Musisi “Bermasturbasi” – Ocehannya “Tak Ada Arti”

Menjadi musisi, produser, atau bahkan jadi pemilik label di industri musik di Indonesia, harus punya “penutup telinga” ketika tudingan-tudingan tak bermutu menyerbu. Tidak semua hal yang dilakukan atas nama musik [thok!], tak serta dilihat sebatas itu. Tudingan yang bikin telinga berdengung pun, bermunculan. Ide tidak selalu jadi materi. Banyak ide yang akhirnya hanya sebatas ide kosong, tapi “nyaring” bunyinya.

MUSISI Dimana Saja, Harus Membuka Kaca Mata Kudanya!

                              MUSISI Dimana Saja, Harus Membuka Kaca Mata Kudanya!

PERNAH merasakan berada pada situasi dilematis: antara marah meluap dengan kesadaran akan kebodohan orang lain? Kalau pernah, dan Anda berhasl melewati, Anda bolehlah dianggap lulus ujian kehidupan yang pertama.  Saya mungkin pragmatis, sesekali skeptis. Tapi ketika menyatakan “iya”, saya melakukannya dengan total tanpa melihat materi [baca: uang] yang akan saya kelarkan atau peroleh. Banyak orang yang merasa terlibat, padahal sebenarnya hanya berjasa jual abab, akan lebih piawai berkoar-koar, merasa paham dan mengerti dengan baik dan benar, padahal sejatinya hanya garengpong.

Seorang sahabat pernah mengeluh: apapun yang dia lakukan meski disebut revolusioner, dianggap hanya bergulat dengan urusan “cari nama” atau “cari panggung” untuk dirinya. Padahal saya tahu benar, sahabat saya ini tidak pamrih soal materi atau uang. Persetan dengan “cari nama” dan “Cari panggung” begitu kilahnya. Awalnya saya hanya mengatakan: sudah cuek saja, anjing menyalak, kita mah jalan terus.  Tapi kemudian saya mencari tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengan kawan saya dan musisi atau orang yang mencibirnya itu.

Cari nama” – ini istilah yang kemudian jadi popular buat saya. Karena ketika bertemu dengan sinis-man [karena kebetulan yang sinis biasanya laki-laki], istilah itu akan muncul. Agak menggelikan istilah itu, karena kalau dijabarkan, tidak ada “nama” yang didapat. Popularitas? Tambah kenalan mungkin, dan harusnya  itu jadi sesuatu yang positif bukan? Atas nama independensi yang berkoar-koar tanpa melakukan apapun, sama seperti bunyi kentut dengan bau menyengat, tapi hanya sesaat. Kecuali kemudian disusul mencret, mungkin cepiritnya bisa agak lama.

Mengapa banyak dari kita yang berpikir, ketika aktifitas yang dilakukan orang lain sejatinya benar-benar untuk yang hal positif, tapi diembeli: bahwa dia tidak tahu apa-apa, karena kami lebih tahu. Sayangnya, yang lebih tahu itu hanya jadi speaker doang. Tak mau jadi operator yang bisa mengatur bunyi speaker dengan lebih enak. Artinya pula: mengapa merasa lebih tahu, tapi tidak melakukan gerakan yang lebih memadai?

Di Industri musik, masih banyak musisi yang begitu bodohnya menganggap bahwa independen [baca; indie] adalah segala-galanya. Di luar Jakarta, tidak sedikit yang merasa bahwa saat setting Jakarta diwacanakan, sama artinya dengan ‘menjakartakan’ musik itu sendiri. Heloooow……jangan jadi musisi, atau penikmat musik sempit yang memakai kacamata kuda, kemudian mengatakan itu adalah: aliansi industri yang mencoba membawa musik ke arah yang [selalu] mainstream [baca: Jakarta].

berkarya itu membawa pesan, bukan pepesan.

Bahwa kecerdasan kultural itu muncul dari kebiasan kita berwacana, berliterasi dan menggauli industri yang mungkin sebelumnya kita benci. Kita tak akan tahu bagaimana repotnya mengirim demo ke label, kalau kita tak mencoba atau paling tidak berbicara berbagi pengalaman dengan pelaku yang pernah merasakannya. Kita tak akan pernah tahu, bagaimana tren musik dunia yang bakal masuk ke Indonesia, kalau kita hanya jadi “musisi pasungan” merasa seolah apa yang kita lakukan sudah tepat, benar dan [tidak peduli] tren. Buat saya, perilaku seperti itu sama dengan “onani” saja.

Bagaimana kita tahu, menyampaikan maksud dari karya kita kepada media, kepada dunia luar sana, kalau kita selalu merasa tak setara, merasa berbeda, merasa cerdik dengan strategi omong kosong yang seolah kitab suci wajib mereka yang menyebut dirinya indie, tanpa pemahaman lahir dan besarnya skena indie seperti apa. Bagaimana kita tahu strategi berhadapan dengan media, kalau kita asal njeplak dengan berkedok:  ini karya kami yang tidak peduli tren. Bahkan menyampaikan maksud dan pesan kepada orang lain lewat musik pun, perlu strategi.

Kalau musisi [dan kawan-kawannya] bersikukuh sanggup melakukan revolusi musikalnya sendiri, dengan mindset yang mereka ciptakan sendiri, rasanya hanya akan menjadi katak dalam tempurung tanpa sinergi dengan musisi atau pihak lain yang kompeten soal musik itu sendiri.  Kadang-kadang justru orang lain yang melihat potensi musikal musisi itu, lantaran musisi itu sibuk bermasturbasi sehingga melupakan idiom: berkarya itu membawa pesan, bukan pepesan.

Masih pakai kacamata kudamu?

 

Lagu Anak-Anak: Pelengkap Penderita di Industri Musik [Dewasa]

Dibalik gemerlapnya industri musik di Indonesia, di belakang naik turunnya perkembangan industri  hiburan di Indonesia, ada “tumbal” yang selalu jadi ‘pelengkap penderita’. Dan itu bernama: anak-anak. Mereka –anak-anak itu—terpaksa tumbuh dengan lagu yang notabene ‘merusak’ imajinasinya, terseret dalam pusaran mimpi dewasa sebelum waktunya. lagu-anak

BERUNTUNGLAH kalian yang tumbuh di era 80 dan 90an. Lagi-lagi era yang disebut-sebut sebagai era keemasan industri  musik itu, memberikan pengalaman yang amat membekas indah, termasuk kepada anak-anak zaman itu. Lagu anak-anak dengan lirik memang untuk anak-anak, bertebaran sehingga orangtua tinggal memiliah saja, akan memberikan pemahaman dengan lagu apa. Memang ketika itu tidak semua lagu anak juga cocok untuk anak-anak, tapi yang jelas pilihannya jauh lebih banyak ketimbang sekarang.

Kamu mungkin ingat dengan ‘Nyamuk Nakal’-nya Enno Lerian, ‘Bolo-Bolo’-nya Tina Toon, atau soundtrack film ‘Petualangan Sherina’-nya Sherina Munaf dan ‘Diobok-Obok’-nya Joshua Suherman. Belum lagi nama-nama lain yang mungkin hanya numpang lewat, karena memang booming lagu anak-anak ketika itu luarbiasa. Nama Papa T. Bob menjadi salah satu pencipta laris yang banyak diburu orangtua untuk mengorbtikan anaknya. Tentu saja diluar nama-nama legendaris seperti Ibu Soed, atau AT Mahmud dan Bu Kasur atau Pak Kasur.

Ketika saya masih kanak-kanak di era 80an, ada satu acara televisi [hanya TVRI ketika itu] yang selalu saya tunggu. Kalau tidak salah nama acaranya adalah: Bernyanyi Bersama Bu Fat. Acaranya sendiri sebenarnya lebih seperti lomba nyanyi, karena ada peserta yang mengambil nomor undian yang dibentuk seperti daun di dahan pohon. Nomor yang diambi berarti adalah judul lagu. Bu Fat sendiri kalau sekarang jelas tidak cocok jadi host acara anak-anak. Perempuan yang lebih cocok jadi eyang putri, ketimbang host. Perawakan agak gemuk, berkebaya dan bersanggul. Tapi mengapa saya selalu menunggu acara itu? Selain karena peserta suaranya bagus-bagus, secara emosional anak-anak, saya merasa “dekat” dengan Bu Fat. Caranya bicara dan memberi masukan kepada peserta: sangat ngemong sekali.  Jangan harap ada tangis-tangisan bawa koper seperti sekarang. Semua natural dan belum di-setting macem-macem.

Jauh sebelum itu –sebutlah era Orde Lama—ada hal menarik yang saya temukan. Ketika bongkar-bongkar koleksi buku lama milik seorang kawan, saya menemukan satu buku berjudul ‘Njanjian Untuk Sekolah Rakjat’ yang disusun oleh ‘Panitia Penjusun Lagu-Lagu Sekolah Djawatan Kebudajaan Dep. P.D.K’ dan tertulis tahunnya 1963. Yang menarik bukan sekadar lawasnya saja, tapi buku itu berisi puluhan bahkan ratusan lagu anak yang disesuaikan dengan kelasnya. Kelas 1, naik kelas 2 dan seterusnya, masing-masing punya lagu anak yang berbeda. Tentu saja tidak dilarang untuk menguasaian atau hapl dengan lagu di kelas atasnya atau bawahnya. Dan percayalah, semua lagu yang ada di buku terbitan P.N. Balai Pustaka itu benar-benar untuk anak-anak, khususnya dari sisi lirik.

Diantara lagu-lagu per kelas itu, ada tujuh lagu wajib yang harus dihapal oleh murid-murid Sekolah Rakjat itu. Lagu itu antara lain: Indonesia Raya, Bagimu Neg’ri, Madju Tak Gentar, Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Barat Sampai ke Timur, Bebaskan Irian dan Merah Putih. Yang menarik adalah: bahwa ketika itu nasionalisme sudah dibangun dari sekolah paling dasar. Bukan sekadar agitasi dan propganda untuk cinta tanah air, tapi benar-benar merasakan bangga sebagai  orang Indonesia.

Secara akademis dan kreatifitas mungkin hebat, tapi psikologi mereka terpasung, terpaksa jadi “dewasa” sebelum waktunya. Dan itu amat sangat menyedihkan!

Untuk lagu anak-anaknya pun, jangan berpikir  dijadikan indoktrinasi dari pemerintah secara politis. Perhatikan baik-baik judul lagu dan penciptanya. Mereka membuat karya yang disesuiakan dengan lama-lama usia siswa Sekolah Rakjat. Misalnya lagu: Sepasang Burung Kenari [SM Muchtar], Tahun Baru [Pak Dal], Anak Ajam [C. Hardjosoebroto], dan Di Taman Bunga [Daeng Sutigna]. Dan masih banyak lagi, dengan banyak pencipta.

Saya mencoba menelusur siapa sih pencipta lagu yang hebat dan terlihat sangat paham psikologi anak itu?

Pak Dal

Gerardus Daldjono Hadisudibyo atau yang lebih dikenal sebagai Pak Dal adalah guru SGA dan dosen teori musik pada Akademi Musik di Yogyakarta.Pernah memimpin Orkes RRI di Solo, Daldjono (alm) juga menciptakan beberapa lagu, antara lain Bintang Kecil, Kelinciku, Malam Tiba, Mawar Tumbuh, Berlabuh, dan Lenggang Padi. Namanya mungkin kurang akrab di telinga kita. Popularitasnya tak seperti anak kandungnya, musisi kondang, A. Riyanto.

Pria yang akrab disapa Pak Dal itu adalah pencipta lagu anak-anak sebelum era AT Mahmud. Daljono lahir pada 21 Januari 1932. Dibesarkan dalam keluarga petani yang sederhana di Solo, Jawa Tengah, tidak menghalangi Pak Dal menjadi pencipta lagu yang handal. Bakat Pak Dal di bidang musik sudah terlihat sejak ia menjadi siswa Sekolah Rakyat (setingkat dengan Sekolah Dasar). Pada saat di Sekolah Rakyat, Pak Dal sering tampil di pertunjukan yang diadakan di sekolahnya.

Begitu juga pada masa SMP dan SMA, Pak Dal dikenal di kalangan teman-teman sebagai anak yang memiliki kelebihan dalam bidang musik. Pak Dal adalah salah satu penyanyi di kelompok paduan suara. Meski talentanya di bidang musik tak diragukan lagi, Pak Dal tak meneruskan pendidikannya di sekolah musik formal. Pria yang pernah memimpin orkes di RRI Solo ini malah berkuliah di Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, Jurusan Arsitektur.

Namun Pak Daljono tidak menamatkan kuliahnya. Ia hanya menempuh kuliah selama dua tahun. Pada akhirnya Pak Dal memilih berprofesi sebagai seorang guru di SGA (Sekolah Guru Agama, setingkat SMA) dan dosen teori musik pada SAM (Sekolah Akademi Musik) Yogyakarta.

Daeng Sutigna

Daeng Soetigna (13 Mei 1908-8 April 1984) adalah seorang guru yang lebih terkenal sebagai pencipta angklung diatonis. Karya dia inilah yang berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisionil Indonesia mampu memainkan musik-musik Internasional. Ia juga aktif dalam pementasan orkes angklung di berbagai wilayah di Indonesia.

RC Harjosoebroto

Cajetanus Hardjasoebrata – CHS – yang lahir pada 1 Maret 1905, di Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta, dikenal sebagai guru, ahli seni tembang dan seni karawitan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelum menuntaskan pendidikan di Sekolah Guru Katolik (Kweekschool) Muntilan, pada 1926, CHS telah menciptakan berbagai lagu dolanan serta lagu rohani, dan merintis masuknya seni karawitan ke dalam gereja.

Setelah menjadi guru di sekolah-sekolah milik Yayasan Kanisius di Surakarta dalam masa penjajahan Belanda dan Jepang, CHS mulai aktif menciptakan sandiwara gereja dan melanjutkan menggarap lagu dolanan baru untuk anak-anak.

Selepas Indonesia merdeka, pada 1947 CHS diangkat menjadi pegawai negeri pada bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Selama sekitar 14 tahun menjalankan tugasnya, dengan berbagai pengalaman dan bahan-bahan serta pengetahuan tentang seni karawitan, CHS banyak mengadakan analisa dan merumuskan beberapa teori tentang notasi Kepatihan, yang kemudian ditingkatkan menjadi kreteg diatonik, di samping menulis dalam brosur ilmu musik dan koreografi yang diterbitkan oleh Lembaga Musikologi dan Koreografi Ditjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru. Dari sana dia menunjukkan menyusun notasi keseragaman karawitan yang mantap, utuh, praktis dan mudah dipelajari.

CHS berpandangan, bahwa pada dasarnya seni adalah sesuatu yang memiliki nilai estetik tinggi, tidak tergantung pada patokan yang sudah ada, dengan demikian harus berkembang sesuai zamannya, apabila dilandasi dengan keterbukaan untuk menerima setiap bentuk perubahan dan inovasi.

Lagu Anak, Tumbal Kekinian

Dengan alasan keterbatasan jam tayang, sepi iklan, atau mungkin segmennya terbatas, lagu anak jadi tumbal kekinian. Anak-anak dipaksa untuk mengenal lagu dan lirik yang tidak pantas untuk seusiannya. Sedihnya, hal itu dipertontokan ketika anak-anak jadi komoditas kapital di televisi. Mereka harus menyanyikan lagu dewasa, meski dengan embel-embel: “disesuaikan”. Radio terlebih lagi, nyaris tak punya ruang khusus untuk lagu anak-anak. Alasannya klasik: tidak ada peminat [iklan maksudnya].

Saat ada kelompok musisi yang gerah dengan situasi seperti ini, mencoba menggagas acara atau kegiatan yang berhubungan dengan lagu anak: nyaris tak ada dukungan kuat. Misalnya: Ajang Cipta Lagu Anak [Acila] yang digagas Tika Bisono, atau dulu Merpati Airlines sempat bekerjasama dengan Papa T Bob mencoba mengagas kompilasi lagu anak, dan lagi-lagi tidak mendapat dukungan memadai dari industrinya sendiri.

Kini pergerakan itu muncul lagi lewat marwah Erwin Guttawa dan anaknya, Gita Guttawa yang menggagas DARR atau Di Atas Rata-Rata.  Mencari dan kemudian mengolah bakat-bakat hebat dari anak-anak di Indonesia. Jujur saja, seperti yang dikatakan Erwin, mereka awalnya juga harus berjuang sendirian, sampai akhirnya ada perusahaan yang tergerak untuk membantu. Secara masiv memang belum jadi tren, tapi apa yang dilakukannya harus mendapat acungan jempol dan dukungan.

Tentu tidak harus kaya tahun 1963, seperti yang kupas di atas. Tapi menjadikan apa yang dilakukan di tahun 1963 itu sebagai acuan untuk mencipta lagu anak yang sesuai dengan usia anak, saya harus sarankan. Mudahnya: bagaimana kalau lagu-lagu anak yang ada di buku tersebut, diolah lagi dengan aransemen kekinian? Tentu dengan seizin pencipta lagu atau keluarganya.  Itu dengan catatan: musisi sekarang MALAS bikin lagu anak, karena duitnya kecil mungkin. Kalau semua berpikir seperti itu, saya harus katakan: anak-anak sekarang seperti ‘cerdas tapi dalam pasungan’. Secara akademis dan kreatifitas mungkin hebat, tapi psikologi mereka terpasung, terpaksa jadi “dewasa” sebelum waktunya. Dan itu amat sangat menyedihkan!

anak-anak sekarang  cerdas tapi seperti dalam pasungan

 

Catatan Kritis Kompilasi MUSIKINI VOL.1: Akankah Saya Menciptakan ‘Monster?’

Jejak langkah Kompilasi MUSIKINI VOl.1 makin mentereng. Dalam arti, pergerakannya sudah mulai mendapat respon bagus dari banyak komunitas musik berbagai genre.

Sunday Sad Story -- Foto: Pepen

Sunday Sad Story — Foto: Pepen

KAMPANYE dan serbuan social media dari pelaku-pelakunya, langsung mengantar pemikiran, bahwa project ini menjadi standar baru penggarapan kompilasi, khususnya di Semarang. Sebagai salah satu yang manusia di belakang layar lahirnya kompilasi tersebut, saya malah “ketakutan” sebenarnya. Buat saya, pelan-pelan saya malah melahirkan “monster”. Serius?

Tampaknya seperti paradoks ketika saya mencermati atau mengritisi sesuatu yang saya ikut lahirkan. Padahal justru, ketika terlibat dalam seluk beluk pembuatannya, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang menjadi kegelisahan untuk tidak dilakukan. Bukan semata untuk mencari “catatan” tapi apa yang saya tulis ini menjadi satu refleksi tentang menjadi manusia yang sesungguhnya. Saya berproses ke arah itu, dan saya mencoba mengarahkannya pada musisi yang masuk dalam kompilasi ini.

Pertama,  lahirnya atau semacam titik awal dari munculnya ketakutan akan mainstream dan non-mainstream. Paradigma bahwa non-mainstream adalah keren, sudah mulai tampil dalam beberapa obrolan. Pemikiran ini menjadi picik, ketika musisi dalam kompilasi ini akhirnya menjadikan hal itu semacam dikotomi atau komparasi. Sebenarnya, setiap jaman memiliki “mainstream”-nya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Zeitgeist, atau semangat jaman dalam ranah filsafat. Di awal abad 21 ini, kita hidup di masa “uang”. Segala hal diukur dengan uang. Jika sesuatu, semurni dan setulus apapun itu, tidak memiliki nilai ekonomis, maka ia dianggap tidak berharga. Banyak orang ikut serta secara sukarela dan tanpa sadar di dalam “mainstream” ini. Mereka mengikuti pola hidup yang sama. Mereka memiliki selera yang sama. Mereka memiliki pola pikir yang sama.nfnw

Betul, saya menganalogikan mainstream dengan “uang” dan non-mainstream dengan kekayaan batin. Bicara soal dikotomi ini tidak akan pernah ada habisnya. Musisi selalu mengatatakan: mereka berkarya memang tujuannya untuk mencapai keterkenalan dan sangkutpautnya dengan ekonomi. Saat sudah lahir wacana dan dogma soal material ini secara dominan, “monster mamon” sudah saya lahirkan. Mamon dalam Aram –bahasa asli Yahudi—artinya uang, kekayaan atau “yang dipercayai” [dalam konteks materi]. Benih-benih lahirnya mamon ini kalau tidak diantisipasi dari sekarang, akan merusak tujuan berkarya. Kepercayaan dan “menuhankan” materi, disadari atau tidak, akan melungsurkan keindahan karya.

Kedua, gembar-gembor bahwa Kompilasi MUSIKINI VOL.1 menjadi standar baru [untuk tidak mengatakan revolusi musikal], dalam penggarapan kompilasi di Semarang, melahirkan kebanggaan yang berkepanjangan.  Benar, secara kualitas musikal materi dan penggarapannya memang tidak dikerjakan dengan sembarangan, serius dan punya komitmen tinggi. Tapi hati-hati, karena saya sudah melihat “sudut pandang” meremehkan ketika kemudian bicara soal kompilasi lain. Mengapa ini harus saya ingatkan? Saya tidak ingin melahirkan kesombongan di atas kesombongan lagi. Rasa puas, bangga dan merasa “lebih”, cukuplah sehari saja. Setelah itu, kembali menjadi musisi yang seolah baru belajar berkarya, belajar bermusik, belajar untuk memahami musisi lain, belajar rendah hati. Ini “monster” kedua yang saya takuti.

Ketiga, kemanjaan “akut”. Ternyata menginisiasi satu gerakan musikal yang serius, perjuangan dan hambatannya juga serius. Memberi masukan dan ide, tak linier dengan kretifitas yang diharapkan muncul. Asih banyak ketergantungan pada penggagas.  Saya pribadi “resah” dengan kreatifitas dan lahirnya ide-ide segar yang tergolong minim. Yang jelas, sebenarnya saya ingin ada pengembangan kemampuan berpikir kritis. Silakan saja bertanya kepada diri sendiri: apakah ini jalan hidup yang kita pilih? Kita mengira, reputasi kita adalah segalanya. Kita mengira, karier kita adalah segalanya. Padahal, jika dicari lebih dalam, kita tidak akan menemukan sesuatu yang utuh dan abadi di dalam diri, reputasi ataupun karier kita.Mengapa ini saya munculkan? Karena ketika kita “takut” dan “gelisah” tapi tak berpikir kritis, artinya kita bodoh dan tumpul. Kalau orang Jawa bilang hanya nyadong. Bisa nyadong materi, ide, gagasan, atau malah kehidupan.

Adam Suraja - Kompilasi Musikini Vol. 1 -- foto: Pepen Bluez

Adam Suraja – Kompilasi Musikini Vol. 1 — foto: Pepen Bluez

Keempat, eksklusifitas. Penyakit selanjutnya adalah merasa diri paling hebat. Melihat visi dan misinya, kompilasi ini dibuat untuk memberi “ledakan” di level nasional, tidak hanya berkutat di level lokalan saja. Pertanyaannya adalah: di kompetisi lokal saja, apakah sudah ada yang mengenal dan tahu keberadaan nama-nama yang  masuk list? Kalau belum ada yang tahu juga, artinya keberadaan kalian masih terlalu “ekslusif”. Salahkah? Dalam konteks menjalin relasi dan membuka wawasan selebar-lebarnya dengan bayak komunitas, perilaku ini jelas salah! “Monster” jenis ini, lebih baik tinggal di hutan, bergaul dengan beruang atau gajah. Mengenal dan dikenal, menjadi pekerjaan penting untuk semua musisi yang terlibat di kompilasi ini.”

“Saling mengingatkan, memberi arahan ketika kita sudah menjadi anggak, kementhus, atau yak-yako, bukan karena kita merasa lebih hebat, tapi justru karena kita sama-sama merasa tak berilmu”

Setiap manusia memang punya alter ego, termasuk musisi [dan saya]. Saling mengingatkan, memberi arahan ketika kita sudah menjadi anggak, kementhus, atau yak-yako, bukan karena kita merasa lebih hebat, tapi justru karena kita sama-sama merasa tak berilmu, jadi harus belajar kepada banyak orang dan dunia yang terbentang lebar. Karena: siapapun adalah guru, dan dimana pun adalah sekolah.

Mas Mbak Musisi, Sampeyan itu Berkarya Untuk Melayani Bukan Dilayani

Pernah mendengar ungkapan: “berkarya untuk melayani, bukan dilayani?”  Kalau belum, baiklah saya jelaskan.  Manusia, apapun profesi kita, sejatinya adalah pelayan. Menjadi pelayan atas orang lain. Pejabat [seharusnya] adalah pelayan rakyat, rohaniwan adalah pelayan umat atau jemaatnya. Artinya, kita harus pandai menempatkan diri untuk bisa dicintai bukan karena posisi, tapi karena apa yang kita lakukan memang bisa membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan musisi?

malu1

Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

APA BEDANYA? Musisi, apapun genrenya, sejatinya menciptakan lagu untuk melayani pendengarnya, pecintanya, penikmatnya. Pendengar yang sedang galau, pecinta yang sedang marah, penikmat yang sedang jatuh cinta. Lewat lirik laru yang dinyanyikannya, mereka –para musisi itu—seolah menjadi wakil untuk menyuarakan semua yang dirasa. Lirik yang –konon—diciptakan karena pengalaman penciptanya, selalu mengacu kepada pengalaman emosional yang kira-kira juga dialami oleh pendengarnya. Siapapun itu dan berapapun usianya.

Musisi itu pelayan. Jangan meringis dengan apa yang saya katakan, karena banyak musisi yang mulai ngetop, langung ndangak, merasa menjadi “majikan” dan minta dilayani. Untuk urusan persiapan dan uborampe manggung, memang perlu dibantu, tapi jangan “nyolot” kalau semua harus dilakukan sendiri. Musisi memang harus mempersiapkan diri untuk tidak dilayani selalu, tapi juga bisa melayani, minimal buat dirinya sendiri.

Ungkapan ‘berkarya untuk melayani, bukan dilayani’ buat saya punya pesan yang amat kuat. Bukan sekadar berkarya, menciptakan materi lagu atau komposisi, tapi juga meletakkan pesan untuk disampaikan dengan jelas. Coba bayangkan ketika Seringai, band high octane rock asal Jakarta menulis lagu “Dilarang di Bandung”.  Lagu itu bukan untuk menjadikan Seringai dilayani sebagai rockstar di Bandung, tapi menggugat sebuah larangan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Untuk Seringai doang? Jelas tidak. Pesan itu untuk aparat mewakili semua musisi yang terkena imbas larangan-larangan mereka. Seringai melayani musisi [lain] supaya mendapat penjelasan dan perlindungan yang tepat.

Atau band indi asal Jogjakarta, The Produk Gagal yang menulis lirik lagu ‘Polisi, Aku dan Motorku’, Meski terkesan bodor, tapi lirik lagunya jelas berkata: kalau mau naik motor ya ikuti aturannya [pakai helm, surat-surat lengkap, dan SIM aktif]. Mungkin memang pengalaman penulis lagunya, tapi pesan itu menyasar khalayak pendengnarnya untuk tertib dan patuh aturan. Mereka melayani kepentingan yang lebih besar, ketimbang menonjolkan cerita tentang dirinya sendiri.

goin1

Tugas Musisi Itu Melayani, Bukan Dilayani

Dalam teori komunikasi, lagu adalah isi pernyataan yang disampaikan oleh komunikatornya, dan pendengar atau fans adalah komunikannya. Kalau isi pernyataannya gagal diterima pendengarnya, komunikator itu perlu merefleksi diri, apakah isi pernyataannya terlalu mengada-ada, terlalu sederhana atau terlalu mewah untuk komunikannya?  Musisi itu harus bisa mapping penggemarnya ternyata berada di area apa. Bukan untuk mengotakkan, tapi belajar mengerti pesan yang bagaimana yang bisa disampaikan supaya diterima dan dimengerti dengan baik dan benar.

Yang paling mudah direfleksikan dalam lagu-lagu yang jutaan itu adalah pesan cinta. Banyak musisi yang mengklaim dirinya adalah ‘messenger of love’ dengan banyak model lirik. Tapi nyaris semuanya bermuara pada satu titik: kampret! Artinya, menggeber lirik cinta sampai pendengarnya merasa itu adalah apa yang dialaminya. Membosankan sebenarnya, tapi bagaiamana pun saya harus mengakui: lirik cinta dalam semua modifikasinya, selalu ampuh –benar, selalu ampuh—untuk membuat orang tertarik menggelitik dan kemudian melirik.

Tapi itulah hakikat manusia, melayani manusia lain yang mungkin sungkan, tak sanggup berkata-kata, atau memang kebingungan harus berkata apa. Banyak lirik lagu cinta yang dipakai untuk nembak cewek, untuk melamar pasangannya, pengakuan ataas perselingkuhan, atau bahkan menjadi simbol putusnya hubungan. Beruntunglah mereka [baca: musisi] yang punya talenta berkata-kata untuk mengungkapkan pesan. Mereka juga membantu orang lain yang ingin menyampaikan sesuuatu kepada manusia, komunitas, atau lingkungan apapun.

Pertanyannya: seberapa banyak musisi yang punya kesadaran diri melayani itu?  Maaf, saya harus bilang tidak banyak. Kesadaran bahwa mereka – para musisi itu– diberi talenta untuk melayani lewat kemampuannya bermusik dan mencipta lagu, masih rendah.  Mayoritas masih berpikir bahwa bermusik adalah kemampuan yang industrialis, berorientasi [selalu] pada capital bukan kepada kemauang untuk mengubah mindset banyak orang. Betul bahwa mencari keuntungan financial lewat karya yang disukai, adalah penting, tapi jauh lebih penting pemahaman bahwa mereka sudah menjadi “messenger” lewat karya yang bisa memengaruhi orang banyak itu jauh lebih penting.

Berkarya itu seharusnya sudah seperti bernapas, selalu harus ada.  Kalau selalu berpikir karya identik dengan uang dan keterkenalan: Anda sudah jadi kapitalis.”

Ketika level kesadaran itu sudah muncul, berkarya tidak lagu karena urusan industri dan laku atau tidak, indie atau major, Berkarya itu sudah seperti “wahyu” yang diturunkan kepada musisi, untuk dibagikan dengan niat baik dan positif. Bukan menjadi musisi yang anggak, baru terkenal dikit langsung jadi ratu dan raja yang serba diladeni. Berkarya itu seharusnya sudah seperti bernapas, selalu harus ada.  Kalau selalu berpikir karya identik dengan uang dan keterkenalan: Anda sudah jadi kapitalis. Salah? Tidak, tapi maaf, karya Anda sudah kodian tanpa hati.

Musisi itu berkarya untuk melayani, bukan dilayani.

Toko-Toko Musik Bertumbangan? So What Gitu Looh……

Ketika mendengar atau membaca berita, tentang banyaknya toko penjualan CD yang tutup, kita langsung reaksioner. Seolah-olah dunia musik runtuh, kehilangan ruang ekspresi dan jadi sinyal ambruknya industri musik itu sendiri. Tapi ingat: seolah-olah. Padahal menurut saya, itu hanya satu bentuk kegagalan toko musik itu, mengantisipasi perubahan industrinya.

disctarra

Salah satu gerai atau outlet DiscTarra di Jakarta — Foto: Istimewa

BEBERAPA waktu lalu, disctarra salah satu lini usaha yang terkenal sebagai salah satu jaringan besar distribusi keping cakram musik atau film, menyatakan diri akan menutup beberapa gerainya di seluruh Indonesia. Kabar ini sempat saya dengar beberapa bulan sebelumnya, sebelum akhirnya benar-benar terjadi dengan pemberitahuan resmi perusahaan tersebut. Jauh sebelumnya, beberapa gerai yang bisa disebut legendaries, sudah menamatkan kisahnya dengan menutup tokonya, seperti Aquarius Mahakam dan Bandung. Di Semarang Toko Bulettin, sudah ‘tewas’ jauh-jauh hari. Padahal semua yang saya sebut itu, termasuk kelas kakap untuk urusan distribusi dan gerai.

Lalu kita, saya dan Anda yang mungkin bisa disebut pecinta musik, kalang kabut karena merasa lokasi-lokasi berburu CD yang oke, sudah ngeblangsak. Lalu semua bersuara di sosmed, petisi, atau sekadar mencurahkan isi hati lewat blog –seperti saya ini—seolah-olah industri musik benar-benar seperti yang dikuatirkan, berada di ujung maut kehidupannya. Bener nih?

Tidak. Industri musik tidak pernah berada di ujung tanduk kok. Benar, saya pernah mengatakan itu dalam beberapa tulisan saya di blog ini sebelumnya, tapi saya tidak pernah mengatakan industri bakal mati hanya karena beberapa distribusi mati atau tutup. Benar, bahwa secara fisik, CD jelas bukan opsi bagus untuk mencari keuntungan lagi, tapi strategi lain tetaplah harus diberdayakan. Dan itulah yang lupa dilakukan para pemilik gerai besar itu. Dulu, artis mana yang tidak bangga kalau CD-nya masuk di deretan CD terlaris dan dipajang di display khusus. Sayangnya era kebanggaan itu sudah luntur, untuk tidak mengatakan punah.

Kadang-kadang kita terhanyut ikut euphoria komentar, seolah tutup berarti mati. Jujur saja, seberapa banyak sih  dari kita yang benar-benar berburu CD di toko-toko tersebut? Berapa banyak dari kita yang langsung menyanggong disctarra, musik+, atau Aquarius ketika ada album rilisan baru keluar? Bukankah kita akhirnya juga menempatkan mereka –toko CD itu—sebagai bagian masa lalu, artefak tersisa yang kita juga tahu bakal tutup akhirnya. Buat penggemar, apakah menganggu ketika mereka tutup? Maaf, saya harus jawab: Tidak!

Anak muda sekarang, tidak peduli atau toko CD atau tidak. Kalau mau nyari lagu band atau solois yang sedang ngehits, mereka akan file sharing dengan kawan-kawannya, yang mengunduh –entah legal atau illegal—dari beberapa situs. Kalau mau resmi, silakan mengunduh di itunes atau beberapa situs pengunduhan yang mengenakan biaya unduh. Cepat, mudah dan murah. Mau dapat fisik CD-nya? Mudah saja, cari situs jual beli online, klik, beres. Tunggu saja beberapa hari dan semua akan sampai di tangan Anda tanpa harus capek-capek keluar kamar. Jadi, nggak ngaruh mau tutup atau tidak.

Paling-paling yang kehilangan adalah generasi lawas yang sudah terlalu fanatik berburu CD dengan harus mendatangi tokonya. Penggemar konvensional seperti ini –saya sepertinya termasuk salah satunya—biasa bisa berjam-jam nguplek di toko CD, mencoba lagu yang disuka, sebelum benar-benar membeli. Malah, biasanya yang tidak direncanakan ikut terbeli. Menariknya, kadang-kadang ada CD import yang menarik, meski harganya mahal. Untuk kolektor ‘gila’ harga tentu tidak jadi masalah. Tapi sekarang pun, semua koleksi langka itu bisa dicari di internet, dan kita tidak perlu repot keluar kamar. Kecuali bertukar sesama kolektor sembari nyeruput kopi.

Jadi tutupnya toko-toko dan gerai musik, jelas tidak bisa langsung diindikasikan sebagai “suramnya” industri musik itu sendiri. Bahwa adalah perubahan paradigma betul, bahwa ada pergeseran strategi betul, bahwa ada perubahan sudut pandang tentang industri betul, tapi belum sampai pada titik kematian industri musik itu sendiri. Gerai-gerai lain yang basic-nya tidak sebagai distributor musik, kini malah lebh kreatif melihat peluang itu. Meski tidak selalu disebut berhasil, tapi strategi-strategi yang “tidak biasa” bisa jadi alternatif.

Namanya juga industri kreatif. Tapi kalau tak ada gagasan kreatif, itu namanya industri tahu pong, enak dimakan diluarnya, di dalamnya angin doang alias kosong. Tidak begitu bukan?

Dunia yang makin men-digital, terhubung hanya dengan kabel-kabel pendek. Urusan musik pun, kini makin mudah diburu dengan banyak cara, baik yang legal atau [lebih-lebih] yang illegal. Pelaku industri musik, juga harus mau membuka diri dengan banyak cara untuk menemukan strategi baru yang masuk akal dan menguntungkan banyak pihak. Pengalaman masa lalu yang kerap merugikan musisi, harus diubah sudut pandangnya menjadi penghantar kesejahteraan untuk musisi. Tentu sudah ada aturan dan pembagian yang jelas dan saling menguntungkan soal itu.

Kalau kemudian masih sok-sokan berteriak “ketakutan’ melihat distribusi musi bertumbangan [dan masih akan banyak lagi yang mungkin bertumbangan], lebih baik melakukan langkah strategis supaya industri musik tapi jadi industri kreatif yang kreatif. Tapi kalau tak ada gagasan kreatif, itu namanya industri tahu pong, enak dimakan diluarnya, di dalamnya angin doang alias kosong. Tidak begitu bukan?

[Diary 8 MUSIKINI] RENTDO : Persahabatan Seperti ‘Kutil’ – Nempel, Tapi Nggak Nyakitin

RENTDO - Kompilasi Musikini Vol. 1 -- [Foto: Pepen bluez]

RENTDO – Kompilasi Musikini Vol. 1 — [Foto: Pepen Bluez]

Ada yang mengatakan,  persahabatan itu bagai kepompong. Ada juga yang bilang persahabatan itu seperti permen karet, tapi tidak sedikit yang bicara: persahabatan itu laiknya layang-layang, ada tarik ulur dan sesekali ampatan [ngadu –red] dengan layangan lain. Sebenarnya sederhana saja: persahabatan itu kutil, nempel terus. Terserah saja. Tapi RENTDO punya versi lain. Apalagi?

DI SEBUAH ruangan yang mirip kapal pecah, ada RENTDO yang sedang mengutak-atik lagu dan lirik dengan gitarnya. Di sisi lain, beberapa orang kawannya jumpalitan main bass sambil tiduran. Ketika akhirnya lirik dan komposisi lagunya tertemukan, RENTDO seperti Archimedes yang berteriak ‘eureka!’ atau akhirnya ditemukan. Lagu selesai, tapi kisah persahabatan itu baru dimulai.

Tema yang universal dan biasa? Mugkin saja, tapi bicara persahabatan itu selalu menyenangkan. Ketika mobil mogok, rame-rame mendorong sambil ngoceh nggak jelas dan tertawa. Ketika sama-sama punya mimpi besar jadi musisi, hanya di studio atau kamar yang ada alat musiknya, lagaknya udah seperti rockstar papan atas. Seru!

Saya ingin menggambarkan, suasana persahabatan yang heboh, seru, tapi bias melakukan hal positif tidak hanya kumpul dan hura-hura nggak jelas,” jelas RENTDO, cowok yang namanya agak unik itu tentang konsep klip lagunya ‘Dari Sahabat Untuk Sahabat’ yang termaktub sebagai salah satu lagu dalam Kompilasi MUSIKINI VOL.1 Disutradarai oleh Dedi Ginajar Reksawardana dari Jakarta, RENTDO menuangkan idenya di salah satu rumah di Graha Estetika Semarang, berpindah ke jalan di depan Fakultas Ekonomi UNDIP Tembalang Semarang, sebelum persahabatan itu sedikit ugal-ugalan di gudang motor daerah Srikaton.

….sebenarnya sederhana saja: persahabatan itu sepeprti kutil, nempel terus, tapi [harusnya] nggak nyakitin….

Menggambarkan  persahabatan dalam visual itu sebenarnya biasa, tapi memberi efek haru, emosional dan terlihat tulus, itu yang sulit. RENTDO punya ide yang menarik untuk penggambaran lirik lagunya itu,’ jelas Dedi di sela break syuting. Sekadar informasi, RENTDO adalah musisi terakhir yang mengarap klip untuk album kompilasi ini.  “Seru bisa kerjasama dengan Kang Dedi. Serius sih, tapi sebenarnya orangnya asik dan kelihatan professional,” repet RENTDO lagi.

TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama KOMPILASI MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

[Diary 7 MUSIKINI] THE JAKA PLUS : Menikmati Rasa, Saat Bercinta Dengan Bayangan

The Jaka Plus -- Foto: Pepen Bluez

                                           The Jaka Plus — Foto: Pepen Bluez

Silakan berkhayal, silakan ngelamun, silakan berfantasi. Buat yang cowok, tidak dilarang untuk menari, bercinta atau sekadar awang-awang dengan perempuan cantik secantik-cantiknya. Buat cewek, tidak dilarang juga gandengan, ciuman, atau sekadar berpegangan tangan nggak penting, dengan laki-laki setampan-tampan. Wong namanya juga khayalan toh…

INI SEMUA gara-gara perempuan bernama ‘Yovie’. Karena cantik, dia menjadi public admirer, dengan berbagai macam versi. Mungkin saja termasuk fantasi nakal lajang-lajang jalang yang banyak berlalu-lalang. Tapi perempuan ini juga punya secret admirer yang sering mengirimkan banyak hadiah dan memberinya kegembiraan. Tapi mengapa semua tiba-tiba menghilang, tapi ‘Yovie’ tadi masih bias tersenyum?

Silakan buru ‘Yovie’ tadi. Karena The Jaka Plus –band yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL. 1—memberikan alternatif pengharapan pada sosok perempuan bernama “Yovie’ yang sekaligus jadi judul lagu mereka.

Dia adalah seorang perempuan yang dicintai seseorang yang tidak dikenal. Perempuan itu saja sampai kebingungan, tapi penggemarnya ini tidak pernah melakukan hal yang jahat hanya mengirim hadiah saja,” terang Dauz, vokalis paling ‘langsing’ di grup band asal Semarang ini kalem. Pernyataan yang diaminkan oleh Elle [gitar], Eddy [gitar], Derry [bass], dan Ajie [drum].

Konsep klip yang disutradarai oleh Dedi Ginanjar Reksawardana sebenarnya jelas: bercinta dengan bayangan. Tapi bahkan merasakan cinta, dicintai, sayang dan disayang oleh bayangan yang kita ciptakan, memberikan perasaan yang luarbiasa.

Mungkin seperti  penderita Alzheimer, punya teman fantasi yang seolah-olah ada yang selalu ada di dekat kita. Bedanya, dalam klip ini Yovie perempuan sehat, tidak mendengar sakit apa-apa. Satu-satunya kesalahannya adalah menciptakaan sosok penggemar rahasianya dalam wujudl tiga dimensi yang nyata,” imbuh Dauz lagi.

Tapi bahkan merasakan cinta, dicintai, sayang dan disayang oleh bayangan yang kita ciptakan, memberikan perasaan yang luarbiasa.

Mengambil lokasi di satu rumah daerah Puspogiwang, Semarang, band ini mengambil aksen dan aura 90an yang cukup kental lewat musiknya. Yang sedikit menarik, untuk model cewek dalam klip ini, The Jaka Plus mengadakan audisi lewat social media. Alhasil, perempuan bernama Lilio beruntung menjadi  tandem Dauz . Eh, beruntung atau…?

TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah. 

[Diary 6 MUSIKINI] ADAM SURAJA : Kompor Meleduk Pada Pandangan Pertama

Adam Suraja - Kompilasi Musikini Vol. 1 -- foto: Pepen Bluez
 Adam Suraja – Kompilasi Musikini Vol. 1 — foto: Pepen Bluez

Konon, Tuhan memberikan percikan rasa jatuh cinta itu lewat cara yang tidak pernah kita duga. Karena kata seorang penulis: ketika kita jatuh cinta, kita tidak bisa menolak untuk tidak jatuh cinta. Konsep yang dialami dan dirasakan oleh jutaan makhluk bernama manusia, kini coba diterjemahkan dalam bahasa gambar versi ADAM SURAJA lewat lagu ‘Kusuka’

MENILIK perjalanan kariernya, Adam Suraja sebenarnya bukan anak kemaren sore di kancah musik, khususnya di Semarang. Lagu pop yang dibuatnya lumayan banyak, malah pernah duduk diperingkat terhormat chart indie di salah satu radio. Sempat hiatus, Adam yang lolos dan menjadi salah satu musisi yang masuk di KOMPILASI MUSIKINI VOL.1, mulai menemukan percikan semangat lagi untuk berkarya.

Kompilasi MUSIKINI VOL. 1 ini seperti kompor meleduk buat saya. Panas lagi dan membuat karya lagi, dengan mimpi di industri yang nyaris padam, kini tersulut lagi. Semoga semua bisa dapat hasil yang menggembirakan,” celetuk cowok yang sempat usaha warung soto ini kalem.

Konsep klip yang digarap klip maker Dedi Ginanjar Reksawardana, sebenarnya tidak terlalu ribet. Melibatkan komunitas bikers di Semarang, Adam bercerita: idenya adalah cinta pada pandangan pertama. “Ada cowok yang ditolong seorang cewek ketika motornya mogok. Suatu ketika tanpa sengaja mereka ketemua lagu ketika si cowok itu manggung di kafe, dan akhirnya mereka meyakini kalau punya perasaan yang sama,” terang Adam, sembari menyebut kota lama dan salah satu kafe di Banyumanik, sebagai lokasi syuting.

Soal melibatkan komunitas bikers ini, menurut Adam buat untuk gaya, tapi disesuaikan dengan kebutuhan klipnya. “Saya memakai model bernama Sammi, selain saya sendiri,’ repet cowok yang bisa memainkan banyak alat musik ini.

ketika kita jatuh cinta, kita tidak bisa menolak untuk tidak jatuh cinta

Seperti sudah ditulis di atas, cinta dan jatuh cinta memang tema yang paling mudah diterima. Tapi membuat klip dengan emosi cinta yang terasa oleh yang menonton, jadi perkara sulit lainnya. “Kualitas akting dan penghayatan juga penting, selain konsep yang kuat,” celetuk Kang Dedi, sang sutradara.

Ah, cinta memang seru-seru mumet ya…..

TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

[Diary 5 MUSIKINI] – BELLO: Berani Jatuh Cinta, Kudu Berani Sakit Ampun-Ampunan!

Pernah dengar gombalan: mencintai itu tak harus memiliki? Kalau kamu termasuk pendukung pepatah itu, persiapkan hati, kegalisahan, kegalauan dan [mungkin] air mata. Melihat orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain, percaya deh sakitnya ampun-ampunan. Entah kalau BELLO ya. Konsep klipnya juga menyasar kegundahan cinta yang [akhirnya] jadi milik orang lain.

BELLO - MUSIKINI VOL.1 2015 -- Foto: Istimewa

                         BELLO – MUSIKINI VOL.1 2015 — Foto: Istimewa

SEBENARNYA tahu apa BELLO tentang cinta, galau dan keinginan memilik orang yang kita sayangi? Personelnya masih belia, mungkin baru pacaran sekali dua kali. Ketika kemudian menafikan cinta sebagai bagian dari memiliki, mungkin mereka hanya menebak-nebak saja? Ah, sudahlah. Bukankah cinta milik semua insan dari semua usia?

Semua pertanyaan dan kerisauan itu muncul dalam video klip lagu ‘Takkan Kumiliki’ yang menjadi klip ke-5 yang dibuat dari Kompilasi MUSIKINI VOL.1. BELLO adalah salah satu band potensial yang terpilih masuk dalam kompilasi yang digarap dengan tingkat perjuangan tinggi. Mengambil lokasi di perbukitan wilayah Tembalang, syuting menggambarkan suasan pre-wedding. 

Kami tidak pernah menyangka bisa terpilih masuk kompilasi ini. Karena band-band yang lain juga keren-keren.Apalagi juga kemudian ternyata bukan kompilasi biasa, setelah ada rekaman ulang dengan music director yang profesional. Jujur, kami belum pernah rekaman dengan arahan industrial seperti ini,” repet vokalis BELLO.

Terlepas dari keterkejutan BELLO atas ritme kerja klip maker, band ini punya konsep yang cukup berani meski tidak bisa disebut baru. “Simpel, mungkin pernah dialami oleh banyak orang juga. Jatuh cinta dengan seseorang yang sudah jadi milik orang lain. Pasangan ini sadar, ternyata saling mencintai, sayangnya satunya sudah harus masuk ke hubungan serius alias menikah. Nah, ternyata orang yang jatuh cinta itu adalah fotografer prewed-nya. Kebayang sakitnya bukan?” terang BELLO lagi, seolah pernah merasakan area kesakitan itu.

Kalau kemudian setelah melihat klip BELLO kamu punya pandangan yang berubah tentang konsep mencintai harus memilik, rasanya tidak ada yang berdosa. Kecuali kamu sudah siap dengan rasa “anyep” yang bakal mendera, ya silakan saja.

Tidak terlalu sulit menerjemahkan konsep yang dibuat oleh BELLO. Apalagi liriknya jelas dan personelnya juga sudah punya gambaran seperti apa,” jelas Dedi Ginanjar Reksawardana, sutradara klip yang “dihajar marathon” untuk syuting band yang terlibat di Kompilasi MUSIKINI VOL.1.

Kalau orang luar Semarang sudah cinta seperti itu, masak orang Semarang sendiri memilih tak memiliki?

TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

 

[Diary 4 MUSIKINI] NEW FACE NEW WAVE: Setiap Manusia Adalah Bulan, Punya Sisi Gelap Yang Diumpetin

nfnw

                           Face New Wave – Kompilasi MUSIKINI VOL.1 — Foto: istimewa

Kalau kata penulis terkenal Mark Twain: setiap manusia pasti punya sisi gelap. Kalau kata saya: setiap manusia punya alter-ego. Pertanyaannya: maukah kita, kamu, dan kita, berdamai dengan sisi gelap itu? Atau kemudian malah menjadi budak kegelapan itu? Jangan-jangan benar yang dikatakan Twain: “Everyone is a moon and has a dark side he never shown to anybody” [Setiap orang adalah seperti bulan, mempunyai sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain].

SEBUAH pengakuan yang tidak mudah bukan? Berkata bahwa kita punya masa lalu yang gelap saja, seperti terasa seperti tertimpa beban jutaan kilogram. Ada ketakutan, malu, resah dan berusaha lari dari kenyataan yang kita rasakan setiap detik. Konsep dari lagu berjudul ‘Noda Hitam’ yang tidak ringan itu diangkat jadi konsep video klip dari band bernama New Face New Wave [NFNW] dari Semarang. Oh ya, sekadar informasi saja: band ini adalah salah satu band yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL. 1 dengan pilihan genre electronic pop punk

Dibesut oleh Fitri [vocal], Pandu [gitar], Ekka [bass], Ari [kibor], dan Panji [drum], band ini memilih lokasi syuting di Universitas Negeri Semarang [Unnes], tempat semua personelnya kuliah. Parkiran Lantai 4, jadi lokasi yang mereka pajang dalam klip itu. Pilihan yang unik kalau bicara konsep yang tidak ringan itu. Oh ya, New Face New Wave adalah band ke-empat yang menjalani syuting dari rencana 8 band berurutan dari Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini.

Inti ceritanya sih bagaimana seseorang bisa lepas dari noda hitam hidupnya. Noda hitam itu macam-macam, bisa saja merokok dianggap noda hitam, pernah jadi pemabuk, dikucilkan sahabat atau urusan kampus yang menghalangi kehidupan kita. Lagu ini kaya ajakan untuk tidak takut begerak maju atau move on,” jelas Fitri, vokalis yang juga seorang penari ini semangat.

Semua memakai kostum hitam dan putih sebagai gambaran dari jalan cerita yang digarap oleh Dedi Ginanjar Reksawardana sebagai sutradara. Mungkin yang perlu ditegaskan adalah pilihan musikalnya. NFNW harus lebih berani memutuskan konsentrasi di genre apa.

“Kami sebenarnya hanya ingin bermusik, tapi ketika masuk kompilasi ini mau tidak mau kami juga harus bertanggungjawab atas karya kami untuk lebih serius. Apalagi tim yang mendukung juga memberikan banyak pelajaran ketika masuk industry yang sebenarnya,” imbuh Putri lagi.

[Diary 3 MUSIKINI] D’JAWIR : Kejar ‘Awul-Awul’ Demi Cinta Matinya

Mencari pasangan hidup itu seperti tebak-tebak buah mangggis istilahnya. Bisa cepat seperti kilat, tapi tidak jarang kayak cari jarum pentul di tumpukan jerami, susahnya nggak ketulungan. Nah, urusan panah asmara yang sudah nancep ini, dirasakan oleh band dangdut D’Jawir. Belibet, ke dukun dijabani, nguber ke RT dari calon kekasih hati, dilakukan. Eh, berhasil nggak ceweknya didapat?

D'JAWIR Syuting Video Klip di Purwodadi -- Foto: Pepen Bluez

                           D’JAWIR Syuting Video Klip di Purwodadi — Foto: Pepen Bluez

PERNAH punya kisah asmara sedangdut itu? Kalau pernah, silakan terkekeh mengenangnya, tapi kalau belum konsep video klip D’Jawir yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini bisa jadi semacam panduan singkat mengejar pujaan hati. Terkesan sederhana, tapi siapa tahu justru itu lebih ciamik?

Lagu yang disumbangkan ke kompilasi ini berjudul ‘Janda Dua Kali’. Konsepnya bukan penyanyi dangdut tunggal, tapi band dangdut. Satu konsep yang tidak baru, tapi jarang dipilih di industri. Dan D’Jawir memilih alternatif itu. Menariknya, attitude  dan pilihan fashionnya menjadi segaris dengan pilihan konsep. Baju warna-warni, mungkin kembang-kembang yang meriah, dengan celana cutbray yang melebar di ujung kaki, jadi stigma mereka.

Menariknya, attitude  dan pilihan fashionnya menjadi segaris dengan pilihan konsep.

Ali Azali [vocal], Arga [gitar], dan Attus [bass] memang tampil sederhana. Kesan itu makin mendarahdaging ketika pilihan lokasi syutingnya di daerah Mrisi, Gubug, Pruwodadi. Sekitar 2-3 jam perjalanan darat dari Semarang. Suasana pedesaan sangat terasa, untuk memberi kesan pencarian kekasih hati dan cara mendapatkannya. Dari takut ditolak, dukun pelet bertindak, sampai ketua RT tempat janda itu tinggal pun diajak.

Kami menerjemahkan lirik lagu secara harafiah sih Mas. Apa yang kami tuangkan dalam konsep klip, tidak jauh beda dengan liriknya. Terus terang agak canggung, karena ini pertama kalinya D’Jawir bekerja sama dengan sutradara yang benar-benar professional dan disiplin,” celetuk Azali yang juga menyebut Dedi Ginanjar Reksawardana, terkesan dengan “kehangatan’ ndesonya. Mungkin karena biasa di kota Mas, ha..ha..ha,” imbuhnya terkekeh.

Ada cerita menarik sebelum syuting.  Untuk mendapatkan imej yang cocok dengan lagunya dalam klip, D’Jawir berburu kostum ke awul-awul. Di Semarang, awul-awul artinya baju bekas murah meriah bal-balan yang digelar begitu saja. “Kami harus ngubek-ubek awul-awul biar ketemu yang pas. Alhamdulilah ketemu yang cocok dengan harga amat sangat miring,”  cerita Azali lagi.

Tentang Kompilasi MUSIKINI VOL. 1:

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

[Diary 2 MUSIKINI] – DISTORSI AKUSTIK: Perangkap Tubuhmu Bukan Kesalahan Tuhan

Jangan terjebak dengan judul tulisan ini, Benar, tidak ada yang “menyalahkan” Tuhan kok. Tapi kemudian memertanyakan –atau anggap saja mengritisi—bukan sebuah kesalahan dong? DISTORSI AKUSTIK memakai konsep ‘terperangkap tubuh’ dalam klip lagu ‘ A Man called Eve’ yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL. 1

DISTORSI AKUSTIK & Talent, Syuting KLIP - Foto: Pepen Bluez

                            DISTORSI AKUSTIK & Talent, Syuting KLIP – Foto: Pepen Bluez

PERLU satu waktu hening untuk mencerna maksud dari lirik dalam lagu ‘ A Man Called Eve’ yang berbahasa Inggris itu. Pertama,  di moralitas Jawa, isu transjender bukan isu yang seksi cenderung bakal dihakimi sebagai ‘pelarian atas pemberian’ [Tuhan tentu saja]. Kedua, menerima perangkap tubuh –kalau tidak mau disebut ‘kesalahan’ butuh kesadaran diri yang luarbiasa. Untuk dirinya sendiri, keluarga, apalagi lingkungan luas.

Dan band pengusung indie pop ini memberikan fragmentasi yang unik dalam konsep video klipnya yang [masih] disutradarai oleh Dedi Ginanjar Reksawardana dari Jakarta. Ada sepasang wanita yang tampak sedang menjalin hubungan. Silakan Anda terjemahkan sendiri, karena satu wanita punya tubuh dan jiwa wanita, tapi satunya lagi merasa sangat lak-laki dan maskulin, tapi terjebak dalam tubuh wanita.

Bagi Regeel [drum], Hersan [gitar], Bahar [gitar], Adi [bass] dan Viko [vocal], persoalan itu banyak terjadi dalam masyarakat, tapi jarang yang [berani] menyuarakan. “Apakah Distorsi Akustik menjadi salah satu band yang berani? Kami menyebutnya band yang peduli dengan yang tidak dipedulikan,” kata Viko tentang lagunya yang seding dituding berlirik ‘nyeleneh’ itu.

Kami menyebut Distorsi Akustik, band yang peduli dengan yang tidak dipedulikan

Digarap di beberapa lokasi, syutng awal dimulai sekitar pukul 11.00 WIB di rumah Kidang Blues, pianis dan salah satu dedengkot Semarang Blues Community. Ada kesan sensualitas, seksi dan personifikasi tubuh yang terperangkap tadi. Semua personel Distorsi Akustik “hanya” jadi cameo, karena bintangnya adalah 2 model perempuan, dan 1 anak kecil yang beperan sebagai anak ‘adopsi” dari pasangan itu.  Beberapa lokasi di Semarang menjadi bagian dari klip ini.

Model Klip dan Sutradara, Dedi Ginajar Reksawardana -- Foto: Pepen Bluez

                 Model Klip dan Sutradara, Dedi Ginajar Reksawardana — Foto: Pepen Bluez

Ini pengalaman unik dan menarik, membuat klip dari lirik yang selama ini dianggap menyimpang. Kami suka cara Kang Dedi menerjemahkan konsepnya dalam klip. Penasaran dengan hasilnya nih,” celetuk Rageel di sela rehat syuting.

+++

Tentang Kompilasi MUSIKINI VOL. 1:

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini memang merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

[Diary1MUSIKINI] – Sunday Sad Story : Luapan Kegaharan di Dalam Pesawat

Bekerjasama dengan professional, membuat band-band yang masuk dalam Kompilasi MUSIKINI VOL. 1 mendapat banyak pelajaran penting. Salah satunya: disiplin waktu. Sunday Sad Story [SSS], menjadi band pertama yang kebagian syuting video klip bareng sutradara Dedi Ginanjar Reksawardana dari Jakarta.

Sunday Sad Story -- Foto: Pepen

                                                         Sunday Sad Story — Foto: Pepen

BAND pengusung metalcore ini menitipkan lagu ‘Confession’ dalam kompilasi berskala nasional ini. Yang menarik dari lagu ini, meski terkesan gahar, tapi sejatinya liriknya masih bisa dinikmati dan punya ikatan emosional dengan pendengarnya. Kalau itu adalah cerita nyata, pasti akan lebih emosional. Mereka memilih konsep yang simple dan menonjolkan aura band-nya dalam klip yang digarap dengan teknik layar lebar ini. Tak ada jalan cerita layaknya drama atau film pendek.

Band berawak Adit [gitar], Almando [gitar], Bondan [bass], Antok [drum], dan Reza [vocal] ini memilih lokasi syuting di Kampung Wisata Lembah Kalipancur Semarang. Dengan latar belakang di satu pesawat terbang [ini beneran pesawat, bukan property syuting], SSS menggebrak dengan karakter musikalnya yang gahar.

Mas Dedi keren dan ngelihat peralatannya saja kita sudah ndomblong. Pas syuting ternyata professional, jadi kita juga syutingnya juga semangat,” kata Reza, mewakili kawan-kawannya di SSS.

Mereka memulai persiapan sekitar pukul 13.000 WIB. Nyaris tidak ada waktu kosong, karena semua dikerjakan dengan efektif.  Mulai take pertama sekitar pukul 16.30 WIB di hangar atau outdoor. Sekitar pukul 21.00 WIB setting berpindah ke dalam pesawat. Dengan kostum warna biru Polandia tahun 1920an, SSS menjelma jadi band gahar yang “masuk” dalam aura kekinian.

Sunday Sad Story, Kalipancur Semarang -- Foto: Pepen

Pelajaran dan hal menarik di hari pertama menurut Pepen Bluez, Koordinator Lapangan untuk Video Klip ini adalah: semua dikerjakan dengan professional, disiplin waktu, dan strategi syuting yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. “Kami pikir dari siang sampai sore, tapi berubah karena Mas Dedi bilang tata cahaya dan artistiknya akan lebih menarik kalau malam. Diluar itu, timnya Mas Dedy juga asyik, dan kompak, jadi semuanya lancar,” kata Pepen

+++

Tentang Kompilasi MUSIKINI VOL. 1:

Menjaring band-band Semarang dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini memang merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

IBU, Aku Tak Pernah Sanggup Sampai di Ujung Cintamu

Aku melayang seperti merpati, menukik sana-sini,
Menyerupai angin yang berhembus tiada henti…
Aku merasakan hempasan bayu yang mengolengkanku,
Seolah ingin menghempaskanku ke bumi…

Tapi disana berdiri Ibuku,
Hanya menyorongkan tangan lemahnya, meregangkan lengannya yang keriput
Ajaib, Itu membuatku kuat, itu membuatku tegak dalam hempasan…

+++

"Pernahkah Kita Sampai Pada Ujung Cinta Tulus Ibu? Tidak"

                            “Pernahkah Kita Sampai Pada Ujung Cinta Tulus Ibu? Tidak”

INI seperti pengakuan diri, tentang kegelisahan personal, tentang rasa berdosa, tentang rasa bersalah dan tentang keinginan memberi sukacita. Semua tentang Ibu, Mama, Bunda, Emak, atau apapun kita memanggilnya. Sudah di titik mana, kita sebagai anak menjadikan kehidupan ini seperti dawai-dawai yang kita mainkan bersama Ibu. Sudah di titik mana, kita sebagai anak bersenandung cinta untuk memberikan senyuamn terhangat seorang Ibu?

Ibuku ringkih, badannya kurus, tapi Ibu punya kekuatan “rahasia” yang kita anaknya tak pernah tahu. Ibu bisa mengatakan  berlebih, ketika sejatinya mungkin kekurangan. Ibu bisa mengatakan ada, ketika sejatinya tidak ada. Ibu bisa mengatakan pergilah, meskipun sejatinya hatinya tercabik-cabik melihat kita jauh dari pandangan matanya.  Dan dengan mudahnya kita –anak-anaknya–  menganggapnya biasa saja.

Pernahkah kita merasakan pergolakan batinnya tatkala mendengar anaknya sakit? Pernahkah kita sadar, hatinya bergejolak mendengar anaknya belum makan, padahal mungkin hanya lupa atau telat saja? Pernahkah kita menyadari, dibalik senyumnya yang ikhlas kepada kita, ada tangis dan doa untuk kebahagiaan anak-anaknya?

Ibuku tidak kaya harta, biasa saja. Tapi ibu punya harta lain yang amat kaya. Hatinya. Ibu akan bersedih ketika kita melakukan kesalahan, dan kemudian menegurnya. Mengapa? Karena ibu tak ingin kita menjadi keledai, yang jatuh pada lubang kesalahan yang sama dua kali. Mungkin marahnya sudah habis, hanya tangisan yang membuat kita lunglai dan menyadari, kita sudah jauh melangkah dengan kesalahan-kesalahan.

Ibuku sederhana, sampai detik ini tak pernah kudengar permintaan untuk barang-barang yang membuat dirinya tampak glamour dan lebih dihormati. “Ketulusan dan kebaikan, itulah yang membuat kita dihormati orang lain!” begitu katanya tatkala anak-anaknya bertanya tentang apa yang diinginkannya supaya bisa lebih mendapat perhatian orang lain. Ibuku tak pernah silau dengan apa yang dipunyai orang lain. “Sumeleh membuat kita ikhlas,” begitu kata Ibu.

Kata Ibuku: “Sumeleh membuat kita ikhlas”

Tulisan ini dan beribu-ribu tulisan lainnya, tak akan bisa mengganti apapun yang sudah ibu berikan kepada kita, anak-anaknya. Tulisan ini hanya ruang terbuka, untuk mengungkapkan: aku anakmu, aku dan kesalahanku, aku dan dosaku, aku dan maafku, aku dan doaku, tak pernah sanggup sampai di ujung cintamu.

+++

dengan tapak tangannya,
Cintanya mengambil hatiku yang merana…
Lalu mencium aromanya…
Kalau hati Ibu tidak indah,
mana mungkin dapat memberikan buket kembang yang indah di dalam hatinya….

MUSIKINI VOL. 1 – Belajar Menjadi “Murid” Dari Musisi Semarang

Bagaimana meluruhkan kesombongan, meruntuhkan keminderan, dan menghancurkan iri hati, saya nyaris tidak punya resep jitu. Teori banyak, tapi ternyata guru yang paling efektif adalah pengalaman dan melihat kehidupan manusia lain. Ketika bersama beberapa kawan melahirkan Album Kompilasi bernama MUSIKINI VOL. 1, saya menjadi ‘murid” dari banyak guru.

Kalau sudah dilahirkan, bukankah seharusnya kita sama-sama membesarkan Kompilasi MUSIKINI Vol.1

Kalau sudah dilahirkan, bukankah seharusnya kita sama-sama membesarkan Kompilasi MUSIKINI Vol.1

20 TAHUN menjadi jurnalis musik itu bukan waktu yang sebentar. Rasa jenuh, bosan, kadang-kadang muak, sering muncul di waktu yang tidak pernah saya duga. Saya hanya ingin memunculkan kreatifitas dan ide-ide apapun, yang bisa berguna dan bermanfaat buat banyak orang. Tulisan mungkin sudah tersebar, ngoceh ­sana-sini sudah pasti, karena saya pewarta yang menginformasikan banyak hal [khususnya tentang musik] kepada pembaca.

Saat gagasan menggamit band-band lokal Semarang [karena kebetulan saya dibesarkan di  Semarang] muncul, saya nyaris tak terpikir sebelumnya. Kalau hanya ngebantu penulisan band-band daerah, itu sudah jadi kredo wajib saya, tapi benar-benar terlibat dari nol, untuk kota saya sendiri, nyaris tak pernah saya lakukan. Ini bukan persoalan primordial, tapi sebuah tanggungjawab moral atas sebuah pertanyaan: apa yang sudah kamu lakukan untuk kotamu?

Bermimpi bersama beberapa orang, memang menyenangkan. Dan inilah jawaban atas impian ‘warung kopi’ yang kerap kita lontarkan. Membuat satu produk musik, yang kita kerjakan dari awal, memilih band, mengabaikan idealisme musik yang kita yakini masing-masing, mengemas attitude, paket utuh, dan branding, sesuatu yang mungkin buat sebagian kami adalah hal baru.

Lalu apa yang kemudian kita yakini tentang hal ini? Pembelajaran. Saya menempatkan diri sebagai murid, dengan solois atau band yang terblibat sebagai guru. Saya belajar mengerti mereka, meski beberapa kali saya juga mencoba memberi masukkan dengan apa yang saya ngerti dan bisa. Tapi jujur saja, saya juga mendapat banyak hal yang berkaitan dengan konsep rendah hati, menjaga hati dan merawat kehidupan dengan manusia lain. Bayangkan saja, berhadapan dengan belasan manusia yang berkutat dengan musik, berbeda kualitas, berbeda impian dan karakter yang masing-masing unik. Bukankah itu satu pelajaran hidup yang luarbiasa?

Saya menempatkan diri sebagai murid, dengan solois atau band yang terlibat sebagai guru.

Saya belajar dari Adam Suraja, dari Bello, dari D’jawir, dari 2ND CLAN, dari Rentdo, dari New Face New Wave, dari Sunday Sad Story, dari Giga of Spirit, dari Distorsi Akustik, dari The Jaka Plus. Mereka adalah “guru-guru” baru saya, yang memberi saya pemahaman baru soal berkemanusiaan dan merespon kegelisahan. Sempurna? Tidak, mereka juga adalah manusia-manusia yang punya kelemahan, punya kesombongan, punya egoisme, punya rasa minder, punya kemarahan. Tapi mereka juga punya keinginan untuk belajar, keinginan untuk menjadi musisi yang lebih baik. Sinergi yin dan yang yang mereka punya itu, jadi catatan penting dalam kehidupan saya pribadi.

Soal kompilasi MUSIKINI VOL.1, saya melihat inilah linier kerjasama yang menyenangkan. Banyak tingkap-tingkap yang terbuka, banyak kejutan-kejutan yang akhirnya memberikan kita [saya dan kawan-kawan yang terlibat], keyakinan: untuk menggerakan hal besar, kita perlu belajar dari hal kecil. Untuk membuat sejarah hebat, kita harus melibatkan diri dalam proses perjalanan sejarah itu. Apakah kemudian yang masuk dalam kompilasi itu akan menjadi musisi besar? Menjadi artis yang ngetop? Menjadi penyanyi yang dipuja-puja? Entahlah, saya bukan Tuhan, tapi saya merasakan kegairahan yang natural ketika mengerjakannya.

Kalau sudah dilahirkan, bukankah seharusnya kita sama-sama membesarkan “anak” bernama Kompilasi MUSIKINI VOL.1?

Jangan Jadi Media Bebek! — [Sungguh, Ini Bukan Gugatan Raisa]

INDUSTRI MUSIK Indonesia itu lucu. Ketika satu penyanyi –siapapun dia—melesat menjadi ikon [atau di-ikon-kan oleh media], industri seolah kehilangan sumber daya, si penyanyi itu akan dieksploitasi habis-habisan. “Dijual” dari sisi manapun, sehingga terkesan fenomenal, dan benar-benar rising star yang luar biasa.

Beruntunglah Raisa Adriana Menjadi Indonesia Sweetheart -- [foto: esquire.co.id]

            Beruntunglah Raisa Adriana Menjadi Indonesia Sweetheart — [foto: esquire.co.id]

SEBENARNYA  bisa dipandang dari dua sisi, industri yang memang “cerdik” meanfaatkan kelemahan psikologis masyarakat, atau media yang “bodoh” hanya menjadi bebek yang bisa digiring kemana-mana. Beberapa nama besar di industri musik Indonesia, pernah merasakan hal itu. Era 90an, siapa yang tak kenal Nike Ardila? Perempuan cantik itu menjelma jadi ikon pop [rock] yang dipuja. Sebelum meninggal karena kecelakaan ketika namanya sedang di puncak, Nike Ardila adalah lahan eksploitasi media [dan tentu saja labelnya]. Media yang tidak memajang wajahnya di kover, akan dicibir sebagai ketinggalan zaman. Kehidupannya dari lahir sampai menjadi penyanyi terkenal, dibongkar habis. Penyanyi perempuan yang muncul belakangan, selalu akan dikomparasi dengannya.

Dalam konteks kekinian, apa yang dialami Nike Ardila terulang lagi. Kali ini harus dirasakan oleh penyanyi cantik, wangi dan [diposisikan] berkelas, bernama Raisa. Kemunculan Raisa memang dirasa pas di industri musik banyak penikmat musik butuh idola yang bisa mereka kagumi suara, fisik dan attitude-nya. Raisa muncul dengan menggemaskan, ayu dan murah senyum.

Yup, tiba-tiba Raisa menjadi Indonesian Sweetheart  di semua lini. Wajahnya beredar tak hanya di musik, tapi juga iklan. Semua produk seolah “harus” memakai Raisa sebagai brand. Senyumnya yang memikat, tutur katanya yang terlihat sopan, ditopanhg lagu enak dan vocal bagus, jadilah Raisa paket utuh yang layak diidolai.

Pengekornya segambreng. Semua ingin seperti Raisa. Sayangnya, tak banyak yang mencoba mengulik bagaimana perjuangan Raisa untuk sampai di posisi sekarang. Semua melihatnya seolah semua sudah enak, jalannya lempeng dan langsung terkenal. Tak ada yang belajar bagaimana proses seorang Raisa untuk berada di posisi terhormat di industri yang semua orang didalamnya, ingin terkenal. Pokoknya ingIn seperti Raisa sekarang yang terkenal.

Media jelas punya peran vital untuk mengangkat “derajat” Raisa. Bombardir eksposurenya, menjulangkan Raisa ke deretan musisi papan atas, dengan bujet yang sekarang tentu saja menjadi mahal. Meski kadang-kadang media juga gegabah memberitakan hal-hal yang tidak krusial dan penting. Dengan alasan bahwa “yang tidak penting” itu  malah kadang jadi berita ngehitz. Semua media merasa punya “kewajiban” untuk memberitakan Raisa. Tidak peduli kutip sana-sini, kloning sana-sini, yang penting informasi tentang Raisa harus ada.  Sementara untuk Raisa, jangan berharap punya privacy yang benar-benar privacy. Siapa pacarnya, potong rambut dimana, make-upnya apa, jadi incaran media. Bahkan mungkin Raisa kentut pun bakal jadi berita.

Yang kasihan tentu saja penyanyi perempuan yang muncul setelah Raisa. Mereka harus bekerja keras dua kali lebih keras dari biasanya. Kok? Bayangkan saja, tiba-tiba semua media menulis judul besar yang sama: Si A Siap Geser Posisi Raisa! Apanya yang digeser Mas? Mbok ya bikin judul tidak sekadar bombastis, tapi juga punya kaidah fakta yang masuk akal. Semua penyanyi perempuan akan disebut “ikut-ikutan Raisa”. Apalagi kalau lagu-lagunya mirip. Kelar deh.  Kerja kerasnya adalah, selain meniti karier sebagai dirinya sendiri, pendatang baru akan disandingkan dengan Raisa. Bisa nggak ngejar sukses Raisa?

Pendatang baru seperti Yura, Isyana Sarasvati, Radhini atau Yemima Hutapea, akan disandingkan dengan Raisa. Entah kalau ada yang memang ingin “sok-sokan” ingin seperti Raisa. Buat saya, ketika banyak orang ingin menjadi  Raisa dan berusaha semirip mungkin secara fisik dan kisah-kisah suksesnya, sebenarnya mereka-mereka itu tak akan pernah meraih sukses sebagai diri sendiri. Target kok hanya ingin seperti Raisa? Mengapa tidak mimpi melebihi Raisa dan kemudian jadi trendsetter untuk hal positif apapun. Dari musik, film, olahraga. Apa saja.

Lalu apa salah Raisa? Secara paket industri, tidak ada yang salah dengan Raisa. Dia berhak menikmati sukses yang diraihnya. Dia juga berhak menjadi idola karena sikapnya yang santun dan kekinian. Terlepas apakah perilakunya itu karena sudah terkenal kemudian menjadi santun, atau sebelumnya memang sudah begitu, tak usah dipedulikan. Yang jelas Raisa bisa membuktikan, selama ini tidak tanduknya yang terekam media, layak jadi panutan.

Lalu untuk apa setiap pendatang baru selalu ditanyakan pertanyaan “nggak penting” tentang menyalip Raisa, menjadi Raisa, atau pengekor Raisa? Tidak ada yang bisa menjadi Raisa, karena Tuhan hanya menciptakan satu Raisa. Tidak ada yang bisa suaranya dipas-pasin supaya mirip Raisa, karena suara seperti Raisa, hanya dimiliki oleh Raisa. Jadi untuk apa menjadi Raisa? Bahwa ada proses, ada perjuangan, dan ada kerja keras yang dilakoni Raisa, itu benar dan bisa jadi contoh bagaimana sebaiknya meraih mimpimu.

Zaman sekarang, menjadi jurnalis ternyata “amat mudah”. Mengapa saya beri tanda petik, karena ternyata memang tidak sulit. Bikin kartu pers ketengan bisa, media online yang mengusung pewarta warga, biasanya jadi lahan empuk untuk siapa saja yang tertarik jadi wartawan, tapi malas ikut prosedur media besar lainnya. Alhasil, kalau kemudian banyak wartawan dangkal, wartawan tak punya pengetahuan atas apa yang diliputnya, wartawan yang tak punya “otak” memadai untuk menelaah satu wawancara dengan tuntas dan menarik, rasanya tak mengejutkan lagi.

Anda tak akan menemukan wartawan yang kritis, karena kritis itu kemudian menjadi “menyebalkan” untuk narasumber yang maunya lempeng-lempeng saja. Anda tak menemukan wartawan yang kapan saja diminta wawancara selalu siap dengan kualitas pertanyaan yang terjaga. Semua mentah dan normatif saja.

Ketika kehilangan sentuhan indepht tentang narasumber, wartawan akan “mengadu” dengan nama yang sudah popular sebelumnya. Apa urusannya Isyana Sarasvati dengan sukses Raisa? Apa hubungannya Radhini dimintai komentar soal Raisa, padahal sedang bicara soal lagunya sendiri? Ini strategi mencari rating yang memalukan sebenarnya. Tapi apakah wartawan sadar? Saya kok tidak yakin. Ketika rating  yang jadi panglima, kualitas akan tetap jadi prajurit di depan, mungkin yang mati duluan.

Tulisan ini bukan gugatan kepada Raisa, ini pledoi wartawan yang terkungkung pada kubikal yang rapat, hingga tak mau membuka diri untuk belajar dan mengeri banyak hal di luar profesinya semata. Biarlah Raisa jadi Raisa. Biar saja Isyana Sarasati jadi dirinya sendiri. Biar saja Agnez Mo jadi Agnez Mo. Jangan pernah dibenturkan sesama mereka kalau wartawan sekadar cari judul sensasional. Sekali lagi: wartawan itu mengritisi informasi, bukan menjilati sensasi.

Jangan jadikan mediamu bodoh dengan hanya menjadi “bebek” yang bisa digiring kemana-mana.

Hey…Radio : Berani Bikin Tren Sendiri, atau Masih Ngekor Radio Lain?

Sebagai penikmat musik, termasuk mendengar di radio, saya sering heran dengan radio-radio sekarang. Nyaris semuanya mengatakan: “Hanya Memutar Lagu Enak!” – “100 % Lagu Enak!” – “Hits Terkini” dan seabrek tagline yang intinya adalah: cuma muterin lagu yang disukai. Lalu indikator yang disukai itu seperti apa ya?

Radio Itu Harusnya Menciptakan Tren, Bukan Malah Mengekor Tren Radio Lain!

SEBAGAI awam yang ditemani radio saat macet atau bengong di kamar, pilihan-pilihan lagu enak itu memang cukup membantu untuk santai. Apalagi kalau lagu yang diputar kita tahu liriknya, sedang ramai dibicarakan dan kerap diputar di radio-radio. Mungkin kita juga bakal komat-kamit ikut bersenandung lamat-lamat. Tapi coba pindah frekuensi ganti ke radio lain yang sejenis, mungkin kita akan menemukan lagu yang sama. Pindah lain lagi, lagu yang tidak beda masih diputar. Ada apa ini, kok semua radio sudah kaya anak SD, seragam semua.

Sekian tahun yang lalu, saya masih membedakan: kalau untuk lagu rock, saya harus cari radio A, musik jazz, putar radio B. Dangdut, giliran saya putar gelombang beda lagi. Masing-masing raqdio itu menciptakan hits-nya masing-masing. Kalau kemudian hits yang mereka geber diikuti radio lain, itu menjadi “perayaan” yang amat menyenangkan. Dulu dalam bahasa saya: mereka –radio-radio itu—menciptakan hits, bukan menjadi kacung hits.

Atas nama rating seperti layaknya infotainment, radio juga mengalami pergeseran. Mereka menyasar ruang yang segmented dan meraup pendengar baru, dengan program yang disesuaikan tingkat usia pendengarnya. Kemudian untuk urusan lagu, radio-radio itu kini memutar lagu yang disukai saja. Tentu saja mereka memasang kuping lebar-lebar untuk menyimak, hits apa yang sedang ngetop dan kerap diputar  di radio sebelah.

Nah sebagai pendengar, inilah kemudian persoalannya. Parameter lagu enak menjadi rancu buat saya. Banyak kasus, lagu yang diputar meski disebut sebagai lagu enak, tapi adalah selera music director-nya. Bukan berita baru kalau label atau artis yang punya album atau single gres, akan mendekati MD dengan berbagai cara. Harapannya apalagi? Biar lagunya diputar, syukur kalau banyak request dan masuk chart. Semudah itu? Tentu saja tidak. Mana ada “makan siang gratis” sekarang. Kalau dulu MD masih bisa bermain-main dengan “idealisme-nya, sekarang sebagai kelas pekerja, mereka tunduk kepada pemilik kapital.

Apakah demikian adanya di radio? Musik sudah tergadai sebagai dagangan? Ataukah trend dan pekembangan radio harus terjadi seperti itu? Radio kini bukan menciptakan hits tapi menjadi kacung hits? Meski mungkin ada hubungannya dengan iklan, dan nge-grab kuantitas pendengar [biasanya menurut AC Nielsen –­red], tapi kalau harus menyisihkan “lagu gak enak” demi “lagu enak” saja, kok seperti ada penindasan yang harus dilawan.

Sekali lagi, ini suara pendengar awam yang terlalu sering mendengar “lagu enak” tadi…..

[Catatan Tengah] : Bermimpi Berhenti Jadi Jurnalis

Sebagai jurnalis, apa sih pencapaian terbesarmu? Posisi terhormat di kantor, dengan gaji memadai, dan punya anak buah? Atau punya berita yang pernah jadi headline, dipuji banyak orang dan tiba-tiba jadi orang terkenal? Sebuah alternative pencapaian yang tidak salah kok.

Berhenti Jadi Jurnalis itu Bisa Kapan Saja, tapi Penulis Itu Abadi!

Berhenti Jadi Jurnalis itu Bisa Kapan Saja, tapi Penulis Itu Abadi!

ENTAH mengapa tiba-tiba saya malah ingin berhenti sebagai jurnalis, mundur dari hiruk pikuk soal pemberitaan, gossip, editing, pokoknya semua yang berhubungan dengan aktifitas jurnalisme. Kemudian memilih menepi, di suatu tempat yang hening, dingin, dan mencoba berinteraksi seperti masyarakat biasa. Menikmati kopi pagi, sembari makan singkong rebus atau pisang goreng, ngobrol tentang hidup dan sok-sokan bicara politik tapi dalam konteks rileks dan fun. Malam hari ikut ronda, mungkin main gaplek dan tertidur di pos ronda.

Lalu apa pencapaian saya sampai merasa harus berhenti? Tidak ada. Saya hanya jurnalis biasa, yang sekian belas tahun berkutat di liputan yang sama, musik. Saya hanya jurnalis biasa, yang menulis sesuai dengan apa yang saya rasakan, saya amati dan saya temukan. Saya jurnalis biasa yang hanya ingin kenal dengan banyak orang, bersahabat, dan menjadi teman buat siapa saja.

Saya jurnalis biasa yang ‘terganggu’ kalau disebut cari muka, karena mencoba kritis. Dan terbukti saya tidak peduli dengan tudingan itu. Saya hanya jurnalis biasa yang belajar menjadi jurnalis yang lebih baik. Berhasil? Entahlah, karena ukuran berhasil buat saya ketika saya akhirnya bisa dijadikan kawan atau sahabat, ketimbang dipuji-puji soal tulisan.

Benar, saya hanya ingin mundur sebagai jurnalis yang menorehkan catatan apapun dalam blog, tulisan di media lain, atau mungkin buku-buku yang sudah diterbitkan. Saya juga ingin mundur dengan tidak meninggalkan rasa rindu kepada kekritisan, kepada sinisme dan kepada skeptikal yang sudah kadung jadi patron jurnalisme pribadi buat saya. Saya ingin mundur dan kemudian menikmati angin, awan, hujan, dan panas terik sebagai harta yang tertemukan kembali.

Saya ingin menebus waktu yang hilang dengan orang-orang terdekat saya, yang selama ini mungkin [terpaksa] maklum atas pilihan saya. Saya hanya ingin menjadi saya, bukan dia, bukan mereka, bukan kami. Menikmati kehidupan secara sederhana, tanpa kemrungsung harus berpikir soal deadline, angle berita dan tetek bengek yang membuat tubuh ini meraung. Saya ingin mengembalikan akal sehat pada jalannya yang sehat.

Kata orang, menjadi jurnalis itu seumur hidup. Kata siapa? Menjadi penulis itu bisa seumur hidup. Sementara jadi jurnalis, kita bisa berhenti kapan saja yang kita mau. Repotnya, saya sudah kadung kecebur dari pertama  kuliah dan kerja. Menyesal? Tentu saja tidak, ini salah satu bagian terindah dari perjalanan hidup saya. Mengenal banyak orang hebat, bersahabat dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa dilihat di televisi atau media cetak, bisa menuliskan hal-hal yang tidak semua orang tahu, adalah pengalaman indah yang sampai mati pasti akan jadi sejarah manis.

Tapi saya tidak termasuk manusia yang terkontrak pda romantisme. Ketika kelak memutuskan berhenti sebagai jurnalis, ya sudah berhenti saja.Toh tidak ada yang kehilangan, karena seperti saya bilang di atas, saya jurnalis biasa-biasa saja yang muncul seperti asap, dan menghilang juga seperti asap tertiup angin. Biasa saja, tanpa bekas. Bekasnya Cuma tulisan, yang mungkin juga akan cepat dilupakan. Sama seperti ketika mati nanti, saya minta tidak untuk dikubur, tapi kremasi saja. Lebih irit tempat.

Sungguh, saya hanya ingin berhenti dan menjadi petani di Wonosobo atau ngurus kebun kelengkeng di Bandungan. Eit, itu mimpi saya, karena saya juga tidak punya tanah di Wosonobo atau Bandungan. Atau hanya antar jemput anak sekolah, ngobrol dengan anak atau teman-temannya, sekadar mencari apa yang sedang anak-anak muda itu nikmati. Kalau bengong, daripada kesambet, mungkin menulis adalah perjalanan melawan pikun saja. Merampungkan satu novel yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda selesai.

Bila kematian itu manusia,yang dapat kupeluk erat-erat
Aku kan mengambil darinya jiwa dan tak berwarna..
Dan ia akan mendapat dariku, warna jingga
Hanya itu…

Benar, saya hanya ingin berhenti…berhenti menjadi jurnalis. Itu saja.

Suara Korban & Penyintas: “Ingat, Kami Akan Memburumu Seperti Kutukan!”

SEJARAH selalu diciptakan untuk ‘kenikmatan; penguasa. Kalimat itu sudah seperti champagne yang melenakan seolah jadi kredo abadi dalam setiap kehidupan bernegara. Betapa piciknya saat kalimat itu benar-benar jadi pembenaran atas kekerasan, kematian, kepalsuan, dan kesombongan negara. Kalau ada kalimat yang lebih tepat, mungkin: exploitation de I’homme par I’hommepenghisapan manusia atas manusia – bisa jadi semboyan baru negara.

Perempuan Yang Diperkosa & Distrum Vaginanya -- [ilustrasi milik Yayak Ratnaka]

         Perempuan Yang Diperkosa & Distrum Vaginanya — [ilustrasi milik Yayak Yatmaka]

MENJADI kiri itu haram! Mungkin kalau ditegaskan, kalimat itu bakal jadi penegas yang pasti diucapkan oleh mereka-mereka yang “ketakutan” dengan pemikiran berbeda itu. Padahal, kiri adalah menghendaki suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang di dalamnya tidak ada kapitalisme. Pendek kata, kalau menurut Bung Karno: kiri adalah sebagai sikap politik yang menentang segala bentuk penghisapan dan penindasan. Meskipun saya yakin, ideologi apapun yang dikembangkan manusia beradab, pasti menentang penindasan manusia atas manusia.

Sekarang ini ada identifikasi bahwa menjadi kiri, berpikikir kiri, bicara kekirian, atau sekadar membaca buku-buku kiri, “wajib” hukumnya untuk dimusuhi, karena artinya “bersekutu” dengan komunis, sosialis dan sebangsanya.  Dengkulmu Ambleg!  Bahwa ideologi apapun harus bermuara pada ‘Tuhan’ adalah pakem yang harus ada di negeri ini. Ketika kekritisan itu menyinggung ranah pencipta, urusannya adalah surga neraka –suatu wilayah abstrak yang hanya dijelaskan dengan gamblang di kitab suci. Urusannya adalah “timbangan” pahala, yang kelak akan jadi tiket masuk kenikmatan abadi, atau pada keresahan abadi.

Betapa “sialnya” anak cucu pengikut Partai Komunis Indonesia a.k.a PKI. Tudingan anti Tuhan, atheis, pemberontak, pengkhianat, atau apapun yang penjelasannya adalah busuk. Mengungkit atau sekadar mengajak berdiskusi secara ilmiah dengan fakta, data dan pengalaman personal, akan dianggap makar atau perlawanan terhadap kemapanan yang sudah ada. Alih-alih bisa ngobrol, saya mungkin akan dituduh melawan agama tertentu [biasanya Islam] saat mendeklarasikan pilihan ideologi saya. Atau kalau lagi apes, Kodim, Polsek, atau intel-intel yang saya yakin nggak ngerti soal penjelasan ideologi-ideologi itu, akan merangket saya dan cap: melanggar TAP MPRS No. 25/1966, tentang larangan penyebaran paham komunisme dan Leninisme, langsung disematkan.

Benar bahwa pergulatan politik selalu memerlukan tumbal. Ada istilah: revolusi selalu memakan anak kandungnya sendiri. Dan apesnya PKI adalah: merekalah tumbal revolusi itu. Menjadi tumbal artinya: pengikutnya harus siap dikorbankan, dibunuh, diperkosa, dilecehkan, dibuang, dipenjara, dan dijadikan contoh bagaimana “azab” dari “Tuhan” bernama penguasa itu ditimpakan. Firman penguasa adalah sabda pandito ratu yang tak boleh dilawan dengan alasan apapun. Jangan bicara kemanusiaan, karena penguasa yang melakukannya, tidak sedang menjadi manusia, tapi menjadi dajjal atau bajingan berkedok seragam.

Ketika ratusan manusia diikat, dibawa ke hutan dan ditembak di kepalanya. Ketika ribuan manusia dipenggal dan mayatnya dibuang ke Bengawan Solo, ketika ribuan manusia, dibawa ke tebing, dikubur hidup-hidup. Ketika ribuan perempuan kelaminnya ditusuk dengan senapan. Ketika ribuan perempuan diperkosa oleh aparat berseragam. Ketika ribuan manusia dibawa ke penjara, tanpa tahu apa yang menjadi kesalahannya. Ketika ribuan manusia dibunuh dengan alasan mengganggu keamanan negara.

Saya hanya bertanya: bukankah negara ini diciptakan dan dihuni oleh manusia, bukan oleh kumpulan penyakit kemanusiaan?

Mereka Dibunuh Secara Simultan Oleh Aparat Berseragam -- [ilustrasi oleh Yayak Yatnaka]

 Mereka Dibunuh Secara Simultan Oleh Aparat Berseragam — [ilustrasi oleh Yayak Yatmaka]

50 tahun genosida itu sudah berlalu. Pelakunya masih banyak tertawa riang, meski saya yakin banyak juga yang oleng jiwanya, ditusuk oleh kata hatinya sendiri. Korbannya masih banyak yang hidup, dan mengalami mimpi yang teramat buruk dalam tiap tidurnya. Lalu apakah pembalasan yang diharapkan? Lalu apakah pemberontakan atas nama dendam yang harus dilakukan? TIDAK!

Kami yang menjadi korban hanya perlu kata MAAF! Bahwa negara benar sudah membiarkan kemanusiaan porak poranda. Mengembalikan harkat dan martabat sebagai manusia beradab dan sejajar, equal, bahkan dengan para penindas yang melakukan kebusukan kemanusiaan itu. Untuk begundal, penindas, penjilat, tukang jagal, pembunuh, dan pada koarist [tukang koar-koar] berkedok agama, kalau perasaanmu masih nyaman: kami akan selalu memburumu seperti kutukan!

#Untuk Bapak, Untuk Korban, Untuk Matinya Kemanusiaan

Kepada Mereka Yang Terbunuh, Dalam Senyap Kami Tetap Melawan

Kenapa sih, saya dan kawan-kawan selalu rewel tentang peristiwa kelabu 1965? Toh, saya tidak secara langsung doang menjadi korban. Kebetulan saja orang tua saya adalah korban langung. Tersungkur di ujung todongan senapan dan sepatu lars. Tertindas di penjara, tanpa pernah bisa dibuktikan kesalahannya. Mengapa saya dan kawan-kawan harus terus menggugat dan berteriak, sampai detik ini?

Kepada Mereka Yang Terbunuh – 1993 [Foto: Instalasi Karya: Dadang Christanto]

SAYA INGAT, saat masih duduk di kelas 3 SD, ayah saya menyodorkan buku kecil berjudul ‘Pitoyo’ [tulisannya: Pitojo, ejaan lama]. Sudah buluk, karena memang buku lama. Masih disimpan, menandakan buku itu penting. Ceritanya sederhana, tentang seorang laki-laki yang karena perbedaan kelas, terpaksa menerima “jatahnya” sebagai kacung kampret. Sampai akhirnya di satu titik, dia menjadi pemberontak atas ketidakadilan itu. “Kelak kamu harus seperti Pitoyo itu, harus berontak kalau ada ketidakadilan karena disitulah martabat manusia dipertaruhkan!” kata ayah saya, yang jujur saja, saya nggak begitu mudeng ketika itu.

Kata-kata begitu tertancap di benak saya. Kata-kata itu menjadikan saya gelisah ketika kemudian tahu bahwa ayah saya adalah realita dari ketidakadilan. Bahkan di usianya yang sudah menembus 90 tahun, masih harus mengalami “pelecehan harga diri” meski kemudian bisa membalikkan keadaan menjadi yang terhormat. Saya mencari literasi apapun tentang peristiwa yang selalu ditudingkan kepada PKI itu. Semakin saya banyak membaca, berdialog dengan korban dan menganalisa semua bahan, saya memutuskan untuk “memberontak” atas ketidakadilan ini. Kali ini tak hanya karena ayah saya, tapi begitu banyak penyintas yang saya kenal, menjadi korban sia-sia.

“Kelak kamu harus seperti Pitoyo itu, berontak kalau ada ketidakadilan, karena disitulah martabat manusia dipertaruhkan!”

Bukan perkara mudah di negeri yang begitu mudah menyembunyikan data dan fakta untuk kepentingan sang kuasa. Menjadi begitu ngeri di negeri yang amat ketakutan dengan simbol-simbol perjuangan kelas pekerja dan petani,  palu dan arit. Begitu banyak otak yang sudah tercuci bersih dan tak mungkin kembali dengan titik kebenaran. Kalau pun tidak sampai pada kesimpulan soal kebenaran, paling tidak bisa melihat dengan terang, ada jutaan nyawa yang dikirim di akherat dan kemudian menjadi sah tanpa klaim kekerasan dilakukan oleh negara.

“Hidup ini adalah proyek yang tak pernah habis,” kata Seno Gumira, wartawan dan budayawan itu. Karena itulah, selayaknya kita memperjuangkan sesuatu yang bisa membuat diri kita menjadi lebih tenteram dan bahagia. Kegelisahan itu mungkin berjalan seumur hidup, perlawanan itu mungkin masih akan berlanjut bahkan ketika kita sudah mati sekalipun, ketidakadilan masih akan bergulir selama dunia ini masih berkibar. Tampaknya utopis kalau kita kemudian menjadi “pemberontak” untuk memperjuangkan keadilan itu. Inilah pikiran-pikiran, dogma dan doktrin yang harus kita lawan.

Lars Yang Berlumuran Darah Korban 1965 - Ilustrasi Karya Dadang Christanto

Lars Yang Berlumuran Darah Korban 1965 – Ilustrasi                               Karya Dadang Christanto 

Pembantaian 1965 adalah tragedi kemanusiaan paling buruk dalam perjalanan sejarah negeri ini. Satu nyawa sudah terlalu mahal untuk dibantai, tapi jutaan melayang, tentu ada yang salah dengan nurani dan kemanusiaan para pembantai itu. Atas nama agama, atas nama negara, atas nama kebenaran, dan atas nama penguasa, manusia-manusia yang berdiri sejajar dan equal itu diterjang kematian yang sejatinya masih bisa mereka hindari. Bajingan-bajingan bernama [ke]aparat itu, masih tak rela ketika sekadar kata “maaf” diluncurkan. Menjadi pembunuh rupanya “prestasi” yang kelak bakal diceritakan pada anak cucunya. Semoga saja anak cucunya cukup cerdas untuk mengerti kebusukan leluhurnya.

Saya menyebutnya genosida65, karena memang itu pembersihan besar-besaran bukan sekadar kesalahan data, atau ketololan salah eksekusi misalnya. Ini terorganisir, sistematis, teratur dan terencana. Dan perlawanan kami, saya dan kawan-kawan, tidak akan pernah berhenti meski terror apapun kami sadari bakal mampir. Bahkan mungkin, ada pembelokkan ‘lawan’.  Kami akan menjadi amoeba, membelah diri dan berkembang lebih besar. Apakah target kami kekuasaan? Tidak! Kami tidak peduli dengan kekuasaan, kami peduli dengan harga diri dan fakta atas tumpang tindihnya ketidakadilan.

Sudah begitu bodohkah  saat “ketakutan” akan ideologi tak bisa dihadapi dengan nalar. Apakah [ke]aparat itu tak pernah punya nyali belajar tentang apa yang mereka takut itu. Sehingga bisa mengerti, ada otak yang tercecer dan menggumpal dalam slogan ketololan yang selalu didengungkan. Percayalah, dalam senyap kami melawan.

#MenolakLupa – Genosida65

Catatan AntiThesis: Siapakah “Pembunuh” Industri Musik?

Mungkin, pertanyaan yang saya ajukan ini terkesan sarkastis: siapakah sejatinya “pembunuh” industri musik? Akan muncul pertanyaan susulan: apakah industri musik [memang] sudah mati? Tidak mudah menjawabnya, karena industri musik tak pernah mati. Selalu ada musisi, penyanyi, composer baru dan yang merilis single atau album baru pula.  Lalu?industri_mati

SEBAGAI penceloteh di industri musik, saya kerap mendapatkan pertanyaan dan jawaban tentang industri musik. Pertanyaannya “kejam” dan cenderung “mengerikan’ seperti: benarkah industri musik sekarang sedang sekarat? Atau: apakah industri musik sedang mati suri dan tidak punya lepasan yang berkualitas? Atau: mengapa industri musik melahirkan musisi epigon doang? Kalau melihat selalu muncul pendatang baru yang mencoba peruntungan, apakah pantas industri disebut mati?

Oke, lupakan sebentar perdebatan yang sebenarnya sudah kerap dibahas itu. Seorang Taylor Swift memberi contoh, bagaimana musisi seharusnya punya “keberanian” berhadapan dengan raksasa industri  ketimbang “dikadali” dengan halus. Begini ceritanya: Apple, salah satu perusahaan gadget besar di Amerika Serikat, sedang menguji layanan musik dalam produknya. Salah satu yang diminta [secara gratis] adalah lagu Taylor Swift tadi. Mau tahu jawaban cewek yang pernah konser di Jakarta itu?

“Saya tidak pernah minta iPhone gratis dari Anda, jadi tolong jangan meminta untuk menyediakan musik karya saya, kalau tidak mau memberikan kompensasi yang pantas!”

Dalam catatannya, Swift mengatakan, apa yang dia ucapkan itu tidak hanya soal penghargaan kepada karya musisi, tapi juga tetap memberi kehidupan kepada industri musik itu sendiri. “Mereka,” ujar Switf, “adalah pembunuh industri musik itu sendiri.” Pernyataan yang berani dan langsung menjadi “kompor’ untuk musisi lain yang diperlakukan sama. Apple sendiri tidak berkomentar atas kritik dari Swift. Tapi perusahaan rintisan Steve Jobs ini bukan satu-satunya yang punya “kesalahan” itu. Ada banyak perusahan besar lainnya, yang ingin menyelipkan musik sebagai aplikasinya, tapi malas membayar royalty kepada musisi yang mencipta dan menyanyikannya. Kalau kata Quincy Jones: “Sayangnya, kita bukan pemilik industri musik!”

Jadi, siapa “pembunuh” indutri musik itu?

Dalam kacamata Kabir Sehgal, salah satu produser musik untuk pemenang Grammy Award, ada tiga “pembunuh” industri musik itu. Apa yang diucapkan dan dibagikan oleh Kabir, muasalnya adalah pengamatan dan pengalamannya di industri selama puluhan tahun. Kabarnya, beberapa musisi orbitannya sempat meraih Grammy Award. Lalu siapa tiga “pembunuh’ itu?

  1. Pembajak!

Dalam bukunya How Music Got Free, Stephen Witt mengatakan: pembajakan sebenarnya bermula dari keriaan manusia-manusia. Anggap saja mereka musisi. Ketika ada lagu atau CD baru berisi lagu baru yang mungkin sedang ngetop, kelompok manusia yang lebih kecil menggandakan dan kemudian menjualnya secara illegal keluar. Atau kelakuan itu dipicu oleh kebusukan orang dalam dari perusahan musik itu sendiri. Witt pernah melakukan investigasi melacak salah satu pembajak besar di North Carolina Amerika Serikat. Ketika itu tahun 90an, pembajak bernama Bernie Lydell Glover adalah satu pekerja di pabrik manufaktur CD. Sampai saat ini, Glover kerap disebut-sebut sebagai salah satu pembajak kakap sebelum album-album resmi diedarkan. Ketika era CD susut, Glover memilih distribusi digital di internet bersama para pembajak lainnya, termasuk bergandengan dengan Napster dan Bit Torrent ketika itu.pembunuhMusik1

  1. Label atau Perusahaan Rekaman

Loh, bukannya mereka –perusahaan rekaman itu– hidupnya tergantung dari industri musik yang mereka olah? Kok jadi salah satu “pembunuh’ industrinya? Kanibalis dong? Ketika perkembangan digital sudah amat progresif, banyak perusahan rekaman besar yang terlembat mengantisipasi. Kemudian, banyak dari mereka yang ternyata jadi “pembajak’ untuk musisi mereka sendiri. Alasannya? Menaikkan harga jual atau sekadar pemancing antusiasme pendengar. Alasan bodoh kalau kemudian jadi alasan memperbolehkan pembajakkan. Kalau kemudian sekarang banyak label yang bergegas menjadi pemain distribusi digital tentu kerja keras yang lipat-lipat dari sebelumnya. Kalau rontok atau buru-buru ingin meraup untung dan akhirnya mencari jalan pintas, itulah sejatinya yang disebut “pembunuh’.

  1. Musisi

Eforia dan ketidaktahuan musisi pada perkembangan teknologi, kemudian ketidakmampuan memahami kontrak baru, menjadi titik lemah ketika label menyodorkan kontrak yang menjadi pengikat. Sekadar catatan: banyak label yang tidak memasukkan penjualan digital sebagai line-up perjanjian di kontrak. Akibatnya, angka penjualan keseluruhan sering terlihat lebih kecil. Back Street Boys, salah satu boysband yang menjual albumnya hingga jutaan kopi di seluruh dunia, tahun 90an dilaporkan tidak mendapat pembayaran royalty digitalnya. Labelnya mengelabui pada poin pembayaran royalty internasionalnya. Kasihan bukan? Dan itu disadari terlambat, karena ternyata kontraknya tidak menjelaskan soal itu.

Ternyata “pembunuh” industri musik itu, adalah elemen internal industri itu sendiri. Perusahaan rekaman boleh saja jadi pesaing perusahaan rekaman yang lain. Tapi untuk urusan kontrak, royalty atau pemahaman soal digitalisasinya, mereka harus bekerjasama satu sama lain. Secara global, sudah tidak masanya lagi bergerak sendiri, sikut sana-sini.  Oh ya, kalau bingung: “pembunuh” dalam tulisan ini adalah antithesis dari siapa saja yang membuat industri musik menjadi zona tak nyaman berkarier.

Hey Kafir, Musik Itu Haram! Haram ‘Ndasmu Cuk!

“Musik itu haram!” dan pemujanya kemudian disebut kafir! Begitulah kalimat-kalimat yang saya terima, saya lihat, dan saya dengar dari diskusi, youtube, sampai ceramah di komunitas yang notabene dikekep oleh penganut aliran yang mengalirkan fatwa haram dan kafirun cihuy itu.

Saya mencoba menelisik dari sisi kemanusiaan saja, karena ranah agama adalah ranah yang selalu membuat saya terangsang untuk kritis, skeptis dan mungkin sinis.

rockstar is more sex? fuck off...

rockstar is more sex? fuck off…

ADALAH THE STRANGERS AL GHUROBA yang belakangan jadi topik hangat. Banyak yang menyebutnya wahabi. Apa itu wahabi, silakan nanya ke Google yang baru ganti logo itu saja. Ketimbang saya sok-sokan menjelaskan, tapi mengutip dari Wikipedia juga. Nah, The Strangers ini menjadi salah satu kelompok yang masive “menobatkan” banyak musisi, sehingga meninggalkan kehidupan dunia sebagai musisi, dan menjadi “petobat di jalan Alloh”. Paling tidak, seperti itulah yang terjadi. Sebatas membantu manusia yang konon masih berada di “jalur kegelapan” untuk menemukan “hidayah” silakan saja, tapi kemudian ada embel-embel lain yang menganggu pemikiran kritis. Mereka memberi klaim, musik itu haram!

Tentu dalil agama yang mereka butuhkan, semua dikeluarkan. Bahkan mereka menyebntuh youtube untuk menyebarkan apapun yang mereka jadikan “doktrin’. “Alat-alat musik itu adalah bagaikan pemabuk jiwa,” sebut Ahmad Zainuddin, yang dianggap sebagai guru besar oleh The Strangers Al Ghuroba. Dan doktrin itulah yang akhirnya memikat sejumlah musisi yang selama ini menjadikan musik sebagai sandaran hidup, Musik sebagai sumber utama penopang ekonomi mereka. Siapa yang masuk? Silakan mencari di Google juga, karena sudah tersebar dimana-mana, nama-nama musisi yang dianggap “bertobat” itu.

Ini khilafah jenis baru. Gerakan atau mimpi –meski menurut saya utopis—untuk melahirkan “wilayah tanpa musik” yang diyakini lebih membawa kemaslahatan umat –kira-kira begitu bahasa yang lazim muncul di pertemuan mereka. Anda yang masih bermusik –apapun genre musiknya—siap-siaplah mendapat stigma atau stempel “aneh, atheis, berdosa, penghuni neraka & durhaka” – mengerikan bukan? Tapi apakah tudingan itu membuat musisi yang “belum bertobat” itu mundur dan menjadi kucing manis yang enak dielus, diberi susu dan tertidur? Tentu tidak.

Saya ingin mengatakan, bukan perkara tidak ada seorang pun yang berhak dan bisa memenjarakan musik yang kita sukai. Tubuh ragawi boleh saja terinjak dan terpenjara di tempat yang paling tersembunyi, tapi pikiran dan pendengaran tetap akan bebas, sebebas-bebasnya. Dia – pikiran itu—akan tetap mengembara kemana dia suka. Mungkin akan dicerca, dihina, disiksa, tapi dia tak bisa dimatikan. Musik adalah pengembara, bukan pertama di satu tempat.

Bermusik Itu Haram? Maaf Bro, Itu Zaman Jahiliyah Dulu.....

Bermusik Itu Haram? Maaf Bro, Itu Zaman Jahiliyah Dulu…..

Bermusik itu bukan perbuatan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adalah realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Bahkan seorang Sunan Bonang, memilih melahirkan seperangkat alat musik bernama gamelan, untuk melakukan syiar Islam. Apakah, perilaku Sunan yang nota bene penyebaran agama Islam juga itu dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tertentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Mereka tidak akan menganggap bahwa kata-kata ini bukan sebuah kata bualan yang terpancar dari mulut seorang radikal ateistik, kafir, atau kaum pendosa mungkin.

Andaikan kata-kata ini benar merupakan ujaran dari seorang radikal ateistik, paling tidak mereka dapat mengambil sisi baiknya, sebab segala sesuatu yang ada pasti mengandung nilai yang dapat diambil dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi diri pribadi. Coba, cermati serta telisik kembali ungkapan ini serta kantongi nilai-nilainya.

Saya menelisik beberapa situs dan menemukan satu ungkapan yang “luar biasa”. Seperti ini: “Ingatlah bahwa bernyanyi dan main musik tidak ada manfaatnya begitu pula mendengarkannya. Semua itu adalah perbuatan sia-sia. Sifat orang yang beriman adalah meninggalkan hal yang sia-sia.” Bayangkan, jika semua musisi di Indonesia kemudian bersepakat bahwa nyanyi, main musik, atau mendengar musik tidak ada manfaatnya dan melakukan gerakan massal: tinggalkan musik serempak! Indonesia akan menjadi “kuburan masal”.

Hal itu jadi tantangan bagi kita semua untuk tidak selalu berpandangan picik atau culas terhadap realitas hidup dan kehidupan yang sedang menyapa. Mungkin ada maksiat, mungkin ada minuman keras, mungkin narkoba, tapi itu bukan melulu kesalahan musik dan bukan kemudian menjadikan musik haram. Saya mencoba memelesetkan kalimat terkenal Nietzsche dalam Sabda Zaratustranya, “Tuhan Sudah mati!” Kalimat itu saya ubah menjadi “Musik Sudah Mati!” Bagaimana memahaminya kemudian? Kalau The Strangers benar-benar memaknai musik harus dimatikan, saya melihat berbeda.

Sebagai bagian untuk mencerahkan manusia, atau sebutlah musisi, pernyataan itu sah-sah saja memang. Ungkapan ini selalu dianggap sebagai virus yang mematikan yang harus segera dibumihanguskan. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, ungkapan ini merupakan cambuk pengingat bagi mereka yang telah lalai. Cambuk bagi mereka yang selalu mengutamakan esensi dan eksistensi pribadi hingga mereka menjual, mematahkan dan bahkan membunuh eksistensi talenta yang sudah ada dalam dirinya.

Ungkapan “Musik telah mati”mengandung nilai filosofis yang begitu dahsyat Kematian ini bukan mengarah pada kematian esensi [zat] musisi, melainkan mengarah pada kematian eksistensi talenta dalam diri seorang manusia. Secara kodrati, talenta yang dimiliki manusia yang diberikan Tuhan harusnya seumur hidup dan tak boleh dimatikan oleh manusia itu sendiri. Bentuk pembantaian serta peniadaan eksistensi talenta [baca: musik], sejatinya adalah penindasan manusia atas manusia. Penindasan talenta atas talenta, karena musisi banyak yang beralih pandangan. Mereka menjadi [hanya] pengejar Tuhan, tapi lupa bahwa Tuhan pun lebih suka dipuji dengan gendang dan kecapi.

Ber-Tuhan dengan lebih baik, ber-agama dengan lebih tekun, atau beribadah dengan lebih khusyuk, bukan hal yang dilarang. Bagus malah! Tapi menjadi “Tuhan” atas manusia lain, memberi stempel kafirun kepada musik, lagu dan musisinya, jelas ketololan yang hanya dibungkus “ayat-ayat” yang sudah dipilah, untuk selanjutnya menciptakan “surga tanpa musik”. Saya hanya bilang: itu surgane mbahmu cuk!

Siapa yang merasa dirinya paling bersih dari dosa, dan halal dari kesalahan: silakan hancurkan alat musikmu duluan!

Musisi, Ke-Malu-an & Telanjang Bulat

Ini kerap dipertanyakan oleh banyak orang, “apalagi yang kita punya, ketika rasa malu untuk tidak beradab pun sudah tak punya?”. Dalam situasional musical dan industrinya, saya pun mungkin akan bertanya seperti itu, “apalagi yang musisi punya, ketika rasa malu mengakui karya orang lain sebagai karyanya pun sudah tak punya.” 

Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

BERPIKIR menjalani hidup seutuhnya sebagai musisi, bukan perkara mudah dan ringan. Ada banyak pertimbangan soal masa depan ketika akhirnya benar-benar nekat menekuni profesi sebagai musisi. Profesi ini sebenarnya sama saja dengan profesi PNS, jurnalis, akuntan, atau waitress misalnya. Profesi musisi juga layak dituliskan di KTP dan seharusnya membuat bangga pemilik KTP-nya. Tapi musisi yang bagaimana yang bisa membuat bangga pelakunya, bukan profesi yang malah membuat malu. Malu?

Benar, rasa malu sudah mulai luntur tatkala kita diperhadapkan pada kenyataan, persaingan itu kadang-kadang mengabaikan rasa malu [dan beradab], hanya supaya kita bisa berada di puncak. Ok, menurut Wikipedia, “Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya. Penyandang rasa malu secara alami ingin menyembunyikan diri dari orang lain karena perasaan tidak nyaman jika perbuatannya diketahui oleh orang lain.”

Malu sekarang sudah mulai jadi artefak yang disimpan di museum-museum dan hanya dipertontonkan.

Sekadar berwacana, pada tahun 1948 Ruth Benedict seorang antroplog dalam bukunya yang berjudul The Chrysanthemum and the Sword, memperkenalkan istilah Shame Culture [budaya malu) dan Guilt Culture [budaya bersalah) yang digunakan sebagai dikotomi pembagian bagaimana pola pikir Barat dan Timur. Pola inilah yang kemudian dikembangkan dan menjadi tradisi budaya. Bangsa Timur, punya “budaya malu” yang amat kental, seperti misalnya di Jepang. Ketika mengalami kegagalan akan tugas yang diberikan, mereka akan sangat malu bahkan tidak sedikit yang sampai bunuh diri. Sementara di barat, selalu diwejangkan, bahkan “budaya bersalah” ketika mereka tidak taat dengabn aturan dan prosedur. Saya agak “resah” kalau mereka-mereka itu tinggal di Indonesia, karena dua budaya itu sudah mulai terkikis. Penganutnya malah terlihat menggelikan.

Seorang musisi yang hebat, mengaku karya-karyanya adalah original dan dibuat dengan olah pikir dan talenta yang dia miliki. Ketika kemudian terungkap bahwa musisi tesebut tidak hanya “terinspirasi” dengan amat detil, tapi juga amat sangat mirip dengan “inspirasinya” seharusnya dia punya malu untuk mengaku bahwa itu karya originalnya. Musisi lain begitu bangga mendeklarasikan dukungan sehingga lupa bahwa dia harus dibatasi rasa malu, ketika kemudian omongan, tindakan dan sikap di publiknya, tak pernah bisa jadi contoh.

Banyak musisi yang merasa dirinya hebat, punya talenta luarbiasa, dan skill memadai, merasa harga dirinya jatuh ketika ada manusia lain yang ternyata lebih jago, padahal mereka sudah koar-koar kemana-mana. Tak heran, setiap musisi yang ingin diakui eksistensi, atau yang sudah mulai merosoto eksistensinya, selalu berjuang, agar kalaupun berbuat salah, tidak ketahuan orang, atau tidak pernah kalah dalam bersaing dan juga selalu dihargai orang. Orang yang tidak peduli terhadap harga dirinya atau tidak pernah merasa malu, biasanya dianggap tidak beres. Meskipun sebenarnya tidak begitu juga.

Dalam agama Budha, ada istilah hiri. Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap batin yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Kemudian dalam konteks lain ada istilah Ottapa, yang artinya enggan berbuat salah atau jahat, sikap bathin yang merasa enggan tau taku takan akibat perbuata salah mapun jahat, baik melalui pikiran, kata-kata maupun perbuatan badan jasmani. Tentu tidak harus menjadi Budha untuk tahu soal itu.

Menjadi musisi, apapun posisinya di industri, harus berani “telanjang bulat” yang maknanya adalah: bisa mempertanggungjawabkan karya-karya yang dibuatnya secara gamblang dan terbuka. Ketiak musisi ini berdiversifikasi profesi, menjajal profesi lain, harusnya dia juga harus sadar diri dengan kemampuannya. Kalau merasa punya potensi, silakan, tapi kalau kemudian hanya mempermalukan diri sendiri, mendingan sadar diri saja sebelumnya. Kalau tak punya wawasan, hanya comot sana, comot sini, masihkah pantaskah disebut musisi bertalenta? Bagaimana kalau kemudian kita sebut: pemulung nada saja?

Jadi, masih adakah pemilik “malu” itu di industri musik Indonesia?

Musisi, Anak Band, Fans, Bolo-Dupak Musik, Gedibal & Anggota Semprulisme: Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan

RITUAL tahunan bernama Idul Fitri itu, akhirnya bakal tiba. Acara mudik –yang konon hanya ada di Indonesia—mulai berdenyut.  Semua rute darat laut udara, ludes demi sebuah ritual bernama lebaran dan mudik.  Semua perputaran uang mulai bergeser ke daerah-daerah tujuan mudik. Tersenyumlah Wonogiri, Solo, Lampung, Jogjakarta, dan sekitarnya. Karena menurut pengamat ekonomi, perputaran uang yang dibawa ketika Lebaran tiba mencapai trilyunan rupiah.

Untuk yang melakukan puasa di Bulan Ramadhan, Idul Fitri menjadi momentum untuk menjadi pemenang. Pelaku puasa itu berhasil melewati banyak hal selama sebulan. Anger Management  yang ketat, toleransi [yang harusnya] makin meningkat, dan urusan syahwat yang diikat. Tidak mutlak, karena toh ada toleransi untuk hal-hal lain yang disetujui. Tapi semua menjadi begitu “kuat” selama sebulan Ramadhan ini.

Saya menikmati Lebaran sebagai proses ‘liminal” –ini istilah yang dikatakan oleh Victor Turner—yang artinya pada momen inilah, agama persis berdiri pada sebuah perbatasan, ia ada di “dalam” tetap sekaligus “di luar” dirinya.  Lebaran kini menjadi “festival” milik sebuah peradaban bernama manusia. Di Indonesia, sulit mengatakan Lebaran hanya milik umat muslim, karena sudah menjadi lintas sosial dari banyak kehidupan manusia.  Lebaran tidak hanya milik mereka yang selama Ramadhan berpuasa penuh, tapi juga milik mereka yang mungkin selama hidupnya tidak pernah berpuasa.  Lebaran sudah tidak lagi milik “kami” tapi lebur menjadi milik “kita”.

Memang, selebrasi maaf makin lama makin menjadi ritual basa-basi dan tanpa makna lagi. Tapi hal yang menarik adalah, Lebaran selalu mempertemukan manusia pada kesetaraan. Selalu menempatkan “kita” pada paradigma yang sejajar. Lebaran menjadi mengharukan, karena momentum ini selalu memperhadapkan emosi, mentalitas [dan ekonomi tentu saja],  pada titik yang disepakati. Tidak menjadi umat yang “terisolasi” tapi umat yang [harusnya] solidaritas.

Raya bernama Lebaran ini memang menyajikan banyak harapan setiap tahunnya. Disana ada melankolisasi, ada denyut konsumerisme, ada pembersihan diri [yang konon, benar-benar fitrah]. Meski denominasinya makin beragam, tafsirnya makin marak, implikasi sosial ekonominya makin dianggap sebagai ‘keberuntungan’ daerah tujuan mudik, Lebaran [harusnya] tak melulu jadi ‘festival sosial’ yang sekadar numpang lewat.

Saya memaknai, Lebaran adalah khittah fresh untuk makin menyapa orang-orang yang menderita, mendermakan kemanusiaan kepada manusia secara setara, mengampuni sebagai satu roh hakiki, dan memberi kegembiraan rohani untuk keluar dari dari tempurung bernama kesombongan. Bukankah hakikat Idul Fitri adalah pembebasan yang utuh, bukan sekedar memaafkan omong kosong?

Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan.

Melawan Jurnalisme Sektarian [Bukan Untuk Kalangan Sendiri]

BERITA –bukan sekadar isu—perpindahan agama public figure, selalu menarik perhatian. Belum lagi kasak-kusuk di belakangnya, yang kadang lebih heboh ketimbang “pencerahan spiritualitas” pelakunya. Kini, Lukman Sardi, aktor kelas Piala Citra itu, lagi “dibedah” dari semua lini, ketika menyatakan diri masuk agama Kristen. Media memang “bahagia” ketika ranah privat manusia dengan penciptanya bisa dikupas tuntas, seolah mereka adalah Tuhan yang berhak memberi penghakiman.

jurnalisme sektarian itu bahaya!

jurnalisme sektarian itu bahaya!

ANDA mungkin sekarang sedang aktif membaca berita Lukman Sardi itu. Mungkin mendengar presenter  infotainment akan bertutur lengkap dengan penjelasan dari A sampai Z? Apa yang Anda rasakan? Kegembiraan karena seorang publik figur pindah agama sama dengan Anda? Ikut menghujat karena pindah agama yang berbeda dengan Anda?

Berita-berita di atas disampaikan dan ditulis bukan oleh media yang mengkhususkan diri pada agama tertentu [meski media-media khusus itu biasanya juga mengulas panjang lebar]. Media-media itu media sekuler yang ditonton oleh kalangan heterogen. Media-media itu menampilkan audio dan visual, yang bisa menimbulkan banyak interpretasi. Apalagi diimbuhi pendapat tokoh agama atau yang ditokohkan untuk sekadar mencari pembanding.

Media –tanpa menyebut satu media tertentu— begitu bangga memberitakan soal keributan keluarga yang –konon— salah satu alasannya adalah si artis pindah agama. Media begitu bangga menulis panjang lebar  tentang perasaan “nyaman” si artis setelah pindah agama [dengan embel-embel dibanding agama terdahulu]. Media begitu bersorak ketika seorang artis menemukan pencerahan  dan masuk agama tertentu.

Apakah salah jurnalisme –yang penulis sebut jurnalisme sektarian—seperti itu?  Lantas bagaimana dengan media yang jelas-jelas menjurus ke arah sektarianisme?

Menurut hemat saya, informasi-informasi sektarian seperti itu sepantasnya diletakkan dalam porsi yang tidak terlalu mencorong. Bukan persoalan agamanya yang penting, tapi persoalan kehidupan yang bisa dilihat [karena yang tidak bisa dilihat, sudah masuk urusan privat] yang seharusnya menjadi pertimbangan.

Meskipun kata “agama” sering didefinsikan secara berbeda-beda oleh para ahli, penulis cenderung menerima kata ini sebagai istilah praktis yang bisa kita pakai untuk menyebut sistem kepercayaan manapun, entah Islam, Kristen, Budha, Hindu, bahkan yang tak beragama sekalipun. Kita sedikit “melambung”  ketika disebut_sebut nyaris semua agama melahirkan peradaban besar. Fatal yang menyebut hanya Islam yang melahirkan peradaban besar! Fatal pula hanya Kristen yang menciptakan quantum leap peradaban!  Fatal juga ketika ada klaim Hindu dan Budha-lah yang sebenarnya melahirkan peradaban itu.

Beragama [atau tidak] itu bukan urusan wartawan, bahkan bukan urusan negara sekalipun. Pilihan itu benar-benar murni dari hati! Bukan karena disodori jabatan, sandang pangan, atau bahkan ancaman kekerasan yang sering kita lihat di negeri ini. Saya bukan ahli agama, tapi soal memilh agama, yang saya tahu bukan karena “desakan” manusia lainnya, tapi desakan nuraninya sendiri. Apapun pilihannya.

Lalu bagaimana wartawan memaparkan kebebasan idealnya tanpa menjadi ‘kompor’ pertentangan secara tidak langsung? Buang, pandangan-pandangan picik dan kegembiraan ‘berlebihan’ dalam pemberitaan artis atau public figure yang pindah agama.  Wartawan jangan jadi hakim moral dan merasa berhak mencampuri pilihan seseorang.

Wartawan harus punya kesadaran individual yang paling dalam tentang pilihan religiusitas seseorang.  Wartawan harus pandai mencermati “fatwa-fatwa” atau “surat gembala”  yang sebenarnya bisa dikritisi lebih baik.  Ketika kita menerima segala sesuatunya mentah-mentah –meski kadang-kadang diembeli ayat-ayat pendukung—sebenarnya kita menjadi “katak dalam tempurung” yang tak bisa melihat dunia lebih lebih luas dan lapang.

Saya menentang jurnalisme sektarian seperti itu…

Benarkah Musik Indie [Akan] Makin Berjaya?

Saya tergelitik dengan salah satu komentar Mas Bens Leo, salah satu wartawan musik senior yang kerap didapuk sebaga pengamat dan “peramal” untuk arah industri setiap tahun baru. Dalam salah satu komentar di media di Jakarta, Mas Ben mengatakan: “Musik indie akan makin Berjaya!”

IMG-20151028-WA0004

RENTDO – Kompilasi Musikini Vol. 1 — [Foto: Pepen Buez]

DALAM beberapa tulisan saya di blog atau komentar saya ketika ngobrol dengan banyak musisi, saya konsisten mengatakan bahwa dikotomi Indie dan non-indie sudah seharusnya tidak ada lagi. Mengapa? Karena dalam perjalanan waktu dan perubahan yang dialami industri musik Indonesia, komparasi seperti itu hanya buang-buang energy. Seolah selalu ada “perlawanan” dari bawah tanah kepada aksi atas tanah. Saya harus mengatakan, Mas Bens gegabah dan masih dengan patron lama ketika berkomentar seperti itu.

Ada beberapa contoh yang disebut, semisal Sheila on 7 yang lepas dari Sony Music Entertainment Indonersia dan Raisa yang tidak lagi bersama Unversal Music Indonesia. Dua nama popular dengan fans yang cukup besar ini, memilih “indie”untuk debut lagu atau album sesudahnya. Sudut pandang yang mengarahkan adanya perlawanan itulah yang saya tidak terlalu sepakat.

Sheila on 7 mengakhiri kontrak dengan label yang membesarkannya, bukan untuk “menghukum” lantaran banyak hak-hak mereka yang konon diabaikan. Rumor itu berkembang sedemikian rupa hingga membuat seolah inilah arah baru musik yang paling baik, berdiri sendiri. Yang terjadi sebenarnya adalah: Sheila on 7 benar-benar ingin membuat musik yang mereka sukai, distribusi yang mereka atur sendiri, dan promosi yang mereka juga akan atur sendiri. Semangat indipenden dan tidak melulu tergantung kepada label itulah yang mereka kembangkan. Mengapa baru sekarang?

Jangan bodoh dengan pertanyaan itu. Kalau kita ibaratkan, industri musik itu seperti mozaik yang amat besat. Untuk bisa menemukan potongan-potongannya, perlu belajar dan kerja keras, disertai semangat anti menyerah dalam jangka pendek. Mereka yang berhasil di jalur indipenden, tetap saja harus membuat perencanaan dan mapping  untuk mengetahui peta industri dan musikalitas yang mereka tawarkan.  Jangan sok tahu dan merasa amat paham industrinya dan serta merta memilh jalur sendiri. Dijamin bakal belepotan.

JAKAPLUS3

The Jaka Plus — Foto: Pepen Bluez

Bahkan label yang diklaim sebagai label independen pun melakukan distribusi dan promosi dengan jalur mainstream. Perbedaan hanya pada musikalitas yang mereka edarkan, tidak melulu pada musik yang sedang tren, tapi musik yang mereka suka meski mungkin tidak sedang jadi tren. Sukur-sukur bisa menciptakan tren sendiri. Yang paling penting dari semuanya, siapapun harus punya link atau akses ke industri musik manapun di dunia. Kalau hanya mengandalkan promosi mainstream, untuk pergerakan awal mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau mau menggurita, tidak ada ampun lagi.

Memberi perbandingan soal indie dan non-indie di era sekarang, buat saya sudah amat menggelikan. Mereka punya alur dan kebebasannya masing-masing kok. Mas Bens Leo, bagaimana kalau Anda perbaiki komentar Anda?