Homophobia di Industri Musik Indonesia: Ketidakadilan atau Penerimaan Semu?

Apa hubungan karya musik dengan orientasi seksual? Kalau itu ditanyakan kepada musisi-musisi yang sudah sahih disebut musisi, nyaris tidak ada bedanya. Kemampuan berkarya, berrmusik, dan mencipta lagu yang dimiliki seseorang, tidak ditentukan oleh orientasi seksualnya. Mau dia lesbian, homoseksual, atau transgender,  semuanya bisa melahirkan karya terapiknya. Yang jadi masalah –ini di Indonesia— pandangan “sinis” bahwa mereka yang masuk kategori LGBT sering dianggap “menyimpang”.  Apakah kemudian karyanya kemudian disebut “musik menyimpang?”

“musik itu melihat karya, bukan orientasi seksualnya.”

SAYA sebenarnya tidak terlalu memusingkan orientasi seksual musisi Indonesia. Selama mereka punya karya yang apik dan bisa saya nikmati, saya akan menikmatinya. Sampai suatu ketika ada sebuah pertanyaan yang tampaknya “iseng” tapi sebenarnya tidak: “Kalau homoseksual [atau transgender] bikin lagu, apakah kemudian lagunya lebih feminim ketimbang musisi lainnya?”

Dua tahun lalu, saya pernah mengupas tuntas bagaimana sejatinya kehidupan gay dan lesbian dalam industri musik Indonesia. Responnya cukup mencengangkan, karena kemudian banyak sahabat saya yang menjadi bagian dari LGBT merasa bahwa mereka selama ini seperti “dilihat aneh” hanya karena pilihan orientasi seksualnya. Padahal secara karya, tidak ada yang berbeda. Malah beberapa diantaranya terrmasuk salah satu musisi yang bisa disebut berrkualitas secara karya dan pencapaian.

Menurut Rosario, Schrimshaw, Hunter, Braun [2006], “Perkembangan identitas seksual lesbian, gay, atau biseksual adalah suatu proses yang kompleks dan seringkali sulit. Tidak seperti anggota kelompok minoritas lainnya [misalnya, minoritas etnis dan ras], sebagian besar individu ini tidak dibesarkan dalam komunitas serupa dimana mereka dapat belajar tentang identitasnya dan mematangkan dan mendukung identitas itu. Sebaliknya, individu ini sering dibesarkan dalam komunitas yang abai atau secara terbuka memusuhi homoseksualitas dan lesbian.”

Kembali pada ranah industri musik Indonesia. Saya belum menemukan literasi yang kuat soal LGBT dalam musik Indonesia [karena setiap mencari, masuknya ke link tulisan saya sendiri], tapi saya mencoba mengutip tesis yang dilakukan Paula Krisanty, mahasiswi Indoensia yang kuliah di Universitas Mahidol Thailand. Secara spesifik, Paula mencermati kehidupan eksekutif muda gay di Jakarta. Secara umum, musisi di Jakarta bisa dikatagorikan dengan eksekutif muda, karena pola kehidupannya sebenarnya tidak terlalu beda jauh.

“LGBT di industri musik indonesia, diperlakukan tidak adil, atau diterima secara semu?”

Menurut Paula yang saya kutip utuh dari suarakita.com: Di dalam tesis Krisanty (2007) ini dijelaskan bagaimana orientasi seksual mereka diterima dan dipahami oleh masyarakat, yang masih berpikir bahwa homoseksualitas adalah sebuah keburukan, mengarahkan mereka dalam bersikap dalam lingkungan kerja, bersifat professional tanpa melibatkan perasaan cinta.

Di dalam penelitian ini banyak di expose bagaimana rasanya menjadi gay di perkotaan. Menurut para informan, menjadi gay adalah suatu kebanggan bagi mereka yang mengarahkan mereka bagaimana mereka melakukan “body project” untuk memenuhi subjektivitas seksual mereka di era metroseksual ini. Penelitian ini juga melihat bagaimana wacana di media tentang gay seringkali membuat citra teman-teman gay jadi buruk, salah satunya adalah wacana tentang “gay identik dengan HIV-AIDS”.

“Dengan semua ketakutan itu, saya bisa mengerti kalau kawan-kawan musisi yang gay atau lesbian itu, tidak punya keberanian untuk mengungkapkan jatidirinya,” imbuh Makki Parikesit, basis Ungu kepada penulis.

Musik Menyimpang?

Entah serius atau diucapkan dalam konteks guyonan tidak pada tempatnya, banyak kawan-kawan saya yang menyebut karya yang dihasilkan oleh LGBT sebagai “karya yang menyyimpang”. Begitukah? Banyak yang tiba-tiba berhenti mengidolakan penyanyi atau band karena akhirnya tahu mereka gay atau lesbian. Kok begitu?

Menurut seorang pengamat budaya yang saya temui, Manusia itu tidak bebas nilai. Selalu terikat akan identitas yang dibawa. Makanya sulit untuk objektif. Termasuk saat mengetahui idolanya gay atau lesbian. Penyanyi itu istilahnya jadi satu paket. Bukan hanya menjual suara, tapi juga penampilan, gaya, pola hidup, attitude, dll.”  Ari –nama pengamat itu—kadang heran, ketika tiba-tiba memutuskan “pengidolaan“ hanya karena pengakuan gay dan lesbiannya. “Sebenarnya dan seharusnya, idola itu kemudian pada karya, bukan pada sosok semata,” imbuhnya. Pendapat yang seharusnya diamini.

Lalu dimana letak penyimpangan musikalnya? Dalam kacamata Dika ADA Band, industri musik dan hiburan di Indonesia, sebenarnya juga tidak menolak. “Secara tidak langsung, industri musik dan hiburan di Indonesia dan banyak menggunakan jasa mereka. Kemudian mengakomodir penampilan mereka, meski dengan balutan yang macam-macam supaya tidak kentara,” paparnya. Dika justru lebih “sedih” ketika media [hiburan] mengeksploitasi LGBT dalam parodi fisik yang benar-benar tidak lucu. “Itu yang harus dikritisi, bukan mereka yang dihindari hanya karena mengaku LGBT padahal sudah memberikan karya terbaiknya.

Beberapa musisi lain yang sempat ngobrol dengan saya malah tegas mengatakan: “Tidak ada masalah dengan orientasi seksual, pandangan jender atau perbedaan pandangan politik apapun. Semua berpulang kepada karyanya kok. Peduli setan dia gay, lesbian atau tidak punya orientasi apapun. selama karyanya bagus dan layak diapresiasi, kenapa tidak?”

Dimana penyimpangan musikalnya? Dan apa yang menyimpang dari karyanya?

Musisi, Anak Band, Fans, Bolo-Dupak Musik, Gedibal & Anggota Semprulisme: Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan

RITUAL tahunan bernama Idul Fitri itu, akhirnya bakal tiba. Acara mudik –yang konon hanya ada di Indonesia—mulai berdenyut.  Semua rute darat laut udara, ludes demi sebuah ritual bernama lebaran dan mudik.  Semua perputaran uang mulai bergeser ke daerah-daerah tujuan mudik. Tersenyumlah Wonogiri, Solo, Lampung, Jogjakarta, dan sekitarnya. Karena menurut pengamat ekonomi, perputaran uang yang dibawa ketika Lebaran tiba mencapai trilyunan rupiah.

Untuk yang melakukan puasa di Bulan Ramadhan, Idul Fitri menjadi momentum untuk menjadi pemenang. Pelaku puasa itu berhasil melewati banyak hal selama sebulan. Anger Management  yang ketat, toleransi [yang harusnya] makin meningkat, dan urusan syahwat yang diikat. Tidak mutlak, karena toh ada toleransi untuk hal-hal lain yang disetujui. Tapi semua menjadi begitu “kuat” selama sebulan Ramadhan ini.

Saya menikmati Lebaran sebagai proses ‘liminal” –ini istilah yang dikatakan oleh Victor Turner—yang artinya pada momen inilah, agama persis berdiri pada sebuah perbatasan, ia ada di “dalam” tetap sekaligus “di luar” dirinya.  Lebaran kini menjadi “festival” milik sebuah peradaban bernama manusia. Di Indonesia, sulit mengatakan Lebaran hanya milik umat muslim, karena sudah menjadi lintas sosial dari banyak kehidupan manusia.  Lebaran tidak hanya milik mereka yang selama Ramadhan berpuasa penuh, tapi juga milik mereka yang mungkin selama hidupnya tidak pernah berpuasa.  Lebaran sudah tidak lagi milik “kami” tapi lebur menjadi milik “kita”.

Memang, selebrasi maaf makin lama makin menjadi ritual basa-basi dan tanpa makna lagi. Tapi hal yang menarik adalah, Lebaran selalu mempertemukan manusia pada kesetaraan. Selalu menempatkan “kita” pada paradigma yang sejajar. Lebaran menjadi mengharukan, karena momentum ini selalu memperhadapkan emosi, mentalitas [dan ekonomi tentu saja],  pada titik yang disepakati. Tidak menjadi umat yang “terisolasi” tapi umat yang [harusnya] solidaritas.

Raya bernama Lebaran ini memang menyajikan banyak harapan setiap tahunnya. Disana ada melankolisasi, ada denyut konsumerisme, ada pembersihan diri [yang konon, benar-benar fitrah]. Meski denominasinya makin beragam, tafsirnya makin marak, implikasi sosial ekonominya makin dianggap sebagai ‘keberuntungan’ daerah tujuan mudik, Lebaran [harusnya] tak melulu jadi ‘festival sosial’ yang sekadar numpang lewat.

Saya memaknai, Lebaran adalah khittah fresh untuk makin menyapa orang-orang yang menderita, mendermakan kemanusiaan kepada manusia secara setara, mengampuni sebagai satu roh hakiki, dan memberi kegembiraan rohani untuk keluar dari dari tempurung bernama kesombongan. Bukankah hakikat Idul Fitri adalah pembebasan yang utuh, bukan sekedar memaafkan omong kosong?

Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan.

Melawan Jurnalisme Sektarian [Bukan Untuk Kalangan Sendiri]

BERITA –bukan sekadar isu—perpindahan agama public figure, selalu menarik perhatian. Belum lagi kasak-kusuk di belakangnya, yang kadang lebih heboh ketimbang “pencerahan spiritualitas” pelakunya. Kini, Lukman Sardi, aktor kelas Piala Citra itu, lagi “dibedah” dari semua lini, ketika menyatakan diri masuk agama Kristen. Media memang “bahagia” ketika ranah privat manusia dengan penciptanya bisa dikupas tuntas, seolah mereka adalah Tuhan yang berhak memberi penghakiman.

jurnalisme sektarian itu bahaya!

jurnalisme sektarian itu bahaya!

ANDA mungkin sekarang sedang aktif membaca berita Lukman Sardi itu. Mungkin mendengar presenter  infotainment akan bertutur lengkap dengan penjelasan dari A sampai Z? Apa yang Anda rasakan? Kegembiraan karena seorang publik figur pindah agama sama dengan Anda? Ikut menghujat karena pindah agama yang berbeda dengan Anda?

Berita-berita di atas disampaikan dan ditulis bukan oleh media yang mengkhususkan diri pada agama tertentu [meski media-media khusus itu biasanya juga mengulas panjang lebar]. Media-media itu media sekuler yang ditonton oleh kalangan heterogen. Media-media itu menampilkan audio dan visual, yang bisa menimbulkan banyak interpretasi. Apalagi diimbuhi pendapat tokoh agama atau yang ditokohkan untuk sekadar mencari pembanding.

Media –tanpa menyebut satu media tertentu— begitu bangga memberitakan soal keributan keluarga yang –konon— salah satu alasannya adalah si artis pindah agama. Media begitu bangga menulis panjang lebar  tentang perasaan “nyaman” si artis setelah pindah agama [dengan embel-embel dibanding agama terdahulu]. Media begitu bersorak ketika seorang artis menemukan pencerahan  dan masuk agama tertentu.

Apakah salah jurnalisme –yang penulis sebut jurnalisme sektarian—seperti itu?  Lantas bagaimana dengan media yang jelas-jelas menjurus ke arah sektarianisme?

Menurut hemat saya, informasi-informasi sektarian seperti itu sepantasnya diletakkan dalam porsi yang tidak terlalu mencorong. Bukan persoalan agamanya yang penting, tapi persoalan kehidupan yang bisa dilihat [karena yang tidak bisa dilihat, sudah masuk urusan privat] yang seharusnya menjadi pertimbangan.

Meskipun kata “agama” sering didefinsikan secara berbeda-beda oleh para ahli, penulis cenderung menerima kata ini sebagai istilah praktis yang bisa kita pakai untuk menyebut sistem kepercayaan manapun, entah Islam, Kristen, Budha, Hindu, bahkan yang tak beragama sekalipun. Kita sedikit “melambung”  ketika disebut_sebut nyaris semua agama melahirkan peradaban besar. Fatal yang menyebut hanya Islam yang melahirkan peradaban besar! Fatal pula hanya Kristen yang menciptakan quantum leap peradaban!  Fatal juga ketika ada klaim Hindu dan Budha-lah yang sebenarnya melahirkan peradaban itu.

Beragama [atau tidak] itu bukan urusan wartawan, bahkan bukan urusan negara sekalipun. Pilihan itu benar-benar murni dari hati! Bukan karena disodori jabatan, sandang pangan, atau bahkan ancaman kekerasan yang sering kita lihat di negeri ini. Saya bukan ahli agama, tapi soal memilh agama, yang saya tahu bukan karena “desakan” manusia lainnya, tapi desakan nuraninya sendiri. Apapun pilihannya.

Lalu bagaimana wartawan memaparkan kebebasan idealnya tanpa menjadi ‘kompor’ pertentangan secara tidak langsung? Buang, pandangan-pandangan picik dan kegembiraan ‘berlebihan’ dalam pemberitaan artis atau public figure yang pindah agama.  Wartawan jangan jadi hakim moral dan merasa berhak mencampuri pilihan seseorang.

Wartawan harus punya kesadaran individual yang paling dalam tentang pilihan religiusitas seseorang.  Wartawan harus pandai mencermati “fatwa-fatwa” atau “surat gembala”  yang sebenarnya bisa dikritisi lebih baik.  Ketika kita menerima segala sesuatunya mentah-mentah –meski kadang-kadang diembeli ayat-ayat pendukung—sebenarnya kita menjadi “katak dalam tempurung” yang tak bisa melihat dunia lebih lebih luas dan lapang.

Saya menentang jurnalisme sektarian seperti itu…

Bahkan Jadi INSTAN Pun Butuh Proses!

Suatu malam, usai pulang dari kantor, aku mampir ke salah satu warung roti panggang arah rumahku. Tempatnya bersih dan terlihat rapi ketimbang warung-warung ropang –begitu biasanya tulisan besar-besar di depan warung—lainnya. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku, tapi satu poster besar dengan kata-kata: “bahkan yang instan pun perlu proses untuk membuatnya”.

hei...! tidak ada suksees yang instant. semua itu butuh proses untuk mencapainya.

hei…! tidak ada suksees yang instant. semua itu butuh proses untuk mencapainya.

Malam ini, aku seperti mendapat pencerahan dari kata-kata di poster warung itu. Berkeliling dan berjumpa dengan banyak musisi, artis dan selebritis, aku banyak belajar tentang arti kata: proses. Mengapa? Karena belakangan kata itu makin sulit diterima oleh mereka-mereka yang ingin mencari popularitas dengan cara instan dan kilat. Contohnya: banyak artis rela dengan bodohnya membuat setingan isu tidak penting, untuk menarik perhatian khalayak. Berhasilkah? Kalau sekadar diperhatikan berhasil, tapi jangan lelah kalau kemudian “disiksa” dengan kata-kata yang makin menyakitkan.

Menuju puncak itu harus melewati jalan terjal yang tidak mudah dilewati. Ada banyak kerikil dan hambatan yang harus bisa dilalui supaya selamat sampai di tujuan. Banyak penggemar bertanya, bagaimana akhirnya bisa meraih sukses seperti idolanya. Atau artis bertanya kepada manajernya, bagaimana menghasilkan uang dengan cepat, setelah dirinya dinobatkan sebagai artis. Seolah semua materi dan sukses itu seperti Midas, disentuh langsung jadi emas. Helllloooowwww…………

Ketika menjadi manajer artis, aku banyak memberikan catatan kritis. Salah satunya adalah: bersabar dengan proses. Semua strategi promosi tentu akan dilakukan, dengan berbargai kreatifitas yang out of the box. Tapi ketika semua [seolah] berjalan lambat, protes dan pertanyaan seolah tidak melakukan apa-apa akan bermunculan. Maunya, keluar karya [bisa single atau album], langsung ngetop.

Saya selalu ingat dengan Iwan Fals. Ketika masih belum dikenal tahun 70an, Iwan benar-benar menjadi pengamen keliling. Malu? Tidak, karena dia sadar dengan risiko pilihannya. Tapi ternyata di jalananlah kepekaan social, dan mampu mendengar suara marjinal terasah dengan baik. Alhasil, ketika sudah dianggap “manusia ½ dewa” oleh penggemarnya, Iwan toh masih bisa berceloteh soal ketidakadilan dan keserakahan dengan bahasa yang masih galak. Tapi ingat, prosesnya amat panjang dan Iwan punya napas panjang untuk bertahan dengan konsistensi.

Jangan heran, profesi yang diidamkan oleh anak muda Indonesia sekarang ini adalah menjadi artis! Tentu saja televisi yang menyorongkan glamour dan [seolah] semua artis hidup mewah, juga jadi pemicunya. Seolah dengan heboh di televisi numpang lewat, disebut artis, semuanya akan serba mudah. Mereka seolah lupa, proses disebut sukses itu, ada banyak tangga.

Saya hanya membayangkan kata-kata di warung ropang itu: “bahkan yang instan pun, perlu proses untuk membuatnya.” Kalian yang tidak sekolah pun, harusnya bisa memahami hal itu bukan? Selamat menemukan pencerahan…..

Sex, Drugs & Alcohol: Sudah Harus Jadi Jargon Basi Anak Band

KALAU popularitas dimaknai sebagai satu superioritas atas pihak lain [yang tidak popular], maka ketika banyak musisi [yang popular] dan laki-laki, memanfaatkan popularitasnya untuk menggaet perempuan yang terpukau [atau tertipu] dengan popularitasnya, dia merasa superior. Memanfaatkan popularitas sebaga garba seksual sesaat. Kalau mau dibuat confession atau pengakuan dosa, setiap musisi nyaris semua punya cerita di lini ini.

musisi harus identik dengan seks, drugs dan rock n'roll? sorry bro, itu zaman dulu....

musisi harus identik dengan seks, drugs dan rock n’roll? sorry bro, itu zaman dulu….

JARGON sex, drugs & rock n’roll  seolah jadi penegas, bahwa musisi selain berkarya apik, juga punya target sampingan yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani. Tak melulu seks, hubungan dengan perempuan atau [ada juga] yang laki-laki dengan laki-laki, tapi juga eksistensi semua dengan drugs. Entah apa yang ada di benak mereka itu, ketika keterkenalan menjalari, bukannya menjadi satu ikon yang menjadi inspirasi, tapi malah ikon imitasi.

Entah beruntung entah buntung, saya termasuk orang yang tahu banyak kelakuan musisi–musisi yang sekarang disebut papan atas di jagat musik Indonesia. Benar, kelakuan mereka ketika sedang tur di luar kota. Benar, kelakuan mereka yang kerap menyanyikan lagu reliji di atas panggung, tapi kemudian mencari biji di luar panggung. Apakah saya harus mengatakan mereka tidak bermoral? Wah, kalau urusan moral atau tidak, bukan urusan saya lagi. Ranah itu sudah masuk personal, yang saya pun tak punya hak mengaturnya.

Tapi jika dilekatkan pada nama-nama rockstar—yang seolah-olah identik dengan keliaran—masihkah itu berarti martabat turun? Dalam wacana popularitas dan industri musik yang hingar-bingar, names make news, dan tentu saja bad news is good news. Semakin heboh skandal yang mereka ciptakan, justru semakin tinggi ketenaran terdongkrak. Dan skandal itu tak pernah jauh dari selangkangan, botol alkohol, dan zat-zat terlarang.

keterkenalan melahirkan groupies. haruskah dianggap sebagai kenikmatan sesaat ?

keterkenalan melahirkan groupies. haruskah dianggap sebagai kenikmatan sesaat?

Entah kapan tradisi sex and drugs itu dimulai, apakah mereka meniru musisi-musisi asing yang selaku digambarkan flamboyant, dandy, cool, dan dikelilingi perempuan-perempuan yang siap untuk diapakan saja? Kepuasan ini mempengaruhi cara pandang si pendengar terhadap si pemusik. Si pemusik menjadi tampak hebat, keren, gagah, dahsyat dan indah. Si pendengar menjadi kagum, suka, hormat, cinta dan bahkan memuja si pemusik. Apapun yang dilakukan si pemusik tampak hebat, benar, masuk akal, keren. Bisa bertemu muka, berjabat tangan, berfoto bersama, ngobrol, menjadi pengalaman yang luar biasa. Pokoknya, si pemusik itu hebat! Nyaris persis seperti pada orang jatuh cinta.

Atau secara naluriah, laki-laki memang harus merasa superior dengan menaklukkan wanita, termasuk urusan seksual sesaat dengan groupies? Dalam perspektif feminis, apa yang saya tulis di atas tentu akan dibantah. Mereka hanya melihat bahwa laki-laki selalu [benar, selalu] men-subordinasi perempuan dalam semua lini. Meski perempuan itu punya kekuatan yang besar, tapi anggapan itu tetaplah ada. Apakah itu yang kemudian dianut oleh musisi-musisi penikmat sesaat tubuh perempuan itu? Popularitas menjadi katalisator untuk mencuatkan kelakuan atas nama superioritas laki-laki itu.

Saya pernah menulis, musik bukanlah bahasa konvensional seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Cina, dan lain-lain. Namun sebagai sebuah sistem yang mampu mewakili suasana, perasaan, bahkan gagasan, musik mampu melampaui bahasa konvensional dalam menyampaikan apa yang dikandungnya secara universal. Sayangnya, masih kerap terkungkung dengan budaya patriarkhi yang amat kuat.

rockstar is more sex? fuck off...

rockstar is more sex? fuck off…

Bahwa identifikasi laki-laki, terkenal, tampan, punya materi dan [mungkin] terlihat atau terdengar romantic, selalu dan masih jadi acuan perempuan yang rela menyerahkan raga dan raganya dengan cuma-cuma. Apakah kemudian kita harus menyalahkan perempuan yang kerap kalian tuding “gatel” itu? Tanpa harus menjadi munafik, saya menolak menyalahkan perempuan. Mengapa?

Dalam konteks tulisan saya ini, laki-lakilah biang keroknya. Popularitas membuat musisi yang lagi ngetop itu menjadi durjana pemetik bunga. Bahwa keterkenalan itu menjadi akses, saya setuju. Tapi kalau kemudian akses itu ternyata “jebakan betmen” untuk sekadar bersenang-senang dan kemudian “bangga” berkata-kata: “Gue Rockstar Sejati!” saya harus bilang, ada yang salah dengan konstruksi otaknya alias korsleting.

Kalian termasuk musisi korsleting juga?

“Lagu Recycle” — Istilah Salah Yang Diulang-Ulang

SEDERHANA saja, persoalan semantik bahasa. Tapi kalau dibiarkan berlarut-larut, ada salah kaprah yang benar-benar salah.  Hal itu sering diucapkan oleh jurnalis, musisi, label, atau pengamat musik. Tentang istilah recycle musik. 

Kata Marcell: "Tidak ada istilah musik recycle, karena tidak da musik sampah dari lagu yang indah." -- foto: temenmarcell.wordpress.com

Kata Marcell: “Tidak ada istilah musik recycle, karena tidak ada musik sampah dari lagu yang indah.” — foto: temenmarcell.wordpress.com

DALAM banyak kesempatan, saya [dan mungkin juga Anda] sering mendengar istilah musisi yang me-recycle lagu lama untuk dibawakan kembali. Awalnya, saya termasuk jurnalis yang menggunakan istilah itu sampai pada suatu kesempatan, seorang kawan mewawancarai Marcell Siahaan dan mendapat pencerahan soal salah kaprah penggunaan istilah itu.

Recycle adalah salah satu bagian dari 3R [reuse, reduce, dan recycle] maupun 4R [3R + replace] dan 5R [4R + replant]. Secara singkat, recycle dapat diartikan sebagai daur ulang. Pengertian ini berarti merupakan sebuah proses mengolah kembali sampah atau benda-benda bekas menjadi barang atau produk baru yang memiliki nilai manfaat. Dengan kata lain juga, istilah recycle ini kemudian identik dengan sampah, bukan hal lain.

Dalam pernyataannya, Marcell  mengatakan:

“Istilah recycle menurut saya adalah hasil cuci otak yang salah, karena istilah ini hanya ada di dunia persampahan. Yang saya nyanyikan ini adalah lagu-lagu indah dan bagus, bukan lagu-lagu sampah. Ini adalah album cover song saya. Semua yang ada di album ini, adalah idola-idola saya. Mindset saya justru tribute, untuk menciptakan starting point yang all out.  Dan buat saya, ini tidak mematikan kreatifitas. Ada banyak re-interpretasi di dalamnya. Dan itu lebih menegangkan. Ini untuk menepis anggapan dangkal, cover song bukan dilakukan karena sudah kehabisan ide.”

Jadi saya hanya ingin menegaskan saja, bahwa tidak ada lagu yang sampah, tidak ada lagu yang tercipta dengan buruk, atau lagu yang tercipta karena kedangkalan penciptanya. Karya yang sudah lahir, apapun bentuknya, adalah satu kemenangan indah. Mereka –musisi itu—berhasil melewati satu babak sulit dalam berkarya.  Tidak ada lagu recycle, karena karya itu bukan karya sampah. Ketika dinyanyikan ulang, selalu ada re-interpretasi yang tidak mudah. Dan itu namanya cover song, bukan recycle. Tidak ada istilah lagu daur ulang, karena daur ulang itu hanya sampah. Yang ada adalah lagu kover, yang artinya dinyanyikan ulang dengan pemahaman baru.

++

Pemahaman lain yang perlu diperjelas adalah penggunakan istilah vintage dalam lagu. Ini juga salah kaprah yang kerap terjadi. Banyak jurnalis yang memakai istilah vintage ketika ada musisi yang cover song lagu dari musisi lawas. Semisal Memes yang bersama suaminya, Addie MS membuat re-interpretasi atas lagu-lagu Ismail Marzuki. Banyak media yang menulis, Memes membawakan lagu vintage. Hmm, kesalahan yang berulang.

Menurut Kamus Oxford, kata “vintage” itu bisa berarti “old and of very high quality”. Bila ditarik garis pengertian secara global, vintage dimaknai sebagai barang-barang yang diproduksi di masa kini, tapi memiliki model klasik dan antik, yang mengingatkan kita pada barang-barang yang berasal dari dekade ’20 hingga ’30-an. Lebih kepada barang sebenarnya.

Lalu istilah apa yang cocok untuk satu lagu yang abadi meski kuno? Mengapa kita tidak menggunakan istilah “abadi” saja? Atau kalau mau sok-sokan Bahasa Inggris, silakan gunakan kata everlasting atau eternal. Tampaknya istilah yang sederhana, tapi terlalu banyak jurnalis yang meremehkan dan salah pula.

Mulailah menulis yang benar bung!

Mau Dibawa Kemana Musikmu?

Bermusik, entah hanya sebagai aktivitas iseng, atau profesi, harusnya punya pilihan yang jelas. Pilihan jelas itu artinya, tahu musik yang dimainkannya, tahu arah kariernya dan tahu mau serius atau hanya senang-senang berhadiah saja. Ibarat percintaan, harus ada kejelasan, mau dibawa kemana hubungan yang sudah dijalin itu. Begitulah musik.

lou reed memberi wejangan kepada personel band

lou reed memberi wejangan kepada personel band

KETIKA masih banyak yang memasalahkan indie dan non-indie, kita harusnya tak lagi berkutat di area perdebatan itu. Biarlah dimana saja posisi musical kita, karya agunglah yang lahir dari kreatifitas kita. Bukan perdebatan kosong yang buang-buang energi tanpa hasil. Bagi saya, sudah tidak penting perbedaan indie dan non indie itu. Kejelasan sikap, sebenarnya lebih kepada strategi promo dan target pasar yang kita incar. Tapi saran saya: berkarya saja, tidak usah pusingkan hal lain.

Ketika masih banyak musisi yang menghujat genre lain yang dianggap tidak selevel dan hanya genre milik kaum ‘marjinal’ atau pinggiran saja, kita harusnya bisa lebih menghargai apapun genre di luar yang kita mainkan. Biarkah saya melayu mendayu, rock bergaung, jazz bergema atau bahkan dangdut berdendang. Tidak ada yang salah bukan? Kalau Anda tidak suka dengan salah satunya, silakan tutup kuping atau dengar saja yag Anda suka. Habis perkara. Jadi mengapa kita pusing dan repot berkomentar bahwa genre yang kita mainkan adalah yang terbaik?

"mau dibawa kemana hubungan asmara kita?"

mau dibawa kemana hubungan asmara kita?”

Sikap yang jelas dalam bermusik juga akan membantu kita mengatur promosi yang tepat. Misalnya kita jelas-jelas memilih jazz sebagai dasar bermusik, tentu tidak akan melakukan promosi di ajang festival dangdut bukan? Meskipun sekarang banyak yang melakukan crossover dalam musik, tapi kejelasan sikap itu menjadi satu patokan penting.

Lalu bagaimana dengan musisi yang gonta-ganti genre? Hari ini main di pop, besok di dangdut, lusa ikut rock atau minggu depan sok-sokan ngejazz.  Saya lebih suka menyebutnya musisi opurtunis, pandai memanfaatkan peluang saja. Apakah salah? Tentu saja tidak bilamana dia memang mendapat penghidupan yang baik, tanpa punya konistensi atas satu genre tertentu saja. Biasanya penyanyi kafe punya kecenderungan seperti itu, meski secara personal mungkin punya pilihan sendiri. Musisi opurtunis [atau bisa disebut juga musisi bunglon -red], mungkin adalah musisi yang mencoba survive di semua jatuh bangunnya industri musik itu sendiri.

Hubungan yang jelas antara musik dan musisinya, biasanya juga akan melahirkan sinergi yang apik dan unik. Kalau Anda punya hubungan tanpa status atau teman tapi mesra dengan industri musik, rasanya perlu banyak berbenah. Kalau tidak, Anda mungkin hanya dianggap ‘menclok-menclok’ doang, dan itu tidak melahirkan karakter yang jelas menggambarkan musisinya.

Sudah siap punya hubungan yang jelas dengan musik Anda? Atau masih bertanya: “mau dibawa kemana hubungan ini?”

Hidup Dari Musik? Ah, Kenthir Kamu…….

Siapapun musisinya, ketika berani mengatakan “berani hidup dari musik!” sebenarnya adalah orang “gila”.  Saya lebih suka menyebutnya dengan kosa kata Jawa, kenthir. Mengapa? Profesi musisi, adalah profesi “kasino” kalau istilah saya. Ada “perjudian” dengan pilihan itu. Memang, hidup ini seperti roda kata orang, tidak bisa ditebak kapan di atas, atau nyusruk di bawah. Dan menjadi musisi, adalah kegilaan yang harus diperhitungkan cermat. Kalau tidak, dijamin kenthir beneran.

Jadi Musisi Serius? Ah, Kenthir Kamu.....

Jadi Musisi Serius? Ah, Kenthir Kamu…..

MASIH banyak –atau nyaris semua—bahwa menjadi musisi itu identik dengan keren, ganteng, digilai cewek [atau cowok juga], dan star, bisa popstar, rockstar, jazz star, atau dangdut star mungkin. Tapi saya harus tegaskan sekali lagi, itu identifikasi profesi musisi yang salah kaprah, kalau tidak saya sebut salah total.  Menjadi musisi yang sesungguhnya, artinya kalian harus kompetitif, karena banyak yang lebih jago, lebih ganteng, lebih piawai, atau lebih bermodal. Diluar itu, pengetahuan tentang musik yang dipilihnya juga harus jelas.

Saya pernah mengutip pendapat seorang penulis buku musik di Amerika, bahwa industri musik itu industri yang “kejam” karena kalau Anda tidak siap, industri ini akan menerkam mati dan memuntahkan Anda sebagai kotoran.  Terbaca terlalu sarkastis? Bagaimana kalau saya bilang kenyataannya memang begitu? Mundur dari cita-cita jadi musisikah?

Saya akan mencoba memberikan alurnya dalam konteks yang sederhana. Kalau ada pertanyaan, apakah Anda seorang musisi yang cukup punya kemampuan? Kalau jawabannya tidak, Anda harus meyakini instrument musik yang Anda sukai, dan mulailah berlatih, berlatih dan berlatih. Ingat dong istilah ‘practice makes perfect’ itu? Latihanlah yang membuat Anda sempurna, bukan bakat doang.  Tapi kalau Anda menjawab iya, segeralah berlatih dan aktifkan kemampuan terbaikmu.

Bagaimana kalau ternyata banyak yang lebih hebat ketimbang Anda? Catat baik-baik: jangan malu, gengsi, ragu dan sungkan untuk bertanya, melihat, atau minta latihan bareng dengan musisi yang Anda anggap jauh lebih hebat secara skill dengan Anda. Lambat laun apa yang Anda bayangkan –selama konsisten—akan dapat Anda raih. Bakal sukses? Wah, saya tidak bisa menjamin soal itu, tapi paling tidak apa yang Anda raih itu juga bermanfaat untuk diri Anda sendiri bukan?

Secara teoritis, musisi yang bisa meraih sukses dengan baik dan benar, sejatinya bisa “dicuri” rahasianya. Memang tidak ada jaminan, rahasia ini bakal melambungkan karier dan nama Anda, tapi Anda bisa banyaj belajar sebelum terjun ke industri yang sesuangguhnya.

  1. Jadi Musisi Itu Kudu Fokus, Tidak Punya Pilihan Lain

Konsistensi atas pilihannya, menjadi satu kunci penting untuk pencapaian selanjutnya. Kalau Anda sudah memutuskan menjadi musisi, jangan ada lagi pikiran bayar utang, bayar listrik, bayar telpon, atau cicilan motor. Idealis? Mungkin. Tapi bukankah memang seseorang harus memperjuangkan apa yang ingin diraihnya bukan?

  1. Bekerja Keras dan Mendidik Diri Sendiri

Selain berlatih dan mau belajar banyak hal di seputar musik dan industrinya, seorang musisi juga harus mau belajar tak hanya soal musik, tapi juga attitude, sopan santun, dan cara berkomunikasi dengan orang lain.  Musisi harus mendidik dirinya sendiri untuk tahu banyak hal positif di industri musik. Musisi harus bisa jadi musisi, manajer, pelayan, player,  dalam arti yang baik. Kalau belum-belum sudah berasa seperti artis besar, saya haqul yakin, nama besarnya bakal cepat terguling.

  1. Berani Ambil Risiko Dengan Kehidupannya

Siapa bisa jamin, musisi yang misalnya merilis album atau single, bakal langsung sukses secara popularitas dan materi. Tapi ketika sudah memutuskan jadi musisi dalam segala bentuknya, Anda harus persiapkan diri dengan hal-hal tak terduga yang bakal melibatkan keluarga Anda. Secara financial, kalau meledak acaranya, tentu tak jadi masalah, tapi kalau sepi dan gagal? Musisi yang fulltime itu sudah sangat paham atas pilihannya.

  1. Gigih dan Pantang Menyerah

Kalau belum-belum sudah langsung pingin ngetop dengan jalan pintas, apapun bentuknya, saya jamin tidak akan berhasil. Prosentasenya kecil sekali yang lolos dari jalan pentas itu. Sebagai musisi, Anda harus punya sikap yang jelas, apa pun pilihan Anda sejatinya. Perjuangkan dan raih apa yang sudah kalian impikan.

  1. Menikmati Pilihan Dengan Gembira

Jangan pernah menyesal dengan pilihan Anda. Hanya karena gagal jadi penyanyi, Anda kemudian nglokro tak mau ngapa-ngapain, jelek-jelekin orang lain. Kegembiraan atas pilihan Anda sebagai musisi, patut dirayakan dengan cihuy. Apapun hasilnya, Anda harus bergembira dan keluar dari mainstream.

  1. Kreatifitas Tanpa Henti

Pilihan Anda sebagai musisi menuntut Anda kreatif. Artinya, banyak cara untuk Anda dikenal dengan baik, positif dan menyenangkan.  Kalau kreatifitas Anda tumpul atau mati, yakinkan diri Anda lagi dengan pilihan sebagai musisi. Masih belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar, jadi orang biasa lagi.  Musisi sukses itu tidak dilahirkan, tapi diciptakan.

+++

Apakah dengan tetekbengek yang sekarang keluar, bisa mencuri perhatian kemudian linier dengan sukses? Tentu saja tidak, ada pengorbanan, pertengkaran, dan ada kompromi yang harus dilakukan. Ritual sebelum masuk label besar memang begitu, tak ada maksud apa-apa sekadar mengingat kembali kenthir besarnya.