diinjak-injak, tapi masih bisa menerima orang lain yang memperlakukan kita seenaknya itu.  Saya hanya tersenyum, dan mencoba menerawang kesabaran saya sendiri untuk tidak membalas semua komentar yang tidak sabaran itu. “Bagaimana kalau kita diduakan dan kita tidak tahu, apakah harus sabar juga?” ini komen dari seorang sahat perempuan.

Jawaban saya singkat: “Iya!” dengan embel-embel layaknya rohaniwan juga, harus mendoakan tanpa henti, dan menetramkan diri sendiri, meski saya tahu itu bukan perkara yang amat mudah pastinya.

Saya harus jujur mengatakan, saya adalah “petobat baru” soal kesabaran. Saya adalah new comer soal kesabaran. Dalam istilah saya, ada yang namanya “manajemen kesabaran” yang perlu kita latih. Sekolahnya memang tidak di bangku formal, karena sekolahnya adalah sekolah kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa latin, kesabaran disebut dengan patientia. 

kasihilah, bukan kasihanilah

kasihilah, bukan kasihanilah

Yang menarik perhatian saya adalah komentar yang mengatakan, “kesabaran adalah cinta”. Saya amati, mungkin saja kawan yang komentar itu sedang galau atau menye-menye, tapi tidak. Ada penjelasan serius dibawahnya. Menurutnya,  ada istilah latin yang sepadan yaitu Amor Vincit Omnia. Terjemahan bebasnya: cinta mengalahkan segalanya. Hmm, tahu apa kawan saya ini tentang cinta, lah wong sampai detik ini, dia belum punya pasangan tetap je. Cinta dan kesabaran memang sepaket.

Kalau Anda cinta dengan seseorang, silakan menjadi orang “bodoh” baru. Maaf, tidak menyalahkan yang mau jadi bodoh, karena itu resep mujarab untuk tetap bertahan dengan kekasih kita. Apa hubungannya dengan sabar? Kawan saya ini –sebutlah dengan nama Dave—selalu mengatakan, cinta justru tidak membuat makin sabar, tapi makin belajar menghadapi orang yang tidak sabaran itu. Cinta lebih sering menjadikan kita tolol, karena sabar menunggui pujaan hati keluar dengan berbagai hal yang harus dilakukan.

Dalam arti positif, cinta mengalahkan segalanya sebenarnya tepat. Mengapa? Ketika kita jatuh cinta dengan seseorang, siapapun itu, tiba-tiba kita jadi terminator yang menurut saja dicucuk hidungnya, selama yang kita cintai senang dan merasa bahagia. Meski sebenarnya tidak ada jaminan dia mencintai kita dengan porsi yang sama. Kita belajar dengan kesabaran tingkat “dewa” ketika hati dongkol tak terkira melihat pujaan hati kita terlihat “menyebalkan”. Dalam fase ini, “sabar tanpa batas” seharusnya menjadi kosakata yang rutin. Bukan sekadar cari muka ketika memberi catatan kritis.

Jangan muncul peribahasa baru: “kasihan mengalahkan cinta!” Runyam kalo begitu….

Benarkah Jadi MUSISI Hanya Profesi “Numpang Lewat” Saja?

INI kisah nyata. Gara-gara ngeblog yang isinya tentang musik, ada beberapa email yang bertanya tentang musik dan sekitar-sekitarnya. Tapi ada satu pertanyaan menarik, yang kalau saya simpulkan sebenarnya bermakna: apakah cita-cita menjadi musisi itu sudah benar-benar menjanjikan sebagai gantungan hidup?

PERTANYAAN mendasar yang kadang-kadang dilupakan atau malah tidak dianggap. Dasar pertanyaan itu adalah masih adanya anggapan [dari orangtua], bahwa menjadi musisi sejatinya hanya batu loncatan, hobi atau kesenangan untuk mengisi waktu luang saja. Anggapan yang tentu saja tidak bisa kita salahkan begitu saja. Meski dunia hiburan [baca: musik], sudah demikian menggurita sebagai satu tontonan audio visual, tapi di banyak kalangan, musisi memang bukan dianggap profesi. 

Keterkenalan dan Popularitas itu Melenakan. Hati-hati Kalau Tidak Mau Terjatuh

Keterkenalan dan Popularitas itu Melenakan. Hati-hati Kalau Tidak Mau Terjatuh

Dalam diskusi kecil lewat email, saya menyimpulkan orangtua masih melihat musisi dan dunia musik sebagai tempat hura-hura, senang-senang, identik dengan “hal-hal yang tidak benar”. Yang disodorkan sebagai contoh adalah musisi-musisi yang memang kerap masuk pemberitaan lantaran cerita-cerita tidak penting soal pribadinya.

Salahkah anggapan itu? Jujur saja, kondisi itu memang terbentuk lantaran peran media yang memberitakan hal-hal “menyimpang” dari para musisi-musisi itu. Meski diakui atau tidak, hal-hal yang tidak benar itu memang benar adanya, meski kemudian tidak bisa dihantam kromo semua begitu. Lalu dimana harus memberikan penjelasan yang masuk akal dan diterima sebagai penjelasan logis?

Secara etimologis, profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetapi memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk itu.

Dari penjelasan tentang makna profesi itu sendiri sebenarnya jelas, musisi dituntut punya keahlian atau keterampilan tentang alat musik pastinya. Sembarangan orang bisa latihan alat musik, siapapun dia. Tapi tidak sembarangan orang bisa disebut musisi. Perlu waktu, kerja keras dan jam terbang pastinya. Artinya, menjadi musisi [yang sesungguhnya] sebenarnya juga perlu pelatihan, latihan, diskusi, link dan penguasaan materi yang mumpuni.

jadi musisi itu bukan ajang coba-coba, butuh tanggungjawab yang besar!

jadi musisi itu bukan ajang coba-coba, butuh tanggungjawab yang besar!

Nah, tudingan-tudingan bahwa musisi kemudian juga identik dengan “kebusukkan” [maaf, ini istilah yang kerap terlontar tatkala berita-berita “buruk” tentang musisi bermunculan], sebenarnya erat korelasinya dengan soal etika. Meski saya sendiri ragu, penguasaan dan penggunaan etika ini sekarang sudah di posisi mana.

Pengertian Etika [Etimologi], berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan [custom]. Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik [kesusilaan], dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

Kalau kemudian banyak yang “terpukau” dengan banyaknya musisi yang tampil di televisi, seolah-olah menjadi berhasil adalah seperti itu, rasanya perlu diberi pengarahan lebih luas. Oh ya, saya ingin mengutip pernyataan Tompi, penyanyi yang dokter itu. Menurutnya, musisi yang kerap tampil di televisi sejatinya adalah musisi kere. Loh? “Honor manggung di televisi yang acaranya pagi-pagi itu, tidak seberapa. Paling dibagi-bagi ke kru juga sudah habis!” Nah, apakah ini jadi pertimbangan para orangtua juga nantinya? 

kalau jadi musisi hanya buat biar keren, digilai cewek, mending nggak usah deh.bikin sumpek industri!

kalau jadi musisi hanya buat biar keren, digilai cewek, mending nggak usah deh.bikin sumpek industri!

 Saya jadi teringat ucapan seorang Marcell Siahaan dalam sebuah wawancara: “Menjadi musisi dan masuk dalam industrinya itu bukan ajang coba-coba. Musisi punya tanggungjawab besar atas profesinya!” Hmm, semua musisi berrpikir seperti itukah? Atau seperti yang dilihat Marcell, menjadi penyanyi hanya “batu loncatan” untuk profesi lain yang diincar. Jadi caleg misalnya. Nah, ini bisa jadi pertimbangan juga kayaknya.

Jadi jelas kan, mengapa banyak orangtua masih belum sepenuhnya mendukung keinginan anaknya menjadi musisi ketika mengisi kolom cita-cita? Ini mungkin hanya kasuistis saja, tapi cukup menggelitik ketika kelak saya, Anda, atau kita sudah punya anak, dan dengan lantang berteriak: “Aku mau jadi musisi!” ketika ditanya apa cita-citamu nak….

Urban Klenik – Marginalisasi Spiritualitas Orang Kota

Saya pernah meyakini sebuah ungkapan: semua hal bisa diatur, semua hal bisa dijelaskan. “Pernah” ya, karena kemudian keyakinan saya itu agak meluntur ketika saya SMP ketika itu, melihat keris bisa terbang di rumah om saya. Benar-benar terbang kesana-kemari seperti di film. Dan di sudut-sudut rumahnya bermunculan cepuk kecil dengan bermacam batu akik di dalamnya.

PENGAMATAN saya yang masih bocah, hal itu begitu menakjubkan. Fantasi film-film lokal yang penuh adegan seperti itu, tiba-tiba mengembang di pikiran saya. Semua seperrti tak masuk akal saya yang dari kecil dicekoki urusan sorga neraka dalam makna yang harafiah saja. Seiring berjalannya waktu,  pemahaman tentang hal-hal yang tidak saya pahami itu, makin berkembang. Dan kemudian memberi wacana baru tentang “dunia” diluar dunia ini. Istilah yang kemudian muncul dalam  pengertian saya adalah klenik.

"klenik itu dipercaya, meski pembuktiannya tidak pernah mudah"

“klenik itu dipercaya, meski pembuktiannya tidak pernah mudah”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, klenik ­diartikan kegiatan perdukunan [pengobatan] dengan cara-cara yg sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercaya oleh banyak orang. Artinya, klenik sebenarnya sesuatu yang dilakukan tidak secara kasat mata, menerjang akal sehat, tapi [herannya] orang percaya itu ada.

Menjadi manusia yang lahir di era gadget canggih, teknologi yang super cepat dan pengetahuan yang bisa didapat dari mana saja, persoalan klenik [tampaknya] jadi sesuatu yang menggelikan. Masa iya, era modern yang amat modern ini, cerita-cerita klasik tentang santet, pelet, dukun dan kawan-kawannya masih kita percayai?

Saya melihatnya lebih kepada pemahaman spiritual dan minat terhadap hal-hal di luar diri yang dianggap berperan dalam hidup dan kehidupannya. Di masyarakat urban atau  perkotaan, ada fenomena menarik ketika masyarakatnya mempunyai keingintahuan yang makin tinggi dari biasanya terhadap jalan spiritual. Bisa bersifat horizontal dan vertikal.

MENGAPA kecenderungan ini terjadi bisa ditelusuri secara historis dan psikologis pada budaya Indonesia secara umum. Namun, pada dasarnya, fenomena yang belakangan ini marak berakar pada gejolak masyarakat perkotaan di Indonesia sebagai akibat krisis berkepanjangan yang menimpa negeri ini. Juga dekadensi moralitas yang memengaruhi gaya hidup orang kota.

"dari jelata sampai pejabat sekelas presiden, berrmain-main dengan klenik"

“dari jelata sampai pejabat sekelas presiden, berrmain-main dengan klenik”

SPIRITUALITAS adalah bidang penghayatan batiniah kepada Tuhan melalui laku-laku tertentu yang sebenarnya terdapat pada setiap agama. Namun, tidak semua penganut agama menekuninya. Bahkan beberapa agama memperlakukan aktivitas pemberdayaan spiritual sebagai praktik yang tertutup, khawatir dicap “klenik”.

Meski diyakini bahwa agama berasal dari Tuhan, namun spiritualitas adalah area manusia. Spiritualitas adalah sikap yang meyakini adanya kehadiran dan campur tangan Tuhan dalam diri manusia, meski tidak mesti demikian.  Sering menjadi pertanyaan, mengapa pemberdayaan spiritualitas yang sering dicap klenik dapat mudah dilakukan pada masa perkembangan Islam di Indonesia.

Simuh dalam Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa (2002), menjelaskan bahwa kemungkinan itu dapat terjadi karena Islam yang masuk ke Indonesia bukanlah Islam azali, yang berasal langsung dari jazirah Arab, melainkan dibawa oleh pedagang persia dan Gujarat. Dan Persia, khususnya, adalah sentra perkembangan tradisi tasawuf.

Berakhirnya era tasawuf Islam pada tahun 728 M memperkuat dugaan bahwa aliran tasawuf yang masuk pada awal perkembangan Islam di Indonesia bersifat mistikisme. Mengacu pada pengertian “miskisme” sebagai suatu ajaran atau kepercayaan bahwa pengetahuan akan hakikat dan tentang Tuhan dapat diperoleh melalui meditasi atau penyadaran spiritual tanpa melibatkan panca indera dan akal pikir, dapat dimengerti mengapa Islam di Indonesia mampu berkompromi dengan budaya Hindu-Buddha, dan segera berkonsekuensi pada pergerakan mistikisme Jawa atau Kejawen.

Mistikisme subur di masyarakat pedesaan karena pada masa kolonial Hindia Belanda aliran-aliran ini menampilkan figur  simbolis Imam Mahdi yang berhasil menyokong semangat rakyat menentang penjajahan. Karena itu, mistikisme lantas dianggap aliran kepercayaan marginal, yang tidak mampu menyokong aspirasi masyarakat perkotaan yang umumnya terpelajar serta lebih rasional.

Baru pada tahun 1920-an hingga 1930-an aliran mistikisme mendapat tempat di hati masyarakat pribumi yang tertekan  sebagai akibat depresi besar yang tengah melanda dunia pada saat itu. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari suatu masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan akibat krisis ekonomi.

Sementara itu, agama dirasakan tidak mampu membangkitkan kesadaran spiritual masyarakat, yang terutama disebabkan oleh penentangan kaum Muslim azali yang mengedepankan ketaatan lahiriah dan rasional dengan nilai-nilai “pahala-dosa” dan “surga-neraka”. Bersamaan dengan itu, bermunculan figur-figur yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan untuk membersihkan dosa-dosa umat menghadapi kiamat-isu yang meluas menyusul kondisi dunia yang kacau-balau diterpa depresi besar.

"kisah kaum gipsy dengan kemampuan meramalnya, jadi legenda klenik."

“kisah kaum gipsy dengan kemampuan meramalnya, jadi legenda klenik.”

TERDAPAT dua landasan analisis di balik munculnya tren spiritualitas perkotaan belakangan ini. Pertama, dari sudut pandang psikologi sosial, kebutuhan akan jalan spiritual merupakan konsekuensi penderitaan psikis masyarakat yang tertekan oleh krisis ekonomi. Kedua, dari sudut pandang anti-religious intellectualism yang menganggap tren belakangan ini sebagai upaya popularisasi aliran mistikisme yang esoterik.

Landasan kedua kurang dapat diterima mengingat sejumlah jalan spiritual yang dimasuki masyarakat kota dewasa ini telah eksis di Indonesia sejak lama, meski masih bersifat marginal. “Popularisasi” rasanya kurang tepat, melainkan lebih merupakan “pengadopsian” dampak positif amalan sejumlah konsepsi spiritualitas yang diterima sebagai solusi bagi derita psikis masyarakat kota.

Spiritualitas selama ini termarginalisasi. Dan memang konsepsi penghayatan kepada kekuasaan Tuhan dapat diterima dengan mudah oleh alam bawah sadar masyarakat pedesaan karena hidup mereka yang “apa adanya”. Mereka bekerja untuk memenuhi keperluan hidup. Berbeda dengan kecenderungan masyarakat perkotaan yang menjadikan agama sekadar kewajiban, bagi masyarakat desa agama adalah kebutuhan, yang secara praktis-setelah melalui proses pemberdayaan sisi spiritualitasnya-dapat memberi mereka jawaban-jawaban esensial untuk melakoni hidup. Bagi masyarakat kota, situasi kehidupan materialisme membuat materi menjadi solusi kebahagiaan sehingga penghayatan agama terkesampingkan.

Ketika intelektualisme dan materialisme kian mengakar dalam segala segi kehidupan kota, masyarakat mulai gamang,  terutama sejak pukulan krisis ekonomi berdampak pada merosotnya nilai materi sebagai solusi kebahagiaan. Intelektualisme pun, pada tingkat tertentu, berbenturan dengan dinding kokoh yang menghalangi jalan manusia menuju Tuhan.  Hakikatnya, manusia adalah makhluk spiritual yang hidup di alam materi. Bukan sebaliknya!

Jadi, klenik –apapun definisinya—adalah marginalisasi spiritualitas. Peminggiran makrifat dan pendustaan akal sehat. Meski saya tak menyangkal, dunia ini berdampingan dengan “dunia lain” juga.