PERNAH membayangkan nggak, 100 tahun silam, revolusi kecantikan tidak seheboh sekarang ini. Meski banyak rahasia kecantikan dari berbagai bangsa yang menawan, tapi sentuhan-sentuhanya tidaklah sedahsyat sekarang. Mungkin juga persoalan teknologi, karena banyak produk kecantikan sekarang adalah manifestasi rahasia masa lalu.
Salah satu yang bertahan dan bisa membuat kecantikan menjadi hal yang revolusioner adalah L’Oreal. Salah satu produsen kecantikan ini ternyata mampu bertahan selama 100 tahun dan mempercantik wanita-wanita indah seluruh dunia .
Evolusi panjang yang dilakukan dalam ranah kecantikan membuat L’Oreal menjadi salah satu katalisator yang cukup diperhitungkan.
Sebenarnya, para perempuan memiliki kekuatan yang membuat kagum para laki-laki. Mereka menggendong anak-anak, mereka menanggung banyak beban, tetapi mereka memiliki kebahagiaan, kasih dan sukacita. Mereka tersenyum ketika mereka ingin berteriak. Mereka bernyanyi ketika mereka ingin menangis. Mereka menangis ketika mereka bahagia dan tertawa ketika mereka gugup.
Para perempuan menanti di telepon untuk sebuah “pemberitahuan telah tiba dengan selamat sampai di rumah” dari seorang sahabat atau saudara setelah menempuh perjalanan pulang ke rumah yang penuh salju.
Para perempuan memiliki kualitas khusus tentang diri mereka. Mereka bekerja sukarela untuk alasan yang baik. Mereka adalah para perawat di rumah sakit, mereka membawakan makanan untuk orang-orang berusia lanjut. Mereka adalah pekerja yang merawat anak, eksekutif, pengacara, ibu rumah tangga, atlet, dan para tetangga Anda. Mereka mengenakan baju resmi, jeans, dan seragam. Mereka berjuang untuk apa yang mereka percayai. Mereka berdiri menghadapi ketidakadilan. Mereka berada di barisan depan dalam pertemuan orangtua murid di sekolah. Mereka memberi suara untuk memilih orang yang akan berjuang untuk melakukan yang terbaik bagi urusan keluarga.
Para perempuan berjalan lebih jauh dan berbicara lebih banyak untuk mendapatkan sekolah yang tepat bagi anak-anak mereka dan untuk memberikan perawatan kesehatan yang tepat bagi keluarganya. Mereka menulis kepada editor, anggota DPR, dan kepada “penguasa yang ada” untuk hal-hal yang membuat hidup lebih baik. Mereka tidak mengatakan “tidak” untuk sebuah jawaban ketika mereka percaya bahwa ada jalan keluar yang lebih baik.
Seabrek peran perempuan itu sebenarnya sudah mengkondisikan dinamika cantik. Apa yang mereka [baca: perempuan] dalam kegiatan domestiknya sebenarnya adalah bagian dari kecantikan itu. Sayang, laki-laki sering menganggap cantik adalah lahiriah yang penuh polesan. Laki-laki kadang menyukai kecantikan yang palsu.
Saya –penulis– adalah seorang laki-laki. Kecantikan menurut versi laki-laki, adalah kecantikan stereotype pasaran yang betul-betul dimodifikasi oleh media habis-habisan. Tidak ada media yang menampilkan sampul majalahnya secara ekstrem dengan sosok perempuan [mungkin juga laki-laki] yang ” tidak lazim”. Lazim disini masih dalam perspektif media. Tidak banyak media yang secara “nekat” dan “revolusioner” memajang sosok yang gendut, berkulit hitam, atau rambut keriting. Jadi, cantik itu masih berkutat fisik yang indah.
Rupanya, mereka [baca: perempuan] begitu kuat terindoktrinisasi, betapa cantik itu harus utuh secara fisik, dari atas sampai bawah. Seorang tokoh feminis bernama Naomi Wolf pernah menulis buku berjudul The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against. Menurut Wolf, banyak perempuan rela menderita dengan melakukan diet dan menghabiskan banyak waktu untuk merawat tubuhnya agar tetap langsing, indah dan cantik. Personifikasi cantik itulah yang membuat perempuan [di Indonesia] selalu merasa tidak cantik. Padahal, mungkin secara fisik, sudah seperti bidadari dari khayangan.
Tidak mudah memang menemukan titik temu yang pas. Tapi kalau pun toh tidak ada kesepakatan soal cantik tadi, paling tidak kita disuguhi satu pilihan lain, bahwa kecantikkan itu tidak seragam.
100 Tahun Lagi, Seperti Apa Kecantikan Itu?
Tidak ada yang bisa membayangkan, 100 tahun ke depan revolusi kecantikan itu akan seperti apa? Bisakah diprediksi seperti apa?
Menarik mencermatinya tentu saja. Dalam diskusi dengan seorang kawan, terceletk sebuah gambaran kira-kira seperti apa inovasi kecantikan dalam 100 tahun ke depan. Oke, saya beber disini:
1. Kesing Cantik
Mungkinkah kecantikan utuh itu bisa dibuat kesing seperti handpone? Kenapa tidak. Perempuan tidak perlu make-p lagi, tapi ada satu kesing yang bisa dipakai bergantian dalam event yang berbeda. Bentuknya seperti kulit, tapi sudah temaktub didalamnya make-up dan warna kulit yang cocok dengan si pemakai. Tentu saja risetnya agak panjang, tapi 100 tahun ke depan, bukan mustahil.
2.Inner Healing
Agak susah memang. Tapi kelak. Kecantikan fisik meski ettap penting, sudah tak menjadi priotitas lagi. Orang benar-benar sudah mencari kecantikan yang benar-benar tulus. Tentu saja, 100 tahun ke depan semakin sulit menemukan. Kelak L’Oreal akan menemukan satu inovasi kecantikan yang bisa membuat seorang wanita terlihat bersinar tapi juga memunculkan energi yang bisa membuat kita tahu, inner beauty orang tersebut. Jadi, laki-laki tak lagi jalang mencuri-curi pandang dan meremehkan kecantikan fisik semata.
Tapi perlu diingat juga, media juga kental mencitrakan kecantikan dengan segala sesuatu yang ideal dan indah.-indah saja. Diluar yang dicitrakan, perempuan tidaklah cantik. Jadi, melihat perempuan tanpa citra ideal tadi, sama saja mengatakan dia tidak cantik. Mau jeng?
Dalam kaitan ini, laki-laki melihat kecantikan dengan tolok ukur penilaian terhadap perempuan yang seksi, indah, wangi saja. Selebihnya, tolok ukurnya jelas, perempuan itu tidak cantik. Dalam teori Edward Lison, dijelaskan pada dasarnya komposisi tubuh manusia 30% adalah animal. Dari runtutan sejarah, manusia adalah primata atau kera. Sedangkan 70% menyangkut dari sisi karakter pribadi, sosial, budaya, dan yang paling tinggi adalah religius. Kalau merunut dari teori Lison, seorang laki-laki melihat wanita cantik, secara naluri air liurnya akan keluar. Itu artinya ada daya tarik tertentu dalam tubuh wanita.
Apakah dengan begitu, laki-laki kemudian mengkondisikan dirinya sebagai sosok yang punya hak menentukan arti kecantikan perempuan? Seorang feminis Australia, Germaine Greer dalam bukunya The Female Enouch mengatakan bahwa sebenarnya banyak perempuan tidak menyadari keunikan dirinya dan membiarkan tubuhnya didefinisikan oleh pihak lain terutama kaum laki-laki. Perempuan tidak harus selalu menjadi ideal seperti yang diidamkan laki-laki. Satu pernyataan yang cukup tajam dari Greer adalah tubuh [perempuan] seharusnya menjadi media bagi perempuan untuk keluar dari ketertindasan, tekanan yang membuat dirinya terpinggirkan.
Bebas dari ketertindasan disini, menurut penulis, menjadi cantik itu seharusnya berkorelasi dengan perasaan enjoy. Ketika perempuan enjoy dengan dirinya yang hitam, berambut keriting, bertubuh pendek, atau tak punya dada montok, saat itulah dia cantik. Persepsi orang lain mungkin berbeda, tapi kecantikan itu boleh saja menjadi milik si perempuan tadi.
Disadari atau tidak, sebenarnya setiap masa itu punya persepsi kecantikan idel yang berbeda-beda. Ketika masa renaissance, perempuan bertubuh tipis atau twiggy, adalah sosok yang diidamkan. Tapi masa victoria, perempuan yang padat berisi dengan dada besar, disebut kecantikan yang ideal. Memasuki abad 21, kecantikan mulai diarahkan seragam oleh kekuatan besar media. Hasilnya, awal 80-an sampai sekarang, cantik ideal itu sangat stereotype. The Beauty is Wealth.
Mata jalang saya sering memandang “liar” pada perempuan yang menurut saya menarik secara seksual. Dan 100 tahun mendatang, L’Oreal membuat saya tak berani jalang lagi, karena tak sekadar menjadi revolusioner dalam kecantikan hati, tapi juga memberikan energi positif kepada pemakainya.