Musisi, Ke-Malu-an & Telanjang Bulat

Ini kerap dipertanyakan oleh banyak orang, “apalagi yang kita punya, ketika rasa malu untuk tidak beradab pun sudah tak punya?”. Dalam situasional musical dan industrinya, saya pun mungkin akan bertanya seperti itu, “apalagi yang musisi punya, ketika rasa malu mengakui karya orang lain sebagai karyanya pun sudah tak punya.” 

Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

Benarkah Rasa Malu Sudah Mulai Pudar di Industri Musik Indonesia?

BERPIKIR menjalani hidup seutuhnya sebagai musisi, bukan perkara mudah dan ringan. Ada banyak pertimbangan soal masa depan ketika akhirnya benar-benar nekat menekuni profesi sebagai musisi. Profesi ini sebenarnya sama saja dengan profesi PNS, jurnalis, akuntan, atau waitress misalnya. Profesi musisi juga layak dituliskan di KTP dan seharusnya membuat bangga pemilik KTP-nya. Tapi musisi yang bagaimana yang bisa membuat bangga pelakunya, bukan profesi yang malah membuat malu. Malu?

Benar, rasa malu sudah mulai luntur tatkala kita diperhadapkan pada kenyataan, persaingan itu kadang-kadang mengabaikan rasa malu [dan beradab], hanya supaya kita bisa berada di puncak. Ok, menurut Wikipedia, “Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya. Penyandang rasa malu secara alami ingin menyembunyikan diri dari orang lain karena perasaan tidak nyaman jika perbuatannya diketahui oleh orang lain.”

Malu sekarang sudah mulai jadi artefak yang disimpan di museum-museum dan hanya dipertontonkan.

Sekadar berwacana, pada tahun 1948 Ruth Benedict seorang antroplog dalam bukunya yang berjudul The Chrysanthemum and the Sword, memperkenalkan istilah Shame Culture [budaya malu) dan Guilt Culture [budaya bersalah) yang digunakan sebagai dikotomi pembagian bagaimana pola pikir Barat dan Timur. Pola inilah yang kemudian dikembangkan dan menjadi tradisi budaya. Bangsa Timur, punya “budaya malu” yang amat kental, seperti misalnya di Jepang. Ketika mengalami kegagalan akan tugas yang diberikan, mereka akan sangat malu bahkan tidak sedikit yang sampai bunuh diri. Sementara di barat, selalu diwejangkan, bahkan “budaya bersalah” ketika mereka tidak taat dengabn aturan dan prosedur. Saya agak “resah” kalau mereka-mereka itu tinggal di Indonesia, karena dua budaya itu sudah mulai terkikis. Penganutnya malah terlihat menggelikan.

Seorang musisi yang hebat, mengaku karya-karyanya adalah original dan dibuat dengan olah pikir dan talenta yang dia miliki. Ketika kemudian terungkap bahwa musisi tesebut tidak hanya “terinspirasi” dengan amat detil, tapi juga amat sangat mirip dengan “inspirasinya” seharusnya dia punya malu untuk mengaku bahwa itu karya originalnya. Musisi lain begitu bangga mendeklarasikan dukungan sehingga lupa bahwa dia harus dibatasi rasa malu, ketika kemudian omongan, tindakan dan sikap di publiknya, tak pernah bisa jadi contoh.

Banyak musisi yang merasa dirinya hebat, punya talenta luarbiasa, dan skill memadai, merasa harga dirinya jatuh ketika ada manusia lain yang ternyata lebih jago, padahal mereka sudah koar-koar kemana-mana. Tak heran, setiap musisi yang ingin diakui eksistensi, atau yang sudah mulai merosoto eksistensinya, selalu berjuang, agar kalaupun berbuat salah, tidak ketahuan orang, atau tidak pernah kalah dalam bersaing dan juga selalu dihargai orang. Orang yang tidak peduli terhadap harga dirinya atau tidak pernah merasa malu, biasanya dianggap tidak beres. Meskipun sebenarnya tidak begitu juga.

Dalam agama Budha, ada istilah hiri. Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap batin yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Kemudian dalam konteks lain ada istilah Ottapa, yang artinya enggan berbuat salah atau jahat, sikap bathin yang merasa enggan tau taku takan akibat perbuata salah mapun jahat, baik melalui pikiran, kata-kata maupun perbuatan badan jasmani. Tentu tidak harus menjadi Budha untuk tahu soal itu.

Menjadi musisi, apapun posisinya di industri, harus berani “telanjang bulat” yang maknanya adalah: bisa mempertanggungjawabkan karya-karya yang dibuatnya secara gamblang dan terbuka. Ketiak musisi ini berdiversifikasi profesi, menjajal profesi lain, harusnya dia juga harus sadar diri dengan kemampuannya. Kalau merasa punya potensi, silakan, tapi kalau kemudian hanya mempermalukan diri sendiri, mendingan sadar diri saja sebelumnya. Kalau tak punya wawasan, hanya comot sana, comot sini, masihkah pantaskah disebut musisi bertalenta? Bagaimana kalau kemudian kita sebut: pemulung nada saja?

Jadi, masih adakah pemilik “malu” itu di industri musik Indonesia?

Musisi, Anak Band, Fans, Bolo-Dupak Musik, Gedibal & Anggota Semprulisme: Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan

RITUAL tahunan bernama Idul Fitri itu, akhirnya bakal tiba. Acara mudik –yang konon hanya ada di Indonesia—mulai berdenyut.  Semua rute darat laut udara, ludes demi sebuah ritual bernama lebaran dan mudik.  Semua perputaran uang mulai bergeser ke daerah-daerah tujuan mudik. Tersenyumlah Wonogiri, Solo, Lampung, Jogjakarta, dan sekitarnya. Karena menurut pengamat ekonomi, perputaran uang yang dibawa ketika Lebaran tiba mencapai trilyunan rupiah.

Untuk yang melakukan puasa di Bulan Ramadhan, Idul Fitri menjadi momentum untuk menjadi pemenang. Pelaku puasa itu berhasil melewati banyak hal selama sebulan. Anger Management  yang ketat, toleransi [yang harusnya] makin meningkat, dan urusan syahwat yang diikat. Tidak mutlak, karena toh ada toleransi untuk hal-hal lain yang disetujui. Tapi semua menjadi begitu “kuat” selama sebulan Ramadhan ini.

Saya menikmati Lebaran sebagai proses ‘liminal” –ini istilah yang dikatakan oleh Victor Turner—yang artinya pada momen inilah, agama persis berdiri pada sebuah perbatasan, ia ada di “dalam” tetap sekaligus “di luar” dirinya.  Lebaran kini menjadi “festival” milik sebuah peradaban bernama manusia. Di Indonesia, sulit mengatakan Lebaran hanya milik umat muslim, karena sudah menjadi lintas sosial dari banyak kehidupan manusia.  Lebaran tidak hanya milik mereka yang selama Ramadhan berpuasa penuh, tapi juga milik mereka yang mungkin selama hidupnya tidak pernah berpuasa.  Lebaran sudah tidak lagi milik “kami” tapi lebur menjadi milik “kita”.

Memang, selebrasi maaf makin lama makin menjadi ritual basa-basi dan tanpa makna lagi. Tapi hal yang menarik adalah, Lebaran selalu mempertemukan manusia pada kesetaraan. Selalu menempatkan “kita” pada paradigma yang sejajar. Lebaran menjadi mengharukan, karena momentum ini selalu memperhadapkan emosi, mentalitas [dan ekonomi tentu saja],  pada titik yang disepakati. Tidak menjadi umat yang “terisolasi” tapi umat yang [harusnya] solidaritas.

Raya bernama Lebaran ini memang menyajikan banyak harapan setiap tahunnya. Disana ada melankolisasi, ada denyut konsumerisme, ada pembersihan diri [yang konon, benar-benar fitrah]. Meski denominasinya makin beragam, tafsirnya makin marak, implikasi sosial ekonominya makin dianggap sebagai ‘keberuntungan’ daerah tujuan mudik, Lebaran [harusnya] tak melulu jadi ‘festival sosial’ yang sekadar numpang lewat.

Saya memaknai, Lebaran adalah khittah fresh untuk makin menyapa orang-orang yang menderita, mendermakan kemanusiaan kepada manusia secara setara, mengampuni sebagai satu roh hakiki, dan memberi kegembiraan rohani untuk keluar dari dari tempurung bernama kesombongan. Bukankah hakikat Idul Fitri adalah pembebasan yang utuh, bukan sekedar memaafkan omong kosong?

Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan.

Melawan Jurnalisme Sektarian [Bukan Untuk Kalangan Sendiri]

BERITA –bukan sekadar isu—perpindahan agama public figure, selalu menarik perhatian. Belum lagi kasak-kusuk di belakangnya, yang kadang lebih heboh ketimbang “pencerahan spiritualitas” pelakunya. Kini, Lukman Sardi, aktor kelas Piala Citra itu, lagi “dibedah” dari semua lini, ketika menyatakan diri masuk agama Kristen. Media memang “bahagia” ketika ranah privat manusia dengan penciptanya bisa dikupas tuntas, seolah mereka adalah Tuhan yang berhak memberi penghakiman.

jurnalisme sektarian itu bahaya!

jurnalisme sektarian itu bahaya!

ANDA mungkin sekarang sedang aktif membaca berita Lukman Sardi itu. Mungkin mendengar presenter  infotainment akan bertutur lengkap dengan penjelasan dari A sampai Z? Apa yang Anda rasakan? Kegembiraan karena seorang publik figur pindah agama sama dengan Anda? Ikut menghujat karena pindah agama yang berbeda dengan Anda?

Berita-berita di atas disampaikan dan ditulis bukan oleh media yang mengkhususkan diri pada agama tertentu [meski media-media khusus itu biasanya juga mengulas panjang lebar]. Media-media itu media sekuler yang ditonton oleh kalangan heterogen. Media-media itu menampilkan audio dan visual, yang bisa menimbulkan banyak interpretasi. Apalagi diimbuhi pendapat tokoh agama atau yang ditokohkan untuk sekadar mencari pembanding.

Media –tanpa menyebut satu media tertentu— begitu bangga memberitakan soal keributan keluarga yang –konon— salah satu alasannya adalah si artis pindah agama. Media begitu bangga menulis panjang lebar  tentang perasaan “nyaman” si artis setelah pindah agama [dengan embel-embel dibanding agama terdahulu]. Media begitu bersorak ketika seorang artis menemukan pencerahan  dan masuk agama tertentu.

Apakah salah jurnalisme –yang penulis sebut jurnalisme sektarian—seperti itu?  Lantas bagaimana dengan media yang jelas-jelas menjurus ke arah sektarianisme?

Menurut hemat saya, informasi-informasi sektarian seperti itu sepantasnya diletakkan dalam porsi yang tidak terlalu mencorong. Bukan persoalan agamanya yang penting, tapi persoalan kehidupan yang bisa dilihat [karena yang tidak bisa dilihat, sudah masuk urusan privat] yang seharusnya menjadi pertimbangan.

Meskipun kata “agama” sering didefinsikan secara berbeda-beda oleh para ahli, penulis cenderung menerima kata ini sebagai istilah praktis yang bisa kita pakai untuk menyebut sistem kepercayaan manapun, entah Islam, Kristen, Budha, Hindu, bahkan yang tak beragama sekalipun. Kita sedikit “melambung”  ketika disebut_sebut nyaris semua agama melahirkan peradaban besar. Fatal yang menyebut hanya Islam yang melahirkan peradaban besar! Fatal pula hanya Kristen yang menciptakan quantum leap peradaban!  Fatal juga ketika ada klaim Hindu dan Budha-lah yang sebenarnya melahirkan peradaban itu.

Beragama [atau tidak] itu bukan urusan wartawan, bahkan bukan urusan negara sekalipun. Pilihan itu benar-benar murni dari hati! Bukan karena disodori jabatan, sandang pangan, atau bahkan ancaman kekerasan yang sering kita lihat di negeri ini. Saya bukan ahli agama, tapi soal memilh agama, yang saya tahu bukan karena “desakan” manusia lainnya, tapi desakan nuraninya sendiri. Apapun pilihannya.

Lalu bagaimana wartawan memaparkan kebebasan idealnya tanpa menjadi ‘kompor’ pertentangan secara tidak langsung? Buang, pandangan-pandangan picik dan kegembiraan ‘berlebihan’ dalam pemberitaan artis atau public figure yang pindah agama.  Wartawan jangan jadi hakim moral dan merasa berhak mencampuri pilihan seseorang.

Wartawan harus punya kesadaran individual yang paling dalam tentang pilihan religiusitas seseorang.  Wartawan harus pandai mencermati “fatwa-fatwa” atau “surat gembala”  yang sebenarnya bisa dikritisi lebih baik.  Ketika kita menerima segala sesuatunya mentah-mentah –meski kadang-kadang diembeli ayat-ayat pendukung—sebenarnya kita menjadi “katak dalam tempurung” yang tak bisa melihat dunia lebih lebih luas dan lapang.

Saya menentang jurnalisme sektarian seperti itu…

Selamat Datang [Dan Tersingkir] di “Industri Kepalsuan”

Saya pernah menulis, dan kerap saya tanyakan kalau sedang wawancara dengan artis, musisi, bahkan petinggi label atau petinggi televisi. Pertanyaannya adalah: benarkah dunia hiburan itu wealth-fake-glamours? Terlalu banyak “kebaikan semu” terlalu banyak “seolah-olah” dan terlalu banyak “basa-basi busuk” yang tampil ke permukaan. Benar, ada banyak uang yang tersebar di banyak lini hiburan. Tapi yang “terbunuh” oleh industri hiburan itu sendiri, bejibun cuy! 

Kita, saya dan Anda, sedang diinvasi oleh industri kepalsuan -- [foto:

Kita, saya dan Anda, sedang diinvasi oleh industri kepalsuan — [foto: Getty Images]

SEMAKIN saya terlibat dalam banyak aktifitas entertaint, semakin saya tahu, ada banyak kepalsuan yang dijajakan. Meski saya tak bisa menghakimi semua yang terlibat seperti itu, tapi kalau tidak menjadi sosok yang berbeda, biasanya akan lebih mudah “lenyap” dari jagat hiburan tanah air.

Apakah industri ini tampak seperti keindahan sinetron-sinetron omong kosong yang bertebaran berkejaran rating? Atau aslinya seperti sumpah serapah yang liar mengalir di lelucon-lelucon tidak penting, dengan melatakkan manusia lain sebagai sosok hinda dina yang pantas dirundung dengan kata-kata apapun?

Beberapa hari lalu, saya menyambangi salah satu studio televisi beken. Disana ada banyak artis yang akan siaran, entah langsung entah tapping. Kemudian ada banyak fans dan pekerja yang terlibat dalam tetek bengek urusan produksi. Semua sibuk. Tapi semua “palsu”. Senyum yang dibuat-buat, sapaan yang ramah yang harus dilakukan, dan penampilan yang terlihat cemerlang di layar kaca, harus sempurna. Saya hanya bisa tersenyum melihat semua kepalsuan yang sedang ditebar itu.

Saat industri telah menjadi komoditas yang sifatnya paradoksal maka kita baik sebagaiindividu maupun kelompok secara tidak langsung dan tidak sadar telah menjadi bagian dalam sebuah struktur budaya yang telah dikomersialkan. Kini konsumen telah menjadi objek bagi ideologi industri hiburan. Seni, film, radio, televisi, menjadi komoditas ekonomi dan menjadi alat dalam mempresentasikan kekuasaan. Budaya global juga mempengaruhi segala sesuatu menjadi sama saat ini. Sinetron, Mall, Film, Glamoritas, adalah sebagian contoh kecil hal-hal yang telah membentuk masyarakat, gaya hidup dan budaya masyarakat modern selama ini.

Media massa pula yang kemudian menjadi sesuatu yang mempunyai peran yang sangat besar. Media massa dan makin berkembangnya kebutuhan akan informasi kemudian menggeser bentuk sosial kemasyarakatan dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi.

Disinilah teori industri budaya memulai titik awal sudut pandangnya yaitu pada sistem kapitalis. Teori ini meminta kita untuk lebih sadar secara kritis akan produk-produk budaya yang ada karena ideologi dari pembuat produk budaya adalah bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Terlebih dalam pandangan teori industri budaya, masyarakat saat ini telah berada dalam pertarungan-pertarungan ideologi yang hadir melalui pengkomodifikasian budaya.

Musik pop tidak pernah berdiri sendiri. Pengalaman akan musik pop dan gaya hidup telah berpengaruh pada berbagai aspek sentral lainnya. Contohnya, pengalaman akan komunitas dan perayaan festival dimana belasan orang akan saling berbagi pandangan dan ideologi mereka. Saat ini para pemuda bersosialisasi dengan banyak acara televisi. Mereka mengkonsumsi dan menggunakan musik sebagai penghubung mereka dengan gaya hidup yang plural. Kini tidak ada makna yang ambigu lagi. Makna telah dikonstruksi secara individual. Budaya teknologi telah menggeser pengalaman komunitas menjadi pengalaman yang letaknya lebih ke fisik dan mental masing-masing individu.

Media terutama media massa adalah agen kebudayaan yang penting, mekanisme kerja media telah mengelola fakta menjadi berita yang memang telah diharapkan, media bukan hanya mempresentasikan realitas, ia juga memproduksinya. Bila berita adalah fakta plus makna, maka media telah mengubah fakta menjadi fakta yang lebih kuat daya persuasinya kepada masyarakat. Mereka merekayasa citra dari bahan data fakta ini secara kreatif menjadi citra yang kaya pesan, kenikmatan dan makna.

Selebritis dan kepalsuan gaya hidupnya, adalah ciptaan media. Sayangnya, kita semua menikmatinya dan seolah masuk dalam mimpi-mimpi semunya.

Tidaklah mengherankan bila massa ini kerap disebut ‘the era of imagology‘. Ketika citra menjadi lebih penting dari realitas empiriknya. Seperti kita maklumi, realitas citra tidak menginduk pada realitas empirik tetapi pada realitas simboliknya. Itulah kenapa pesohor yang sukses ditayangkan dalam media massa bergaya dengan mobil BMW, heli atau bahkan jet pribadi mereka. Mereka inilah yang sering disebut selebritis.

Dan, selebritis adalah ciptaan media.

Rame-Rame Koar-Koar ‘Go Internasional’ – Ngerti Maksudnya?

Seseorang yang dianggap pengamat musik di Indonesia mengatakan, ketika dunia sudah tanpa batas, go international sudah menjadi sebutan basi. Orang ini bicara soal dengungan go international yang kini banyak diincar untuk dilakukan oleh musisi-musisi Indonesia. Benarkah sudah basi impian itu?

Go Internasional itu slogan 'ngos-ngosan' yang kerap didengungkan Musisi Indonesia.

Go Internasional itu slogan ‘ngos-ngosan’ yang kerap didengungkan Musisi Indonesia.

KALAU bicara soal interaksi internasional, siapapun sekarang akan menyebut dirinya adalah bagian dari kehidupan global. Termasuk musisi tentu saja. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, dunia seolah hanya –meminjam istilah komik Kho Phing Hoo—sepelemparan batu. Dekat dan terkoneksi. Kalau Anda punya karya, apapun itu, dengan internet dan sedikit promosi online, siapapn sudah bisa menikmatinya. Tak peduli karya itu layak atau tidak, tapi Anda sudah bisa menerabas rintangan pertama soal bahwa karya itu harus diedarkan secara mainstream. Dan apakah itu sudah disebut dengan go international? Kok, terlalu menyederhanakan definisi pergi secara internasional itu ya?

Sebelum kita bicara lebih jauh soal go international itu, alangkah baiknya menyimak beberapa definisinya. Dalam konteks musikal, tidak ada definisi baku tentang go international ini. Tapi dari beberapa pendapat, apa yang dikatakan Anggun, salah satu penyanyi asal Indonesia [kini berpaspor Perancis], bisa jadi salah satu acuan. Menurutnya, “Disebut go international itu adalah musisi yang mempunyai album yang diproduksi di luar, dibeli oleh orang luar, diedarkan di luar, mempunyai konser di luar yang ditonton oleh orang orang luar dan mempunyai karier di luar.”

Dari beberapa definisi, baik di internet, literatur atau hasil wawancara dengan beberapa narasumber, saya menyimpulkan, bahwa go international itu adalah: “musisi yang berkiprah di luar negaranya, sukses mempunyai album internasional, kerap diundang untuk benar-benar berkonser atau hadir di festival musik dan berhasil menembus tembok-tembok industri musik dunia [baca: Eropa, Asia dan Amerika Serikat]”

Sementara mengutip tulisan seorang blogger amatir –meski tulisannya tidak amatir—go international kalau diartikan secara harafiah, berarti ‘pergi ke seluruh dunia’ atau ‘pergi untuk [menjadi terkenal] mendunia’. Nah disinilah letak ambiguitas atau ketidakjelasan makna. Apalagi dalam perkembangannya dibumbui berbagai macam intrik dan ‘perang statemen’ berbagai pihak terkait istilah ini.

Tentu saja definisi itu masih bisa diperdebatkan dan dijadikan bahan diskusi yang tidak ada habisnya. Tapi pendapat Anggun tentu juga bukan asal njeplak pastinya. Apa yang dikatakannya itu, belajar dari pengalaman dan proses perubahan, dari artis nasional yang sedang berkibar, melompat –meski tak mudah—menjadi artis internasional dalam artis sesungguhnya. Sesuai dengan apa yang dikatakannya itu. Dalam bahasa pemasaran, Anggun melakukan big think dan dream big.

Kelemahan musisi yang bermimpi untuk benar-benar go international adalah visi yang lemah. Setiap musisi, siapapun dia, harus punya visi dan sasaran yang jelas. Ini ada hubungannya dengan target yang ingin diraih. Kita bicara soal pencapaian karier dengan sistematika yang jelas dan dilakukan dengan bertahap. Hal itu akan membuat musisi [dan manajemennya], mempunyai pondasi yang kokoh dan kuat untuk mencapainya.

Musisi & Sastra: Jembatan Yang [Nyaris] Terputus

Benarkah kalau disebut musisi dan penikmat musik sekarang, lebih menyukai kata-kata atau lirik lagu yang to the point, tidak berbelit dan dianggap [sok] nyastra? Bagaimana pula kalau kemudian ada yang mengatakan –termasuk saya—musisi sekarang punya sisi lemah dalam pendalaman lirik, kosa kata yang standar dan pengulangan tema yang membosankan?

Banyak Musisi Yang Malas Membaca, Apalagi Tahu Karya Sastra

Banyak Musisi Yang Malas Membaca, Apalagi Tahu Karya Sastra

MUNGKIN pertanyaan saya agak tendensius, berapa banyak musisi yang hobi membaca? Kemudian kalau saya tanyakan lagi: berapa banyak musisi yang membaca karya sastra atau buku-buku yang topiknya membuat penasaran dan merunutnya sampai tuntas? Saya masih tak ingin percaya dengan kawan jurnalis musik yang terang-terangan mengatakan: musisi kok disuruh baca. Nah..

Dalam suatu kesempatan, saya sempat berdialog dengan salah satu band di luar Jakarta. Dari obrolan singkat tentang musik dan lirik-liriknya, kami ternyata punya ketertarikan yang sama, soal buku. Menariknya, lirik lagu yang dibuatnya ternyata dipengaruhi oleh buku-buku yang dibacanya. Dan buku yang dibacanya bukan buku mainstream. Selain soal sastra yang cukup berat, juga buku-buku yang mengupas soal agama dari sisi yang berbeda-beda dan kerap dianggap tidak lazim. Nalar yang saya tangkap dari lirik-lirik lagunya membuat saya kagum sebenarnya, tidak ada liriknya yang standar.

Saya selalu tertarik dengan kutipan dari penulis dan pemenang Hadiah Pulitzer [tahun 1940an] bernama William Saroyan. Tak banyak orang yang tahu tentang penulis kelahiran Armenia yang warga negara Amerika ini. Bahkan –konon—di Amerika sendiri, tak banyak yang mengenalnya, padahal karya-karyanya bertebaran di banyak Negara. Salah satu yang terkenal adalah The Human Comedy dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Komedi Manusia. Ada satu quote yang menurut saya menunjukkan kematangannya bermanusia, begini:

Every man in the world is better than somebody else, and not as good as somebody as.”

Bukan melulu soal kutipan yang jelas sudah melewati proses panjang sebagai seorang penulis, tapi bagaimana bertransformasi dari seseorang yang berceloteh biasa saja, kemudian menjadi sangat luar biasa. Bagaimana seorang musisi mengubah sudut pandang manusia, menjadi lebih egaliter, lebih humanis, mungkin juga lebih fanatic, dengan kata-kata yang terbaca dan terdengar cukup punya makna. Bagaimana melewatinya? Tentu saja selain kerap bermain kata-kata, membaca karya sastra, juga kudu piawai bermeditasi kata-kata. Proses yang hanya bisa dicapai dengan kontinyuitas terus menerus.

Membaca Mengasah Kemampuan Berlirik Yang Apik

Membaca Mengasah Kemampuan Berlirik Yang Apik

Tentu saja masih ada dan banyak musisi yang mengolah kata dengan apik, dengan sudut pandang yang luas dan menggigit, tak sekadar bicara ‘aku cinta padamu’ atau ‘kau putuskan aku’ dengan rhema yang terdengar membosankan dan menggelikan. Seperti rengekan anak kecil yang minta permen dan mencari perhatian supaya diberi atau dibelikan. Salahkah? Saya tidak mengatakan demikian, karena toh ternyata banyak yang rela menjadi bocah penuh rengekan itu. Tapi tidak inginkah menciptakan satu karya terbaik dengan musikalitas dan kata-kata yang luar biasa menariknya?

Dalam sudut pandang saya, musisi dan karya sastra yang apik, sudah seperti jembatan yang nyaris terputus.

Bahkan Jadi INSTAN Pun Butuh Proses!

Suatu malam, usai pulang dari kantor, aku mampir ke salah satu warung roti panggang arah rumahku. Tempatnya bersih dan terlihat rapi ketimbang warung-warung ropang –begitu biasanya tulisan besar-besar di depan warung—lainnya. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku, tapi satu poster besar dengan kata-kata: “bahkan yang instan pun perlu proses untuk membuatnya”.

hei...! tidak ada suksees yang instant. semua itu butuh proses untuk mencapainya.

hei…! tidak ada suksees yang instant. semua itu butuh proses untuk mencapainya.

Malam ini, aku seperti mendapat pencerahan dari kata-kata di poster warung itu. Berkeliling dan berjumpa dengan banyak musisi, artis dan selebritis, aku banyak belajar tentang arti kata: proses. Mengapa? Karena belakangan kata itu makin sulit diterima oleh mereka-mereka yang ingin mencari popularitas dengan cara instan dan kilat. Contohnya: banyak artis rela dengan bodohnya membuat setingan isu tidak penting, untuk menarik perhatian khalayak. Berhasilkah? Kalau sekadar diperhatikan berhasil, tapi jangan lelah kalau kemudian “disiksa” dengan kata-kata yang makin menyakitkan.

Menuju puncak itu harus melewati jalan terjal yang tidak mudah dilewati. Ada banyak kerikil dan hambatan yang harus bisa dilalui supaya selamat sampai di tujuan. Banyak penggemar bertanya, bagaimana akhirnya bisa meraih sukses seperti idolanya. Atau artis bertanya kepada manajernya, bagaimana menghasilkan uang dengan cepat, setelah dirinya dinobatkan sebagai artis. Seolah semua materi dan sukses itu seperti Midas, disentuh langsung jadi emas. Helllloooowwww…………

Ketika menjadi manajer artis, aku banyak memberikan catatan kritis. Salah satunya adalah: bersabar dengan proses. Semua strategi promosi tentu akan dilakukan, dengan berbargai kreatifitas yang out of the box. Tapi ketika semua [seolah] berjalan lambat, protes dan pertanyaan seolah tidak melakukan apa-apa akan bermunculan. Maunya, keluar karya [bisa single atau album], langsung ngetop.

Saya selalu ingat dengan Iwan Fals. Ketika masih belum dikenal tahun 70an, Iwan benar-benar menjadi pengamen keliling. Malu? Tidak, karena dia sadar dengan risiko pilihannya. Tapi ternyata di jalananlah kepekaan social, dan mampu mendengar suara marjinal terasah dengan baik. Alhasil, ketika sudah dianggap “manusia ½ dewa” oleh penggemarnya, Iwan toh masih bisa berceloteh soal ketidakadilan dan keserakahan dengan bahasa yang masih galak. Tapi ingat, prosesnya amat panjang dan Iwan punya napas panjang untuk bertahan dengan konsistensi.

Jangan heran, profesi yang diidamkan oleh anak muda Indonesia sekarang ini adalah menjadi artis! Tentu saja televisi yang menyorongkan glamour dan [seolah] semua artis hidup mewah, juga jadi pemicunya. Seolah dengan heboh di televisi numpang lewat, disebut artis, semuanya akan serba mudah. Mereka seolah lupa, proses disebut sukses itu, ada banyak tangga.

Saya hanya membayangkan kata-kata di warung ropang itu: “bahkan yang instan pun, perlu proses untuk membuatnya.” Kalian yang tidak sekolah pun, harusnya bisa memahami hal itu bukan? Selamat menemukan pencerahan…..