"kesadaran positif yang menghilangkan distorsi batin"

Menikmati Ilahi Yang Asyik, Ilahi Yang Ciamik

Semakin lama belajar tentang pencipta, semakin saya menempatkan dia pada tempat yang maha asyik. Maksudnya: pencipta manusia, bukan sosok yang egois dan selfish sehingga menjadi kejam dengan aturan-aturan kaku yang membelenggu otak, sikap dan ucapan. Dia –dengan istilah apapun disebut—adalah personifikasi karakter plural, heterogen dan maha asik.

BUKAN untuk menjadi pembenaran tatkala saya mengatakan, ibadah saya berbentuk kepasrahan batin dan hati, bukan artifisial di depan manusia. Saya mengimani –betul, iman, satu karakter dasar manusia yang meyakini sesuatu yang besar diluar dirinya—ada zat atau ruh, atau dimensi yang besar, kuat dan mengatur tiap hembusan napas. Tapi saya menolak sebutan itu menjadi ekslusif dan mutlak milik kelompok, komunitas, atau masyarakat tertentu saja. 

"berserah kepada pencipta yang asyik itu indah"

“berserah kepada pencipta yang asyik itu indah”

Mungkin saya penganut pemahaman, setiap manusia punya penciptanya masing-masing. Kalau kemudian ada yang merasa punya pencipta sama dan kemudian “bersatu’ dalam satu komunitas, silakan saja, tapi jangan pernah memaksakan pemahamannya itu kepada manusia lain yang juga merasa punya ‘pencipta’ yang berbeda.

Mengapa saya sampai pada pemahaman itu? Keberadaan saya sebagai manusia di dunia ini, tentu bukan sebuah kebetulan, atau keisengan pencipta yang bengong tidak ada kerjaan. Buat saya ada sosok yang dahsyat, mencipta milyaran manusia, tak ada yang sama, dengan karakter dan pemikiran yang milyaran juga perbedaannya. Tentu saja kita tidak bisa menyatakan diri sebagai ‘kekuatan yang tunggal’ kepada milyaran napas yang berhembus itu.

Mungkin memang tunggal sejatinya, tapi manusia memanisfestasikan bentuk dan wujudnya dalam banyak ragam. Salahkah? Buat saya tidak, karena personifikasi bentuk pencipta itu, lahir dari pengalaman, pemahaman, pengetahuan, dan kekayaan batin yang tidak semua sama.

Saya mungkin punya pilihan sosok pencipta yang saya anut, tapi Anda juga punya yang berbeda. Tapi haruskah saya memaksa Anda untuk setuju dengan sosok imajiner yang muncul dari pengalaman spiritual pribadi saya?

Betapa jahatnya saya, kalau Anda harus –sekali lagi, harus—ikut dengan saya, sementara Anda punya pengalaman spiritual yang berbeda. Mengapa tidak kita yakini pengalaman itu, sembari berdialog mencari cinta, kasih dan kebaikan untuk saling menguatkan.

Saya menyapa pencipta yang saya yakini, dimanapun tempatnya. Mungkin saya sedang di klenteng, vihara, masjid, gereja, kuil, atau berkemah di hutan sekalipun. Saya berhening diri, berdialog dengan mata batin, dan memberikan penyembahan personal dengan keindahan batin yang juga saya rasakan dan nikmati. Bagi saya, kebenaran mutlak itu hanya kita ketahui kelak ketika pengadilan dunia datang. Entah kapan dan siapa hakimnya.

Apakah kemudian saya menafikan agama, nabi, rosul, atau orang-orang suci yang pernah lahir di dunia? Jawaban saya tegas: tidak! Selalu ada manusia-manusia terpilih yang mewartakan kebaikan kepada manusia lain. Mereka punya keyakinan dan pilihan siapa pencipta yang dianut. Bahkan mereka mendengar suara pencipta langsung, memberikan instruksi kebaikan kepada manusia dan dunia.

Dan betapa naifnya manusia yang menganggap kehadiran mereka tidak penting, karena mereka adalah pengingat: kita muncul di dunia dengan peran yang tidak pernah sia-sia.

Ibadahku adalah pasrahku. Disana ada sikap tepekur, berserah dan merendahkan hati.

Dan saya yakin, kepasrahan itulah yang disukai pencipta, bukan sekadar berkoar-koar: “Tuhan…Tuhan, Akulah Pembela Sejatimu!”. Dia yang disebut Tuhan, tidak perlu dibela. Kita, saya dan Anda yang perlu dibela oleh-Nya. Kita bisa apa membela-Nya? Tapi Dia bisa apa saja membela kita.Tapi mengapa Dia harus dibela? Dan mengapa Dia harus membela kita?

Kita adalah tuan atas diri kita sendiri, bukan budak dari pemaksaan kebenaran manusia lain. Kepasrahan batin, hati dan jiwa, adalah garis lurus menuju pemahaman ilahi. Bersatunya keimanan kita dengan ruh pencipta yang kita yakini. Dengan apapun Dia disebut.

Ajining “Lagu” Soko Kedhaling “Lirik”

Dalam komposisi lagu, lirik menjadi salah satu sentral. Mengapa? Karena biasanya menjadi pengikat emosi dengan pendengarnya. Apapun kata-kata liriknya, pendengar akan terbawa dan dari alam bawah sadarnya, sering terhasut untuk melakukan hal sesuai dengan lirik idolanya.

"Lirik harus bisa memberi pengaruh positif, bukan aura negatif"

“Lirik harus bisa memberi pengaruh positif, bukan aura negatif”

BEBERAPA band besar, seperi Nirvana, Metallica, atau Maryln Manson, pernah tersandung kasus hukum, lantaran liriknya dianggap mengajak orang untuk bunuh diri. Iwan Fals malah pernah mutung kepada penguasa ode baru, ketika tur 100 kotanya tiba-tiba dilarang tanpa alasan jelas. Belakangan diketahui, lirik-lirik lagunya yang mengritisi pemerintah, tidak terlalu disukai oleh penguasa ketika itu.

Akhir 70-an, band-band punk seperti The Clash, Sex Pistols, dan Dead Kennedys, lebih keras dan terang-terangan menulis lirik yang sering mengamuk terhadap pemerintah, tentang kapitalisme, rasisme, dan isu-isu sosial. Tapi d’Masiv juga dipuji banyak orang, karena lagunya yang berjudul ‘Jangan Menyerah’ dianggap sebagai motivator untuk mereka yang tidak beruntung dalam hal apapun.

Kalau dijejer, ada banyak kata-kata yang bisa dijadikan anutan dan motivasi untuk memperbaiki diri, tapi tidak sedikit yang berisi sumpah serapah dan cenderung menggiring karakter destruktif. Saya lebih setuju dengan lirik lagu yang berisi kritik dan mengajak pendengarnya untuk “melawan” ketidakadilan dan  kemapanan. Karena hal itu membuat kehidupan dinamis dan berani bersikap. Buat saya, adalah sebuah kebodohan ketika lirik lagu mengajak kita melakukan hal-hal bodoh, dan merugikan manusia lain.

Dalam kacamata saya, lirik itu seperti “mata jiwa” – artinya: lirik sebenarnya kunci masuk untuk mengetahui apakah kata-kata yang disampaikan itu pesanan, ekspresi kejujuran, atau elak kebohongan. Konon, untuk mengetahui kejujuran seseorang, tataplah matanya. Begitu juga lagu, untuk tahu emosi dan perasaan yang ditumpahkan penciptanya sungguhan atau ‘tepu-tepu’ doang, perhatikan lirik lagunya.

Penulis lirik pun, seperti laiknya penulis, ada juga yang namanya ghost writter. Mungkin, kalau di musik sebutannya ghost song writter. Nama-nama lain yang tidak tersebut, tapi sejatinya punya andil besar mengisi emosi lagu. Ini agak paradoksal, lirik pesanan dan emosi lagunya, punya jeda yang berbeda. Beruntung kalau penyanyinya punya level penghayatan yang bagus, mungkin terdengar lebih dramatis. Tapi kalau derajat penghayatannya biasa-biasa saja, lagu dengan kualitas emosi dan lirik yang bagus puun, bakal terdengar ampang [hambar –red]

Lirik lagu juga bisa berisi sinisme. Kata-kata yang menohok, dengan rasa yang berawal dari kemarahan, pengingat, sindiran, atau mungkin malah iri hati. Biasanya, kata tercipta karena ada rangsangan kejadian yang menganggu dan membuat gelisah. Tertumpah di lirik lagu. Tema sinisme ni, biasanya hanya terdengar ketika peristiwa atau kejadian itu sedang hangat. Ketika pudar, tema ini akan cepat terlupakan. Muncul lagi kalau ada peristiwa atau kejadian sejenis.

Tapi jujur saja, saya ‘amat’ terganggu dengan lirik yang terdengar sarkas, kasar dan vulgar. Pemahaman saya, lirik lagu seharunya mengajak pendengarnya lebih positif dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Kata-kata unik, tidak sama dengan kata-kata tanpa arti. Dalam sebuah penjurian festival musik, saya pernah mendapati satu band yang mengirim materi lagu dengan judul ‘Makan Ayam’.  Kata-katanya hanya pengulangan: “Aku ingin makan ayam…” begitu seterusnya. Terdengar menggelikan sekaligus menggelisahkan. Mengapa? Saya [dan kawan-kawan juri lainnya], tidak menemukan makna, maksud dan tujuan dari lirik lagunya. Lirik tanpa makna, lirik sia-sia menurut saya.

Lirik tidah harus njlimet dan [sok] sastrawi, kalau memang tidak sanggup. Kadang-kadang maunya sok puitis, tapi malah terdengar lewah. Musisi juga harus tahu, siapa yang disasar sebagai pendengar mayoritas lagunya. Pesan dasarnya harus jelas. Kalau hanya unek-unek kebelet beol kemudian jadi lirik, buat saja sebenarnya musisi itu sedang ‘melecehkan’ kecerdasan dan kapasitas pemahaman pendengarnya. Kalau aktivitas ‘nonton bokep’ kemudian terangsang dan melakukan ‘onani’ juga jadi lirik, rasanya musisi itu kudu belajar filsafat manusia, kudu belajar tentang eksistensialis manusia.

Baiknya mereka berpegang pada pepatah Jawa: ajining diri soko kedhaling lathi, ajining lagu soko kedhaling lirik. Manusia dihargai dari kata-katanya, lagu dihargai [dan disukai] dari lirik-liriknya. Setuju?

"sudahi kebaikan-kebaikan artifisial nggak penting.

Menyudahi Sampah Kebaikan Artifisial

“Aku mengakhiri pertandinganku dengan baik.”

Kalimat itu, biasanya diucapkan dituliskan atau dikatakan ketika seseorang meninggal dunia. Artinya adalah, orang itu sudah melewati kehidupan dan mengakhirinya dengan baik. Ibarat atlet, dia sudah sampai di finish dengan hasil terbaik. Meninggalkan karya dan nama yang dikenal dengan indah. 

KITA sering membuang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Melakukan aktifitas sia-sia, tanpa melahirkan karya apa-apa. Sebagai jurnalis, saya juga sering melakukannya. Berdiam diri tanpa melakukan hal-hal berguna untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar. Seperti apa? Jurnalis tulis, tentu selain perilaku kehidupannya, juga dilihat dari karya tulisannya. Apakah tulisannya memberi dampak positif kepada pembacanya, atau justru menimbulkan keresahan yang membuat banyak orang bertanya-tanya dengan gelisah.

Sebagai manusia yang diberi talenta “memengaruhi” manusia lain lewat tulisan, saya mencoba bersikap jujur dan apa adanya setiap menulis. Tidak 100 % begitu, karena kadang-kadang saya menjadi “pelacur” dengan menulis hal-hal menyenangkan pemesan.

Faktanya adalah kita memang tidak bisa hidup dalam tataran ideal yang seideal-idealnya. Ada kompromi dan penggadaian idealisme. Salah? Tergantung dari sudut mana Anda melihatnya. Kalau egosentris yang muncul, kompromi bisa jadi kesalahan. “Pokoknya” jadi kata sakti yang membuat kita seolah ksatria yang tanpa tanding. Padahal tidak. Dan apakah tidak ideal itu sebuah dosa tak berampun? Tentu saja tidak. Ada pilihan kehidupan yang kita lakoni dengan imbas besar yang baik kepada manusia lain. Meski mungkin, kita jadi korban [baca: tumbal].

Satu hal penting yang kerap kita abaikan adalah: kita melakukan hal baik karena ada imbalan pahala. Buat saya, apapun kebaikan yang saya lakukan, karena memang seharusnya kita melakukannya. Sebagai manusia yang diciptakan punya rasa kemanusiaan [kecuali Anda sudah “mematikan” kemanusiaan Anda], yang disebut pahala itu tak akan pernah kita sebut. Just do it and do it! Saya tidak bicara keyakinan tertentu yang mungkin mengagungkan pahala sebagai reward kebaikan yang kita lakukan, karena itu juga bukan kesalahan.

Disebut baik atau jahat, kemudian bukan urusan kita lagi. Konon, di abad yang makin permisif ini, kebaikan menjadi barang langka yang harganya mahal. Benarkah? Saya yakin tidak. Karena saya masih kerap menemukian kebaikan-kebaikan yang dengan murah diberikan kepada manusia lain, bahkan diberikan secara Cuma-Cuma. Artinya, manusia yang sadar bahwa dirinya adalah personifikasi karakter pencipta dengan semua sisi baiknya, pasti akan memilih berkarakter seperti penciptanya.

Saya tak habis pikir, manusia-manusia yang secara artifisial terlihat agamis, religius atau mengklaim dirinya “rajin ke tempat ibadah”, tapi secara ralitas ternyata lebih busuk ketimbang penjahat yang sudah jelas-jelas disebut jahat. Apakah kehidupan dan karya kebaikan hanya diperlihatkan dengan kutipan-kutipan ayat suci? Apah yang disebut ‘memanusiakan manusia” itu ketika kita jadi “penjaga temnpat ibadah” – apapun itu, tapi tak pernah benar-benar memaknai maksud keberibadahannya? Buat saya, semua hanya jadi “slogan persetan” yang sia-sia.

Apakah saya yang menulis secara eufemisne ini juga kemudian jadi lebih baik ketimbang kaum artifisial itu? Belum tentu juga. Tapi saya hanya mengingatkan diri sendiri, saya manusia yang hidup bersama manusia lain. Saya akan dicintai dan menjadi keluarga manusia lain, ketika saya memilih memeluk mereka sebagai bagian kemanusiaan tanpa batas, tanpa perbedaan, tanpa kesemuan yang munafik, dan tanpa pamrih bernama pahala dan pujian. Saya menulis, bersikap dan berkata-kata bukan untuk menyenangkan orang lain atau diri saya sendiri, tapi untuk sebuah kebaikan hakiki bahkan ketika kelak saya sudah mati.

Ketika saatnya kelak kembali menjadi tiada, saya bisa mengatakan: “Aku mengakhiri pertandinganku dengan baik.”

[Sejarah Genre] FOLK: Diawali Dengan Takhayul & Tradisi Lokal [1]

Tahukah Anda, istilah folk song lahir karena penggambaran budaya lokal yang kental dengan tahayul, tradisi, atau adat istiadat di sebuah negara? Istilah ini dicetuskan oleh Thomas William seorang berkebangsaan Inggris di tahun 1846. Meski tak seagresif genre lain, folk bisa permisif ketika disinergikan dengan genre lain. Soal komersial? Folk masih bisa meraup banyak pendapatan, kalau takarannya nominal angka.

 

"kalau mau berkarya untuk jangka panjang, musisi harus konsisten."  -- foto: undertheradarmagz.com

“kalau mau berkarya untuk jangka panjang, musisi harus konsisten.” — foto: undertheradarmagz.com

FOLK adalah genre musik yang menggabungkan unsur musik rakyat dan musik modern. Dalam arti yang paling awal dan sempit, istilah ini mengacu pada genre yang muncul di Amerika Serikat dan Inggris sekitar pertengahan 1960-an.  Bob Dylan menempati posisi teratas, kalau saya tanyakan siapa musisi folk paling berpengaruh di jagat. Dylan identik dengan musik santai, tapi dengan lirik penuh protes.

Secara musikal, genre ini ditandai dengan vokal yang jelas harmoni dan pendekatan yang relatif “bersih” [efek-dan bebas distorsi] pada instrumen listrik. Mungkin lebih dekat dengan akustik murni.  Terdapat banyak unsur-unsur tradisi dan kebudayaan memberikan warna pada part-part musiknya, namun sebagian musisi hanya memberikan penekanan pada nilai kesederhanaan saja.

Bentuk penyajianya sederhana, biasanya berupa vokal yang diiringi alat musik khas etnis tersebut. Contohnya adalah macam-macam musik rakyat yang tumbuh di kalangan kulit putih Amerika Serikat yang disebut country dan western. Folk berbeda dengan musik etnik [world music]. Musik etnik memiliki aturan [kode etik] tertentu dalam memainkannya, kebanyakan aturan tersebut bersifat sakral.

Musik folk tidak seperti itu, musik ini tidak terikat dan bebas dalam mengekspresikan corak musik, tidak jarang juga musisi-musisi folk menggabungkan beberapa musik etnik yang berbeda dalam satu lagu.

Analog adalah salah satu kata yang cocok untuk menggambarkan sifat musik folk itu sendiri. Penggunaan alat-alat musik digital sangat diminimalisir, sehingga ketika mendengarkan folk, bunyi-bunyian alat musik analog terasa sangat kental. Oleh karena itu, folk sering dilambangkan dengan gitar akustik, ukulele, akordion, harmonika dan lainnya.

Meski abad 18, istilah folk itu sudah disebut, tapi baru tahun 60an, beberapa musisi “merasa” mereka memainkan folk. Menjadi sah sebagai genre musik populer, ketika Bob Dylan memenangkan Grammy Awards kategori Best Contemporary Folk Recording tahun 1987. Resmilah folk menjadi nama salah satu genre musik di industri musik internasional. [bersambung]

Prince Rupert Loewenstein, Manajer Keuangan The Rolling Stones Yang Lebih Suka The Beatles

Berani taruhan, Anda tak akan pernah hapal nama lengkap dengan gelar kebangsawanannya. Ok, silakan dihapal:  Rupert Louis Ferdinand Frederick Constantine Lofredo Leopold Herbert Maximilian Hubert John Henry zu Löwenstein-Wertheim-Freudenberg, Count of Loewenstein-Scharffeneck. Bangsawan asal Jerman yang lahir di Malorca Spanyol ini adalah manajer keuangan The Rolling Stones. Tidak pernah tahu? 

"jagger dan rupert, awalnya sama-sama tidak tahu profesi masing-masing"

“jagger dan rupert, awalnya sama-sama tidak tahu profesi masing-masing”

BANYAK pengamat musik dan analis keuangan di Inggris yang mengatakan: tanpa Prince Rupert Loewenstein –begitu nama singkatnya—The Rolling Stones tak akan jadi merk global, dan [mungkin] hanya jadi band ngetop di daratan Inggris dan sebagian Eropa. Rupert sebagai keturunan bangsawan, ketika itu berkecimpung dalam dunia perbankan dan menjadi pialang saham. Tak heran, kalau awalnya dia tak mengenal [atau malah tak menyukai] rock n’roll apalagi Stones.

Perkenalannya dengan band Inggris ini, ketika Rupert diperkenalkan dengan Mick Jagger oleh seorang agen seni yang juga sahabatnya, Christopher Gibbs, tahun 1968. Ketika itu, nama The Rolling Stones sudah mulai dikenal di seantero Inggris dan Eropa. Lucunya menurut Keith Richard, ketika diperkenalkan pertama kali, Rupert bahkan tak mengenal siapa Jagger, yang sudah jadi rockstar baru. Jagger juga mengira, manajer Stones, Allen Klein, tidak membayar kredit atau pinjaman yang sudah jatuh tempo ketika diperkenalkan dengan Rupert.

Dua manusia “buta satu sama lain” ini, akhirnya justru menjadi kekuatan yang dahsyat secara manajerial. Rupert sudah melihat visi untuk menjadikan The Rolling Stones sebagai “merek global” dan menjadikan mereka [kelak] sebagai band terkaya di dunia. Secara resmi, Rupert menjadi semacam konsultan keuangan band rock n’roll ini. Rupert membenahi kinerja kontrak kerja mereka, apalagi yang berhubungan dengan pajak. Dia juga membujuk band ini untuk pindah ke Perancis Selatan, karena di Inggris, pajaknya dianggap “mencekik leher”.

"kelak, rupert-lah yang membuat the rolling stones punya kekayaan sampai sekarang."

“kelak, rupert-lah yang membuat the rolling stones punya kekayaan sampai sekarang.”

Keuntungan apapun dari The Rolling Stones, disalurkan di beberapa perusahaan yang berbasis di Belanda. Band ini juga berlatih di Kanada setiap akan memulai tur, bukan di Amerika Serikat, untuk menghindari pajak yang menjerat. Rupert juga yang berinisiatif mendaftarkan hak cipta logo band, lidah merah menjulur. “Kalau tidak karena dia, mungkin kami saat ini tidak menikmati apa yang sudahh kami raih,” kata Richards.

Lucunya, meski dekat dengan band rock n’roll terbesar, Rupert tidak pernah terlibat dalam musik. Dia mengatakan ia lebih suka musik klasik. Kalau “dipaksa” untuk mendengar rock n’roll, terang-terangan dia memilih The Beatles. Nah loh….

Mosca: Label itu Jembatan, Bukan Tujuan

Bagaimana rasanya  kompromi total dengan industri musik yang pernah diimpikan? Kesalahan atau langkah cerdik untuk diterima pasar? Kalau kebingungan menjawabnya, tanyakan pada Mosca, band pemenang salah satu festival rock, tapi single-single yang dirilisnya malah amat ngepop.

MENYANDANG gelar jawara festival rock, tentu teramat berat di kondisi industri yang naik turun seperti sekarang. Belum lagi genre rock yang posisinya belum mencuat kembali, meski di panggung tetap ramai.  Mosca bukannya tak sadar hal itu. “Memang, masuk label dan industri yang sesungguhnya membuat kami banyak belajar, termasuk soal membaca keinginan pasar,” jelas Virda [vokalis], didampingi Haney [drum], Keken [gitar], dan Raymond [bass] ketika chit-chat dengan saya, beberapa waktu lalu.

"ki-ka: Raymon [bass], Virda [vokal], Keken [gitar] dan haney [drum]"

“ki-ka: Raymon [bass], Virda [vokal], Keken [gitar] dan haney [drum]“

Mengalami pasang surut dalam perjalanan panjangnya, Moscha –oh iya, ini artinya terbang dari bahasa Italia—termasuk band yang punya peruntungan bagus. Bagaimana tidak, mereka tidak ernah ikut festival musik sebelumnya, ketika ikut langsung jadi juara dan kontrak rekaman dengan label besar. “Kami bukan band festival. Ini festival pertama yang kami ikuti dan langsung juara,” imbuh Virda, satu-satunya makhluk berkelamin perempuan dalam formasi band ini.

Rock menjadi kosakata yang cukup riskan buat Mosca. Single pertama paska juara, ‘Cinta Terakhir’ rilis tahun 2012 silam. Respon yang lumayan, membuat band yang digadang-gadang bakal jadi band rock komersial ini, punya ambisi lebih. Lagu medium tersebut sebenarnya tak memberikan petunjuk jelas bahwa Mosca adalah penganut rock, tapi sudahlah, siap tahu lagu berikutnya ada perubahan. Maaf, saya harus geleng-geleng kepala ketika menyimak lagu terbaru mereka ‘Tak Bisa Menggantikanmu’ [2014] ciptaan Teguh Vagetoz. Temponya lambat, dengan aksen Melayu di beberapa part. Mereka bukan band rock, tapi pop.

Di panggung dan di album yang sedang kami kerjakan, warna rock-nya akan kental terasa,” kilah Keken yang nimbrung bicara. Malah ada nama Budi Haryono dan Baron terlibat disana. Durasi kontrak dengan label yang cukup lama, diakui Mosca menguntungkan sekaligus merugikan. “Menguntungkan karena kami bisa belajar banyak tentang industri dan label. Kerugiannya, kami tidak bisa cepat-cepat merilis album yang sesuai dengan karakter dan ciri Mosca,” beber Virda lagi. Ini ada korelasinya dengan lagu pop yang disepakati, sementara brand Mosca adalah rock.

Paling tidak Mosca belajar bagaimana membuat band dan impian mereka berjalan. “Dulu, kami sudah pernah nyaris masuk label, tapi di detik terakhir tiba-tiba kami diputus sepihak. Sempat drop waktu itu, tapi ternyata itu jadi pembelajaran penting buat kami sekarang,’ jelas Virda sembari menyebut salah satu label minor di Jakarta.  Masuk label adalah mimpi mereka sejak lama, alhasil kini mereka berusaha untuk mempertahankan kualitas diri dan musikalitasnya, sembari merancang promo lewat manajemennya.

Kalau kalau kita hanya senang ketika bisa masuk label, sebenarnya kita bunuh diri. Karena sebagai band kita juga harus punya strategi tidak hanya mengandalkan promo label yang memang sudah seharusnya mereka lakukan. Itu pembelajaran penting ketika bicara eksistensi band,” tegas Haney, personel yang sebenarnya termasuk masuk belakangan. Menurut Mosca, label itu jembatan bukan tujuan. Setuju?

Merosotnya ‘Andhap Asor’ – Munculnya Bencana Perilaku

Pergerakan kehidupan zaman sekarang terasa cepat. Tak melulu di kota besar dan kaum urban, tapi juga menembus kultural pinggiran yang biasanya lambat tersentuh. Kesalahannya adalah, meluruhkan sikap dan karakter andhap asor yang selama ini tak bergeming dibanggakan. Bagian dari permisifisme?

ANDHAP ASOR secara kultural adalah budaya Jawa yang lahir karena perilalu masyarakat yang dekat dan gemar tolong menolong. Mengapa kemudian menjadi masiv dan diterima sebagai pola perilaku yang “wajib” dianut? Berkaca pada sejarahnya, zaman dulu sifat andap asor atau rendah hati amat dianjurkan kepada kaum muda di kalangan kraton, baik kepada para pangeran [anak raja], sentana dalem [keturunan raja], dan para abdi dalem [punggawa, pegawai kraton]. Kemudian berkembang menjadi jatidiri, khususnya Suku Jawa.

"Jangan sampai sikap rendah hatti atau andhap asor, meluntur"

“Jangan sampai sikap rendah hatti atau andhap asor, meluntur”

Nukilan sejarah itu, akan berhenti jadi sejarah saja ketika perilaku dan karakter andhap asor yang mengajarkan toleransi, pluralisme, dan kesetaraan kepada manusia lain itu, luntur. Malah kalau kemudian hilang sama sekali, akan jadi sebuah ‘bencana perilaku’ yang jelas mengkuatirkan. Bagi kaum muda, di zaman ini, andhap asor dibuang, bersifat tinggi hati, suka omong kosong tanpa nilai, dan kementhus.

Di Jakarta [dan kota-kota besar lainnya], luruhnya andhap asor ini sudah jadi gejala sistematis. Kita dipertontonkan dengan perilaku-perilaku begajulan, pamer kekuasaan, dan rendahnya mutu kemanusiaan. Hidup di kita besar, seperti berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa dalam banyak wujud. Simak saja berita yang kita tonton atau baca: tawuran, pembunuhan, penganiayaan, pelecehan dan akal-akalan. Apakah manusia sekarang sedang berada di derajat toleransi terendah?

Ketika kemudian ada seseorang atau banyak orang yang “menyempal” dan memilih berada di luar kemapanan, dia akan terlihat aneh. Ketika seseorang menawarkan kebaikan [yang tulus], justru akan dicurigai punya motif atau modus.

Lalu dimana posisi andhap asor sekarang ini? Saya masih menemukannya di banyak tempat, meski kuantitasnya mulai merosot. Saya sendiri belajar untuk mempertahankannya, meski kadang-kadang terpeleset juga. Jelas saya ketakutan, kalau kelak menemukan andhap asor berada di deretan terbawah dari perilaku yang kudu dianut.

Andhap asor, makin meringis nasibmu…