Gerakan Melawan Penyakit Puas Diri – Mengritisi Musisi Yang Masuk Parlemen

Saya mungkin hanya setetes air yang tidak ada artinya di lautan yang amat sangat luas. Suara, tulisan, atau apapun yang saya lakukan, mungkin juga hanya numpang lewat saja. Tapi paling tidak, saya punya “bukti sejarah” pernah menawarkan sesuatu yang saya yakini bisa memberikan kebaikan. Ini ada hubungannya dengan musik, industrinya dan pemilu.

"musisi di parlemen? selama benar-benar tidak  terkooptasi banyak kepentingan, silakan saja!"

“musisi di parlemen? selama benar-benar tidak terkooptasi banyak kepentingan, silakan saja!”

KALAU Anda cermati baik-baik, setiap pelaksanaan kampanye pemilihan umum atawa pemilu, semua lini yang berhubungan dengan rakyat dan masyarakat, tiba-tiba bergerak bandulnya. Semua menjadi punya kata seragam: peduli. Satu kata yang tampaknya hanya bermakna temporer saja. Selebihnya, hanya jadi penggembira yang selesai keriaan, selesai juga kepeduliannya.

Setiap kampanye, rasanya tidak afdol kalau tidak melibatkan penghibur. Entah itu musisi, solois, band atau MC yang biasanya diambil dari artis-artis yang sudah dikenal, minimal di level propinsilah. Setiap menjelang pemilihan umum, mereka –para seniman dan pekerja seni itu—selalu diajak-ajak sebagai goal getter kalau-kalau tokoh parpolnya tidak disukai oleh masyarakat. Tak hanya itu, menjelang pemilu pula biasanya nama-nama musisi yang selama ini tak pernah berurusan dengan politik –paling tidak mereka biasanya mengaku tidak terlalu pusing dengan politik—tiba-tiba didapuk sebagai calon legislatif, yang artinya harus berpolitik. Kejutan yang menggelikan.

Pelaku kesenian –sebut saja industri musik—termasuk salah satu yang banyak dilibatkan dalam kampanye dan partai. Dwiki Dharmawan, salah satu musisi papan atas Indonesia, tiba-tiba saja dicalonkan sebagai caleg Partai Amanat Nasional. Sungguh, saya tidak pernah mendengar kiprahnya dalam politik level apapun.  Kenal atau mengisi acara kepartaian mungkin sering, tapi terlibat dalam pendidikan politik? Atau Ifan, vokalis Seventeen, band yang diidolai ABG itu. Entah apa alasan kongkritnya ketika namanya terpampang sebagai salah satu caleg Partai Gerindra.

Saya amat meyakini, Ifan termasuk “buta huruf” dalam politik, apalagi langsung berjuang untuk masuk DPR Pusat. Atau Anang Hermansyah yang didapuk sebagi caleg PAN. Bukan meremehkan, tapi kapasitas seniman dan pekerja seni, yang biasanya jauh dari hingar bingar politik, tiba-tiba bicara politik, buat saya agak menggelikan dan menggelisahkan.

"musisi di parlemen: musisi yang berubah atau parlemen yang mengubah?"

“musisi di parlemen: musisi yang berubah atau parlemen yang mengubah?”

Saya hanyalah pewarta musik, tidak punya massa besar. Tapi kegelisahan yang saya rasakan ingin saya bagikan. Siapa tahu, kawan-kawan musisi kalau berhasil nangkring di DPR bisa bersuara nyaring laiknya di atas panggung konser.  Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah:

adanya perbaikan  atau gerakan pembetulan pikiran melawan penyakit puas diri. Ini jadi penting, karena mayoritas merasa perjuangan seniman yang berpolitik adalah ketika kampanye. Salah masbro! Perjuangan kalian sesungguhnya ketika sudah menjadi ”wakil”. Kalau kemudian pekerja seni lainnya tidak merasa terwakili, siap-siap Anda disumpahserapahi dan mendingan lengser.

Gerakan melawan penyakit puas diri sangat penting bagi pekerja seni, karena kita tidak mau mandeg, kita mau maju terus dan maju dengan langkah-langkah yang lebih positif dan tegas. Arti penting gerakan ini lebih besar lagi bagi para pekerja seni [tentu saja termasuk musisi] karena pembentukan jiwa, semangat, kesadaran, moral dan watak seniman banyak tergantung pada bantuan mereka di DPR kelak. Bukan mutlak, tapi kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan seniman, harus jadi acuan. Pekerja seni itu bisa jadi lurus, tapi bisa jadi oportunis. Semoga yang terpilih, adalah yang lurus.

Dulu, Presiden Soekarno pernah mengatakan kepada para pekerja seni,tentang pentingnya pelaksanaan prinsip ”berkepribadian dalam kebudayaan”. Dalam konteks kekinian, saya mengartikan bahwa seniman dalam berkarya harus meletakkan jati dirinya di atas kepentingan kekuasaan.

Kalau bicara industri  musik, jati diri musisi adalah karya-karya yang jujur, sebelum yang dijejali kepentingan label yang ini itu. Oleh karena itu menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan dengan penggemarnya adalah masalah penting bagi para musisi Indonesia.

Dulu, Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra , menolak lahirnya pelaku atau dalam katagori revisionis. Sayangnya, lembaga ini kemudian diberangus karena dianggap punya ikatan dengan Partai Komunis Indonesia. Tapi bukan soal itu yang ingin saya katakan. Musisi Indonesia harus bisa mempunyai soko guru yang jelas. Dalam pandangan Lekra, kaum revisionis adalah mereka yang bangga kalau berhasil menjiplak atau membikin barang tiruan [surrogaat] dari budaya lain. Tidak punya jati diri.

Kegelisahan saya juga adalah, musisi Indonesia tidak hanya menjadi kacung kampret dari industri musik borjuasi saja, tapi juga bisa menjadi tuan atas karyanya sendiri.

Kebanggaan atas kemampuan dan karyanya, harus dimunculkan, bukan dilebur atas nama budaya global. Dan itulah yang ingin saya titipkan kepada musisi-musisi yang kemudian memilih menjadi “corong” musisi lainnya di parlemen. Sanggup nggak?

Selfito in Concert: Saya Foto-Foto & Saya Menganggu!

Sebenarnya sah-sah saja, wong mereka yang punya duit juga. Tapi menyaksikan banyak konser musisi luar di Indonesia selalu dijejali penonton, tiket termahal yang selalu habis duluan, dan lebih heboh penontonnya ketimbang menyimak konsernya, membuat saya berpikir ada yang “keliru” tampaknya.

"mau menikmati musik atau sekadar numpang foto?"

mau menikmati musik atau sekadar numpang foto?”

BUKAN keliru promotor mendatangkan artisnya, atau bukan keliru si empunya uang menghamburkan uangnya untuk membeli tiket termahal, supaya bisa duduk paling depan. Tapi saya melihat ada perubahan kultur yang terjadi pada masyarakat urban di Indonesia. Konser [apalagi yang bertiket amat mahal –pen], adalah salah satu cara untuk kaum urban untuk menunjukkan siapa diri, siapa nama, dan posisi dalam sudut pandang kemasyarakatan. Bukan hal baru sebenarnya, tapi belakangan makin santer dan marak.

Hal lain yang belakangan ‘menganggu’ saya saat menikmati konser atau pertunjukkan musik skala apapun, adalah: selfie. Saya tidak habis pikir, saat musisi atau penyanyi sedang tampil maksimal di atas panggung, penonton di deretan depan –yang notabene tiketnya termahal—malah cekakak-cekikik menggeret temannya, untuk sekadar berfoto dengan background artis atau panggung. Perhatikan: itu dalam kondisi artis masih tampil ya. Apakah tiket mahal hanya untuk pamer dan atas nama gengsi, kemudian memamerkan foto terdepannya di social media?

Oke, saya mungkin naif dengan tren tersebut. Tapi benarkah mereka bisa menikmati konser atau lagu, sementara mereka sibuk ber-selfie dan tampak tak peduli dengan lagu atau penampilan artisnya. Pokoknya punya foto nonton konser, duduk deretan depan dan sukur-sukur bisa foto bareng artisnya, meski hanya jadi latar. Dalam psikologi ada istilah childish behaviour, perilaku pamer seperti anak-anak dapat mainan. Tampaknya manusia urban banyak yang mengidapnya.

Dalam beberapa acara musik, saya menegur penonton di depan saya. Bukannya melihat konser atau mungkin ikut komat-kamit menghapal lirik lagu, tapi malah foto-foto, tertawa-tawa, atau kalau tidak memotret dengan membawa tablet  yang ukurannya “segede gaban”. Dan penonton di belakangnya –kebetulan saya mengalaminya—jelas amat terganggu. Kalau ditegur, hanya bergeser dikit dan tetap melalukan aktivitas yang sama, hingga usai.

Salah? Tentu saja tidak, kalau berkaca pada pernyataan: uang-uang aing, kumaha aing [duit-duit gue, ya terserah gue].  Agak naif kalau zaman sekarangg bicara hal yang normatif. Meskipun benar, bisa menjadi salah karena kebanyakan orang melakukan hal yang salah itu. Akhirnya malah dianggap jadi kebenaran. Sebagai penikmat musik yang datang untuk benar-benar menikmati musik, tanpa embel mau foto-foto, nguber tandatangan, atau sekadar eksis doang, perilaku-perilaku yang katanya tren itu, amat sangat mengganggu.

Perubahan perilaku dari waktu ke waktu memang tak bisa dibendung. Tidak ikut tren, takut disebut norak atau kampungan. Padahal kalau mau jujur, perilaku tak menikmati konser dan musik, dan hanya cengar-cengir, cipika-cipiki ketika bertemu teman arisan, selfie-selfie tanpa memperhatikan kenikmatan orang lain, jauh lebih norak dan kampungan. Persetan dengan harga tiket seharga  27 juta atau 25 juta yang sudah dihamburkan. Mbok ya, sedikit empati sebelum hati mati.

 


 

Wartawan itu Pemburu Berita, Bukan Penadah Berita ‘doang

DULU, pertengahan  90an ketika saya pertama kali menjadi wartawan, ada rasa bangga yang teramat sangat. Ya karena memang itu pekerjaan dan profesi yang saya idamkan sejak SMA dulu. Sayangnya, saya harus gelisah dengan profesi yang saya agulkan itu. Banyak wartawan baru sekarang ini yang pemalas dan Cuma jadi clicking monkeys.

"wartawan jangan menjadi clicking monkey doang ya."

“wartawan jangan menjadi clicking monkey doang ya.”

TAK pernah menduga, kalau saya harus meriset pola laporan dan penulisan jurnalistik wartawan diluar Jakarta. Gara-garanya adalah berita tentang “penggrebekkan” oleh FPI dan Polisi [saya geli dengan kolaborasi dua lembaga ini sebenarnya] satu pertemuan di Semarang. Apesnya adalah, berita itu melibatkan keluarga [orangtua –pen.] saya, karena tempat kejadian itu adalah rumah keluarga saya.

Selain mencari tahu tentang apa dan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, saya mengumpulkan semua berita cetak dan online yang menulis kejadian tersebut. Kesimpulan pertamanya adalah: wartawannya pemalas!

"objektif dan berimbang, sulit memang, tapi harus!"

“objektif dan berimbang, sulit memang, tapi harus!”

Saya ingatkan kembali tentang definisi wartawan:  Menurut wikipedia, pada saat Aliansi Jurnalis Independen berdiri, terjadi kesadaran tentang istilah jurnalis ini. Menurut aliansi ini:

jurnalis adalah profesi atau penamaan seseorang yang pekerjaannya berhubungan dengan isi media massa. Jurnalis meliputi juga kolumnis, penulis lepas, fotografer, dan desain grafis editorial. Akan tetapi pada kenyataan referensi penggunaannya, istilah jurnalis lebih mengacu pada definisi wartawan.

Sementara dalam pendefinisian Persatuan Wartawan Indonesia,

hubungannya dengan kegiatan tulis menulis yang di antaranya mencari data (riset, liputan, verifikasi) untuk melengkapi laporannya. Wartawan dituntut untuk objektif, hal ini berbeda dengan penulis kolom yang bisa mengemukakan subjektivitasnya. Jadi jelas sekali ya, objektif dan mencari data.

Pelajaran pertama sebagai wartawan adalah “skeptis” bukan “penadah”.  Kecenderungan wartawan sekarang adalah “penadah-berita” saja. Mengapa saya sebut begitu, karena mereka hanya menerima tanpa pernah mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kejadian itu. Entah karena mereka malas, atau karena sebelumnya “sudah dikondisikan” oleh aparat, lembaga atau institusi. Model seperti itu sebenarnya sudah banyak terjadi dalam pemberitaan, tapi ketika harus melihat langsung kinerja media dan wartawan dengan pola itu, jujur saya: saya emosi dan gregetan.

"Jadilah pemburu berita, bukan sekadar penadah berita."

“Jadilah pemburu berita, bukan sekadar penadah berita.”

Nyaris atau malah tidak ada yang namanya cover both side. Dari sekitar 20an media yang menulis, hanya sekitar 2-3 media saja yang pemberitaannya berimbang. Sisanya hanya mengutip sumber yang sama, mulut aparat! Mau tidak mau saya harus curiga dan membuat praduga jadinya: apakah mereka adalah wartawan yang ngepos di kepolisian setempat [polsek, polres atau polda], sehingga tidak ada pernyataan, data dan tulisan kritis yang lebih tajam? Sebuah praduga yang “bodoh” karena tentu saja saya [dan Anda] mungkin sudah tahu jawabannya.

Penggunaan kosakata yang “aneh” dan tidak sesuai fakta, juga banyak digunakan. Semisal “meresahkan masyarakat”. Kalau menurut pelajaran jurnalistik yang saya terima di bangku kuliah, saya harus bertanya “meresahkan yang bagaimana?” kemudian juga “masyarakat yang mana?”. Kalau perlu saya lengkapi dengan wawancara masyarakat sekitar yang dianggap oleh aparat itu, “diresahkan”.  Tentu saja tidak ada cross check seperti itu, karena wartawan yang bersangkutan hanya “penadah”.

Kalau ada “sebab” pasti ada “akibat” itu jargon umum. Dari banyak media yang menulis, mereka hanya menulis “akibat”-nya saja. Itupun satu mulut yang dikutip sana-sini. Sayangnya juga si pemilik mulut ini, ternyata “minim data” dan hanya “berasumsi” atau “konon” saja informasinya.

Apakah wartawan mengejar dengan kekritisannya untuk mendapat informasi yang detil dan berimbang? Maaf, lagi-lagi ini pertanyaan “bodoh” karena tentu saja jawabannya adalah tidak. Wartawan tidak pernah mengutik-utik tentang “sebab” dengan cerdas. Mengapa? Tentu saja karena sebagian sudah kenal dan ngepos di institusi resminya. Apakah ada wawancara atau kutipan dari pihak “korban” ketika itu? Ah, lagi-lagi pertanyaan tolol, karena tentu saja tidak ada.

Pertanyaan saya: apakah wartawan sekarang masih bisa disebut pemburu berita? Kalau pemburu, tentu saja dia harus sigap, cepat dan cerdas menenpatkan diri, untuk mendapat buruannya dengan baik dan lengkap.

Rasanya saya harus otokritik, karena lebih suka menyebut mayoritas wartawan sekarang adalah: penadah berita doang. Semoga saya salah! 

Ide “Music Great Sale” – Kebutuhan atau Keruntuhan Industri Musik?

Saya ingin membuat pepatah baru: “Kafilah berteriak, anjing tetap menggonggong”.  Terdengar kasar? Mungkin saja, tapi apakah ada kata atau kalimat yang lebih halus untuk menggambarkan kelakuan pembajak di industri musik Indonesia? Pemerintah, pelaku industri, polisi, atau penikmat yang peduli, sudah lelah berteriak, seperti kafilah yang mulai kehabisan air, sementara pembajak sudah seperti anjing, menggonggong tak berkesudahan. Cuek saja.

"revolusi digital memang tak bisa dibendung."

“revolusi digital memang tak bisa dibendung.”

 KALAU seorang petinggi label besar yang memayungi sekitar 500an musisi mengatakan, “industri musik Indonesia sudah bangkrut!” apakah artinya juga, secara luas, industri musik sudah tidak menguntungkan lagi?Kebangkrutan bisa identik dengan tak ada keuntungan masuk sama sekali, atau ada kesalahan manajerial pada sebuah perusahaan.

Nah, apakah industri memang tak ada keuntungan sama sekali? Atau hanya ‘besar pasak daripada tiang’ saja? Sebuah topik yang sebenarnya sudah banyak dibahas, tapi saya mencoba menelisik sisi-sisi lain yang selama ini belum terungkapkan. Kalau kemudian kami memberikan ide-ide “kurang waras” sebenarnya hanya untuk mengimbangi kondisi industri yang menurut kami juga “kurang waras” ini.

Banyak perusahaan-perusahaan besar di Amerika yang tergiur dan mencoba menelisik, apa sejatinya kekuatan dan keunikan dari industri musik dan hiburan, selain pornografi. Perhatikan baik-baik, bagaimana pertumbuhan kapital melesat dari berbagai layanan yang makin mudah dan disukai masyarakat dunia. Sebutlah Pandora, Clear Channel iHeartRadio, Spotify, Radio dan MOG, serta perusahaan video online seperti YouTube dan Vevo. Bahkan Google Inc juga meluncurkan streaming, bekerjasama dengan Apple Inc. Lalu bagaimana caranya menghitung keuntungan?

Prediksi manisnya adalah selama tiga tahun ke depan, pendapatan untuk industri digital, termasuk uang dari download dan streaming lagu, diperkirakan akan tumbuh 12% setiap tahun. Sementara industri musik global secara keseluruhan akan terus menyusut, meski tak benar-benar mati. Pendapatan online streaming tumbuh 40% menjadi $ 1,1 miliar pada tahun 2012.

Sekadar catatan, jumlah pengguna musik digital secara global di seluruh dunia [termasuk Indonesia] tumbuh 9% tahun lalu menjadi 1,2 miliar dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1,8 miliar dalam tiga tahun ke depan. Itu peningkatan lebih dari 10% setiap tahun. Ini sebuah potensi yang luarbiasa, baik dari kacamata bisnis maupun kacamata pecinta musik itu sendiri.

"kalau mau berkarya untuk jangka panjang, musisi harus konsisten."  -- foto: undertheradarmagz.com

“kalau mau berkarya untuk jangka panjang, musisi harus konsisten.” — foto: undertheradarmagz.com

Di Indonesia masalah klasiknya adalah melawan pembajakan dan unduhan ilegal. Tapi kalau hanya mengeluhkan soal itu, rasanya kok tidak bijak juga. Justru kemudian sisi kreativitas lain yang selama ini tidak pernah dibayangkan, harusnya muncul.

David Kusek dan Gerd Leonhard, keduanya orang Amerika Serikat, pernah menulis buku yang menarik tahun 2005. Buku berjudul The Future of Music: Manifesto for The Digital Music Revolution ini memaparkan, bagaimana masa depan industri musik dunia, paska digital. Menurut mereka ketika itu, musik bukan lagi sebuah produk, tapi utility. Dan pelan-pelan apa yang mereka tuliskan itu mulai terlihat jelas.

Dalam bahasa mereka, industri yang masing-masing mengedepankan CD fisik, akan mengalami “pendarahan finansial’ dan harus mulai berpikir untuk menghentikan bleeding tersebut.

Ketika era digital muncul pertama kali, sempat muncul “serangan” bahwa merekalah yang sejatinya menjadi “pembunuh industri musik” secara pelan-pelan. Tapi kini –menurut Edgar Berger, chief executive Sony Music International – justru menjadi “gudang penting industri musik.” Padahal lawan sebenarnya adalah teknologi. Dalam bahasa buku di atas, teknologi  membuat musisi atau artis dan fans, tidak tergantung lagi pada industri rekaman untuk membuat dan mendistribusikan musik.

Perhatikan, sekarang, makin banyak musisi profesional, karbitan, dan coba-coba jadi musisi, yang dapat merekam album berkualitas tinggi dari studio buatan sendiri menggunakan peralatan canggih yang tidak terlalu mahal didapatkan.

Revolusi Digital: Harapan Baru Industri?

Dalam bisnis musik, tidak hanya bicara soal Indonesia, ada perkembangan yang menarik yang disebut revolusi digital. Terpuruknya industri musik secara global, konon salah satu akibat dari kegagalan mereka mengantisipasi munculnya revolusi digital tersebut. Hal ini terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

"dengan 20 juta, album sudah beredar di lapak bajakan seluruh indonesia. mau?"

“dengan 20 juta, album sudah beredar di lapak bajakan seluruh indonesia. mau?”

Ketika format CD fisik mulai seret dan akhirnya mengalami kejatuhan, banyak musisi dan label bergantung pada ring back tones. Sayang, banyak aturan main yang dilanggar sehingga akhirnya RBT pun mengalami masa kegelapannya. Dan kegelapan itu menyebar ke seantero jagat musik. Mereka kebingungan, apalagi yang harus dimunculkan untuk membangunkan “detik-detik kematian” industri musik itu.

Menurut data dari Federation of the Phonographic Industry tahun 2013 –seperti dikutip dari nytimes.com –  ada peningkatan penghasilan global meski masih berkubang dengan keterpurukan industri musik yang meluas. NYT melaporkan, setelah bertahun-tahun industri musik kebingungan dengan fokusnya, akhirnya ada kabar gembira soal peningkatan penghasilan itu. Perusahaan-perusahaan rekaman yang kemudian berbenah diri menghadapi revolusi digital, pelan-pelan bisa bangkit.

Fakta dan data di atas jelas menunjukkan, ada pergerakan yang signifikan dari sebuah masa lalu yang konvensional menuju era digitalized. Dalam buku The Death and Life of The Music Industry in The Digital Age [2013] tulisan Jim Rogers, pakar komunikasi  dari Irlandia, dipaparkan: akhirnya perusahaan-perusahaan musik yang sebelumnya ketakutan dengan efek digital, sepakat “berdamai” dan merumuskan strategi inovatif mencermatinya.

Mencintai Bukan Melukai

Saya, Anda  dan kita sering mengaku sebagai pecinta musik Indonesia. Terserah mau lagu dan artis siapa, tapi yang jelas karya musisi Indonesia. Mau suka lagunya Wali, Dewa 19, Afgan, Fatin, atau Waljinah sekalipun, tidak ada masalah. Selera tak bisa dilawan. Kita tak bisa menghakimi seseorang atas selera musiknya. Cara mudah menghargai dan menyayangi musik Indonesia, adalah dengan memberi apresiasi kepada sesama kita yang mengidolakan musik Indonesia.

musik harusnya selalu memberikan kegembiraan dan kebaikan.

musik harusnya selalu memberikan kegembiraan dan kebaikan.

Saya mungkin bakal geleng-geleng kepala ketika orang dihina hanya karena suka musik Indonesia yang dianggap “kampungan”. Saya mungkin akan emosi, ketika penyuka musik tradisi Indonesia dianggap tak bermartabat.  Atau saya akan protes, kalau musik atau musisi bule, selalu diagulkan dengan superior.

Bagaimana kalau saya mengusulkan, beberapa aksi untuk musik Indonesia? Mungkin rada nyeleneh tapi inilah cara radikal dan revolusioner supaya musik Indonesia benar-benar diletakkan pada posisi yang sejajar dengan musik non-Indonesia dan secara masiv dinikmati jutaan penikmatnya.

  • Music Great Sale

Usulan ini belajar dari festival belanja fashion di beberapa negara, termasuk Indonesia. Coba, siapa yang tidak tahu Jakarta Great Sale? Atau mungkin menyeberang sedikit ada Singapore Great Sale? Pada saat itu, semua mall dan pusat-pusat perbelanjaan terkenal, memberikan potongan harga “rada gila-gilaan” untuk pelanggannya.

Mengapa tidak membuat Jakarta Music Great Sale, Semarang Music Great Sale, atau Jogjakarta Music Great Sale? Gerakan ini khusus untuk musik Indonesia yang original. Selama sebulan penuh misalnya, semua toko musik, mall, atau toko-toko CD menjual item-item tertentu dengan harga ‘super miring’. Tentu sudah ada kesepakatan di antara para label untuk menjual CD dengan harga murah dan masuk akal.

Kemudian dalam lingkup yang lebih kecil lagi dibuat juga di kota-kota kotamadya atau kabupaten di berbagai daerah. Kalau dilakukan secara reguler dan masiv, masak sih tidak bergaung? Kecuali pelakunya punya kepentingan-kepentingan terselubung yang tidak diketahui. Kalau itu terjadi, mereka sudah “menggunting dalam lipatan” dan memang ingin industri musik nyusruk senyusruk-nyuruknya.

  • Kampanye Nonton dan Ngadain Konser Lokal

Benar-benar kampanye, seperti kampanye caleg yang tidak jelas juntrungan nama, kiprah dan partainya. Tapi biar sedikit elegan, tidak ada tempelan di dahan, atu umbul-umbul memalukan. Coba kampanye di televisi seperti para capres memamerkan programnya.

Mungkin bakal lebih mengena memasang tampang-tampang artis lokal yang bakal berkonser, ketimbang politisi yang lebih sering di-bully di social media ketimbang dipuji. Pesannya jelas: perbanyak konser musisi lokal, dan perbanyak nonton konser musisi lokal.

Promotor harus punya regulasi, berapa kali menggelar konser asing, dan berapa kali harus menggelar konser lokal, Perbandingannya harus lebih banyak konser lokal. Musisi lokal tentu juga harus bersiap dengan banjir tawaran konser. Mereka harus siap dengan konsep, dengan fashion yang enak ditonton, dan aksi panggung yang bagus, jangan norak.

  • Angkringan Musik Digital

Ini kelanjutan dari dua usulan di atas. Penikmat musik Indonesia, tidak hanya berasal dari kalangan borjuis, tapi justru lebih banyak yang proletar. Nah, diasumsikan pengunduh ilegal berada di dua kalangan ini, industri musik [baca: label] harus berani bikin terobosan yang terkesan ndeso, tapi efektif.

Kalau ada angkringan nasi kucing yang legendaris, mengapa tidak bikin “angkringan lagu”. Bikin lapak CD murah, pengunduhan lagu legal, tapi dengan konsep angkringan. Harganya murah, tapi tetap bisa menguntungkan. 

Bisa disinergikan dengan nasi kucing beneran, atau apapun yang menarik minat pecinta musik untuk mencintai musik Indonesia dengan nyata.  Mosok, selalu kalah langkah dengan pembajak yang kurang ajar itu?

jangan asal teriak & ngomong di depan media. pastikan pengaruhnya positif.

jangan asal teriak & ngomong di depan media. pastikan pengaruhnya positif.

Semua ide itu mungkin sudah pernah disampaikan atau malah sudah pernah coba dilakukan. Tapi keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan, harus dimunculkan.

Mencintai dan menyayangi musik Indonesia, harus dilakukan dengan banyak cara yang sejati. Kalau melakukan hal yang melukai, artinya kita melakukan “kebohongan besar” kepada musik Indonesia itu.

Sadar atau tidak, kita pelan-pelan sudah membunuh industri musik itu sendiri. Mau begitu?

Musik [Bagus] Sudah Mati & ‘Mayat’ Musikalnya Terbujur Kaku?

Musik adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu untuk pendengarnya” [Nietzche]  

musik-jelek

“bermusiklah dengan hati, bukan dengan kesombongan skill”

BEBERAPA hari terakhir, ungkapan itu terus menghantui pikiran. Tentu saja, hal ini tidak otomatis berarti saya setuju dengan ungkapan yang diucapkan salah satu filsuf terkenal Jerman. Tapi seandainya kita bicara dalam konteks kekinian, dimana musik benar-benar menjadi “ajang-pamer kreatifitas”  yang tidak selalu pada tempatnya, bisa-bisa filsuf itu tertawa melihat banyak orang yang menghujat pemikirannya itu.

Banyak orang dengan secara gampang menyatakan bahwa semua genre musik itu sama bagusnya. Kenyataannya tidak demikian, karena kalau benar adanya, maka manusia dengan mudah bisa gonta-ganti pilihan musikal sesuka hatinya, seperti juga ganti pakaian. Tapi yang terjadi, ketika satu musisi memainkan genre yang biasanya dia mainkan dan dikenal oleh publik, akan langsung dihujat sebagai satu ‘pelacuran musisi’. Kalau tidak, akan disebut fanatisme musikal.

Landasan untuk kritik fanatisme musikal adalah: manusialah yang menciptakan musiknya, bukan musik yang menciptakan selera manusia. Dalam filsafat, musik adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri.

Musik itu Candu?

Kalau Karl Marx pernah mengatakan ‘agama itu candu’ bagaimana kalau sekarang saya katakan, bahwa musik itu [juga] candu? Dan musik pun akhirnya menjadi satu “virus” yang membuat manusia kadang terpecah. Mengapa? Musik menjadi candu yang mengharuskan orang melakukan celotehan yang menghujat genre lain.

Dan musik itu candu. Anda terpukau dengan aransemen para komposer. Yang tidak suka dan mencoba mengkritisi akhirnya harus rela menjadi “musuh’  dari fans-fans fanatiknya. Candu musik kadang-kadang sudah “menghisap” logika dan kemanusiaan, mesk musik juga bisa jadi sarana penguat tekanan politik atau sosial. Musik itu Candu. Kita terpesona dengan keindahan aransemen dan ketakutan dengan fanatisme penggemar.

Darimana lahirnya genre musik? Apakah Tuhan menurunkan bakat bermusik? Apakah Tuhan “pelit” dan ‘diskriminatif’ sehingga hanya memberi talenta itu kepada manusia-manusia tertentu dihadapan-Nya? Musik itu candu, karena membuat kita ‘addict’ dan ‘high’ dengan lirik gombal, lirik optimis, kadang-kadang lirik  kasar dan menghujat.

Menurut Nietsche:

Jika semua musik memang memang merasa benar sendiri, penting diyakini bahwa rentang panjang industri musik itu itu terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan jalan keluar penggemar musik-musik jadul, sebelum memasuki kamar surganya.”

 Saya termasuk yang meyakini, bahwa musik tradisi bisa berakrab-akrab dengan genre lain yang dianggap lebih modern, tapi tak hanya sebagai tempelan, tapi juga bisa juga jadi pemeran utama. Persoalannya, apakah masih banyak musisi yang di sela senggangnya, mengelaborasi kreatifitas? Kalau peminatnya sedikit, itu artinya musik sebagai candu memang benar adanya. Dan siap dimatikan!

Anda begitukah?

Go to Hell With Your Music : Kami Masih Sanggup Kritis!

Dalam obrolan rileks dengan beberapa kawan jurnalis musik, muncul satu pertanyaan “usil” berkaitan dengan penulisan tentang musisi dan karyanya.  Dialog kami muncul gara-gara ada celetukan: “Katanya karena jurnalis musik itu dapat gratisan CD dari label, tulisannya harus  selalu menyenangkan labelnya ya!” 

"Urusan catatan kritis, tidak ada hubungannya dengan bantuan, gratisan atau persahabatan diluar pekerjaan!"

“Urusan catatan kritis, tidak ada hubungannya dengan bantuan, gratisan atau persahabatan diluar pekerjaan!”

SAYA sedikit ‘terganggu’ dengan celetukan itu. Dan akhirnya kami sedikit membahas tentang hal itu. Ada asumsi –sekali lagi, asumsi– yang mengatakan bahwa ada sebagian personel label, musisi, atau manajamen artis, yang protes atau sekadar mengungkapkan kekecewaannya, lantaran media menulis sisi kritisnya. Yang artinya, mungkin tidak sesuai pesan yang ingin disampaikannya.

Begini: saat pertama kali menerima pendidikan jurnalistik di salah satu media besar ibukota tempat saya mengawali karier wartawan, kata sakti pertama yang saya ingat sampai sekarang adalah: skeptis! Mengapa? karena skeptis membuat jurnalis itu kritis, mencari pertanyaan atas jawaban yang dirasanya kurang diterima. Mau dianggap sok tahu, silakan. Tapi akan menjadi sok tahu banget, ketika kita juga tidak berusaha mencari tahu dan belajar.

Skeptis dan mencari jawaban atas pertanyaan yang ada, kemudian jadi komitmen pribadi dan musisi, untuk selalu bertanya, mencari tahu, dan [mungkin] menambahkan apa yang sudah kita tahu. Untuk yang mau ‘sedikit cerdas’, bertanya kepada narasumber dengan tajam, atau menulis sisi musikalitasnya dengan beberapa catatan kritis, adalah cikal bakal jurnalis yang bakal disegani karena kualitas. Makanya saya heran, ketika banyak jurnalis sekarang yang tidak berusaha cari tahu dan mengulik dari sisi teknis atau perjuangan eksistensinya. Terima mentah! Masih ajah ditetekin.

"catatan kritis itu berlaku kepada siapapun, termasuk dengan musisi yang mungkin kita juga ngefans"

“catatan kritis itu berlaku kepada siapapun, termasuk dengan musisi yang mungkin kita juga ngefans”

Mengapa makin banyak jurnalis [musik] yang tumpul beride, atau tak punya keberanian untuk tidak terjebak pada tulisan normatif semata? Nggak enak karena sudah dapat CD musik gratis Sungkan karena kenal orang label atau musisinya? Apalagi yang sempat ‘dientertaint’ dengan menyenangkan. Buat saya pribadi: tidak ada hubungannya pertemanan dengan label dan musisinya, atau hubungan musisi dengan jurnalis! Seharusnya, kita bisa menulis apapun sepanjang informasinya valid dan lengkap.

Kembali soal catatan kritis. musisi dan label, harusnya malah senang ketika semua memuji, ternyata masih ada pendengar kritis dan memberi masukkan kepada hal yang tidak [atau belum] terjadi dan masih bisa diperbaiki. Saya menjadikan profesi jurnalis sebagai try out, belajar menjadi kritikus, skeptis dan oposisi saat semua memberi catatan kritis.

Dan ketika sudah memahami hal itu, [seharusnya] tidak ada tudingan miring kepada jurnalis tentang CD gratis, dan sekondan berhadapan, atau kegigihan kritis yang tidak asal kritis. Kalau tudingan itu masih terjadi, saya hanya bisa berjanji kepada diri sendiri: “go to hell with your music!”

Pluralisme Musikal: Menepis Dikotomi Musik Jelek & Musik Bagus

Pada satu kesempatan, saya mengajak seorang kawan untuk menonton salah satu konser musik. Penampil yang tampil selain musisi papan atas, juga pengiring yang cukup mumpuni menurut saya. Aliha-laih disambut antuasis ajakan saya, malah muncul pernyataan yang “mengejutkan” saya. Dia bilang” “Males ah, yang main jelek-jelek!” Duaaaaar….

"musik jelek tidak ada, yang ada musik tidak beruntung!"

musik jelek tidak ada, yang ada musik tidak beruntung!”

JELAS saya terkejut, karena yang mengucapkan adalah seorang yang selama ini cukup permisif dengan musik apapun. Artinya, punya pandangan terbuka menerima perkembangan musik, termasuk musik yang tidak sesuai dengan selera pribadinya. Kemudian saya iseng bertanya, “Jeleknya apa ya?” dan jawabnya lebih mengejutkan, “Yang tampil, artisnya nggak asik!”

Ya sudahlah, biarin saja dia mau bicara apa. Tapi kemudian pernyataan-pernyataan itu membuat saya gelisah. Mengapa? Secara tidak sadar, saya “berkaca” karena mungkin saja bukan hanya kamerad satu itu yang punya pendapat begitu. Mungkin saya juga pernah melontarkan pernyataan yang –kalau benar—sekarang pasti saya sesali. Pernyataan yang sejatinya malah meruntuhkan pemikiran kita tentang pluralisme dalam musik dan bermusik.

Ngomong-ngomong soal pluralisme dan mengapa istilah itu yang saya pakai dalam jejalan isu musik di tulisan ini, karena saya tidak mau membatasi diri dengan memakai “kacamata kuda” dan hanya berkutat pada satu kedudukan nyaman yang saya rasakan. Untuk bisa merasakan nyaman, kita harus pernah merasakan tidak nyaman. Kalau kita terpola pada satu posisi saya, kita sejatinya menjadi panganut aliran musik yang sempit. musik-jelek2

Secara etimologis, arti pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya kemajemukkan atau keanekaragaman dalam suatu kelompok masyarakat. Kalau kita larikan dalam konteks musikal, tentu saja musisi yang bisa menerima dan mengakui keanekaragaman genre dan aliran musik dalam satu industri musik global. Dan edukasi inilah yang harus kita tawarkan terus menerus kepada penikmat atau pelaku musik itu sendiri.

Menerima kemajemukan musik berarti menerima adanya perbedaan genre juga. Menerima perbedaan bukan berarti menyamaratakan sesuai seleranya, tetapi justru mengakui bahwa ada hal atau ada hal-hal yang tidak sama. Menerima kemajemukan musikal, bukan berarti membuat “gado-gado”, dimana kekhasan masing-masing genre terlebur atau hilang. Kemajemukan juga bukan berarti “tercampur baur” dalam satu “frame” atau “adonan”. Justeru di dalam pluralisme atau kemajemukan, kekhasan yang membedakan musik yang satu dengan yang lain tetap ada dan tetap dipertahankan.

Anda boleh saja tidak suka dengan musik melayu, tapi menghujat musisi dan alirannya terang-terangan di depan publik, jelas sebuah kebodohan. Dalam wacana pluralisme musikal tadi, sikap itu sama saja dengan tidak menghargai kemajemukkan yang ada. Lalu bagaimana dengan musik atau musisi jelek yang disemburkan kawan saya seperti saya ceritakan di atas?

Apakah musisinya memang jelek? Secara fisik tidak ganteng? Atau musiknya terlalu sederhana, terlalu mudah diikuti dan terlalu enteng  liriknya. Kabarnya, di Indonesia itu ada seara lelucon: semakin rumit dan njlimet musikmu, artinya semakin keren!  Begitukah? Jujur saja, buat saya tidak ada dikotomi musik jelek dan musik [nggak] jelek.  Yang ada hanya musik beruntung dan musik tidak beruntung. Sehabat apapun skill dan aransemen yang dibuat.

Terlepas dari beruntung atau tidak, musisi [dan penikmat musik] dari genre apapun sejatinya tidak usah menjadi “hakim tunggal” atas genre lain. Musisi juga jangan menjadi “tuhan” pemilik kebenaran tunggal atas hal lain yang dianggap tidak sesuai dengannya. Mengapa tidak mencoba mengajak kerjasama atau kolaborasi saja, mungkin malah melahirkan satu hal yang menarik dan tak terduga. Mengakui keberagaman musik lain, sama artinya memberi dukungan untuk musik itu sendiri.

Kembali kepada musik “jelek” dan penyanyinya “nggak asik” di atas, harus kita lihat dalam dimensi yang tidak menyalahkan. Secara teknis mungkin keren, tapi non teknisnya mengecewakan, atau sebaliknya. Artinya pula, jelek atau bagus, asik atau suck, dibuat oleh musisi itu sendiri. Kalau memang dia mau disebut musisi nggak asik, dia harus buktikan punya sisi lain yang asik. Kalau disebut penyanyi jelek, dia harus punya kelebihan lain yang keren. Tapi jangan kemudian membungkam perbedaan dan menjadikan itu konflik terbuka. Apalagi di musik, bisa jadi guyonan malah.