Ruang Hijau yang Layak di Bekasi? Masih Mungkin Nggak Ya…..

BEKASI itu panas! Bekasi itu Sumpek! Kata-kata yang tidak ‘enak’ itu sering mampir ke kuping saya. Nyaris mengurungkan niat saya setiap berencana mencari rumah, main atau berkunjung ke Bekasi. Tapi benarkah Bekasi seperti itu sih?

+++

DULU, ketika penulis masih Sekolah Dasar (SD), dalam pelajaran geografi selalu ditonjolkan, mayoritas penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. Rupanya, masalah tempat di nggal di pedesaan ini juga nyaris dialami negara-negara lain di seluruh dunia. Sayangnya, lambat laun penjelasan itu tampaknya harus direvisi. Menjelang akhir abad 20, sudah hampir separuh penduduk dunia tinggal di perkotaan. Termasuk Indonesia tentunya.

Gambaran ini juga makin menjelaskan prospek kuatu perkotaan sangat tergantung pada sistem manajemen, bagaimana kota itu diatur. Tidak banyak pemerintah di negara berkembang yang mempunyai wewenang, sumber daya, dan tenaga terlatih untuk melayani penduduk mereka yang bertambah sangat pesat dengan lahan, jasa, dan fasilitas yang diperlukan bagi manusia untuk hidup layak.

Hal ini juga dialami oleh Bekasi. Kota yang mendudukan dirinya sebagai kota penyangga. Pembangunan fisik di Bekasi sangat berkembang pesat dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan fungsi kota Bekasi sebagai kota yang menjadi sentra kegiatan ekonomi. Sayangnya, perkembangan fisik ini tidak dibarengi dengan pengelolaan yang memadai dari segi penataan ruangnya. Akibatnya perkembangan kawasan menjadi tidak seimbang dan memusat di kawasan-kawan tentu, termasuk untuk kawan hijau.

Persoalan penghijauan ini menjadi hal yang tidak mudah di Bekasi. Perkembangan ekonomi yang pesat, membuat lahan-lahan kosong, termasuk yang digunakan untuk lahan hijau, berubah fungsi menjadi lahan bisnis. Ketika pemerinta provinsi ingin mengembalikan fungsi lahan sebagai lahan untuk penghijauan, persoalan lain muncul, karena mungkin harus menggusur satu usaha atau pemukiman penduduk. Yang muncul kemudian adalah persoalan sosial.

Kabarnya Bekasi tempo doeloe adalah Bekasi kota yang eco-polis atau kota yang berkelanjutan, dengan lahan hijau yang luas. Kini, Luas lahan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bekasi terus berkurang. Kini hanya tersisa 31 ribu hektare saja dari 210 ribu hektare luas wilayah, sementara lahan yang sudah dibangun mencapai 74 persen atau sekitar 155.400 hektare. Data ini menurut Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi.

Kalau kita melihat lukisan atau foto-foto Bekasi masa lalu memang menyenangkan, taman hijau, air jernih dan udara yang segar. Karena kalau kita cari lagi lokasi-lokasi hijau itu, bisa-bisa kita akan kecewa karena sudah menjadi lahan beton semua.

Sebenarnya, memasuki abad baru, masyarakat perkotaan justru makin mencita-citakan back to nature. Mereka menginginkan hidup yang akrab lingkungan dan berkekotaan (urbanized). Banyak hal modern yang dilakukan untuk mendapatkan hidup yang ‘berwawasan lingkungan’ ini. Jelas bukan hal mudah untuk mencapai cita-cita ini, sebab banyak masalah aktual dan kontekstual yang menghadang.

Pembangunan yang sembarangan menghabiskan lahan dan pemandangan alam yang diperlukan bagai lahan hijau dan tempat rekreasi. Benar memang, sekali daerah dibangun dengan prioritas pembangunan fisik, sangat sulit dan mahal untuk menciptakan kembali alam yang terbuka dan bersih.

Belum lagi persoalan limbah pencemaran udara yang luarbiasa di. Dari beberapa data yang pernah dilansir oleh pemerintah atau LSM, 70 persen pencemaran udara di kota besar, termasuk Bekasi, berasal dari emisi gas buang otomoti. Di Bekasi, nyaris seperti Jakarta tingkat pencemaran sudah pada tahap yang mengkhawatirkan. Meski berbagai kebijakan sudah diambil pemprov, tapi tetap saja polusi menjadi momok ‘pembunuh misterius’ yang tetap bergentayangan. Dengan kondisi itu, Bekasi jelas sangat membutuhkan lingkungan hijau. Sayangnya, dari awal perencanaan lahan hijaunya sudah amburadul. Tampaknya bisnis akhirnya mengalahkan lahan hijau yang terbeli.

Memang, untuk menata dan menghijukan kembali Jakarta, tidak semudah membalik telapak tangan. Secara teoritis, Bekasi yang luasnya 210,49 km2, minimal membutuhkan lahan hijau sekitar 40 persen. Dan saat ini, hanya sekitar 6-7 persen. Jumah yang sangat kurang untuk kota sebesar Bekasi ini.

Dalam The Habitat Agenda and An Urbanizing World (1996, UHNCS), sudah dituliskan tentang konsep kota eco-polis. Hal ini dihasilkan dalam konperensi tentang lingkungan hidup di Brazil, Masyarakat dunia makin sadar, mereka butuh suatu ruang yang mendukung penghijuan di perkotaan. Dalam agenda tersebut dijelaskan, kota lingkungan harus menjamin tiga dasar keberlanjutan, lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Seorang pakar lingkungan Inggris, William Reesse mengingatkan, untuk menopang keberlangsungan kota, diperlukan 10-10 kali daerah pendukung di sekitarnya.

Untuk menuju kota eco-polis, ada beberapa pertimbangan lain yang perlu diperhatikan yakni landasan pemerataan, etika, dan keadilan. Peradaban manusia yang ada sering membahayakan sistim kehidupan manusia itu sendiri karena cara memakai sumberdaya alam yang tidak bertanggungjawab dan kerap meracuni alam melalui limbah yang dibuang seenaknya.

Belakangan ini, Bekasi sedang berbenah diri dalam penghijauan. Meski kadang-kadang terasa ‘menggelikan’ ( mengapa selalu setelah semua rusak parah, baru bergerak?). Pemerintah provinsi makin sibuk mendata dan menata beberapa lokasi menjadi ruang hijau. Kawasan-kawasan industri mulai digenjot dengan ruang hijau, kemudian, tanaman-tanaman penghijauan mulai digenjot di berbagai sudut kota. Tak cuma itu, beberapa lokasi lain juga dikembalikan fungsinya sebagai ruang hijau..

Menurut, Dr Ir Bian Poen, pakar Perencanaan Tata Kota, pemerintah harus benar-benar menjalankan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sebab, menurut Bian, semua ruang hijau yang berubah fungsi, ada ijinnya. Padahal yang berhak mengeluarkan ijinnya adalah Pemprov.

Senada dengan Bian, Prof Ir John Silas, Guru Besar Fakultas Teknik dan Perencanaan di Jakarta menegaskan, RTRW daerah penyangga di luar Jakarta bertujuan merangsang dan memajukan pertumbuhan ekonomi kota, Ini harus dikembangkan atas dasar keterkaitan ekonomi formal dan ekonomi sosial yang berkelanjutan.

Mochtar Mochammad sebagai walikota Bekasi tentu tak sekedar mencari popularitas saja ketika menggerakan aparatnya untuk membenahi lahan dan ruang hijau. Yang perlau diperhatikan, jangan sampai pembenahan lahan hijau itu malah menimbulkan persoalan baru. Kecuali mau melihat Bekasi terkepung masalah sosial dan makin sumpek. Saya sih nggak mau begitu……

100 Years of L’Oréal: Hai Perempuan, Maafkan, Mataku Tak Berani Jalang [Lagi]

PERNAH membayangkan nggak, 100 tahun silam, revolusi kecantikan tidak seheboh sekarang ini. Meski banyak rahasia kecantikan dari berbagai bangsa yang menawan, tapi sentuhan-sentuhanya tidaklah sedahsyat sekarang. Mungkin juga persoalan teknologi, karena banyak produk kecantikan sekarang adalah manifestasi rahasia masa lalu.

Salah satu yang bertahan dan bisa membuat kecantikan menjadi hal yang revolusioner adalah L’Oreal. Salah satu produsen kecantikan ini ternyata mampu bertahan selama 100 tahun dan mempercantik wanita-wanita indah seluruh dunia .

Evolusi panjang yang dilakukan dalam ranah kecantikan membuat L’Oreal menjadi salah satu katalisator yang cukup diperhitungkan.

Sebenarnya, para perempuan memiliki kekuatan yang membuat kagum para laki-laki. Mereka menggendong anak-anak, mereka menanggung banyak beban, tetapi mereka memiliki kebahagiaan, kasih dan sukacita. Mereka tersenyum ketika mereka ingin berteriak. Mereka bernyanyi ketika mereka ingin menangis. Mereka menangis ketika mereka bahagia dan tertawa ketika mereka gugup.

Para perempuan menanti di telepon untuk sebuah “pemberitahuan telah tiba dengan selamat sampai di rumah” dari seorang sahabat atau saudara setelah menempuh perjalanan pulang ke rumah yang penuh salju.

Para perempuan memiliki kualitas khusus tentang diri mereka. Mereka bekerja sukarela untuk alasan yang baik. Mereka adalah para perawat di rumah sakit, mereka membawakan makanan untuk orang-orang berusia lanjut. Mereka adalah pekerja yang merawat anak, eksekutif, pengacara, ibu rumah tangga, atlet, dan para tetangga Anda. Mereka mengenakan baju resmi, jeans, dan seragam. Mereka berjuang untuk apa yang mereka percayai. Mereka berdiri menghadapi ketidakadilan. Mereka berada di barisan depan dalam pertemuan orangtua murid di sekolah. Mereka memberi suara untuk memilih orang yang akan berjuang untuk melakukan yang terbaik bagi urusan keluarga.

Para perempuan berjalan lebih jauh dan berbicara lebih banyak untuk mendapatkan sekolah yang tepat bagi anak-anak mereka dan untuk memberikan perawatan kesehatan yang tepat bagi keluarganya. Mereka menulis kepada editor, anggota DPR, dan kepada “penguasa yang ada” untuk hal-hal yang membuat hidup lebih baik. Mereka tidak mengatakan “tidak” untuk sebuah jawaban ketika mereka percaya bahwa ada jalan keluar yang lebih baik.

Seabrek peran perempuan itu sebenarnya sudah mengkondisikan dinamika cantik. Apa yang mereka [baca: perempuan] dalam kegiatan domestiknya sebenarnya adalah bagian dari kecantikan itu. Sayang, laki-laki sering menganggap cantik adalah lahiriah yang penuh polesan. Laki-laki kadang menyukai kecantikan yang palsu.

Saya –penulis– adalah seorang laki-laki. Kecantikan menurut versi laki-laki, adalah kecantikan stereotype pasaran yang betul-betul dimodifikasi oleh media habis-habisan. Tidak ada media yang menampilkan sampul majalahnya secara ekstrem dengan sosok perempuan [mungkin juga laki-laki] yang ” tidak lazim”. Lazim disini masih dalam perspektif media. Tidak banyak media yang secara “nekat” dan “revolusioner” memajang sosok yang gendut, berkulit hitam, atau rambut keriting. Jadi, cantik itu masih berkutat fisik yang indah.

Rupanya, mereka [baca: perempuan] begitu kuat terindoktrinisasi, betapa cantik itu harus utuh secara fisik, dari atas sampai bawah. Seorang tokoh feminis bernama Naomi Wolf pernah menulis buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against. Menurut Wolf, banyak perempuan rela menderita dengan melakukan diet dan menghabiskan banyak waktu untuk merawat tubuhnya agar tetap langsing, indah dan cantik. Personifikasi cantik itulah yang membuat perempuan [di Indonesia] selalu merasa tidak cantik. Padahal, mungkin secara fisik, sudah seperti bidadari dari khayangan.

Tidak mudah memang menemukan titik temu yang pas. Tapi kalau pun toh tidak ada kesepakatan soal cantik tadi, paling tidak kita disuguhi satu pilihan lain, bahwa kecantikkan itu tidak seragam.

100 Tahun Lagi, Seperti Apa Kecantikan Itu?
Tidak ada yang bisa membayangkan, 100 tahun ke depan revolusi kecantikan itu akan seperti apa? Bisakah diprediksi seperti apa?

Menarik mencermatinya tentu saja. Dalam diskusi dengan seorang kawan, terceletk sebuah gambaran kira-kira seperti apa inovasi kecantikan dalam 100 tahun ke depan. Oke, saya beber disini:

1. Kesing Cantik
Mungkinkah kecantikan utuh itu bisa dibuat kesing seperti handpone? Kenapa tidak. Perempuan tidak perlu make-p lagi, tapi ada satu kesing yang bisa dipakai bergantian dalam event yang berbeda. Bentuknya seperti kulit, tapi sudah temaktub didalamnya make-up dan warna kulit yang cocok dengan si pemakai. Tentu saja risetnya agak panjang, tapi 100 tahun ke depan, bukan mustahil.

2.Inner Healing
Agak susah memang. Tapi kelak. Kecantikan fisik meski ettap penting, sudah tak menjadi priotitas lagi. Orang benar-benar sudah mencari kecantikan yang benar-benar tulus. Tentu saja, 100 tahun ke depan semakin sulit menemukan. Kelak L’Oreal akan menemukan satu inovasi kecantikan yang bisa membuat seorang wanita terlihat bersinar tapi juga memunculkan energi yang bisa membuat kita tahu, inner beauty orang tersebut. Jadi, laki-laki tak lagi jalang mencuri-curi pandang dan meremehkan kecantikan fisik semata.

Tapi perlu diingat juga, media juga kental mencitrakan kecantikan dengan segala sesuatu yang ideal dan indah.-indah saja. Diluar yang dicitrakan, perempuan tidaklah cantik. Jadi, melihat perempuan tanpa citra ideal tadi, sama saja mengatakan dia tidak cantik. Mau jeng?

Dalam kaitan ini, laki-laki melihat kecantikan dengan tolok ukur penilaian terhadap perempuan yang seksi, indah, wangi saja. Selebihnya, tolok ukurnya jelas, perempuan itu tidak cantik. Dalam teori Edward Lison, dijelaskan pada dasarnya komposisi tubuh manusia 30% adalah animal. Dari runtutan sejarah, manusia adalah primata atau kera. Sedangkan 70% menyangkut dari sisi karakter pribadi, sosial, budaya, dan yang paling tinggi adalah religius. Kalau merunut dari teori Lison, seorang laki-laki melihat wanita cantik, secara naluri air liurnya akan keluar. Itu artinya ada daya tarik tertentu dalam tubuh wanita.

Apakah dengan begitu, laki-laki kemudian mengkondisikan dirinya sebagai sosok yang punya hak menentukan arti kecantikan perempuan? Seorang feminis Australia, Germaine Greer dalam bukunya The Female Enouch mengatakan bahwa sebenarnya banyak perempuan tidak menyadari keunikan dirinya dan membiarkan tubuhnya didefinisikan oleh pihak lain terutama kaum laki-laki. Perempuan tidak harus selalu menjadi ideal seperti yang diidamkan laki-laki. Satu pernyataan yang cukup tajam dari Greer adalah tubuh [perempuan] seharusnya menjadi media bagi perempuan untuk keluar dari ketertindasan, tekanan yang membuat dirinya terpinggirkan.

Bebas dari ketertindasan disini, menurut penulis, menjadi cantik itu seharusnya berkorelasi dengan perasaan enjoy. Ketika perempuan enjoy dengan dirinya yang hitam, berambut keriting, bertubuh pendek, atau tak punya dada montok, saat itulah dia cantik. Persepsi orang lain mungkin berbeda, tapi kecantikan itu boleh saja menjadi milik si perempuan tadi.

Disadari atau tidak, sebenarnya setiap masa itu punya persepsi kecantikan idel yang berbeda-beda. Ketika masa renaissance, perempuan bertubuh tipis atau twiggy, adalah sosok yang diidamkan. Tapi masa victoria, perempuan yang padat berisi dengan dada besar, disebut kecantikan yang ideal. Memasuki abad 21, kecantikan mulai diarahkan seragam oleh kekuatan besar media. Hasilnya, awal 80-an sampai sekarang, cantik ideal itu sangat stereotype. The Beauty is Wealth.

Mata jalang saya sering memandang “liar” pada perempuan yang menurut saya menarik secara seksual. Dan 100 tahun mendatang, L’Oreal membuat saya tak berani jalang lagi, karena tak sekadar menjadi revolusioner dalam kecantikan hati, tapi juga memberikan energi positif kepada pemakainya.

Financial Planning, Biar Musisi Kelak Nggak Terlunta-Lunta Hidupnya

MUSISI yang sedang berkibar kencang, lagunya laris manis, RBT-nya gila-gilaan, manggungnya tak pernah kosong, identik dengan penghasilan yang tiada tara. Mereka punya penghasila materi yang secara kasat mata saja sebenarnya bisa dihitung. Band yang mempublish angka 20 juta sekali manggung, Anda bisa tebak berapa penghasilannya kalau dalam seminggu adalah 3-4 kali manggung.

Saya tidak akan bicara soal berapa total angka yang diraih oleh band-band yang sedang naik daun itu. Saya menyoroti band-band yang awalnya gila-gilaan, tapi ketika mulai redup, mereka benar-benar kelimpungan dengan kehidupannya. Sebenarnya tak hanya dialami oleh musisi era kini. Banyak musikus masa lalu yang cukup sukses, masa tuanya diketahui hidup terlunta-lunta. Kemana harta melimpah yang pernah mereka kumpulkan?

Inilah “aktivitas” musisi yang sedang laris manis dan pegang uang banyak. Ada semacam “dendam” dengan keadaan. Yang awalnya ngeband dengan susah payah, ketika sukses, apapun yang mereka mau, mereka lakukan karena bisa. Anak band tidak “keren’ kalau belum main perempuan [groupis], belum hebat kalau tidak pernah menyentuh alkohol. Belum dianggap ngetop kalau belum bikin sensasi di televisi.

Yakinlah, itu semua hanya sesaat ketika namanya sedang berkibar. Ketika popularitasnya sedang merosot jauh, manggung mulai sepi, karyanya tak didengar lagi, dan RBT-nya anjlok, mereka bukan siapa-siapa lagi. Kalau materinya sudah dihambur-hamburkan di awal sukses, percayalah, kelak hidupnya akan kembali ke titik nadir.

Apa yang ingin saya tulis ini memang lebih kepada persoalan manajemen financial. Buat penulis menjadi penting karena melihat pengalaman musisi yang kemudian tidak punya apa-apa lagi ketika tidak beken lagi. Ada beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan supaya ketika surut popularitasnya, tidak hidup nelangsa. Kecuali Anda memang bermusik hanya untuk iseng-iseng dan dari sananya sudah berlimpah harta. Itupun kalau tidak di-maintenance dengan baik juga akan menguap begitu saja.

Secara manajerial, musisi atau band harus punya financial planning yang tepat dan bermanfaat. Dengan pertimbangan jauh ke depan. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh musisinya saja, tapi manajemen juga harus berpikir untuk kelangsungan hidup band atau musisi yang dinaunginya. Jangan “diperas” ketika sukses, kemudian “ditendang” ketika mulai asat atau kering. Ya kalau memang dia punya skill dan olah musical yang memang hebat. Bagaimana kalau biasa-biasa saja dan ngetop karena factor luck saja?

Beberapa financial planning yang mungkin bisa jadi bahan pertimbangan adalah:

1. Asuransi
Banyak musisi yang tidak berpikir tentang proteksi ini. Mereka merasa yakin dengan kemampuan financial-nya sekarang ini, bisa mencukupi apapun yang terjadi pada kehidupan mereka. Tapi perhatikan banyak contoh yang terjadi. Ketika seorang musisi sakit atau meninggal, yang ada adalah “malam pencarian dana” karena uangnya habis untuk berobat misalnya. Tidak salah karena itu adalah bentuk kepedulian penggemar dan orang-orang yang mencintainya. Tapi apa yang ditinggalkan untuk keluarganya kemudian? Hutang? Kesusahan tentang masa depan?

Dalam kasak-kusuk dengan penulis, ada beberapa band besar yang mengalami persoalan financial akut. Secara kasat mata, tampaknya tidak ada persoalan karena manggungnya masih lumayan. Tapi kemana uangnya? Bagaimana kalau faktanya adalah karena terlalu banyak dipakai untuk bermain perempuan? Tidakkah berpikir kelak ketika masa susah dia tak akan didekati perempuan yang rata-rata hanya menginginkan kedekatan sesaat itu?

2. Deposito
Bertanya dan belajarlah tentang bagaimana menyimpan uang dengan baik dan benar. Kalau memang tidak mengerti, tidak ada yang salah kalau kemudian bertanya kepada ahlinya. Perencanaan yang matang akan membantu Anda mengatasi masa sulit kelak. Deposito mungkin sedikti “menyedot” harta Anda yang ingin Anda hambur-hamburkan, tapi kenapa tidak kalau kelak Anda malah bisa menuai hasil yang membanggakan?

3. Studio Musik
Investasi dengan sebuah usaha yang dekat dengan dunia musik, tidak ada salahnya. Studio musik adalah salah satunya. Banyak musisi yang mengalokasikan dananya untuk membuat studio. Bisa buat pribadi atau band, tapi bisa juga dipakai untuk umum. Diperlukan strategi marketing yang jitu juga dari manajemen. Karena banyak pula studio yang “tewas” dan gukung tikar seiring menurunnya popularitas si musisi itu,

4. Distro & Clothing
Sekarang ini, fashion tidak bisa dipisahkan dari band. Secara audio enak didengar, secara visual juga nyaman dilihat. Salah satu yang berperan sekarang ini adalah distro. Banyak musisi yang diendorse oleh distro ngetop, untuk mengenakan kostum mereka. Hal ini harusnya bisa jadi peluang yang kalau jeli, bakal jadi pemasukan yang tidak kalah dahsyatnya.

5. Sekolah Musik

Mulai banyak musisi yang membuka sekolah musik secara spesifik. Misalnya Gilang Ramadhan membuka sekolah khusus drum, atau Dewa Budjana membuka sekolah khusus gitar. Ini investasi, tapi harus dipikirkan matang-matang supaya tidak terkesan hanya mendompleng popularitas sesaat saja. Meski tak dipungkiri, nama besar di artis akan sedikit mendongkrak.

===

Tentu masih banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh musisi tersebut. Apa yang saya tulis di atas sekadar contoh yang bisa dilakukan banyak musisi yang kerap terlupa dengan financial planning –nya.

Musisi memang bisa jadi profesi seumur hidup, Tapi tak seumur hidup, musisi menemukan popularitas di atas awan itu. Jadi, rasanya berpikir jauh ke depan menjadi relevansi dengan eksistensi band dan musisi itu secara personal.

Apa yang saya tulis ini, lagi-lagi hasil pengembangan dari wawancara dengan banyak musisi era kini dan masa lalu. Ditambah sedikit riset kecil-kecilan tentang perilaku financial para musisi itu. Semoga bermanfaat dan membuka mata kita. Kelak, tidak ada lagi musisi yang “terseok-seok” hidupnya.

Kiat Membentuk BAND Yang BAGUS & SukSes

KELAK, KALAU anak-anak kita, adik, keponakan atau saudara kita ditanya apa cita-citanya, jawaban ‘Jadi Anak Band!’ mungkin akan makin jamak. Kini, ngeband menjadi banyak incaran anak muda dengan banyak harapan. Tentu saja mayoritas adalah ingin ngetop dan berkelimpahan secara materi.

Nggak salah kok. Toh banyak hal bisa dilakukan ketika ngeband kemudian dijadikan profesi dan berhasil. Sayangnya, banyak yang membentuk band, membuat lagu, dan berkarya asal-asalan, tidak punya ciri dan cenderung mengekor yang sudah ada. Dengan alasan trend yang sedang berkibar, alasan sebenarnya adalah “ketakutan” tidak diterima oleh industri, lama ngetop dan gagal jadi anak band.

Ketakutan yang wajar saja sebenarnya. Secara psikologis, rasa percaya diri itu perlu dipupuk dari awal ngebentuk band. Tapi jangan berlebihan, karena ketika gagal, nanti bisa seperti caleg yang gagal, stress atau gila malah.

Ada beberapa kiat untuk membentuk band. Tak melulu karena kesamaan visi dan punya skill yang mumpuni. Tapi juga ikatan emosi yang bisa ketemu dengan personil lainnya. Kiat-kiat ini bukan semata karangan penulis, tapi lebih kepada intisari atau benang merah dari banyak band yang berhasil diwawancara. Tak semua berhasil jadi band besar, karena tidak sedikit yang bubar dan hilang sama sekali. Tapi tak kurang yang sampai sekarang menjadi most request karena lagunya [dan band-nya sendiri] disukai banyak orang.

Yang paling perlu diperhatikan dalam membentuk band adalah:

1. Visi & Mimpi Untuk Sukses
Dia boleh hebat bermusik, dia boleh jago bikin lagu, dia juga boleh tanpa tandingan ketika nyanyi, tapi tanpa visi dan mimpi yang jelas, itu semua omong kosong. Personil band harus punya visi yang sama. Saya ingin meminjam lirik Laskar Pelangi-nya Nidji, ‘mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia’.

Menyatukan visi bermusik sebuah band itu perlu untuk menjaga keutuhan sebuah band. Perbedaan visi bermusik antar anggota bisa membuat sebuah band akhirnya bubar atau anggotanya mengundurkan diri. Hal ini disebabkan setiap anggota punya visinya sendiri tentang musik yang ingin dimainkannya, baik sekarang maupun di kemudian hari. Maka tiap anggota band perlu saling mengetahui dan menerima visi bermusik anggota lainnya ini serta saling menyesuaikan.

2. Punya Conecting & Chemistry Antar Personil

Kadang-kadang ketika membuat band, banyak yang merasa tak menemukan koneksi antar personil. Koneksi itu dalam bentuk komunikasi personal, emosi lagu yang dibuat, dan feel ketika membuat aransemen. Kekompakan itu penting, tapi komunikasi dalam hal apapun, menjadi lebih penting. Banyak band yang bubar atau ditinggalkan personilnya karena perasaan yang tidak enak, dipendam dan akhirnya “meledak” menjadi emosi tak terkontrol yang meruntuhkan kebersamaan band itu.

3. Kesatuan Hati.

Disini maksudnya agar anggota band saling akrab satu sama lain, sehingga terjadi keterpautan emosi antar anggota. Keterpautan ini memudahkan permainan musik yang padu. Caranya misalnya nonton bareng, nangis bareng, ketawa bareng, diskusi bareng, dsb. Tampaknya remeh, tapi percayalah sisi emosi seperti ini membantu kesehatian antar personil. Ini akan memberi efek saling memiliki dan saling melengkapi.

4. Mencintai Musik[nya]
Mencintai musiknya, menjadi hal yang sangat krusial ketika membentuk band. Banyak band yang berkibar sekarang, lahir dari pengaruh musical yang beragam. Ada personil yang suka rock, pop, jazz atau mungkin dangdut. Tidak masalah selama mereka sepakat dan sehati mencintai musik yang mereka sepakati untuk mainkan. Kalau main pop, cintailah pop. Kalau main rock, cintailah rock. Sense of Belonging itu akan membantu menikmati musik yang mereka mainkan. Enjoy.

===

Setelah melewati fase pembentukan band tadi, lantas jalan tidak menjadi lebih mudah. Secara musical karya mereka masih perlu diuji oleh pendengar dan penikmat musik yang lebih luas. Ada beberapa hal yang bisa membantu meningkatkan kemampuan musical dan mempelajari selera musikal masyarakat, tanpa harus ‘melacur” ikut arus trend saja.

1. Meningkatkan Wawasan Musikal
Buat seorang musisi, dalam level apapun, pengetahuan soal musik itu sangat penting. Seorang musisi mengekpresikan dirinya lewat alat musik yagn dikuasainya. Alhasil, wawasan musical itu jadi penting sekali. Penguasaan pengetahuan musik akan membantu musisi dalam berekspresi, memainkan serta menciptakan musik. Sekadar catatan, dalam sejumlah wawancara yang penulis lakukan, banyak musisi yang merasa cukup dengan pencapaiannya sekarang dan tidak merasa perlu belajar lebih baik. Sayang sekali…

2. Meningkatkan Penguasaan Instrument
Makin mahir si musisi itu memainkan alat musiknya, jelas makin baik. Apalagi kemudian bisa menguasai alat musik lain yang tidak menjadi core musiknya. Proses musical dan lahirnya karya apik, bisa muncul dari banyak instrument. Ketika musisi itu punya kemampuan yan terus meningkat, proses penciptaan karya itu juga akan meningkat secara kuantitas dan kualitas.

3. Latihan Personal
Maksudnya memainkan instrument musik tanpa rencana terlebih dahulu. Pokoknya mainkan saja instrumentnya mengikuti kata hati. Hal ini berguna untuk meningkatkan kemampuan musisi mengekspresikan dirinya, mengenali dan mencurahkan emosinya melalui instrument musik. Musisi besar sekelas Mick Jagger, Paul McCartney atau Iwan Fals dalam banyak wawancara selalu mengatakan mereka sampai sekarang masih berlatih dan berlatih.

4. Latihan Bersama [Ngejam]
Maksudnya suatu band secara bersama-sama memainkan alat musiknya masing-masing tanpa ada rencana terlebih dahulu. Pokoknya masing-masing anggota memainkan saja instrumentnya mengikuti kata hatinya masing-masing, sambil mendengarkan permainan anggota-anggota lainnya serta saling berusaha menyesuaikan permainan masing-masing dengan permainan anggota-anggota lainnya.

Hal ini penting dan berguna agar masing-masing anggota band saling mengenal kebiasaan anggota-anggota lainnya dan dapat saling menyesuaikan permainannya dengan permainan anggota-anggota lainnya. Tujuan akhirnya agar permainan band itu bisa semakin padu dan harmonis.

Banyak aransemen bagus dan legendaries, lahir ketika personilnya latihan bersama. Ketika mereka menemukan chemistry dan emosi tertumpah, biasanya akan lebih lepas.

5. Mengasah Kepekaan & Keindahan
Musik tak hanya bicara aransemen, tapi juga lirik lagu. Akan lebih menyenangkan ketika masing-masing personal band ini, mau mencoba mendengarkan dan membaca hal-hal lain yang membantu kepekaannya berkarya. Gitaris coba mendengar harpa, drummer coba mendengar gendang, atau kibordis mencoba mendengar gitar akustik.

Kemudian penulis lirik coba banyak membawa karya satra, menonton teater atau menyimak puisi-puisi yang bagus. Tidak harus membuat lirik yang ribet dan sok sastrawi, tapi menyentuh ranah kepekaan akan keindahan. Paling tidak bisa menjadikan lagu itu nyaman dan enak dinyanyikan dengan liriknya.

6. Memperluas Wawasan Berpikir
Musisi tidak harus sarjana, tidak harus doktor. Lulusan SMA atau lebih rendah juga tidak dilarang. Tapi dia harus berani membekali diri dengan wawasan dan pandangan yang lebih luas supaya karyanya juga tidak kacangan. Meluaskan wawasan berpikir itu perlu supaya seorang musisi dapat menciptakan lirik-lirik lagu yang indah, menyentuh perasaan dan mengena ke pendengar lagu-lagunya.

Lagu dengan lirik macam ini dapat bertahan disukai pendengarnya lebih lama alias dikenang orang. Selain itu dengan wawasan berpikir yang luas memudahkan seorang musisi dalam menggali dan menciptakan beragam jenis musik.

===

Tidak ada yang menjamin, ketika hal di atas sudah kamu lakukan, band kamu akan ngetop dan sukses. Ada banyak faktor lain yang harus kamu punya, seperti keberuntungan dan nasib baik. Tapi hal di atas adalah garis besar dari kiat sukses band atau musisi yang sampai saat ini mengisi ruang public musik di Indonesia.

Thanks to:
Boomerang, Jamrud, PowerSlaves, God Bless, BIP, Keyla, Slank, KLa Project, Ungu, Peterpan, The Titans, KOTAK, Glenn Fredly, David Tarigan, SORE, The Upstairs, NaiF, NAFF, Blue Savanna, Syndrome, BurgerKill, Superman Is Dead [SID], Didi Kempot, Manthous, Waldjinah, Gesang, Bondan Prakoso, Wali, ST12, Kangen Band dan seabrek band yang sudah, sedang dan akan “dihujat’ oleh mereka yang merasa “pemilik sah” industri musik Indonesia. Anda semua menjadi inspirasi tulisan ini.

16 Trik Mempertahankan Soliditas & Mengembangkan Eksistensi BAND

APA SIH ketakutan terbesar dari sebuah sukses band yang mencuat? Selain mengaku takut tidak bisa berkarya lagi, nyaris semua band yang dihubungi menjawab, soliditas band!

Yup, banyak band yang sempat ngetop bubar, karena personilnya sudah tidak solid lagi. Personilnya sudah makin mengedepankan ego. Personilnya makin merasa lebih penting dibanding personil lainnya. Yang terjadi, ketidaksolidan dan buntutnya adalah bubar. Atau kalau tidak bubar, gonta-ganti personil menjadi menu wajib dari band tersebut.

Sebut saja Harapan Jaya, band asal Bandung, yang akhirnya bubar. Edane, band rock Jakarta yang selalu terbelit gonta-ganti vokalis, sampai band sekaliber God Bless yang bolak-balik keluar masuk personil baru. Tidak selalu jelek memang, karena ada yang ketika masuk personil baru, justru menemukan ritme dan sentuhan baru, seperti Dewa 19 pasca keluarnya Ari Lasso dan masuknya Once.

Memang tidak mudah menjaga soliditas sampai tahunan. Sulit menemukan band seperti U2 atau Aerosmith atau Rolling Stones yang sudah masuk usia renta, masih tetap ngeband dengan asik dan utuh. Banyak alasan yang bisa diungkapkan. Tapi belajar menjaga kekompakan dan keutuhan band, sebagai syarat eksistensi yang kokoh, tampaknya penting banget.

Ada nggak sih kiat untuk menjaga soliditas atau keutuhan band? Untuk bertahan sampai puluhan tahun, tentu perlu riset yang mendalam. Tapi sebagai sebuah wacana yang perlu diungkap terus menerus, ada beberapa hal penting yang bisa dicoba. Anda siap punya band yang kokoh, eksis, solid dan sukses tentu saja.

1. Mutu dan soliditas band Anda tercermin dalam mutu relasi dan pertalian antar personil dalam band Anda. Masing-masing personil harus jelas dalan mengatur nilai dan hubungan, karena hal itu bisa membuat band Anda makin kuat, atau justru makin terbuka untuk bubar. Saling bertanya tentang perubahan dan sikap yang tidak mengenakkan, akan sangat membantu memperkokoh ikatan peer group band Anda.

2. Bukan tanpa alasan, semua personil band Anda, menjadi satu tim dan punya cita-cita sukses yang sama. Masing-masing dari Anda mungkin punya pilihan untuk tidak bergabung atau membentuk band sendiri, tapi percayalah, pilihan Anda adalah rahasia kekuatan band Anda. Yang terpenting, kemauan dan totalitas melakukan sesuatu dengan altenatif yang sudah dipilih, akan menjadi kekuatan terbesar band Anda. Kegiatan bersama antar personil juga membuat emosi antar personil akan lebih intim.

3. Semua personil harus mengenali “racun-racun” yang ada dalam kekerabatan band, benar-benar jujur dengan pilihan bermusik Anda dan jangan saling menggantungkan obsesi kepada personil lain. Bermimpilah bersama, tapi jangan melempar mimpi itu kepada orang lain. Sama-sama bekerja keras tanpa ada yang merasa lebih keras dibanding yang lain.

4. Kekompakan dan keutuhan itu berasal dari upaya mengubah pola pikir egosenstris, punya semangat tinggi dan visi pribadi serta kelompok yang jelas dan menantang. Alangkah indahnya kalau disediakan waktu untuk ngobrol bersama dan berdiam bersama.

5. Saling evaluasi tanpa tendensi menjatuhkan atau ingin terlihat lebih menonjol. Evaluasi menjadi hal penting atas dasar catatan masing-masing personil mengenai apa yang sudah dikerjakan bersama dan hasil yang sudah dicapai. Contohnya: ketika membuat aransemen untuk lagu baru, mungkin Anda yang diandalkan, tapi tidak salah juga kalau Anda minta saran atau pendapat personil lain.Menyukai yang Anda kerjakan, akan membuat hasilnya jauh lebih bagus.

6. Kalau memang punya visi dan harapan untuk berkembang dengan napas panjang, masing-masing Anda harus berani memberi catatan sikap positif dan negative dari diri sendiri. Menemukan kekurangan dan kelebihan, akan sangat membantu menempatkan posisi Anda kelak. Fokus pada kekuatan dan kelebihan talenta Anda, tapi bisa mengendalikan kelemahan yang mungkin merusak keutuhan band Anda.

7. Sebagai satu tim, harus bisa diputuskan dengan kriteria apa band Anda kelak punya pemimpin, leadership, manajerial, manajemen dan target suksesnya. Ini penting, supaya semua bisa bergerak bersama, tidak sepotong-sepotong.

8. Kelak, menemukan eksistensi dan jati diri sebagai satu kelompok utuh, akan membantu kemana band ini akan dibawa. Belajar terus menerus adalah sebuah keharusan. Inovasi, keluar dari rasa nyaman ketika sukses, akan memberi tantangan terus menerus untuk berkembang lebih baik.

9. Manajemen band harus memberikan dukungan yang mantap, punya kreativitas dan cara memandang jauh ke depan. Untuk menerobos setiap perubahan yang terjadi pada industri itu sendiri. Jangan sampai keteter atau malah tertinggal dengan industri.

10. Jangan biarkan “sekam” dalam hati makin membara. Ketika ada persoalan antara manajamen dan personil, atau antar personil misalnya, harus berani mengambil risiko untuk memulai pembicaraan yang akan membuat kesehatian kelompok berada dalam dialog yang jujur. Ini akan menghilangkan kecurigaan, salah sangka dan pikiran negative. Kalau sudah mulai sering terjadi hal ini, kendalikan jadual manggung dan beri waktu untuk senggang, rileks dan menikmati hari tanpa berpikir soal musik.

11. Masing – masing personil termasuk manajemen, harus punya rencana A atau rencana B. Menurut ilmu manajemen yang saya kutip dari Peter F, Drucker, masing-masing orang harus bisa mengembang rencana B bahkan sebelum selesai mencapai rencana A.

12. Kalau sudah ngetop, popular dan banyak fans, akan ada banyak godaan dan tantangan dari luar. Band Anda tidak boleh menjadi “korban” dari kekuatan dari luar itu. Jangan “liar” dengan jadual manggung atau konser, tapi kendalikan diri dan cari yang terbaik supaya nyaman dan aman. Jangan mentang-mentang sedang laris, semua undangan “dihajar”.

13. Anda harus sadar, bahwa popularitas akan membaurkan masing-masing personil dalam kehidupan dan pekerjaan pribadi. Risiko yang harus diterima adalah sering kehilangan waktu berharga bersama orang-orang yang kita cinta. Pemahaman ini penting, karena kalau tidak diselesaikan, kelak bisa jadi duri dalam daging.

14. Band Anda harus punya niat dan tujuan yang konsisten.

15. Visi yang jelas akan membuat band Anda punya keberanian yang riil untuk memberikan yang terbaik bagi fans dan industrinya sendiri. Tentunya akan bermanfaat untuk personil bandnya juga.

16. Kunci menuju kesuksesan sebuah band besar adalah integritas band itu sendiri. Mengerjakan hal-hal yang sudah biasa, dengan konisten dan terbaik. Percaya atau tidak, integritas band [dan para personilnya], dibangun atau dihancurkan oleh hal-hal sepele yang sudah mejadi rutinitas. Jaga hal itu.

7 Intisari SUKSES Musisi di Industri Musik Indonesia

KATA ORANG, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Bisa jadi begitu. Tapi mungkin juga orang itu memang tidak punya visi sukses. Banyak musisi yang ngetop sekarang, lahir dari sebuah perjalanan panjang yang “berdarah-darah” istilahnya. Meski sekarang juga banyak musisi instan yang lahir dari keberuntungan. Hasilnya pasti berbeda. Belum ada riset yang membuktikan secara ilmiah sih, tapi kita bisa tahu dari track record-nya kelak, yang instant biasanya tidak punya mental yang kuat.

Musikus sukses adalah musikus yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Ia memandang kemampuannya bermusik sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Kalau penelitian di Eropa, pernah menemukan satu sintesa, musisi yang kuat mental dam punya visi sukses yang kuat, biasanya akan berhasil mencapai tujuannya. Itulah kira-kira kesimpulan dari penelitian selama 40 tahun terhadap orang-orang sukses.

Dari pengalaman, ngobrol dengan pelaku-pelaku industri musik, dan terlibat banyak diskusi, ada garis linier yang bisa dilihat mengapa banyak musisi gagal, bertahan lama, dan instan sukses, tapi instan pula “matinya”. Mungkin tidak banyak yang ngeh dan memperhatikan dan mengevaluasi kenapa musisi-musisi itu seperti itu. Saya coba menelisik tulisan tentang penyanyi, band, atau musisi baru selama 10 tahun terakhir. Saya coba mengamati bagaimana dan mengapa mereka tergerak untuk menjadi teratas, lagunya ngetop, band-nya laris, gosipnya kencang.

Dari semua itu, saya mencoba memberi simpul kunci sukses yang mereka raih. Mungkin tidak semuanya tepat, tapi pengalaman dan upaya banyak musisi itu, bisa jadi catatan untuk musisi baru yang mencoba merengkuh sukses.

1.Sukses Itu Mau Ambil Risiko
Banyak band baru yang berharap, ketika mencipta lagu yang menurut mereka bagus, rame di-request di radio, artinya jalan sukses terbentang lebar. Sabar bung! Tidak semudah itu. Banyak band yang sukses berani ambil resiko dengan nekat mendatangi label, mengirim materi sendiri, kadang merekam dan mengedarkannya sendiri Tidak semua berhasil, tapi mencoa dan kemudian merasakan sebuah perjuangan, itu akan membuat mereka tangguh, ketika kelak berhasil.

Tak hanya itu, menjalin relasi sebanyak-banyaknya sebelum ngetop, dalam arti relasi tanpa asas manfaat doing, aktif bertanya dan belajar membangun jaringan yang kuat, akan sangat membantu kelak. Cara menjadi musisi sukses adalah dengan menjadi pengambil risiko moderat; yang mau terus mengambil risiko untuk meraih sukses.

2.Merasa Harus Berbuat Untuk Dunia Musik
Ingin masuk ke industri, tapi hanya berpikir sukses jadi musisi ngetop? Mungkin bisa, tapi percayalah, kalau itu yang Anda lakukan, eksistensi Anda tidak akan panjang. Kesuksesan yang Anda raih, akan instan. Sukur kalau bisa menjaa materi yang Anda dapat, kalau kemudian meredup dan tak berkarya lagi, bisa jadi orang susah beneran.

Musisi yang ingin sukss harus punya visi jelas tentang karirnya. Mereka harus memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap berkarya sesuai skill mereka, sambil tetap menyadari bahwa dunia musik inilah yang memberi mereka kesempatan untuk dikenal, melakukan sesuatu yang penting kepada orang lain lewat musik.. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka. Itu kalau bicara soal materi.

3. Menikmati Apa Yang Sedang Mereka Kejar & Lakukan.
Jadi musisi adalah beban? Kalau sudah berpikir seperti itu, siap-siap minggir dari industri musik bro. Proses mencipta lagu, mengaransemen, dan mempublikasikan karya supaya bisa dinikmati orang banyak, adalah bagian dari “kenikmatan” seorang musisi. Mereka mampu melihat tantangan untuk berhasil ini sebagai kesenangan; mereka memilih bekerja di mana mereka dapat berkreasi dengan bebas. Musisi yang ingin sukses, pasti menyukai tantangan; mereka menikmati pencapaian puncak perjalanan mereka.

Jangan pernah mengeluh dan patah arang. Banyak musisi yang sekarang sukses, awalnya adalah”gembel” dalam arti sesungguhnya. Kemudian mereka jatuh bangun dan mencapai sukses lewat jalan panjang. Saya lebih apresiasi kepada mereka yang sempat mengalami jatuh bangun seperti ini, karena seharusnya bisa lebih humble ketika sudah sukses.

4. Belajar Seumur Hidup.

Tidak ada musisi instan yang baik. Semua lahir dari proses pembelajaran yang panjang. Kalau ada yang merasa dirinya sudah jago, skillfull dan lebih hebat dibanding musisi lain, tampaknya dia harus belajar lebih keras. Musisi yang ingin sukses, dia adalah seorang pelajar seumur hidup. Bahkan ketika dia mencapai puncak karir, dia tetap harus belajar hal baru di dunia musik itu sendiri.

Mereka harus menyadari, belajar itu tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Karena itu, tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri. Banyak yang meremehkan Dody Kangen misalnya, tapi ketika belajar lebih keras, sekarang dia bisa mencipta lagu untuk penyanyi lain dan cukup laris.

5. Selalu Berpandangan Positif
Orang yang berpikir dan berpandangan positif, akan melihat sukses orang lain, musisi lain, penyanyi lain, sebagai pemicu untuk mengejar dalam arti positif. Lebih bagus kalau dianalisa, dievaluasi dan kemudian dicari strong poin kenapa dia bias sukses. Anda jangan berada pada posisi musisi yang ‘susah melihat orang senang, dan senang melihat orang lain susah’.

Sebagai musisi yang ingin sukses, Anda harus menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil mencapai tataran sulit atau mencapai penghargaan tertinggi dalam industri yang mereka tekuni ini. Musisi yang sukses harus berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka. Jangan egois dan kemudian “terlalu” meyakini suksesnya adalah semata-mata kerja kerasnya sendiri.

6. Memotivasi Diri

Musisi yang sukses, selalu memotivasi diri. Ketika drummer Deff Leppard harus diamputasi, orang nyaris menganggap karir bad ini habis, atau harus ambil drummer baru. Tapi dengan motivasi yang kuat, dia bisa menjadi salah satu drummer hebat dengan tubuh yang cacat. Musisi yang ingin sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ramona Purba punya keterbatan tak dapat melihat, tapi dengan motivasi kuat, dia bisa sukses dan menjadi salah satu penyanyi yang cukup diperhitungkan di Indonesia, beberapa waktu yang lalu.

7.Tidak Setengah-Setengah
The Beatles, Rolling Stones, Koes Plus, Panbers, Chrisye, adalah contoh musisi sukses yang menuju ke “pertempuran” industri dengan tidak dengan setengah-setengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finis. Mereka manfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan musical, mental dan talentanya untuk mencapai sukses.

Beberapa band yang masuk dalam list catatan saya, dengan segala sepak terjangnya yang positif, negatif, dan pencapaiannya di industri musik Indonesia adalah Edane, Radja, Ungu, Peterpan, Jamrud, Boomerang, Cokelat, EverybodyLove Irene, Maylaffayza, Glenn Fredly, Rio Febrian, Titi DJ, Krisdyanti, Indonesian Idol, Erwin Guttawa, Fariz RM, Deff Leppard, Aerosmith, Kobe, Discus, Imanissimo, Pendulum, KOesPlus, Netral, Seringai, Puppen, dan seabrek band pop di era 2000-an yang tak pernah berhenti bermunculan sampai sekarang.

10 TRIK Untuk BAND PEMULA Menghadapi Pertanyaan Kritis WARTAWAN

UNTUK BAND pemula, band yang baru masuk industri musik dan kemudian menggelar launching untuk memamerkan eksistensinya. Berhadapan dengan wartawan itu seperti ‘sidang skripsi’ di depan dosen. Dicecar dengan banyak pertanyaan yang menukik, tajam, membingungkan, berputar-putar dan kadang menyakitkan. Band-band ini sering terjebak pada jawaban yang normative dan tidak menjelaskan tentang karyanya sendiri.

Mereka biasanya tergantung pada press relese yang sudah dibuat untuk membantu wartawan memahami karya si artis atau band tersebut. Tapi jangan salah, tidak semua wartawan hanya berpatokan pada rilis yang sudah dibagikan itu. Jujur, meski tidak semua pertanyaan wartawan berbobot dan menguasai materi, tapi berdasar pengalaman, banyak pertanyaan yang kemudian bisa menjadi “daya kejut” untuk band baru. Belum lagi kalau bicara soal bahasa tubuh, intonasi dan gaya bertanya.

Tidak ada yang tidak mungkin, begitu Adam Malik selalu berkata. Untuk band baru yang menemui kendala seperti itu, saya akan memberikan “bocoran” bagaimana harusnya bersikap, menjawab, dan menguasai materi yang ditanyakan. Catatan ini mungkin sedikit membantu ketika band atau penyanyi baru itu kelak melakukan promo tour ke banyak radio dan daerah. Karena mereka akan bertemu dengan banyak wartawan dengan pertanyaan yang beragam, meski kadang-kadang banyak yang sama juga. Tapi apapun pertanyannya, meski sudah didengar ribuan ali, tapi ketika menjawabnya tidak dengan hati, semangat dan antusias, akan menjadi jawaban yang membosankan. Hati-hati soal itu.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh band atau penyanyi baru itu antara lain adalah:

1.Kuasai Materi Dengan Baik

Secara logika, band yang rilis album, seharusnya sudah khattam tentang materi albumnya. Baik soal aransemen, lirik, tema, atau komposisi lagunya. Alhasil, ketika di depan wartawan, soal materi kudu tidak jadi persoalan lagi. Sayangnya, karena rasa segan, malu, gugup, panik, mereka seringkali belepotan menjawab pertanyaan soal materinya sendiri. Ini menjadi paradoks, materi sendiri tapi nggak ngerti. Kecuali, semua lagunya diciptakan oleh orang lain, dan dia hanya menyanyikan saja. Penguasaan materi menjadi hal vital yang musisi baru itu harus –saya katakan harus—dikuasai dengan baik dan benar.

2. Latihan Konperensi Pers

Latihan? Betul. Percayalah, zaman sekarang banyak band, musisi, atau label yang meremehkan press conference untuk band baru. Alasannya macem-macem. Nggak efektiflah, terlalu biasa, atau mungkin bujetnya mendingan dipakai untuk promo. Tapi saya juga masih percaya, band baru penting memperkenalkan diri, karya dan attitude-nya. Nah, sebelum memulai preskon, baiknya sehari atau beberapa hari sebelumnya, ada training untuk mereka. Undang saja, satu dua orang wartawan yang dianggap kapabel untuk memberi coaching.

Ajukan semua pertanyaan yang biasanya diajukan kepada artis. Dan biarkan si artis itu belajar menjawab dengan apa yang ada di kepalanya. Mungkin jawabannya salah, atau memunculkan pertanyaan baru yang lebih ribet, tapi tak apa. Lebih banyak “berantakan” di coaching daripada kacau balau di preskon sesungguhnya.

3. Biasakan Mencatat

Ini kerap saya perhatikan. Tidak pernah ada team dari artis yang sedang preskon itu, mencatat detil pertanyaan yang diajukan. Kalau artisnya mungkin sibuk menjawab gempuran pertanyaan, tapi manajemenya harusnya bersikap merekap apa-apa yang ditanyakan. Menapa itu jadi penting, untuk pemula evaluasi menjawab pertanyaan itu penting. Karena mereka adalah front-man yang berhadapan dengan wartawan dengan segala bentuknya. Kalau rajin mencatat, pertanyaan apa saja yang biasa ditanyakan, dan bagaimana sebaiknya menjawab dengan efektif, benar dan tepat, mungkin bisa dicapai dengan baik.

4. Bahasa Tubuh

Banyak artis yang gagal pada kesempatan pertama karena punya aura [bukan aura kasih ya] yang tidak menyenangkan. Beberapa artis yang sekarang sudah mencapai puncak popularitas, beberapa diantaranya sempat mengalami “gegar-budaya” ketika wawancara dengan wartawan di awal karirnya. Jawabannya belepotan dan mengaburkan makna karyanya denga mencoba melucu yang tidak lucu. Saya tidak tahu, apakah itu menutupi ketidakmampuannya berkomunikasi di depan khalayak, tak menguasai materi, atau memang dia bodoh tapi beruntung bisa masuk dapur rekaman. Beda loh.

Jangan terlihat takut, minder atau seperti ‘kabayan saba kota’. Wartawan juga manusia, yang tidak tahu apa-apa dengan karya si artis. sebelumnya Ketika wartawan bertanya, ada proses pembelajaran dan proses pemberitahuan hingga wartawan jadi tahu tentang artis itu. Janggan dianggap ketika wartawan bertanya, hanya sekadar ngetes saja. Ada proses belajar bersama. Perhatikan wartawan yang bertanya, jangan bersikap berlebihan, dan jangan kelihatan takut dengan nunduk terus.

5. Jangan Meremehkan

Ini berlalu untuk wartawan dan artisnya. Untuk wartawan, meski artisnya kelihatan ‘ndeso’ tapi jangan langsung dihakimi bahwa dia hanya mengandalkan keberuntungan saja. Untuk artis, jangan pernah meremehkan pertanyaan yagn diajukan wartawan, meski mungkin pertanyaan itu terdengar dangkal, kacang, atau bodoh sekalipun. Bukan hak artis untuk menilai pertanyaan itu bermanfaat atau tidak. Jawab saja dengan jawaban yang membuat dua pihak sama-sama terpuaskan.

Artis yang merasa dirinya sangat menguasai teknik bermusik bagus, punya skill tinggi, dan pendidikan musik yang mumpuni, juga jangan langsung menganggap wartawan tidak ngerti apa-apa tentang musiknya. Kalau hal ini sudah muncul, yang ada adalah kesombongan dalam menjawab pertanyaan. Percayalah, itulah awal kejatuhanmu.

Antusias menjawab dan menyimak setiap pertanyaan, akan memberikan nilai tambah kepada artis tersebut. Jangan terlihat lesu, malas atau asal-asalan dalam menjawab, terlepas itu persoalan imej yang ingin dibangun atau tidak.

6. Belajar, Belajar & Belajar
Saya selalu menganggap, ketika bertanya kepada artis, musisi, atau siapapun yang diwawancara, saya sedang belajar. Proses pembelajaran itu terus menerus dan tidak pernah berhenti. Begitu juga dengan yang harus dilakukan oleh artis baru itu. Jangan pernah menganggap pertanyaan wartawan, apapun bentuknya, sebagai satu intimidasi. Mengkritisi beda dengan memojokkan, menguasai materi beda dengan asal tanya tak jelas. Tapi semuanya harus dihadapi dengan cerdik, apik dan ramah.

Kalau sukses, kelak akan menghadapi wartawan yang sama, dengan beragam pertanyaan yang mungkin sama. Sekali lagi, jangan pernah bosan. Ketika kebosanan itu muncul dan menjadi attitude, masalah akan muncul.

Belajar, Belajar dan Belajar, Jangan pernah berhenti mengenal wartawan dan semua pertanyaannya, jangan pernah berhenti mengenal industrinya, jangan pernah berhenti belajar untuk tetap berkarya lebih baik dan lebih baik lagi.

7. Pertahankan Hubungan Baik
Banyak yang beranggapan, hubungan wartawan dan si artis hanya berlaku selama relasi pekerjaan saja. Sebenarnya tidak. Mempertahankan relasi baik dengan wartawan, menyapa, sekadar SMS atau say hello ketika bertemu dalam acara tertentu, menjadi nilai-plus. Jangan dilihat sebagai asas manfaat saja. Karena sekarang makin banyak wartawan yang berusaha mendekat ke artis dengan harapan mendapat “keuntungan” tertentu, sebaliknya artis mendekat ke wartawan karena ingin pamornya juga bisa dibantu. Hubungan baik penting, tapi tetap ada jarak itu juga perlu.

8. Percaya Diri & Jadi Diri Sendiri

Banyak artis, musisi, band atau siapapun itu, tampil di depan wartawan dengan kualitas kepercayaan diri yang parah. Banyak yang tampil seolah bukan dirinya. Seperti disetir, sehingga yagn nampak di depan adalah robot. Kalau masih begitu, dia belum siap masuk ke industri.

Ketika sudah mantap masuk ke industri musik, apapun konsekuensinya dia harus siap. Kepercayaan diri itu harus dipuk dari awal. Tapi jangan over confidence, karena itu juga terlalu berlebihan. Akan nampak di hadapan wartawan, apakah orang itu over PeDe, atau malah tidak punya kepercayaan diri sama sekali. Kemudian yang penting lagi, jadilah diri sendiri.

Cara ngomong, cara bersikap, attitude yang dimunculkan, adalah benar-benar karakternya dia. Meski makin banyak artis yang “muka-dua” tapi menjadi diri sendiri jauh lebih penting. Ketika dia berhasil, dia akan merasakan kerjakerasnya tidak sia-sia. Dan ketka gagal, dia tidak stress, gila, atau berbuat yang aneh-aneh seperti caleg kita. Dia tetap bersemangat berkarya, sampai batas yang dia rasa mampu.

Kemudian tidak takut menerima tantangan. Banyak penyanyi yang ‘karbitan’ merasa ‘ketakutan’ ketika ditantang untuk mendendangkan suaranya tanpa iringan musik. Kalau memang yakin dengan kemampuannya, kenapa tidak? Meski yang banyak terjadi adalah “belepotan” ketika melantunkan bait demi baitnya. Tapi nggak masalah, karena keberanian dan kejujuran memberi nilai plus.


9. Persiapkan Dengan Matang

Banyak musisi yang tidak mempersiapkan diri dengan baik ketika wawancara, preskon, apalagi one on one interview. Ini harus jadi catatan penting untuk pendatang baru, Apapun medianya, ada beberapa hal mendasar yang mesti disiapkan. Pertama, cari tahu siapa dan media apa yang akan mewawancarai Anda. Jangan hanya mendengar dari koodinator pers, media yang datang ini, yang datang itu, tapi kalau bisa tahu sifat media, itu akan membantu mendapat gambaran. Kedua, cari bahan/data pendukung yang relevan. Ini kaitanay dengan penguasaan materi dan karya. Ketiga, siapkan beberapa key messages untuk dikomunikasikan dalam wawancara tersebut. Ini bisa didapat kalau ada coaching dan ngobrol dengan beberapa pihak yang berkompeten.

10. Berdoa
Boleh kita berusaha macam-macam, tapi sebelum memulai, berdoa mungkin memberi ketenangan dan keyakinan. Paling tidak membuat kita tidak sendiri di preskon atau pas wawancara dengan wartawan.

Semoga Membantu!

Membenahi MANAJERIAL di INDUSTRI MUSIK Indonesia

DI INDUSTRI musik sekarang ini, pelaku-pelakunya seperti label, band, penyanyi, distributor, dan siapapun yang menikmati periuk ini, sudah tak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional untuk mendapat hasil yang maksimal. Harus ada suatu langkah revolusioner dan menakjubkan untuk mendapat respon yang menarik tentunya.

Banyak musisi yang benar-benar euphoria ketika mendapat kontrak dengan label besar [atau kecil sekalipun]. Mereka kemudian melonjak menjadi band yang bersiap masuk industri yang –konon—cukup ketat [dan kejam mungkin]. Tapi justru disaat itulah, sebenarnya mereka harus mempersiapkan diri supaya tidak cepat-cepat tergilas dan kemudian meletup menjadi asap yan tertiup angina.

Baru-baru ini, saya bertemu dan melakukan wawancara dengan seorang musisi dari Amerika Serikat dan Belanda. Mungkin kita sudah tahu, bagaimana industri musik di negara tersebut. Bisa dibilang, jauh lebih maju dibanding Indonesia. Baik secara manajerial, teknologi atau pun karya-karyanya.

Dalam wawancara saya itu, ada satu kesimpulan yang bisa saya tangkap. Mungkin saja tidak tepat seperti yang saya gambarkan ini, tapi bisa menjadi satu gambaran bagaimana industri disana bergerak. Dalam istilah musisi yang berada di ranah jazz itu, kebanyakan industri musik dijalankan oleh para musisi dan label besar yang berpengaruh. Mereka menganggap industri itu seperti mesin yang dapat diukur, dirancang dan dikendalikan dan di-manage. Cara ini memang berhasil ketika musisi yang terjun dalam industri ini masih bisa dikendalikan dengan sempurna.

Tentu saja kini –masih menurut musisi jazz itu—industri musik akan akan mengalami banyak perubahan. Kelak, arahnya tidak lagi menjadi “mesin” semata, tapi sistim jaringan social, jaringan kerja dan strategi yang revolusioner akan lebih dominan.

Tentu saja hal itu tidak semudah membalik telapak tangan. Pergerakan itu juga banyak mengalami hambatan dari”orang dalam” sendiri yang sudah terbuai dengan status quo itu. “Kecuali ada satu movement cara berpikir da berbicara tentang bagaiman industri itu diolah dengan cara yang lebih strategis. Jika tidak, industri yang menopang kami ini akan tetap tersandun dan jatuh,” ujarnya. Dia tentu saja tidak hanya bicara soal industri jazz, tapi industri musik secara global.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah industri musiknya juga bergerak seperti mesin, kemudian juga bergerak menuju perubahan yang revolusioner dengan ide-ide gila yang menarik?

Kita memang masih berkutat di seputar pembajakan, materi lagu yang dianggap tidak berkualitas, dan strategi promosi [dan distribusi] yang cukup efektif. Maklum saja, kini peredaran musik sudah bergeser tak lagi fisik yang dicari, tapi digitalized sudah masuk. Tak perlu beli CD, karena cukup lewat email, kita sudah bisa mendapat album utuh dari musisi yang kita inginkan.

Industri kini dilihat sebagai sepotong teknologi, bahkan mungkin potongan teknologi kecil, yang kelak akan lebih dahsyat sisi positifnya dan negatifnya. Dua kubu yang saling mengintai itu. Meski begitu, industri musik Indonesia dianggap masih memiliki kemampuan untuk melahirkan musisi yang cukup berkualitas dan berkelas. Meski sudut pandangnya masih bisa diperdebatkan.

Strategi Industri Yang Revolusioner
Jangan terlalu serius kalau saya menggunakan istilah revolusioner. Saya hanya ingin menggambarkan, bagaimana sebaiknya pemikiran, langkah dan strategi yang dipakai dalam industri musik ini, benar-benar menjadi langkah yang antisipatif. Mungkin saya terlalu cepat menyebutnya, Anda boleh memilih evolusi.

Tapi apa saya tulis ini merupakan satu rangkuman dari berbagai obrolan dan wawancara dengan para pelaku industri musik. Baik musisi, label, atau distributor. Termasuk didalamnya, musisi yang sudah sukses menikmati hasil di industri musik Indonesia.

Seorang CEO perusahaan multinasional besar, pernah mengatakan, “Saya adalah seorang pembawa misi!”

Saya jadi teringat ketika beberapa band besar manggung di Indonesia. Dalam sesi wawancara, mereka selalu mengatakan, “Saya terus menerus berkeliling dunia, selain konser dan bertemu banyak orang dari banyak negara, saya juga ingin memberikan penjelasan tentang apa yang sedang kami buat dengan karya kami, dan juga mengapa memilih mengerjakannya. Karena kami ingin karya kami bisa membawa misi.”

Mereka boleh saja berkilah, boro-boro mikirin pernik-pernik soal manajerial dan visi jangka panjang, lah wong ketika dilirik label saja sudah jadi anugerah. Pemikiran yang benar untuk band yang ingin sukses tapi cepat mati dan tak didengar karyanya lagi.

Membentuk band, kemudian berusaha membesarkannya sebenarnya adalah investasi. Seperti membangun sebuah perusahaan, perlu waktu untuk masuk ke dalam ruang yang ingin dibangunnya. Investasi itu tentu berharap menguntungkan dan bisa menghidupi banyak orang untuk jangka panjang. Kalau berharap invstasi itu balik modal cepat dengan perencanaan yang tidak matang, mungkin bisa, tapi percayalah, pondasi akan secepat itu pula ambruk.

Ada beberapa hal yang bisa secara de facto dan de jure bisa dilakukan sebagai langkah awal. Pemahaman ini akan menjadi benderang seandainya band, penyanyi atau musisi, mau belajar dan memetakan misinya sebelum mereka mentas sebagai satu karya dan produk.

1.Percaya diri dan percaya kepada orang lain.
Bagi pemain baru, percaya kepada diri sendiri dan orang yang bisa kita percaya, dapat memberi kita rasa percaya diri untuk masuk dalam ranah ketidaktahuan dan untuk selanjutnya membekali diri menjadi lebih tahu. Menariknya, ada satu musisi Indonesia ketika diwawancara soal strategi ini menyebut satu kombinasi ‘sifat ragu-ragu yang logis’

Ternyata dalam ‘bisnis musikal’ sikap rendah hati dalam menerima orang sebagai kepercayaan, kadang bisa salah. Ini terbukti dengan “rusaknya” hubungan band atau penyanyi dengan manajernya yang kadang-kadang sudah kenal tahunan.

Akan lebih menarik kalau sama-sama bicara dengan baik, tanpa mengabaikan pendapat orang lan. Kadang orang yang kita anggap bodoh, justru mempunyai gagasan yang tidak pernah kita duga. Ingat, industri ini butuh kerjasama di semua lini.

2.Semangat dan Fokus
Semangat dalam melakukan pekerjaan, membuat lagu, promosi dan berpikir bagaimana supaya si artis ini laku, memberi energi dan kekuatan untuk memberikan yang terbaik. Harusnya, ketika ini bisa disinergikan dengan semua komponen dalam industri, hasilnya akan baik. Meski banyak hal lain yang tidak pernah kita duga juga.

3.Mencintai Industrinya
Kalau tidak mencintai industrinya, mengapa berniat masuk ke industri ini? Ini bekal penting untuk kemudian berani melakukan banyak yang positif demi memajukan industri musik itu sendiri. Kecintaan ini tidak bisa muncul secara tiba-tiba tanpa persiapan. Musisi yang kecebur harus benar-benar mempersiapkan perangkat untuk “lari marathon” dan tidak “mati” di tengah arena. Artinya, eksis untuk jangka waktu panjang, perlu dipupuk jauh-jauh hari.

Anda sudah siap dari sekarang?

8 Kiat Untuk MUSISI Supaya Bisa NGOMONG BENER Di Depan PUBLIK

Setiap musisi, penyanyi atau siapapun yang berkiprah di industri musik, dijamin punya kemampuan bicara di depan publik [public speaking] yang bagus? Ternyata tidak. Banyak dari mereka yang “gagal” menjelaskan dirinya, memaparkan musikalitasnya atau menuntaskan karyanya kepada masyarakat [termasuk wartawan] lantaran tidak punya kemampuan berbicara kepada publik. Meskipun yang tidak sedikit, dari ”sononya” punya kemampuan menguraikan sebuah persoalan dengan baik dan benar kepada publik.

Saya membatasi persoalan ini kepada musisik yang bergelut di industri musik Indonesia. Khususnya yang selalu berhadapan dengan masyakarat dan wartawan, termasuk pekerja infotainment. Mengapa hal itu menjadi penting? Karena ternyata public speaking itu tidak identik dengan “banyak bicara” kepada khalayak, juga tidak identik dengan bahasan yang berbelit-belit yang dipakai untuk berkelit.

Saya sering menemukan musisi [baru dan lama], yang masih kesulitan ketika harus menjelaskan tentang materi lagunya. Ini nampak sekali ketika konperensi pers atau wawancara khusus dengan wartawan. Apalagi kalau wartawannya menguasai materinya dan tahu proses pembuatannya dengan mencari informasi dari luar musisinya. Yang ada, musisi atau penyanyi itu seperti “boneka” di atas panggung yang dipajang karena menjadi produk baru. Sayang sekali.

Itulah sebab utama, mengapa banyak sekali orang mengalami rasa gugup dan takut saat harus berbicara di depan orang banyak. Saat harus melakukan public speaking. Rasa gugup dan takut, yang muncul karena tidak terbiasa dan tidak pernah secara sengaja memahami dan mempelajari fenomena public speaking.

Buat saya, kesempatan bertemu dengan banyak wartawan adalah kesempatan untuk “jual diri, jual materi, jual karya” dalam arti positif. Ketika di kesempatan pertama “gagal” mempertahankan karyanya, meski sebenarnya bagus, itu menjadi “lampu merah” yagn harus segera dibenahi.

Berbicara tidak dapat dilakukan hanya dengan membuka mulut dan bersuara. Bebicara memiliki pola dan cara yang berbeda-beda. Berbicara tidak dapat dilakukan hanya dengan asal bicara. Berbicara, harus jelas dan dapat dimengerti. Berbicara dalam bahasa Indonesia berbeda dari berbicara dalam bahasa lain. Berbicara untuk pergaulan berbeda dari berbicara untuk karir, profesi dan bisnis. Berbicara formal tidak sama dengan berbicara informal.

Bahasa yang mencerminkan keseriusan. Bahasa yang mencerminkan pentingnya pencapaian tujuan untu dikenal visi dan msinya di industri musik yang mereka ceburi ini. Bahasa itu, adalah bahasa public speaking.

Bahasa untuk berbicara kepada orang banyak. Bahasa yang tidak diperoleh sejak lahir. Bahasa yang selama ini hanya diperoleh secara sambil lalu. Bahasa yang dikuasai oleh sebagian besar dari kita, dengan cara-cara yang tidak pernah disengaja, tidak pernah terstruktur atau tidak tersistem.

Dalam ilmu komunikasi, jika kita sebagai komunikator [anggap saja musisi] yang ingin menyampikan pesan kepada komunikan [bisa masyarakat, atau wartawan], harus punya message yang jelas. Ketika tidak sampai maksudnya, berarti ada ‘erosi fakta’ atau kesalahan komunikator, si musisi itu.

Menjadi public speaker yang efisien dan efektif, akan memberi musisi bekal dan alat untuk membuat perbedaan besar dalam memberikan informasi tentang karya yang dibuatnya.

Keahlian ini dapat dipelajari. Kini saatnya musisi meningkatkan kemampuan berbahasa dalam cara yang paling baik, dan menguntungkan untuk semua situasi. Situasi pribadi, situasi sosial dan situasi komersial. Saatnya bagi Anda untuk meningkatkan kualitas diri, yang secara langsung akan meningkatkan kualitas pribadi, karir, profesi dan bisnis Anda. Ini saatnya bagi Anda untuk mengubah diri menjadi komunikator yang efisien dan efektif.

Menjadi komunikator yang jelas, tegas, berpengaruh, meyakinkan, memotivasi, dan membuat orang lain melakukan tindakan sesuai keinginan Anda. Dan itu semua, dimulai dengan kepercayaan diri dalam berkomunikasi secara publik.

Untuk musisi yang baru terjun di industri yang harus berhadapan dengan oragn banyak, dari pengalaman yang saya hadapi, ada beberapa cara yang sebenarnya bisa mereka lakukan sebagai bekal:

1. Pelajari & Kuasai Materi Karyanya Dengan Maksimal
Percaya atau tidak, banyak musisi, penyanyi, atau composer, ternyata tidak menguasai materinya sendiri. Mereka sering kebingungan ketika ditanya mengapa membuat materi seperti itu. Artinya, mungkin karya itu tidak keluar dari hati, sekadar pesanan, atau dikejar target. Apapun itu, menguasai materi yang sudah jadi dan siap dijual, akan sangat membantu penguasaan, pengayaan, dan tentu saja bisa menjelaskan dengan enak dan diterima.

2.Berbagi Penjelasan

Jarang musisi yang menguasai segalanya, dari aransemen, komposisi, lirik, sampai mencari player. Meski ada, tapi tidak banyak. Mayoritas yang terjadi, selalu ada pembagian pekerjaan. Ada yang membuat lirik, mencari komposisi dan kemudian diaransemen bersama. Alangkah lebih indah dan menyenangkan kalau hal itu bisa dijelaskasn oleh yang berkompeten. Misalnya ada pembagian siapa yang bicara soal aransemen, soal lirik dan soal industrinya sendiri. Sayangnya, ini jarang terjadi. Yang ada, pembicaraan didominasi satu orang yang “seolah” menguasai segalanya.

3. Tahu Dimana kita Berbicara
Berbicara di depan konser yag ditonton ribuan orang, berbeda dengan bicara di depan wartawan yang jumlahnya 10 orang, berbeda pula dengan interview di radio yang interviewernya cuma satu orang. Hadir paling tidak satu jam sebelum acara dimulai yang dapat anda gunakan untuk melihat situasi tempat anda akan berbicara serta alat-alat bantu yang akan anda gunakan. Hal ini akan sangat membantu anda dalam mengurangi kegugupan. Sayangnya, masih banyak musisi yang menganggap keterlambatan adalah hal bisa. No way, bro!

4. Pelajari Audiens
Banyak musisi baru [meski musisi lama ada juga], sering meremehkan audiens. Ketika meremehkan, sebenarnya dia sudah kalah sebelum bertanding. Siapapun audiens yang dihadapi, dia harus hargai dan tetap hormat, karena itu akan memunculkan respek. Sbelum naik ke panggung, sebaiknya punya waktu untuk bersosialisasi dengan beberapa dari mereka. Perkenalan ini akan membuat musisi merasa bagian dari mereka dan ini juga ternyata ampuh untuk mengurangi rasa gugup. Sayangnya, atas nama “kejutan” label sering “mengurung” mereka di belakang panggung.

5. Penampilan Fisik [atau Imej]
Sering terjadi, band baru kemudian “dihajar” oleh wartawan dalam sesi tanya jawab, karena imej yang muncul pertama kali adalah arogan dan terkesan sombong. Apalagi kemudian ketika menjawab pertanyan terkesan meremehkan dan arogan. Be Humble man! Perhatikan fashion dan kostum sebagai musisi, karena itu akan jadi sesuatu yang diingat oleh audiens, apapun itu.

6. Antusias
Tunjukan antusiasme pada waktu berbicara walaupun pertanyaan yang diajukan wartawan atau audiens mungkin kurang bermutu atau terlalu dangkal bagi musisi. Sikap anthusisme akan menciptakan respect dari audiense. Sebaliknya sikap musisi yang ogah-ogahan atau menganggap remeh hanya akan membuat audiense menyesal ikut dalam acara ini.

7. Menjadi Diri Sendiri
Bukan basa-basi kalau hal ini saya masukan. Banyak band atau musisi yang muncul di depan, selain tak bicara yang antusias dan menyenangkan, kerap berusaha menjadi oranglain. Orang lain itu mungkin idolanya atau siapapun yang memberi pengaruh kepadanya. Saran saya, hentikan itu dan jadilah diri kamu sendiri. Itu jauh lebih apresiatif bagi wartawan atau audiens.

8. Berlatih, Berlatih & Berlatih
Tugas memberi penjelasan dan informasi itu tak hanya selesai ketika sesi press conference dengan wartawan kelar. Justru sebelum itu, seharusnya para musisi itu sudah harus berlatih. Coaching media bekerjasama dengan wartawan yang dipilih, yang sudah dilakukan beberapa label, ternyata sangat membantu kemampuan musisi atau band itu untuk lebih berani bicara dan belajar menguasai materinya dengan baik. Karena ketika kelak besar dan terkenal, penguasaan hal-al seperti itu, menjadi mutlak adanya. Mereka belajar menghadapi wartawan dan menjawab pertanyaan yang tak cuma teknis, tapi juga menjebak dan membingungkan. Bahkan sekadar pertanyaan “jahil”.

Apa yang saya tulis ini, berdasar pengalaman dan sharing dengan banyak band, penyanyi, composer, label, wartawan dan penikmat musik. Semoga bermanfaat.

Kerapuhan di 28 Januari

Ini bukan lagunya GIGI, karena tanggalnya pun berbeda. Ini juga bukan tanggal lahir saya, karena saya tidak lahir di bulan dan tanggal itu. Tapi inilah tanggal yang membuat sebuah permenungan besar. Tidak ada yang luarbisa dengan tanggal itu, karena itu sama saja dengan tanggal-tanggal lain yang ada.

Tapi tanggal itulah yang membuat saya selalu teringat pada eksistensi dan sebuah pertanyaan, melangkah kemanakah hidup ini akan berujung. Kemanakah sebuah relasi, cinta dan persahabatan akan berakhir?

Kadang-kadang aku berpikir, apakah aku “sudah” terhilang dari kehidupan yang seharusnya aku jalani? Aku juga berdiam diri, kembali bertanya, apakah aku sudah mendudukan diri pada relasi yang wajar dan menyenangkan?

Secara kasat mata, sepertinya sudah. Tapi secara emosional dan psikologis, saya menemukan satu lubang besar yang menganga. Saya kehilangan satu jejak yang menuntun ketika saya menjadi “buta” dan tak menemukan arah yang tepat. Saya kehilangan panutan secara personal yang ternyata kerap saya abaikan.

Saya juga kehilangan sebuah pencarian yang sebenarnya sudah tampak di depan mata, tapi kemudian tak tersentuh dengan apik. Aku menemukan diriku di persimpangan, dan tak menemukan peta yang tepat untuk kembali.

Lalu apa hubungannya dengan 28 Januari? Yup, tanggal itu memberiku energi, tapi sekaligus menyedot kekuatanku. Di tanggal itu muncul sebuah pencerahan, tapi juga tersaput oleh kegelapan yang amat sangat. Aku menjadi perkasa, tapi aku menjadi manusia terlemah yang pernah lahir. Ada dua sisi tarik menarik, ada dua sisi tolak menolak yang amat kuat.

Aku hilang, tanpa arah. Aku juga merapuh. Diantara itu, aku coba berdiri tegak…..

« Entri lama