Musisi Senior: Buku Sejarah Yang Hidup

Bukan untuk mendikotomikan senior junior kalau judul di atas saya angkat. Juga bukan untuk mengagungkan senior melulu sebagai panutan. Karena senior dan junior di musik, sejatinya hanya persoalan siapa yang duluan berkiprah dan memahami industrinya. Tapi sebagai satu lintasan sejarah, musisi senior tentu saja punya banyak kisah yang layak diceritakan. Buat saya, apapun kisah mereka, selalu menarik untuk disimak. 

"god bless, salah satu musisi senior yang bisa jadi referensi sejarah musik di Indonesia."

god bless, salah satu musisi senior yang bisa jadi referensi sejarah musik di Indonesia.”

KETIKA saya diundang menjadi salah satu pembicara dan melihat festival rock di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, saya berkenalan dengan Fadly –saya memanggilnya dengan Bang Fadly. Fadly termasuk musisi lawas seangkatan dengan Iwan Xaverius, eks basis Edane. Malah Fadly pernah satu band dengan Iwan tahun 80an ketika membentuk band bernama Biru. Sebagai gitaris masa lalu, kemampuan musikalnya masih cukup tajam ketika diajak ngejam di atas panggung. Buat saya, bukan hanya kemampuan musikalnya yang menarik, tapi kisah-kisah perjalanannya sebagai musisi. Banyak hal unik yang membuat saya tercengang.

Kami berbincang tentang banyak hal, khususnya tentang musisi di Tanjung Pinang. Dari obrolan singkat itulah, saya mendapat banyak wawasan tentang musik. Saya juga mendapat catatan sejarah, bahasa Indonesia ternyata muasalnya dari Tanjungpinang dan catatan sejarah itu ada di Pulau Penyengat. Beberapa musisi besar abad 18-20, juga banyak lahir di pulau ini. Diluar itu, kalau Anda ingat dengan Gurindam 12 Raja Ali Haji [jadi ingat pelajaran bahasa Indonesia SMP atau SMA], juga bermukim di Tanjungpinang.

Bagaimana kalau saya bilang sejarah musik Indonesia [baca: melayu] sejatinya sudah mulai beredar awal 1900an? Ada catatan sejarah soal ini, yang ditulis oleh John Anderson dalam bukunya Mission to The Eastcoast of Sumatera, yang mengatakan orang-orang Melayu sangat gemar musik. Begini kutipannya:

“Melayu di kwartal ini adalah orang-orang yang suka musik. Lagu mereka yang paling dikagumi pada masa itu adalah Lagu Dua, Siam, Chantik Manis, Gunong Sumbawa, Timang-timang, Samsam, Beranyut, Kuda Lengkong, Raja Beradu, Enak Semang, Timang Kelantan, Minto, Palembang, Melaka, Jawa, Enak Mambang, Deciong, Siak, dan Batak. Mereka memainkan alat musik sepeti biola, gendang, rebana, serunai, pipa, bangsi dan suling, , gong, simpang, gundir, kromong, instrumen yang terbuat dari tembaga, dan kecapi”

Tapi sebenarnya sejarah musikalnya jauh sebelum itu. Dalam catatan sejarah, musik [dan tari] Melayu berkembang karena pengaruh Kerajaan Melayu Aru yang berpusat di Deli dengan Malaka di abad 13. Membuat saya penasaran, karena informasi ini saya dapatkan dari musisi rock yang lama berkiprah di Jakarta dan kini kembali ke Tanjungpinang.

+++

Tulisan di atas, hanya bermula dari obrolan singkat dengan musisi senior yang ternyata peduli dengan sejarah musik dan budaya. Kita –yang jauh lebih muda—biasanya merasa lebih pandai, lebih jago, lebih skillfull ketimbang musisi-musisi lawas itu. Secara teknologi mungkin iya, kita bisa mendapatkan informasi apapun lewat internet. Tapi percayalah, tidak semua hal bisa kita temukan lewat teknologi.

Ketika kita bicara, berdialog dan berdiskusi dengan musisi senior, apapun genre musiknya, sebenarnya kita sedang membuka “buku sejarah” yang tidak akan kita temukan di internet sekali pun. Mereka –musisi senior itu—adalah buku sejarah yang hidup. Beruntungnya ketika kita bertemu mereka, kita mendapat catatan sejarah yang tak ternilai harganya.

Ketika Musisi Indonesia Buta Sejarah

Sebenarnya ironis, ketika musisi kita masih mengagulkan nama-nama besar musisi asing sebagai idola. Sementara, karena ketidaktahuan kita [baca: musisi], sebenarnya ada banyak musisi lokal yang jauh-jauh hari malah jadi idola musisi asing. Kita masih “buta sejarah” termasuk sejarah musik negeri sendiri.

Maestro Dalam Arti Sesungguhnya!

Maestro Dalam Arti Sesungguhnya! foto: ciputranews

PERCAYA atau tidak, sebenarnya banyak musisi lawas Indonesia yang secara kualitas permainan, sudah dianggap mendunia levelnya. Artinya, skill mereka layak disandingkan dengan nama-nama besar di dunia. Bedanya adalah, musisi Indonesia itu tidak terekspose mendunia. Tapi apakah musisi kelas dunia tahu? Sangat tahu. Musisi sekarang mana tahu penyanyi Sam Saimun? Saking terkenalnya, konon setiap manggung di Amerika Serikat, lagunya selalu diputar di Bandara dan diperlakukan seperti artis besar.

Saya pernah “sok-sokan” mau menulis buku tentang Perjalanan Musik Indonesia 1950-2000 tahun 2005-2006 silam. Beberapa data sekunder sudah saya kumpulkan, meski lagi-lagi terbentur akses dan literasi tentang sejarah musik khususnya era tahun 60 dan 70an. Meski sampai sekarang belum terselesaikan, tapi impian itu masih jadi obsesi saya untuk menyelesaikannya. Mengapa? Sebagai jurnalis musik, benar-benar menulis tentang musik dan industrinya, saya pribadi punya tanggungjawab moral untuk menyodorkan data dan fakta, bahwa musik Indonesia itu luarbiasa perkembangannya. Saya sering membayangkan, kalau kawan-kawan yang disebut “wartawan musik” itu punya kemauan menulis tentang musik dari semua lini, termasuk sejarahnya, literasi musik di Indonesia bakal dahsyat.

"Tielman Brothers: Pelopor Rock N'Roll, Bukan The Beatles"

Tielman Brothers: Pelopor Rock N’Roll, Bukan The Beatles”

Dalam satu obrolan singkat dengan seorang kawan musisi yang juga pengulik sejarah musik Indonesia, saya mendapat informasi bahwa sebutan maestro pada violinist Idris Sardi, bukan semata karena jam terbangnya yang sudah mendunia juga. Sebutan itu muncul karena Idris Sardi memainkan teknik biola yang berbeda dengan pemain biola kelas dunia lainnya. Hebatnya, tekniknya itu tidak akan ditemukan pada sekolah musik terbaik sekalipun di dunia. Idris mengadopsi teknik menggesek rebab di Jawa Barat dalam komposisi biolanya. Dan –konon—teknik itu hanya ada di Indonesia. Dan sebutan maestro itu bukan sebutan yang dimunculkan, tapi dibaptiskan karena kemampuannya.

Sekarang coba tanyakan, siapa sebenarnya pelopor rock n’roll dunia? Kalau jawaban kalian masih berkutat pada The Rolling Stones atau The Beatles, berarti wawasan musical kalian kudu diasah lagi. Kita harus bangga, pelopor rock ‘roll adalah Tielman Brothers, band asal Kupang yang besar di Belanda. Dalam kutipan yang sering diambil oleh jurnalis musik dunia, The Beatles mengaku inspirasi mereka salah satunya adalah Tielman Brothers.  Saya beruntung, tahun 2000an pernah bertemu, nonton dan ngobrol singkat dengan Andy Tielman, penggawa Tielman Brothers yang saat itu tersisa, karena lainnya sudah meninggal dunia. Menariknya, meski berdarah Kupang, tapi bahasa lokal yang dikuasainya malah logat Jawa Timuran.

The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah memopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore. Nah, berarti siapa meniru siapa? Masih banyak nama-nama “tersembunyi” yang bisa kita munculkan karena memang kualitas dan skillnya layak deretan legendaries.  Sebutlah Jopie Item atau Enteng Tanamal, dua musisi yang makin jarang diangkat. Padahal sekelas Donny Suhendra, gitaris jazz ciamik itu, mengaku “kelasnya dibawah” dua gitaris itu.

"Jopie Item: Salah Satu Gitaris Hebat Yang Dimilik Indonesia"

Jopie Item: Salah Satu Gitaris Hebat Yang Dimilik Indonesia”

Mengapa saya menulis nama-nama yang jarang ditulis itu? Karena saya ingat pesan Bung Karno: “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”.  Kalau rujukan musisi sekarang selalu kepada musisi barat, seharusnya kalian malu. Indonesia telah melahirkan kampium-kampiun yang tidak bisa dianggap remeh. Persoalannya: maukah musisi sekarang belajar dan mengenal sejarah musik negeri sendiri? Itu yang saya kuatirkan……

Cerita Tentang ‘Begal’ di Industri Musik

Saya termasuk orang yang meyakini, industri musik [Indonesia], tak akan pernah mati gaya. Meski tak sedikit yang menyebut, sedang kusut masai, tapi toh yang namanya kreatifitas tetap saja bertaburan. Tapi saya juga orang yang meyakini, di industri musik ini, tak semua pelakunya adalah “malaikat” dengan niat baik, tapi ada juga “dedemit” dengan niat sok baik.

"industri musik seperti predator"

industri musik seperti predator”

MENGAPA saya sebut sok baik? Diantara ribuan mungkin jutaan manusia yang bercita-cita jadi musisi, penyanyi atau sekadar disebut artis, selalu ada manusia lain yang paham betul “memanfaatkan” peluang itu dengan manis. Betul, memanfaatkan. Karena sejatinya mereka itu tak berniat membantu manusia lain yang punya cita-cita serius, tapi niatnya adalah menjadi predator atas kebodohan atau ketidaktahuan mereka yang punya cita-cita, punya dana, tapi tak punya akses atas cita-citanya itu.

Kecerobohan, ketidaktahuan, kebingungan, dan kebodohan band-band yang hanya modal semangat dan karya, dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang mengaku tahu, berniat membantu, dan memberi solusi, tapi sebenarnya mereka menghisap dan memeras air mata dan darah sampai kering.

Dalam bahasa Daylle Deanna Schwartz, –penulis buku laris tentang industri musik di Amerika Serikat– dalam bukunya Start & Run Your Own Record Label memaparkan dalam risetnya, bagaimana belakangan ini label rekaman independen tumbuh pesat di seantero dunia. Deanna memulai paparannya dengan mengatakan, memulai dan melahirkan sebuah label rekaman bukanlah perkara gampang.  Dalam bahasa Deanna, bisnis musik adalah binatang dalam dirinya sendiri. Mengunyah dan meludahkan seniman [baca: musisi] dari hari ke hari seenaknya.

"Hati-hati, di Industri Musik pun Banyak Penipu"

Hati-hati, di Industri Musik pun Banyak Penipu”

Apakah di industri musik Indonesia hal itu terjadi? Jawabnya adalah: BANGET! Banyak musisi yang merasa punya link, kemampuan, dan karya yang mereka anggap cukup layak, kemudian berusaha “menjerat” orang-orang bermodal tapi minim wawasan dan akses ke industri.  Targetnya? Maaf saja, saya bilang tetap uang. Saya tidak menafikan musisi, setengah musisi, atau calo-calo musical itu untuk mendapatkan uang atau materi lainnya, tapi caranya menggagahi ketidaktahuan untuk mengeruk materi, buat saya sudah seperti begal saja. Sebut saja begal musikal.

Dalam buku saya “Industri Musik [Nggak] Asyik” yang sudah terbit, saya pernah sedikit mengupas, bahwa ketika masuk ke industri musik, Anda yang berniat menjadi penyanyi harus bersiap secara mental, karena akan berhadapan dengan “tuhan” atau “malaikat” dan juga “iblis”. Jatuh ke sisi mana, tergantung kita. Tapi didunia inilah, kita diharap cerdas pada pilihan-pilihan itu. Mau cepat tanpa proses? Atau mau lewat proses yang sebenarnya, meski mungkin rada lambat?

Dalam catatan off the record saya, ada beberapa nama yang dimodali dana cukup besar,  sempat merilis single atau album, tapi kemudian tak terdengar gaungnya sama sekali. Dalam pengakuannya kepada saya, baik pemodal atau si penyanyi itu mengaku sudah menggelontorkan uang hingga milyaran rupiah. Sekadar catatan saja: kasus-kasus seperti ini tidak satu dua, tapi banyak sekali. Perhatikan saja berita infotainment, ketika banyak musisi besar digugat oleh penyanyi atau orang tua penyanyi yang ingin diorbitkan. Ujung-ujungnya memang ada perdamaian. Namun kita akhirnya tahu, ada banyak orang yang mengaku mampu, memanfaatkan mereka yang terang-terangan mengaku tidak mampu.

Mungkin suatu saat saya akan menulis tentang kisah-kisah “penipuan” atau “pengelabuan” kepada para pendatang baru itu. Eh, tak hanya pendatang baru ding, karena musisi lama yang mau eksis lagi, juga beberapa diantaranya sempat mengalami pembegalan itu. Siapa mereka? Ah, nanti saja deh ya. Tapi mau nebak-nebak sih tidak dilarang kok……;

Tanjungpinang Rockfest 2015: Impian Besar Memupus Rock Bergincu

Disela tren yang tidak mengarah kepada musik rock, beberapa daerah luar Jakarta malah menjadikan rock sebagai “duta besar” untuk daerahnya. Benarkah musik rock bisa jadi simbiosis mutualis dengan peradaban lain, sementara tudingan biang kerok kerusuhan dan narkoba masih amat melekat? Saya menemukan jawabannya ketika diundang ke Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.

"hajatan festival rock yang digelar di tanjungpinang"

“hajatan festival rock yang digelar di tanjungpinang”

Saya akan memulai catatan ini dengan satu kutipan: “Saat Anda menciptakan sebuah musik yang indah, Anda tidak akan pernah tahu berapa juta orang yang Anda beri manfaat karenanya.” Berkaca dari kutipan “sangar” itu, beberapa orang “gila rock” menggagas Tanjungpinang RockFest 2015.  Sayang, sinerginya masih tumpang tindih.

Di belahan dunia manapun, musik dikenal sebagai pemersatu yang paling menyenangkan. Ketika mendengar, melihat, atau mengapresiasi satu karya musik, sejatinya kita sedang menyiapkan perdamaian dan kedamaian. Banyak kota besar di negara lain, menjadikan musik sebagai ikon kota untuk mendatangkan ribuan bahkan jutaan penonton atau penikmat musik. Mimpi awal yang digagas Enda, dari Cikal Community –komunitas kreatifitas musisi muda Tanjungpinang- sejak tahun 1992, sebenarnya sudah berada di jalur yang benar. Konsep Tanjungpinang RockFest 2015 ini merupakan kompetisi band-band lokal, serta disokong penampilan band-band rock di seputaran Kepulauan Riau [Kepri].

Enda bolehlah disebut “orang gila” karena nekat menggelar event yang sempat terhenti beberapa tahun. Bagaimana tidak, impian menjadikan Tanjungpinang Rockfest 2015 akan dibawa mendunia, dikatakannya bukan sekadar basa-basi kosong.  Tentu saja akan menjadi basa-basi, kalau Cikal sebagai penggagas “berjalan” sendiri tanpa dukungan musisi kota, sponsor atau partnership dan media. Embrio besar inilah yang ingin dibagikan spiritnya kepada semua musisi di Tanjungpinang.

Tapi saya harus katakan, sinergi itu masih terkesan nanggung. Mengapa? Karena peran lain yang seharusnya dilakukan oleh musisi senior atau pemerintah lokal, terkesan setengah-setengah.  Memang, tidak semua yang duduk di pemerintahan suka musik, tidak semua musisi senior mau transfer of knowledge juga. Alhasil, kalau kemudian saya menyaksikan band-band yang tampil terlihat tanpa arahan, lemah referensi dan kurang pemahaman tentang industri musik global, saya cukup bisa mengerti. Pertanyannya, mau sampai kapan lemah begitu?

Saya yang berkesempatan berbagi pengalaman, sempat mendapat pertanyaan: “Apakah kami di Tanjung Pinang, harus mengikuit trend nasional untuk bisa masuk ke industri musik nasionak?” Jawaban saya memang sedikit abu-abu antara ya dan tidak. Ya, kalau memang targetnya ngetop dan sedikit didengar oleh praktisi musical dan label di Jakarta misalnya. Tidak, kalau impian mereka tak hanya masuk label, tapi juga berkarya sesuai hati. Kalau mikir label, ngetop, laku yang cukup memusingkan, bisa-bisa tak ada orang berkarya lagi. Bikin saja karyamu, urusan laku atau tidak, kesampingkan dulu.

Lalu, apakah kota-kota atau propinsi yang dianggap jauh dari ibukota Negara, tak punya kesempatan mewarnai industri musik nasional? Rasanya bodoh kalau jawaban kita, iya! Kota yang diklaim sebagai tempat lahirnya Bahasa Indonesia ini, punya “perwakilan” musisi yang cukup hebat. Mereka pernah melahirkan nama Opet [basis Gigi dan Tiket], Fahmi [violin Arwana], Irang Arkad [mantan vokalis BIP], dan almarhum Andi Liany. Artinya, ada yang bisa menyelip. Ini berlaku untuk kota manapun di Indonesia yang mungkin merasakan “minder” karena tak ada musisinya yang benar-benar dikenal.

Tanjungpinang Rockfest 2015 adalah festival “nekat” buat saya. Meski harus saya akui, dengan semua keterbatasannya, masih bisa digelar dengan baik. Mereka –penggagasnya– ingin rock tak lagi bergincu doang. Jangan dulu bandingkan dengan festival lain yang sudah established beberapa tahun di kota besar lainnya.  Rock juga ternyata adalah “belahan jiwa” daerah yang terkenal dengan Gurindam Dua Belasnya ini. Jadi, mimpi besar biarkan jadi mimpi besar, jangan dikecilkan atau malah dihilangkan.

Untuk mereka, saya ingin mengatakan: kita telah berhasil menciptakan senjata yang hebat, dan musik akan selalu berada dalam daftar senjata-senjata hebat tersebut. Karena musik adalah senjata paling hebat.

Cerita Tak Terceritakan di Industri Musik

Menjadi jurnalis, apapun bidangnya- sejatinya adalah bisa melihat yang tak dilihat. Mencari tahu, yang banyak orang [atau pembaca], tak tahu. Tak mudah memang, karena butuh kejelian dan kepekaan ditengah tuntutan pemberitaan yang bertubi-tubi dan [harus] cepat. Djoko Moernantyo –seorang jurnalis yang banyak meliput industri musik—termasuk yang rajin mencatat banyak cerita tercecer yang tak tercatat.

Buku yang mengupas sisi lain industri musik.

Buku yang mengupas sisi lain industri musik.

MATA jurnalis memang harus awas. Hal kecil yang terjadi di sekitar kita, mungkin “tampak” tak menarik, tapi ternyata bisa menjadi tulisan yang menggugah meski terkesan ringan. Di buku INDUSTRI MUSIK [NGGAK] ASYIK ini, Djoko –begitu sapaannya—mencoba menyusup ke area yang selama ini tak terjamah, paling tidak dalam pemberitaan besar—menjadikan tulisan ringan, menarik dan menyentil. Pengalamannya sebagai jurnalis musik, yang benar-benar menulis tentang musik dan industrinya, memberinya sudut pandang yang cukup renyah untuk mengulik apapun yang dilihatnya.

Seperti pengamatannya ketika ada pergeseran penonton konser. Penonton konser era sekarang, bukanlah penonton konser yang sesungguhnya. Karena ketika konser berlangsung, mereka akan selfie dan kemudian memamerkannnya di social media-nya. Hal ini jadi catatan, karena kemudian “sangat” mengganggu mereka yang benar-benar ingin menikmati konsernya. Itu salah satu catatan yang ada di buku ini.

Apa yang dicermati Djoko, menjadi catatan seorang Nini Sunny. Dalam kacamata wartawan senior ini, “Penulis buku ini menuliskan banyak sisi lain dari dunia musik  Indonesia, tempat dimana dia banyak melakukan liputan. Djoko dengan jeli menangkap beragam peristiwa yang terkesan biasa, namun memuat pesan mencerahkan. Karena sudut pandang tulisannya bukan hanya bermanfaat dalam memperkaya pengetahuan, namun juga bisa menggugah masyarakat untuk kembali bertindak sesuai etika yang sudah seharusnya berlaku.”

Tak banyak penulis, apalagi wartawan, yang berani memberikan catatan kritis dengan banyak alasan. Takut dianggap sok tahu, sungkan dengan senior, atau pemahaman tentang industrinya memang cetek. Di industri musik Indonesia, catatan kritis itu bertebaran di banyak blog, tapi nyaris tak ada yang “nekat” menjadikannya buku. Dalam keterbatasannya, Djoko berani mengumpulkan beberapa catatan pada industri musik yang memang digelutinya sebagai jurnalis. Dan buku ini adalah kacamata “antagonis” dari sebuah industri yang seharusnya menghibur.

Tulisan-tulisan dalam buku ini tentu bukan untuk menjadi “penghakim” tunggal, seolah tidak ada sisi menarik dan positif yang bisa diunggah. Penulisnya memilih menjadi penyeimbang, ketika banyak yang memberi pujian dan sanjungan. Seperti yang dikatakan oleh Calvin Jeremy, solois muda yang juga memberi kesaksian tentang buku ini: “Belum pernah ada buku yang mengulas tentang bagian [NGGAK] asiknya industri musik Indonesia. Rata-rata buku dan kontes menawarkan mimpi dan angan – angan besar buat jadi orang terkenal nomer 3 setelah Tuhan dan presiden. Bagian paling seru dari buku ini adalah tentang “Kutukan Star Syndrome”. Buat yang terkena kutukan itu, please tell me, where are “they” now?”

Buku ini bukan panduan untuk masuk industri musik, malah sebaliknya: menegaskan kesiapan siapapun yang punya cita-cita masuk industri. Kalau masih coba-coba, tanpa persiapan dan skill yang memadai, lebih baik urungkan. Agak melawan arus ya?

Dalam sudut pandangnya sebagai jurnalis, Djoko Moernantyo memilih mencatat,  menulis dan memberi keabadian semua cerita yang dilakoninya di industri musik, dalam sebuah buku. Keabadian dunia musik yang asyik, yang memberinya banyak pertanyaan, meski tak semua selalu memberikan jawaban.  Sekadar penegasan, buku ini bukan untuk membuktikan ‘kadar intelektual’ tapi menjadi sumbangan kecil untuk industri musik. Semoga ada mata musisi yang membaca, telinga produser mendengar dan pikiran penikmat musik mencerna dengan sederhana dan jujur.