Kutipan

BUKU “INDUSTRI MUSIK [NGGAK] ASYIK” – Catatan Kritis Seorang Jurnalis

Julius Pour, seorang wartawan dan penulis biografi tokoh-tokoh terkenal, pernah mengatakan: “Wartawan yang tidak menulis buku, ibarat raja tanpa mahkota.” Kata-kata itu sederhana, tapi tidak mudah untuk digagas eksekusinya. Djoko Moernantyo, memilih untuk memiliki mahkota lewat buku ini. 

fresh from the oven - kover buku 'Industri Musik [Nggak] Asyik'

fresh from the oven – kover buku ‘Industri Musik [Nggak] Asyik’

SEBAGAI seorang jurnalis, Djoko punya rentang yang cukup panjang di beberapa bidang penugasan dan dari media yang berbeda. Dari harian, mingguan, bulanan, hingga media online. Tapi semuanya nyaris punya ujung yang sama: musik. Tulisannya beredar dari blog, hingga menjadi kontributor beberapa media hiburan dan lifestyle. Sampai akhirnya kini didapuk menjadi editor salah satu majalah musik di Jakarta.

Buku INDUSTRI MUSIK [NGGAK] ASYIK ini sebenarnya bukan buku pertamanya, ada beberapa buku lain yang sudah diterbitkan. Tapi yang terang-terangan mengupas musik dari sisi yang berbeda sudut pandangnya, buku inilah ‘anak’ pertamanya.  Beberapa judul dalam buku setebal 134 halaman ini, sebenarnya sudah pernah diulas dalam blog pribadinya. Tapi rasanya tak menjadi basi juga, ketika tulisan itu diangkat kembali dalam buku ini.

Menulis yang tak tertulis. Mungkin begitulah pelangi yang ada di buku ini. Hal-hal yang selama ini hanya jadi kasak-kusuk, atau malah ‘obrolan warung kopi’ bisa jadi tulisan ringan yang enak dibaca, sedikit nyentil, tapi punya bobot yang bisa dipertanggungjawabkan. Semisal soal curhatan musisi yang ditawari pembajak untuk dibajak dan diedarkan ke seluruh tanah air dengan biaya “hanya” 20 juta saja. Sudah rahasia umum? Mungkin, tapi ketika jadi tulisan, kita tetap terperangah. Loh, ada toh? Atau penonton konser yang tak pernah memperhatikan konsernya, karena sibuk selfie saja. Aktual bukan?

Djoko Moernantyo mungkin golongan wartawan yang kikrik [Jawa=rewel].  Dia memosisikan dirinya sebagai jurnalis musik yang selalu bertanya dengan kritis, riweuh membaca, dan “memaksa diri” untuk menulis setiap hari,.  Jurnalis asal Semarang ini juga mencatat setiap hal ringan, yang terjadi di antara jurnalis dan narasumber. Kedekatannya dengan musisi, label atau promotor musik, tak menghalanginya untuk memberi catatan kritis sebagai penyeimbang pujian yang sudah segambreng dituliskan.

Dalam bahasa Niny Sunny, seorang jurnalis musik senior dalam testimoninya:  “Penulis buku ini menuliskan banyak sisi lain dari dunia musik  Indonesia, tempat di mana ia banyak melakukan liputan. Ia dengan jeli menangkap beragam peristiwa yang terkesan biasa, namun memuat pesan mencerahkan. Karena sudut pandang tulisannya bukan hanya bermanfaat dalam memperkaya pengetahuan, namun juga bisa menggugah masyarakat untuk kembali bertindak sesuai etika yang sudah seharusnya berlaku.”

Mungkin Anda mengenal jurnalis musik yang hebat, jurnalis musik yang terkenal, jurnalis musik yang komentarnya muncul setiap hari di banyak media. Djoko Moernantyo memilih berada di pinggir hingar bingar itu, menulis dan memberi keabadian semua cerita yang dilakoninya di industri musik, dalam sebuah buku. Keabadian dunia musik yang asyik, yang memberinya banyak pertanyaan, tapi tak selalu memberikan jawaban.

Belum pernah ada buku yang mengulas tentang bagian [NGGAK] asyiknya industri musik Indonesia. Rata-rata buku dan kontes menawarkan mimpi dan angan-angan besar buat jadi orang terkenal nomor 3 setelah Tuhan dan presiden. Buku ini menjadi sangat wajib dibaca buat mereka yang bermimpi menjadikan industri musik ini pelabuhan terakhir hidup mereka!

Sumbangan kecil untuk industri musik.

Bapakku: Antara Komunis, Basiyo, Nyi Tjondrolukito & Syekh Siti Jenar

INI kisah tentang bapak saya. Betul bapak yang saya kagumi pemikiran dan sikap ketika berhuhungan dengan manusia lain. Tapi bapak saya ini juga memberi pengaruh musikal yang unik kepada saya.  Betul, tulisan ini memang masih ‘bau-bau’ musik.

Soal bagaimana latar belakang bapak, saya sudah pernah menulis dan malah sudah jadi buku yang dijual umum. Meski lebih berkarakter pemikir, tapi bapak saya adalah aktivis kiri yang cukup disegani. Bukan karena bapak sendiri, saya ngoceh seperti itu. Tapi hasil “obrolan” singkat saya dengan kawan-kawannya, setiap ada acara kumpul-kumpul di rumah. Yah jangan bayangkan bapak gaul ala rockstar, karena justru bapak saya ini sedikit “anti” dengan yang namanya rock n’roll.  Sisa pemikiran ‘komunis’ yang anti pada semua yang berbau barat [bapak lebih suka menyebutnya dengan kapitalis].

Nyi Condrolukito: sinden favorit bapkku

Nyi Tjondrolukito: sinden favorit bapkku

Lalu apakah bapak saya yang pendiam itu anti dengan musik? Nanti dulu. Saya harus bilang, kuping saya ini pertama mendengar musik karena bapak. Dari saya kecil, nyaris setiap pagi –betul, setiap pagi—lewat tape merek sharp jadulnya, suara Condro Lukito, sinden kesayangan bapak berkumandang.  Saya hapal, karena kasetnya sampai sekarang masih tersimpan rapi di lemarin, bersanding dengan keris-keris warisan mbahKung saya. Tak cuma itu,  rengeng-rengeng alunan keroncong yang disuarakan Toto Salmon dan Sundari Soekotjo juga kerap beredar di pagi hari. Tapi jangan coba nyetel keroncong-pop ala Hetty Koes Endang, bapak bisa protes karena dianggap “merusak” tatanan estetika keroncong.

syekh siti jenar, salah satu pemikir islam yang progresif

syekh siti jenar, salah satu pemikir islam yang progresif

Bapak saya juga amat nasionalis. Koleksi lagu-lagu perjuangannya segambreng Itu memudahkan saya ketika SMP dapat tugas bikin ilustrasi musik untuk drama perjuangan. Kalau lagi muter lagu tersebut, suasana rumah sudah kaya upacara 17an saja.  Hal lain yang membuat saya sampai sekarang masih terkenang juga adalah koleksi kaset ketoprak. Mendengarnya saja, saya seperti ikut suasana di dalamnya. Dan cerita ketoprak yang paling saya suka adalah Kisah Syekh Siti Jenar. Lucunya, kami harus ngedengerin sambil ngumpet, karena cerita itu sempat dilarang oleh Kejaksaan Agung. Dan harus saya akui, sampai sekarang saya ‘ngefans’ dengan pemikiran Syekh Siti Jenar itu. Apa itu? Nanti deh kapan-kapan saya ulas tentang wali yang dianggap kontroversial itu.

basiyo, senimana paling lucu pada masanya

basiyo, seniman paling lucu pada masanya

Suaranya tidak fals ketika nembang. Koleksi lirik nembangnya segambreng. Ketika SD ada ujian nembang, saya lulus dengan sukses, karena memang tiap hari mendengar bapak nembang. Kemudian saya terkontaminasi dengan Basiyo, pelawak legendaris yang kasetnya juga bapak koleksi. Padahal ketika itu, yang ngetop adalah Ki Narto Sabdho, yang sayangnya malah bapak tidak suka. “Terlalu ngacak-acak pakem” kata bapak.  Bapak memang penyuka kesenian tradisi yang mainstream, tanpa utak-atik.

Satu hal yang tidak kesampaian saya wujudkan adalah: nari Jawa di depan bapak. Impian terbesar bapak adalah melihat anaknya nari Jawa di panggung [apapun]. Meski sempat menguasai tari MenakJinggo, saya tak pernah berkesempatan tampil di atas panggung. Jujur, ketika itu agak malas sebenarnya. “Kesalahan” yang baru saya sadari belakangan.

“Perlawanan” saya kepada bapak dimulai ketika SMP.  Bapak yang anti musik ngak ngik ngok [oh ya, bapak sangat Soekarnois], “terpaksa” harus mendengar musik yang saya putar kencang-kencang di kamar. Dari Led Zeppelin, The Rolling Stones, Accept, Krokus, Eddy Peregrina, sampai Iwan Fals dan Franky & Jane. Koleksi yang saya comot dari lemari kakak tertua, yang ketika itu sudah bekerja dan bisa membeli kaset yang dia sukai. Untungnya bapak bukan tipe otoriter yang melarang kami memutarnya. Hanya ketika kami berdiskusi –ngobrol agak serius—biasanya topik soal musik ngak ngik ngok itu, disisipkan. Ha..ha, sayangnya udah nggak mempan.

Kerinduan saya sekarang adalah mendengar musik yang bapak suka. Sayangnya, kini bapak lebih suka menyimak berita-berita politik di televisi, menjadi komentator dadakan, dan memilih siaran radio Australia dari radio MW/SW-nya. Oh ya, mereka radio transistornya: National dan masih awet sampai sekarang.  Kelak, saya akan menyimak semua kaset yang jadi artefak masa lalu itu.

Kangen.

Musisi Pegadaian atau Musisi Totalitas: Pilihan Kompetisi Eksistensi

Menggadaikan Musikalitas? Pertanyaan sinis itu muncul ketika bayak musisi yang sebelumnya dikenal sebagai musisi salah satu genre, kemudian “meloncat” ke genre lain.  Alasannya: trennya sedang disitu! Industri musik malah jadi pegadaian pelaku-pelakunya ya? 

kata om fariz rm: totalitas bermusik itu harga mati! -- foto: fx ismanto/tribun

kata om fariz rm: totalitas bermusik itu harga mati! — foto: fx ismanto/tribun

SEGMENTASI sukses atau personifikasi sukses memang bisa berbeda-beda pada setiap manusia, kalau dalam konteks ini adalah musisi. Tapi dalam realita yang sesungguhnya, sebenarnya bisa di-breakdown langkah menuju sukses itu. Paling tidak, seorang musisi tahu bagaimana memertahankan suksesnya. Banyak orang mengatakan, bahwa kita harus pandai ‘berhitung’ dengan situasi dan kondisi kekinian. Apakah itu kemudian berarti musisi harus “menyiasati” kesulitan musikalitasnya dengan kompromi habis-habisan terhadap tren?

Beberapa musisi yang dihubungi, tidak semua menampik dalil itu.  Ully Dalimunthe, musisi dan produser, mengatakan tidak ada larangan untuk mengikuti tren. “Setiap musisi berhak untuk hidup atas karyanya sendiri kok,” ujar musisi yang sempat jadi produser untuk Dewi Sandra dan Ari Lasso itu. Ully menolak musisi yang melakukan hal itu kemudian disebut “menggadaikan” idealisme bermusiknya. “Apa yang tergadai? Toh dia bisa melakukan apa yang dia suka kok, “ celetuk drummer dgank ini yakin.

Berbeda dengan Ully, Vidi Aldiano memilih melakukan apa yang dia suka, tidak peduli apakah itu disebut kompromi atau tidak. Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, cowok yang sempat sekolah di Amerika Serikat ini melakukan aktivitas musikalnya sesuai hatinya saja. “Bahkan kalau pun itu disebut keluar jalur atau tidak mainstream, saya tidak peduli, selama saya nyaman dan senang melakukannya,” ujar solois yang kini memilih jalur independen tak terikat label lagi untuk jalur distribusi. Meski belum teruji waktu, tapi apa yang dilakukan Vidi juga jadi salah satu cara kreatif untuk membuat eksistensi berkaryanya tetap terjaga.

Fariz Roestam Moenaf atau lebih dikenal dengan Fariz RM punya catatan soal konsistensi ini. Dalam bukunya Living In Harmony: Jati Diri, Ketekunan dan Norma, musisi yang sudah menciptakan lebih dari 1000 lagu ini, jelas-jelas mengatakan: konsistensi adalah hal terpenting dari seorang musisi. Konsistensi relasinya dengan totalitas. Terlepas dari perilakunya yang masih berdekatan dengan narkoba, Fariz termasuk musisi yang konsisten dan total. Meski karyanya tak terhitung, tapi om dari Sherima ini berani menolak tawaran musikal yang notabene tidak sesuai dengan kata hatinya. “Totalitas adalah harga mati untuk musisi,” tegas ayah tiga anak ini seperti dikutip dalam bukunya.

Sebagai industri kreatif, industri musik Indonesia sekarang berada titik puncaknya. Ada banyak band baru dengan genre yang berbeda-beda dan bisa diterima masyarakat dengan baik. Malah beberapa diantaranya punya massa yang cukup fanatik. Bermunculan band-band atau solois dengan tipikal khas dan unik. Saya cukup terpukau dengan Tulus, BesokBubar, Marjinal, Vadi Akbar, Yemima Hutapea, Jemima, Young deBrock, atau Mari Berkebun, yang berani total di tengah arus mainstream yang masih kuat.

Tapi kekaguman saya [harusnya[ tidak hanya berhenti pada sisi musikalitasnya saja. Saya masih mengamati beberapa band dan solois yang saya sebut itu, sampai sejauhmana kreatifitas musikal, dipadu dengan kreatifitas promosi, kreatifitas kemasan dan kreatifitas eksistensi, hingga mereka punya napas panjang di industri ini.

marjinal, band punk lokal yang sudah konser sampai jepang

marjinal, band punk lokal yang sudah konser sampai jepang

Saya mengamati band bernama Marjinal. Jangan lihat sosok personelnya yang terkesan “sangar” dan “medeni”. Rambut gondrong, tato, baju terkesan “kumuh” seperti jadi trademark mereka. Tapi simak usaha mereka diluar musik. Distro, percetakan, tatto studio dengan komunitasnya yang disebut TaringBabi, adalah lini usaha yang membuat band yang pernah manggung di Jepang dan Malaysia ini eksis dan tetap “hidup”. Ketika banjir besar di Jakarta beberapa waktu lalu, personelnya juga “terlibat” membantu warga sekitar. Meski mereka tidak lepas dari musibah itu.

Saya juga terkesan dengan Tulus. Pria jangkung dengan jambul yang “nggak banget” itu, kini menjelma menjadi salah satu popstar yang [amat] diperhitungkan. Saya punya cerita tentang cowok yang suaranya lembut itu. Beberapa tahun silam, saya mendapat kiriman CD bergambar waja “aneh” berjambul yang sangat close up. Tulisannya gede-gede: Tulus. Saya langsung berasumsi: “Ah, palingan penyanyi baru yang cari keberuntungan.” Kovernya jelek dan langsung saya simpan di koleksi CD tanpa saya buka plastiknya. Selang beberapa minggu, saya melihat chart salah satu majalah musik di Jakarta, dan namanya terpampang di peringkat 1.  Buru-buru saya cari CD-nya untuk mengusir rasa penasaran. Dan itulah Tulus, yang ternyata bukan judul album tapi nama penyanyinya.

mari berkebun. dulu, siapa mau pakai nama band 'aneh' dan 'nyeleneh' begitu?

mari berkebun. dulu, siapa mau pakai nama band ‘aneh’ dan ‘nyeleneh’ begitu?

Kreatifitas yang kini bertebaran adalah nama band yang unik. Dulu, siapa yang bakal nasih nama band dengan Buronan Mertua, The Produk Gagal, The PanasDalam, Sore, SuasanaSabtuPagi, Reuni Sabtu Sore, Mari Berkebun, atau BesokBubar? Malah saya sempat menemukan band “nekat” yang menamakan dirinya dengan Tuhan Band. Namanya sudah membuat saya menoleh.

Tentu saja tidak berhenti di nama yang nyeleneh itu, tapi karya tetaplah mahkota mereka. Kalau nama bagus, keren dan unik, tapi musikalitasnya acak adul, ya podo bae.

Tapi menyitir kata om Fariz RM: totalitas adalah harga mati!  Berani Om dan Tante?

SEMARANG MUSIKINI : Lahirnya Keberanian Atau Menguatnya Ketakutan?

Seandainya, semua daerah di Indonesia punya “kegilaan” yang sama, tentu industri musik Indonesia akan punya warna yang lebih menggila juga. Komunitas Pecinta Musik Semarang melakukannya dengan satu kesadaran: Musik harus bisa memberi arti untuk pendengar dan industrinya, apapun dan dimana pun itu.

"komunitas pecinta musik semarang, penggagas event SEMARANG MUSIKINI"

Komunitas Pecinta Musik Semarang, penggagas event SEMARANG MUSIKINI”

SEBAGAI satu daerah yang mulai disebut metropolitan, Semarang punya kisah “sedih” di ranah industri musik Indonesia. Tak banyak band dari ibukota Jawa Tengah ini, naik pentas ke level nasional. Saya tak bilang tak ada, tapi dengan sebutan “ibukota” kiprah mereka boleh disebut miris.  Secara nasional, orang mungkin hanya mengenal Power Slaves atau Tony Q sebagai wakil dari kota lunpia itu. Padahal sejatinya ada banyak nama yang bisa disebut, meski tak popular.

Beberapa tahun silam, saya pernah menulis tentang pemetaan daerah-daerah yang mejadi lumbung musisi nasional. Dan maaf, Semarang –ketika itu—tak masuk daerah utama, meski saya tulis sebagai daerah yang potensial. Karena memang minim, meski perkembangan musik di kotanya sendiri terhitung cukup menjanjikan. Ibukota Jawa Tengah ini punya posisi dilematis di Industri musik Indonesia. Seharusnya, dengan banyaknya pelajar dari banyak kota, Semarang bisa seperti Jogjakarta yang unik dan berhasil menelorkan musisi kelas nasional. Tapi mengapa sampai sekarang, tidak banyak band atau musisi asal Semarang yang menasional?

Iklim bermusik di kota ini sebenarnya cukup padat, tapi karakter musikalnya ternyata tidak cukup kuat ketika harus menembus level nasional. Konon kabarnya, komunitas musiknya tidak cukup kompak ketika ada band yang mencoba masuk ke level nasional. Bukannya didukung, alih-alih malah “dihujat” kalau tidak sama dengan genre yang mereka anut. Sebuah kebodohan kalau hal itu benar terjadi. Sampai sekarang, tidak terlalu banyak band asal Semarang yang layak disebut menasional.

Alhasil ketika saya dikontak untuk terlibat dalam helatan bertajuk ‘SEMARANG MUSIKINI’ ada semacam keterkejutan, tapi juga sebuah antusiasme. Bukan persoalan primordialnya, tapi keberanian menggagas satu event yang terbilang nekat sebenarnya. Nekat? Betul, karena digagas tanpa sponsor, benar-benar menggandalkan idealisme dan [tentu saja] dana pribadi. Bukan itu yang saya soroti. Secara global, harusnya ini jadi gerakan masiv dari banyak musisi daerah lain, entah kota besar, entah kota kecil, untuk mengumpulkan talenta-talenta musisinya dan mewadahinya.

Dikemas dalam format pemilihan band atau solois terbaik, tapi peka dengan trend dan industri, gagasan ini menarik dari sudut industri musiknya. Pertama, ada sumbangan besar [kalau peminatnya banyak], untuk musisi baru yang mencoba masuk ke industri besarnya. Kedua, ada pembelajaran baru untuk musisi yang terlibat dalam kepanitiaan –kalau boleh saya sebut begitu—atau mungkin yang hanya sekadar dukungan moral. Ketiga, industri musiknya [mungkin] akan melirik Semarang sebagai salah satu potensi untuk musisi nasional. Apapun bentuknya. Keempat, sebagai daerah di luar Jakarta, tentu ada kebanggaan ketika karyanya bisa diapresiasi diluar “kampungnya”.

Tapi ada hal-hal lain yang harus “diwaspadai” ketika gerakan musisi luar Jakarta makin massive, yaitu: MENTAL. Termasuk ‘SEMARANG MUSIKINI’. Kecenderungan untuk merasa “bintang” ketika terpilih nanti, adalah penyakit yang harus disiapkan obatnya. Saya punya pengalaman bicara dan melihat ratusan band dari luar Jakarta yang punya kutukan star syndrome ini. Hasilnya? Kalau orang Semarang bilang: mbletho kas! Sudut pandang saya hanya satu: bakal melahirkan keberanian [untuk bersaing] atau malah menguatnya ketakutan [karena merasa ‘kecil’?]

Nah, Cah Semarang…mana suaramu?

Menulis Denny Sakrie – Perginya ‘Orang Tua’ si ‘Tukang Ngompor’

Sialan! Umpat Denny Sakrie setiap ketemu saya, lagi jalan sendirian, menenteng tas butut, topi pak Tino Sidin-nya dan dari jauh sudah saya teriakin: “Hoi orang tua, jalan sendirian kaya nggak laku aja!” Seraya terkejut, sambil nyengir DenSak –begitu saya memanggilnya—akan mengumpat ringan sambil kami bersalaman. Dan kami akan terlibat obrolan ringan seputar gossip musik –betul, gossip musik—sembari terkekeh kemudian. Renyah dan santai, karena meski usianya di atas saya, kadang-kadang istilah anak muda sekarang pun dia fasih mengucapkannya.

Denny Sakrie dan piringan hitam Black Is Black dari Trio Visca [courtesy to Agus WM].

Denny Sakrie dan piringan hitam Black Is Black dari Trio Visca [courtesy to Agus WM].

PERJALANAN MUSIK INDONESIA 1950-2000  adalah awal saya mengenal DenSak secara lebih intens. Betul, tulisan yang saya bold itu adalah impian saya ketika berencana menulis buku tentang musik Indonesia. Dari tahun 2000an, saya kumpulkan data primer yang susahnya setengah mati. Sampai akhirnya beberapa kawan jurnalis mengusulkan nama DenSak sebagai salah satu narasumber untuk data wawancara.

Dan tahun 2003 –saya lupa bulannya—saya menelponnya [dan Bens Leo] untuk wawancara. Yang terjadi bukan wawancara, karena kemudian kami ngobrol ngalor ngidul tentang musik Indonesia, apalagi ternyata sebelumnya ternyata kami pernah bertemu di KTS [hehe, lawas ya..Kafe Tenda Semanggi]. Ucapan yang saya ingat ketika kami berpisah: “Nanti gue bantu cari data buat buku loe.” Janji yang sampai meninggalnya, tak pernah ditepatinya. Meski sempat sedikit kesal, tapi justru itu membuat kami beberapa kali berdiskusi intens soal musik [Indonesia].

STC Senayan adalah tempat kami beberapa kali bertemu secara intens kemudian, Kantor saya di STC dan beberapa kali saya memergoki DenSak sedang duduk [lagi-lagi sendirian], sambil membaca buku, tetap dengan tas lusuh, kaos hitam, dan topi andalannya itu.”Gue ngantor kan bisa dimana-mana aja Jok. Dimana ada WiFi, disitu gue bisa ngantor, ha..ha,” celetuknya sambil terkekeh. Dasar maunya gratisan, biasanya begitu cela saya. Dan kemudian dia sempat minta beberapa majalah musik tempat saya bekerja, khususnya yang DenSak sempat berkontribusi tulisan. “Gue beberapa kali nulis, tapi nggak pernah dapat majalah lo nih,” protesnya. Oh ya, DenSak sempat membantu majalah saya ketika melakukan wawancara dengan gitaris Scott Henderson di HardRock Café [masih di eX ketika itu], sebelumnya sempat menulis topic utama tentang perkembangan fashion band Indonesia.

“Ah, teknis tulisannya belepotan nih!” Protes saya ketika memeriksa tulisan asli DenSak. Diluar urusan data dan wawasan musikalnya yang cukup komplet, teknis menulisnya kurang ciamik. DenSak biasanya tertawa dan hanya nyeletuk, “Maklum, generasi mesin ketik!” Ah, dasar orang tua, ha..ha…Beruntungnya, kelemahan teknisnya, ditutup dengan data-data tentang musik Indonesia yang saya sendiri kadang-kadang heran, dapat darimana tuh infonya. Kadang-kadang saya nyinyir baca tulisannya yang seperti memuja dan memuji satu band dengan “hebat”. “Emang sebagus yang DenSak tulis apa band itu,” sinis saya.

Cela-celaan ringan, adalah santapan ringan kami dan kawan-kawan jurnalis musik setiap bertemu dengan DenSak. Yang paling saya ingat ketika menjadi juri Bintang Asik Telkomsel 2014. Saya dan DenSak berbeda kelompok. Ketika harus memperkenalkan masing-masing anggota kelompoknya, kelompok saya berteriak paling keras lantaran anggota kelompok DenSak kami anggap “orang-orang tua dengan selera musik masa lalu” semua, ha..ha, dan kami tentu saja tertawa terbahak.

Ketika menjadi juri itulah, saya pribadi dan DenSak sempat saling “ngompor” soal nulis buku. Jujur saja, saya pasti “kalah” kalau ditanya berapa buku [musik] yang sudah diterbitkan dibanding pria yang kadang-kadang nyinyir dengan wartawan yang ngakunya liputan musik, tapi wawasan musikalnya cetek.  Tapi dari kompor-mengompor itulah, saya “menantang” diri sendiri, harus bisa menerbitkan buku musik sendiri. “Lo nulis buku apa? Biar nggak bentrok tema dengan buku yang gue tulis,” tanyanya suatu ketika. Dan ketika naskah saya sudah selesai, tinggal proses editing, DenSak malah “pergi” duluan.

3 Januari 2015 pukul  15.10:07, ketika sedang acara keluarga di Cileungsi, tiba-tiba ada SMS masuk dan menginformasikan Denny Sakrie meninggal karena serangan jantung. Langsung cek beberapa kawan yang dekat dengan dia, ternyata benar, DenSak –si orang tua itu—sudah menghadap Tuhan di usia 51 tahun. Kehilangan? Bukan saya doang, tapi industri musik Indonesia. Saya tidak peduli sebagai apa DenSak disebut di industri musik Indonesia, tapi yang jelas “warisan” tulisannya tidak bisa dianggap sedikit. Semoga semua tulisan aslinya terselamatkan, sehingga DenSak benar-benar meninggalkan artefak penting bahkan di saat jasadnya sudah tiada. Selamat Jalan, tetap bermusik dan menulis musik di alam barumu bro!

#DenSak menolak saya panggil Mas: “Panggil nama saja.”